Istilah Linguistik (Bagian 2)

ISTILAH – ISTILAH LINGUISTIK (bagian 1)
Pada kesempatan ini, anaksastra.blogspot.com menghadirkan beberapa istilah linguistic yang paling sering dipergunkan, mudah-mudahan dapat membantu kawan-kawan untuk terus meningsah kemampuan di bidang inguistik.


1. Morfemderikat : morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ajaran biasanya; juang, tamu, dsb.
2. afiks : bentuk terikat yang bila di tambahkan dalam bentuk lain.akan mengubah makna gramatikalnya konsep ini mencakup sufiks, infiks, konsep ini mencakup sufiks, infiks, simulfiks, suprafiks, konfiks, prefeks.
3. Prefixes : apiks yang ditambahkan pada bagian depan pangkal misalnya; ber pada bersepeda.
4. Suffixes : afiks yang ditambahkan pada bagian belakang pangkal.Mis ; an pada ajaran.
5. Konfiks : afiks tunggal yang terjadi dari dua bagian yang terpisah. Mis; ke-an = keadaan dsb.
6. Simulfiks : afiks yang tidak terbentuk suku kata dan yang ditambahkan atau dileburkan pada dasar. Mis; n = pada ngopi (pangkalnya Kopi).
7. Suprafiks : afiks yang berupa fenom supra segmental. Mis ; pada kata batak = toba, asora = jernig, asora = malam.
8. Nouns : kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai subyek atau obyek dari klausa; kelas kata ini saling berpadan dengan orang, benda, atau hal lain yang dibendakan dalam alam diluar bahasa; kelas ini dalam bahasa Indonesia di tandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak.
9. Allomorph : anggota morfem yang telah ditentukan posisinya. Mis ; [ber], [be], [bel] adalah allomorf dari morfem ber-.
10. Homo poney (homofoni) : hubungan antara kata-kata yang berbeda maknanya tetapi sama lafalnya ; Mis ; antara tang penjepit dan tank, kendaraaan berat tangki.
11. Morf (morph) : (a) fenom atau urutan yang berasosiasi dengan suatu makna. (b) anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya ; Mis ; [i] pada kenai adalah morf. (c) wujud kongkrit/ujud fonemis dari morfem.

12. Labial : (a) terjadi karena penyempitan bibir atau gigi atas dan bibir bawah; mencakup bunyi-bunyi bilabial, labio velor dsb (b) bunyi yang terjadi demikian; Mis ; [ p, b, I, M, ] dsb.
13. Velar : (a) terjadi karena penyempitan antara belakang lidah dan langit – langit lembut (b) bunyi yang terjadi demikian; Mis : [ bunyi (k) ].
14. Alveolar : (a) terjadi karena penyempitan antara ujung lidah atau daun lidah dan alveloum.(b) bunyi atau fonem yang terjadi demikian .
15. Alternasi (alternation) : (a) proses yang memperlihatkan perubahan-perubahan-perubahan-perubahan bentuk bahasa,dalam linkungan yang dapat diramalkan; (b) adanya dua varian /lebih entah distugtif atau, entah tidak,dalam hubungan para digmatis.
16. Segmen = satuan bahasa yang di abstaraksikan dan suatu kontinum wicara/teks; Mis ; fon atau fonem sebagai satuan bunyi, morf atau morfem sebagai satua gramatika.
17. Asimilasi : proses perubahan bunyi yang melibatkan mirip atau sama dengan bunyi lain didekatnya Mis ; lahn ad + similis > as similis.
18. Sinkretisme : hilangnya afiks inflektif yang mengakibatkan pelembutan bentuk- bentuk inflektif yang tadinya berbeda.
19. Meoloigisme : ungkapan baru yang dicipta dengan sengaja demi perubahan atau untuk memberi ciri pribadi.
20. Afiks derifativ : afiks yang dipergunakan untuk membentuk derivasi mis ; ing. –ly dalam Quickly.
21. Infiks : afiks yang diselipkan ke dalam dasar.
22. Dasar (basae) : morfem yang dapat diperluas dengan dibubuhi afiks, Mis ; juang dalam berjuang, bandingkan dengan pangkal (stem).
23. Stem (pangkal) : morfem, kata, atau frase yang bergabung dengan afiks ; Mis ; pada mengolah, bertani, bentuk olah dan tani adalah pangkal.
24. Afiks inflektif : afiks yang ditambahkan pada akar atau dasar untuk menentukan atau membatasi makna gramatikalnya ; Mis ; s pada boys.
25. Morfem kosong (empty morphem) : morfem yang tidak ikut memberikan makna dalam kalimat Mis ; ing [ there ] dalam there is the cat on the roof = bandingkan a cat is on the roof.
26. Derivasi Zero : proses morfologi yang mengubah leksem menjadi kata tanpa penambahan/pengurangan apapun ; Mis ; leksem bah menjadi bah.
27. Frase : gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif, gabungan itu dapat, renggang Mis ; gunung tinggi adalah frase karena merupakan kontruksi non predikatif.
28. Language (bahasa) : system lambang sembunyi yang arbriter, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekrja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
29. Grammar (Gramatika) : subsistem dalam organisasi bahasa dimana satuan -satuan bermakna bergabung untuk membentuk satuan-satuan yang lebih besar.
30. Form (bentuk) : (a) penampakkan atau rupa satuan bahasa, (b) penampakan atau rupa satuan gramatikal atau leksikal dipandang secara fonis atau grafemis.
31. Structural Linguistic (Linguistik struktural) : pendekatan dalam penyelidikan bahasa yang mengangap bahasa sebagai system yang bebas.
32. Semantic (semantika) : cabang semiotika yang mempelajari hubungan antara lambang dan referennya.
33. Syntatic (sintaktika) : cabang semiotika yang mempelajari hubungan antara lambang dengan atau tanda dengan tanda.
34. Prefix : afiks yang ditambahkan pada bagian depan pangkal.
35. Syntax (sintaksis) : (a) pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar, atau antara satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa (satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata); (b) subsistem bahasa yang mencakup hal tersebut (sering dianggap bagian dari gramatika; bagian lain ialah morfologi); (c) cabang linguistic yang mempelajari hal terebut.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kamusnya kurang lengkap kata-katanya

Anonim mengatakan...

syncretism ama typology paan ?

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra