Cerpen : Penantian dalam Pencarian


Cerpen Kiriman Nike Angguni T.L dari BSI Kelas II C

Jangan lupa lihat komentar kami mengenai cerpen ini, untuk kritik dan sarannya ditunggu

Sebuah cerita tentang perjalan hidup dan perjuangan untuk menemukan wanita yang telah melahirkanku. Inilah aku seorang gadis berusia 20 tahun . Aku adalah Yuri, Yurika Anastsya. Aku tinggal dipinggiran Kota Jakarta, di suatu pemukuiman yang warganya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sejak kecil aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Aku sangat menyayangi mereka tapi sejak 10 tahun yang lalu aku hanya tinggal berdua dengan Nenek, karena Kakek telah meninggal, sejak saat itu Nenek bekerja seorang diri demi menghidupiku. Nenek adalah semangatku, tetap tegar dan semangat bahkan Ia tak peduli dengan usianya kini telah lanjut . Aku selalu berdoa agar Nenek selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, karena hanya Nenek-lah miliku satu-satunnya di dunia ini.

Kini aku bekerja sebagai waitres. Aku bekerja paruh waktu sehingga aku bisa membantu-bantu nenek. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku karena aku tak ingin terlalu menyusahkan Nenek. Padahal aku bercita-cita menjadi seorang dokter, tapi sepertinya itu ta akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, aku memilih untuk bekerja agar aku bisa membantu ekonomi Nenek. Apapun akan kulakukan untuk membahagiakan Nenek karena aku sangat menyayanginya. Jam kerjaku mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Jadi sebelum aku pergi bekerja, Aku bisa membantu Nenek jualan dipasar.

Aku dibesarkan Nenek sejak bayi, tak jarang aku berpikir sebenarnya aku anak ibuku atau anak Nenekku? Belum pernah sekalipun aku bertemu dengan Ibuku, melihat langsung wajah Ibu. Aku hanya dapat melihat wajah Ibuku dari sebuah foto . Lantas kemanakah Ayahku? tak pernah sedikitpun Nenek bercerita tentang Ayahku, tentang Ibuku, setiap aku bertanya kepada Nenek, Ia hanya dapat menangis dan selalu bilang, “Suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahuinya, Nenek akan menceritakan semuanya jika sudah tepat waktunya.” Sebenarnya aku sangat ingin mengetahui lebih banyak cerita tentang kedua orang tuaku. Tapi aku juga tak ingin melihat nenek menangis, keceriaan Nenek adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Akhirnya aku tak pernah menanyakan hal itu lagi.


Pagi ini nenek alpa dari kegiatannya berdagang di pasar karena pagi ini nenek sakit, sehingga aku tak mengijinkanya untuk berjualan. Aku membiarkan Nenek beristirahat di rumah saat aku pergi bekerja, aku menitipkan Nenek kepada Mba Sri, tetanggaku yang sudah aku anggap seperti kakaku sendiri. Sedih rasanya melihat Nenek terbaring sakit. Tangan dan kaki nenek tak dapat bergerak, aku panik saat tahu itu sehingga aku langsung membawa Nenek ke Rumah Sakit, ternyata setelah diperiksa dokter, Nenek terkena serangan stroke. Aku sangat sedih mendengarnya. Tapi dengan penuh kasih sayang aku tetap marawat nenek.

Pada suatu malam, Nenek memanggilku dan memintaku untuk duduk disamping ranjang tempatnya berbaring lemah. Ia berkata “ Nak, Nenek rasa kini tiba saatnya kamu tahu semua rahasia yang telah Nenek pendam selama 20 tahun, tapi nenek minta kamu jangan pernah sedikitpun membenci Nenek, karena Nenek telah menyimpan ini semua seumur hidupmu. Dan satu lagi nenek minta kepadamu, kamu harus menerima semua kenyataan yang ada dalam hidupmu. Nenek percaya, kau adalah anak yang baik dan tak akan mungkin membenci dan mengingkari kenyataan.” Rasa penasaranku semakin besar , ada apakah sebenarnya yang terjadi ? Akhirnya, nenek menceritakan semuanya.

Oh… Tuhan sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.

Ibuku adalah seorang pasien Rumah Sakit Jiwa, dan aku dalah anak seorang korban pemerkosaan. Mungkin karena itulah alasan Nenek tak pernah menceritakan keberadaan Ibu apalagi ayahku. Lantas siapakah Ayahku ? dan dimanakah Ia kini?

Sejak peristiwa pemerkosaan itu, Ibu mengalami depresi berat sehingga akhirnya Ibu seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di kota Bandung. Sewaktu Kakek masih hidup, Nenek dan kakek sering mengunjungi Ibu, hampir setiap minggu mereka mengunjunginya, sampai akhirnya Ibu melahirkan Aku. Melihat keadaan Ibu yang seperti itu, akhirnya Kakek dan Nenek membawaku pulang dan merawatku hingga kini aku menjadi seorang gadis yang tegar dan semangat seperti Nenek. Kakek dan Nenek mereka sibuk dengan pekerjaanya dan merawat aku akhirnya mereka jarang menemui Ibu apalagi setelah Kakek meninggal Nenek tak pernah lagi menemui Ibu.

Suatu hari, Nenek memberikan secarik kertas dan sebuah foto seorang wanita yang Nenek bilang itu adalah Ibuku. Pada foto itu tertera sebuah nama seorang wanita yaitu Lanny Widiawati itu adalah Ibuku. Nenek memintaku untuk menemui ibuku. Sungguh rasanya sangat tak mungkin untuk aku meninggalkan Nenek dalam keadaan sakit seperti itu. Apalagi mencari seorang tidak akan mungkin dalam 1 atau 2 jam saja, apalagi sebelumnya aku belum pernah menginjakan kaki di Bandung. Nenek terus memaksaku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menuruti keinginan Nenek dan berniat meminta Mba Sari untuk menemani nenek untuk sementara waktu selama aku berada di Bandung.

Sore ini juga aku pergi ke Bandung untuk melakukan pencarian, dengan berat hati aku pergi meninggalkan Nenek. Nenek berpesan kepadaku “Nak, jaga dirimu baik-baik segeralah kembali kalau kau sudah menemukan ibumu.”

Akhirnya aku pergi ke Bandung, setibanya aku di Bandung, aku merasa seperti begitu asing berada dikota tersebut. Aku mulai bertanya kepada orang-orang yang sedang berada di situ tentang alamat tempat Ibuku tinggal.

Aku sempat kesasar untuk beberapa kali. Tapi untungnya ada seorang Ibu muda yang mau menunjukan tempat keberadaan Ibuku. Ibu muda yang mengantar aku memiliki permasalahan yang sama yaitu Ia pun hingga kini belum pernah bertemu dengan Ibu kandungnya, karena Ibunya meniggal saat melahirkannya.

Tibalah aku di tempat itu yaitu sebuah bangunan tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan dan taman. Di sana terlihat banyak orang-orang yang tak waras sedang banyak yang bermain- main layaknya anak kecil.

Oh Tuhan.... seperti apakah keadaan Ibuku? Apakah Ibu juga seperti itu ? Seorang Satpam memberitahuku untuk menemui Ibu Suster Kepala, aku pun diantar sampai keruangan tempat Suster Kepala itu. Aku bertanya satu persatu tapi Ibuku katanya tak ada di sana lagi. Katanya, Ibuku dibawa lari oleh seorang mantan Suster Kepala karena dulu tempat itu pernah mengalami suatu peristiwa kebakaran. Ketika Ibu Suster Kepala bercerita demikian aku mulai putus asa , kemala lagi aku harus mencari Ibuku ? aku mencoba meminta alamat Ibu Suster Kepala yang membawa pergi Ibuku. Tapi sayangnya Beliau tidak mempunyai alamat Ibu Rosy, Mantan Ibu Suster Kepala.

Lantas, mengapa Ibu Rosy hanya membawa pergi Ibuku? Jawab Ibu Ratna kepala Suster yang kini, katanya Ibu Rosy sangat dekat dengan Ibuku, Ia menganggap Ibuku seperti Ibunya sendiri. Ibu Ratna memberiku sebuah foto wanita paruh baya, itu adalah foto Ibu Rosy, orang yang membawa pergi Ibuku. Tetapi aku merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu, ternyata Ia adalah Ibu muda yang tadi mengantarku ketempat ini. Karena Ibunya telah meninggal , maka Ia pun begitu menyayangi Ibuku. Tapi Untungnya ada yang memberitauku tentang alamat Ibu Rosy yaitu seorang tukang kebun yang sudah berada disitu sejak lama. Rasa putus asaku sejenak hilang karena Tuhan memberiku jalan untuk mencari Ibu kandungku. Aku pergi meninggalkan tempat itudan terus mencari keberadaan Ibuku dengan menyelusuri jalan Kota Bandung yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan para pedagang yang berjualan disepanjang trotoar. Pencarianku hari ini tak membuahkan hasil. Aku memutuskan untuk mencari tempat untuku bermalam.

Esok harinya aku mulai melakukan pencarian lagi, hingga akhirnya aku menemukan alamat yang diberi tukang kebun itu kepadaku. Aku mengetok rumah itu, seorang Bapak-bapak keluar membukakan pintu. Aku menanyakan tentang Ibu Rosy, tapi ternyata Ibu Rosy telah 2 tahun pindah dari rumah itu. Aku sangat putus asa, keputusasaanku membawaku kembali keJakarta. Aku ingin melihat keaadaan Nenekku. Aku seperti kehilangan jejak akhirnya aku berhenti melakukan pencarianku.
Sakit Nenek bertambah parah. Aku menyesal telah meninggalkan Nenek untuk pergi ke Bandung. Aku sedih melihat keadaan Nenek yang semakin hari semakin parah. Aku membawa nenek keRumah Sakit , aku tak tega membiarkan Nenek menderita seperti itu. 2 hari diRumah sakit, Nenek tak bisa diselamatkan. Nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kini aku tak punya siapa-siapa lagi diDunia ini, aku kehilangan orang yang paling aku sayang yang telah merawat aku hingga kini.

Merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kecuali Ibuku, aku memutuskan pindah keBandung dan mulai kehidupan bari disana. Aku mulai mencari pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Kini aku telah bekerja disebuah restoran. Sambil bekerja aku mencari Ibuku. Setelah bekerja selama 6 bulan, aku melihat seorang wanita yang pernah mengantarkan aku dan yang telah menunjukan tempat Ibuku tinggal.. Ia adalah Ibu Rosy orang yang selama ini merawat Ibuku. Dengan rasa yakin aku mendekati Ibu itu dan bertanya ” apakah Ibu, Ibu yang pernah mengantarkan aku ke Rumah sakit Jiwa tempat Ibuku?” Ibu menjawab “ ade...?” “ ya Ibu, ini aku, apakah aku boleh bertanya kepada Ibu ?” “ boleh nak, dengan senang hati Ibu akan menjawab pertanyaanmu .” dan ternyata memang benar ia adalah perawat yang waktu itu membawa lari Ibu pada peristiwa kebakar tiu. Aku diajak kerumahnya dan aku dapat melihat Ibuku. Hatiku senang karena aku dapat melihat langsung dan memeluk Ibuku, wanita yang selama ini aku cari, yang lebih membuatku bahagia adalah Ibuku telah sembuh dari penyakit kejiwaanya. Ibu Rosy telah menganggap aku adiknya dan memintaku tinggal bersamanya.
Inilah kisahku, kisah hidup dan perjuanganku untuk mencari Ibu kandungku.





Komentar divisi sastra, Feri M. Sukur

Ketika membaca cerpen ini, saya di iringi oleh lantunan shireen bersaudara (the sister) dengan lagu curhan mereka yang berjudul kamu-kamu lagi. Jadi saya bingung harus bagaimana memilah otak saya oleh dua suara hati yang berbeda. Pertama, suara hati shiren bersaudara tadi yang dinyanyikan. Kedua, dengan suara hatinya Nike Angguni T.L ini.

Kenapa saya sulit berkonsentrasi? Itu karena keduanya memiliki kekuatan dan titik lemah yang sama. Pada kicauan saya selanjutnya, saya akan menjelaskan di mana letak kesamaannya itu.

(mouse digerakan. Icon winamp di klik. Menunggu sejenak tampilannya, lalu saya memutar lagu the sister)

Apasih maumu kerjaanmu eangganggu
Di telpon sms kerjaanmu menrayu
Aiaia. . .

Dalam sebuah pengakuannya, shiren bersaudara mengakui bahwa semua lagu yang ada dalam album mereka adalah sebuah curhat yang tak sengaja menjadi lagu. Kisah cinta mereka selama ini. Selain itu, shiren juga mengakui bahwa ketika dia bernyanyi, itu hanyalah sebuah perjalan hidup yang harus dijalani tanpa beban, terutama oleh kualitas vocal dia sendiri, yang kalau kita dengarkan lebih mendalam dalam lagu ini, ada beberapa haleuang shiren sungkar, pemeran cinta fitri ini yang fals.

Dalam cerpen saudari kita, Angguni, dengan latar belakang sebagai seorang siswa/mahasiswa bsi, yang saya ketahui bsi adalah singkatan dari bina sarana informatika (maaf jika saya salah), yang tentunya sentuhan dengan dunia bahasa secara mendalam sangat jauh. Sama seperti shiren di atas, angguni ini masih perlu kembali banyak membaca. Di mana harus menyimpan titik, koma, spasi, tanda petik, dan juga beberapa poin kebahasaan yang lain.

Saya akan mengulas kembali cerpen ini dalam bentuk synopsis kecil:
Aku (si tokoh) adalah anak yang dibesarkan oleh kakek dan nenek, yang tidak pernah sedikitpun tahu tentang kedua orang tuanya. Sehingga dia merasa bahwa dirinya lahir dari rahim seorang nenek, bukan dari rahim seorang ibu.

Kedewasaan mendesakku untuk menemukan sepenggal darah yang tidak aku kenal, aku bertanya pada nenek, tapi dia seolah bungkam. Hingga sebuah penyakit memaksa nenek untuk mengatakan semuanya.

Sebuah alamat diberikan padaku. Dengan bermodalkan itu, aku berkelana dari satu lisan ke lisan lain, lisan yang menunjukan di mana alamat ini bermuara. Dan lisan itupun banyak mengungkapkan helai demi helai hijab yang menutupi wajah ibuku. Sampai akhirnya, aku menemukan seraut wajah ibu di sebuah rumah sakit jiwa, selepas ingatannya hilang.

Bukankah begitu inti ceritanya, Anggani?

Ceritanya sangat menarik. Bagaimana perjalanan tokoh melewati beberapa rintangan yang tak pernah kita bayangkan. Berliku. Menanjak. Berlubang. Sehingga untuk melewati jalan ceritanya, kita harus melahap habis kata perkatanya dengan cermat. Saya ngat beruntung membacanya saat ini, dengan cerpen yang jujur, tanpa ada metafora yang rumit, saya bisa dengan mudah menjelajahnya. Saya tidak bisa membayangkan, jika cerpen ini di perbaiki setelah ada komentar ini.

Tapi saya juga seolah melihat sebuah cerpen yang tema, watak, alur, latar, pusat pengisahan, yang disingkat sebagai unsure-unsur intrinsic sebuah prosa, sama persis dengan apa yang ada dalam reality show termehek-mehek, mata-mata, orang ketiga, lemon tea. Tidak ada satupun yang terlewat. Detail setiap detailnya tidak ada sedikitun yang berbeda.

Saran saya untuk anggani: semakin banyak membaca, apapun jenis bacaannya, maka kamu akan menemukan sendiri bagaimana letak titik, koma, tanda petik, dll, yang sesuai dengan kaidah kebahasaan bahasa Indonesia. Ketika kamu membaca, kamu akan menemukan bagaimana imajinasi-imajinasi yang liar dari penulis. Karena untuk menjadi penulis yang mapan, diterima karyanya, sehingga banyak dibicarakan orang, imajinasi itu bukan sekedar bagaimana kita menulis curhat dalam buku diary, tapi imajinasi sudah bisa masuk ke dalam ranah pikiran pembaca.

Selepas dari apa yang sudah saya tuliskan di atas, marilah kita kembali mendengar lagu the sister, dan mulailah membaca kembali cerpen anggani ini, kita akan masuk kedalam sebuah uraian yang mengalir, berliku, batu terjal, sehingga kita akan merasakan sport jantung, harap-harap cemas menemani sang tokoh untuk menemukan ibunya.

Dan saya rasa, cerpen anggani ini lebih menarik jika disajikan dalam sebuah novel. Saya kira akan membuat saya lebih banyak memuji anggani.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra