Cerpen: RINDU RANI



Cerpen Rizki tiara novyani Tia
Komunitas Lingkar Sastra Universitas Islam Malang

Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku…aku yang berdiri ditengah badai kerinduan jauh bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisuan… Tepat sangat tepat di depan wajahku, berdiri tegar dengan senyum yang hambar. Kawan, hari yang cerah membutakan lagi mataku dari segumpal rindu tak bertuan.
Sobatku ini, sama layaknya dengan sobatku yang lain dalam teori fisik dia tidak kekurangan sama sekali, tidak, dari segi psikologis dia logis walaupun tidak sangat, dari kecerdasan emosional dia mengagumkan, kecerdasan intelektual tidak memalukan. Lantas dimana yang membuat dia kadang ada tapi tak ada… Kenapa dia?

“Ternyata aku lemah…

“tidak aku sangat lemah, katanya saat dia mendatangiku di taman sekolah ketika aku sedang asyik dengan buku ku. Tapi aku ingin kuat, aku ingin sekuat mereka, aku ingin setegar mereka, aku ingin lariku secepat mereka…” tersedu. Kali pertama aku melihat air matanya, belum jatuh sobat masih tergenang dalam lingkaran abadi yang ingin dia kuat-kuatkan.

“Kenapa?” ah bodoh. Kataku (tak terucap)

“Ada apa?” hhh… klise

Dengan pertanyaan apa aku harus menjawab itu semua?


Dari mana aku harus memulai pertanyaan. Aku tak tahu. Tapi aku yakin, dia tak perlu jawaban dariku, dia hanya ingin menyaksikan ketidak adilan denganku, lebih tepatnya mengajakku. Aku terpaku, ku ingat penolakkanku pada kejadian tahun 2002 lalu, kejadian dimana tak dapat ku genggam tangan bunda… tidak dengan air mata untuk menghentikannya, tapi jiwa tenang tak mengerti apa-apa dan pasti tatapan kosong. Tak setetespun air mataku jatuh… begitu cepat semuanya begitu cepat terjadi sampai tak masuk segalanya dalam logikaku.

“Apa yang bisa ku lakukan untuk sobat?” akhirnya aku berucap tak ada jawaban aku menunggu, air matanya menjawab “Ada kerinduan yang memuncak dalam nafasku tak tahu harus ku bawa kemana rindu ini?

“Apa yang sedang kau rindukan sahabatku?”

Hhhh… helaan nafas panjangnya terasa berat “Mama…!” dengan menutup wajahnya ia terisak. Satu… ya satu lagi kawan kisah hati di tinggalkan bunda, hampir sama denganku tapi ternyata banyak sekali berbedanya. Ku dekati dia ku genggam tangannya yang berusaha menutup wajah penuh air mata, matanya terbuka. Ku tatap tajam ku cari dimana letak bedaku dengannya, dengan sedikit ragu dia mengatakan pertengkaranya dengan Mamanya. Semua semata gengsi anak yang sudah merasa cukup mampu hidup sendiri. Satu kalimat perih kawan, yang memang tak pantas diucapkan pada wanita yang telah lama merawat kita! “Ma… katanya walaupun mama adalah ibuku, sekalipun aku nggak mau mengemis pada Mama!” dengan tanda seru dibelakang kalimat menegaskan bahwa kalimat itu bersifat perintah pada dirinya sendiri untuk jangan sampai ia mengemis-mengemis walaupun pada Mamanya. Luar biasa kawan yang dikatakan sahabatku itu pada Mamanya, ku tahan amarahku untuk mengalahkanya karena aku yakin sudah lebih dari 100x dia memaki dirinya sendiri dengan kata-kata mengalahkannya. Bukan hanya kata-kata itu yang luar biasa kawan, tapi dampak yang ditimbulkan luar biasa. Lagi… tidak kurang dari tiga bulan setelah tragedy itu tak satupun pesan singkat sahabatku ini, Rani yang di balas sang Mama, tak satupun telfonya terjawab suara Mama… semua seakan lenyap dan yang lebih menghebohkan sakit yang di deritanya kian hari kian parah, bukan sekedar sakit kepala, sakit gigi apalagi flu tapi leukemia di deritanya… Kawan aku lelah aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja lelah bagaimana dengan rani? Tidak sama sekali dia tampakkan penderitaannya, tak seorangpun melihatnya bersedih, pintar dia menutupi, tapi ketahuilah di balik sapa cerianya, di balik tawa palsunya dia menyimpan berjuta sakit tak terperi, kerinduan tak terbendung… temanku ini juga lelah Kawan…

Pernah di suatu ketika kutanyakan padanya

“Sudahkah ibumu menjawab telfonmu?”

“Belum …” hhh… sambil tersenyum kecil dia menambahkan “aku sampai lupa jika mempunyai seorang ibu” Aku menahan air mata itu agar tidak jatuh.


“Assalamu’alaikum” (jawabku ditelfon, siang hari tepat setelah satu kuliahku selesai).

“Wa’alaikumsalam, Rara?” Tanya di sebrang

“Ya, benar, ini siapa?” timpalku

“Rara ini aku Ivon, Rani pingsan sewaktu berangkat kuliah tadi keadaannya kritis”

“Rumah sakit mana?” tanyaku

“Widya Farma” jawab Ivon

“Aku langsung kesana” tutupku

Diperjalanan tak ada yang bisa aku pikirkan hanya gundah yang membuatku resah, bukan pertama kalinya kabar ini ku terima tapi entahlah ada yang lain, pesan yang ku dapat dari Ivon… Kritis, dalam bayanganku kritis berarti koma terlambat sedikit saja… ah… aku tak mau membayangkan itu.

“Gimana Rani?” tanyaku pada Ivon setibaku di RS Widya Farma, sudah banyak yang berada disana selain sahabat ada juga Keluarga Rani nenek dan tante-tantenya, disini hanya itu keluarga Rani sebab orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di Bandung.

“Kata dokter penyakit yang diderita Rani bisa disembuhkan dengan cara pencangkokkan sum-sum tulang belakang, hanya itu harapan terbesar , sedangkan yang bisa mendonor sum-sum tulang belakang tersebut hanya keluarga kandung dan yang cocok dengan sum-sum tulang belakang Rani” jelas ivon. Aku tertunduk, separah itukah penyakit yang dideritamu Ran…? Tak seberkas rasa sakitpun kau perlihatkan kepada kami kini dengan cara yang seperti ini kah yang kau inginkan untuk memberitahu kepada kami? Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba dokter keluar.

“Ada yang bernama Rara? “ Tanya dokter

“Saya dok…” aku melangkah kearah dokter.

“Saudara Rani terus menyebut nama Saudara, silakan masuk tapi saya harap jangan terlalu lama mengajaknya bicara” perintah dokter

Akupun masuk, kulihat serba putih, tabung oksigen, kabel infus, alat deteksi jantung lengkap terpasang pada tubuh Rani.

“Ran…” panggilku lembut, Rani membuka matanya perlahan sekali

“Ra…” hampir tak bisa ku dengar gerak bibirnya pun lambat, pucat.

“Mama… beritahu mama” terbata tak jelas, ku tahan isak ku tak bisa ku bayangkan hari-hari yang selama ini selalu kita lewati bersama akankah purna, aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, tapi tahukah kau kawan siapa yang tidak akan berfikir sama dengan ku ketika melihat sesosok hidup terbaring lemah tak berdaya dibantu selang-selang oksigen? Selama ini Rani menyembunyikan ini dari orang tuanya dan kini ia ingin aku memberitahukanya, ku ambil HP Rani di tas yang tergeletak di atas meja disamping tempat ia berbaring, ku cari nama Mama di kontak HPnya, dan astaqfirullah HPnya bergetar, satu pesan diterima ada tulisan Mama dari identitas pengirim, aku tak percaya… Rani mulai menggelincang seperti ada sesuatu yang membebaninya, ku panggil dokter dan keluarga serta sahabat ikut masuk, dokter memeriksa Rani, Rani mulai tenang setelah di beri suntikan, dokter mempersilahkan siapa saja yang ingin bicara dengan Rani, semua air mata tumpah, aku terpaku lalu keluar dan sedikit bicara pada perawat disebelahnya tapi aku ingat pada pesan di HP Rani yang masih ku genggam, Rani masih membuka matanya. Ku dekatkan HP itu di wajahnya, ku lihat dia membaca pesan itu… matanya berkaca-kaca, semua orang masih tersedu-sedu menatapnya, nenek Rani hampir jatuh tapi ia tak mau pergi dari tempatnya berdiri, Ivon dan tante Rani membopong lengan nenek.

Rani menggerakkan bibirnya ia tersedu dan berkata ”Aku lega… aku tenang… ja..ngan khawatir…” Diam Rani menutup matanya, monitor menggambarkan garis lurus dengan bunyi yang mengiris hati, tangis histeris dari masing-masing kami, nenek tak bisa menangis ia langsung pingsan, aku tak bisa menerimanya aku tatap pesan di HP Rani “Nak…” hanya tulisan yang ku baca, penantian Rani tak lebih dari satu tahun hanya dijawab dengan kata itu, tapi Rami sudah merasa cukup hanya dengan kata itu aku ingin memakinya betapa bodohnya dia menunggu hanya demi kata iu aku tak terima…

Dokter masuk bersama dua perawatnya tapi mengapa ada senyum disana, tak lama kemudian ia angkat bicara “tenang semuanya Rani hanya tertidur karena pengaruh obat penenang saya berikan tadi” katanya dengan tampang seperti orang yang menang taruhan. Aku masih belum percaya “lalu mengapa monitor itu…” tak ku teruskan.

“O… itu memang saya yang mematikanya karena Rani sudah tak memerlukan itu. Ku tatap dada Rani masih ada gerakan naik turun… Bodoh…


11 komentar:

Q11901 mengatakan...

Cerpennya bagus.

Anonim mengatakan...

Two thumbs up,,,!

Ada tnda seru berarti perintah kepada pecinta sastra untuk ikut two thumbs up and say,,
bagues,,,

Anonim mengatakan...

Two thumbs up,,,!

Ada tnda seru berarti perintah kepada pecinta sastra untuk ikut two thumbs up and say,,
bagues,,,

Anonim mengatakan...

hmm...

in_airs mengatakan...

hey...ukhty cantik.kapan nie islamic cerpennya?gue tunggu lho.

Anonim mengatakan...

I lοѵed аs much as you will receiѵe carгied out
rіght heгe. The sketch іs tаsteful, уοur authored subϳect matteг stylish.
nonetheleѕs, you commanԁ get bought an impatience oνer that you wiѕh be
delivering thе fоllowing. unwеll unquestionably come morе formerly again sincе
exactly the same nearly vеry often insiԁe case yοu shield thіs incrеase.


My blog post; simply click the following post

Anonim mengatakan...

need codes to purchаse goods for 2 fοlks

Αlѕo visіt mу wеb sitе:
http://www.Motoworkszig.com/

Anonim mengatakan...

Hеllo Τhere. Ӏ found youг blοg using mѕn.
Thіѕ iѕ a ѵery well written аrticle.
I'll make sure to bookmark it and return to read more of your useful info. Thanks for the post. I will certainly return.

Visit my web-site http://bdheritage.info

Anonim mengatakan...

Not just that, you can indulge in more works when wearing this.



Here is my web site john

Gunawan Ipul mengatakan...

https://gunmadeblog.wordpress.com Sastranya sungguh bagus membuat aku tersugesti semoga kita tambah temen

Gunawan Ipul mengatakan...

Halo apakah anda boleh menerima anggota terbaru.aku dalam kesendirianku, menjelajahi liku-liku gimana mencari pertemanan dalam arena sastra. Sungguh aku tidak bisa berkata-kata bijak melainkan menuangkan dalam kertas putih , entah kemana berakir dan berhentinya. kutunggu balasan mu

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra