Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Saat Seni Tradisional Menjadi Beban

KOMPAS 20/02/2010

Oleh Luki Muharam

Setiap Jumat malam puluhan pendekar dari beberapa padepokan berkumpul di studio Radio Stasiun Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Cianjur. Di stasiun milik Pemerintah Kabupaten Cianjur ini secara bergiliran mereka menunjukkan kebolehannya ngibing atau menari pencak silat.

Pendekar yang tampil diiringi secara live oleh nayaga gendang pencak yang menabuh gendang indung, gendak anak, trompet, gong, dan rebab. Pesilat yang rata-rata datang dari pedesaan itu semangat sekali ngibing. Padahal, mereka tidak dilihat "penonton"-nya karena tampil hanya di stasiun radio.

Mereka tidak dibayar, tetapi malah sebelumnya para pengibing yang umumnya buruh tani itu rela "patungan" mengumpulkan uang untuk menyewa kendaraan bak terbuka agar dapat mengangkut mereka dan perangkat seni dari kampung agar dapat tampil ngibing di RSPD Cianjur.

Menurut catatan Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) Cabang Cianjur, hampir di 32 kecamatan di Cianjur masih terdapat satu atau dua padepokan silat. Namun, kondisinya rata-rata sudah mati suri karena ditinggalkan warga yang menontonnya. Pergelaran ibing pencak silat paling sering terdengar di sekolah dasar. Itu pun diiringi kaset. Kalaupun diiringi nayaga, biasanya saat samen atau setiap selesai pembagian rapor kenaikan kelas SD di pedesaan.

Di perkotaan jangan harap dapat melihat pentas ibing pencak silat di setiap sekolah. Itu karena ibing pencak silat umumnya sudah tidak digandrungi. Apalagi, di SMP atau SMA siswa dan gurunya lebih suka menampilkan grup band aliran pop atau rock ketika mengadakan pesta akhir tahun pelajaran. Tidak teratur

PPSI sebenarnya sudah berupaya agar pesilat dapat berlaga di panggung dengan mengadakan Pandiangan Seni Ibing Pencak Silat secara bergilir di setiap kecamatan di Cianjur. Namun, pelaksanaannya semakin tidak teratur dan kemudian menghilang, lagi-lagi karena minim anggaran dan tidak ada sponsor.

Keadaan seperti itu berimbas pula pada industri pembuatan alat seni gendang pencak, yakni perajin gendang dan gong, seperti yang dialami Sunarya (65), pembuat gendang dan gong silat. Warga Desa Cibaregbeg, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, ini mengaku saat ini menjadi perajin gendang dan gong silat sudah tidak bisa lagi dijadikan lahan mencari nafkah keluarga karena sepinya order. Dalam setahun paling-paling hanya dapat satu pesanan.

Kondisi seperti itu mulai ia rasakan sejak akhir tahun 1980-an saat kehidupan warga di perkotaan mulai meninggalkan panggung pertunjukan seni ibing silat. Warga kini lebih tertarik mengundang orkes dangdut atau band dalam setiap hajatan keluarga. Dahulu Sunarya masih ingat saat suara gendang pencak masih terdengar di setiap gang di Kota Bandung, hampir setiap malam Minggu.

Pada saat itulah ia pun marema order membuat gendang dan gong. Dari keuntungannya itu, ia pun dapat membuat rumah permanen dan membeli sawah. Namun, hal itu kini tinggal kenangan, dan alat-alat membuat gendang dan gong ibing pencak silat lebih sering ia simpan di gudang.

Keadaan yang mengenaskan seperti itu dialami pula oleh Tati Sawitri (55), juru kawih tembang Cianjuran. Ibu empat anak ini tetap setia tampil walau tanpa dibayar setiap Senin malam di RSPD Cianjur. Ia mengaku sudah jarang sekali mendapat panggilan tampil. Saat ini sekadar mendapat order sekali sebulan saja sudah lumayan. Untuk setiap kali tampil, juru tembang dan empat orang nayaga Cianjuran rata-rata mendapat Rp 500.000. Ironisnya honor sebesar itu kemudian mereka bagi rata dengan teman-temannya. Masih lumayan

Menurut Abah Ruskawan, Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur, kondisi pesilat dan seniman Cianjuran masih terbilang lumayan dibandingkan dengan seni tradisional lain di Jawa Barat. Apalagi, pencak silat dan seni Cianjuran kini, oleh beberapa pemerintah daerah/kota di Jabar, sudah dimasukkan menjadi kurikulum muatan lokal di SD. Namun, pelaksanaannya sangat tergantung kemampuan keuangan setiap sekolah. Abah memperkirakan sedikitnya terdapat 300 seni tradisional khas Sunda di Tanah Air yang kini punah atau hampir punah. Dan sepertinya, kondisi seperti itu kemungkinan dialami sebagian besar seniman tradisional di Tanah Air. Perhatian setiap pemerintah daerah masih ada, misalnya dengan memberikan anggaran dari APBD, walaupun biasanya birokrat mengalami keterbatasan dana dalam menjaga kelestarian seni tradisional di masing-masing daerah.

Tampaknya bila sudah seperti itu, alangkah bijak bila kemudian berkaca kepada Provinsi Bali yang berhasil mengemas seni tradisional menjadi aset daerah berharga yang membuat Pulau Dewata ini terkenal ke seluruh dunia. Bali berhasil menjadikan beragam seni tradisional daerah menjadi sumber utama pendapatan asli daerah, di saat hampir setiap pemerintah daerah lain di Tanah Air masih memperlakukan seni tradisional sebagai beban APBD.

Hal itu sepertinya diikuti pula oleh perhatian sebagian pengusaha yang menyumbang kegiatan seni tradisional sebagai amal ala kadarnya, bukan sebagai sebuah peluang yang menguntungkan perusahaannya. Ini masih lebih baik ketimbang tidak peduli sama sekali terhadap upaya pelestarian seni tradisional.

LUKI MUHARAM Penggiat Lembaga Kebudayaan Cianjur



Baca Selengkapnya »»

Kala Nabi Menjadi Jahat




Hendri R.H

kompas.com Senin, 14 Desember 2009

Apakah Nabi harus manusia yang membawa kebenaran? Apakah seorang Nabi harus membawa kebahagiaan bagi umatnya? Apakah seorang Nabi harus membawa kedamaian di muka bumi? Bagi sebagian orang jawabannya ya. Tapi bagi teater lakon UPI Bandung, lain lagi ceritanya. Tanggal 21 November bertempat di gedung PKM UPI mereka membawakan drama besutan Arifin C Noer berjudul Umang-umang, sosok Nabi yang selalu identik dengan pembawa nilai kemanusiaan, kini berubah radikal menjadi sosok yang jahat berwujud manusia, kesukaannya merampok, mencopet, memalak, bahkan membunuh orang. Sungguh radikal bukan?

Adalah Dedy Warsawa sang sutradara yang menjembatani nilai amanat yang ACN tulis dalam bentuk seni pertunjukan. Dari mulai seni dekorasi, pertunjukan bahkan seni musik, ia hadirkan guna menghadirkan roh ACN ke dalam panggung.

Tidak berlebihan saya mengatakan demikian, pikiran ACN yang kerap terperangkap dengan persoalan sosial, ujung-ujungnya memaksa kita menyerap mentah-mentah kritik sosial, gaya parlemen jalanan, bahkan pesta orang-orang marjinal. Kompleksitas tersebut nampaknya ada dalam drama tersebut, terlebih ACN membawa-bawa seorang Nabi dalam naskah umang-umang.

Jika merunut kebelakang, seni drama seringkali lahir dari persoalan sosiologi. Lihat saja Shakespare dengan karyanya Hamlet, begitu berani mengangkat persoalan yang waktu itu oleh gereja dianggap wilayah abu-abu. Lebih-lebih di negeri ini, konon disebut juga negara dunia ketiga.

Karena padahakekatnya setiap karya sastra (drama) merupakan jawaban terhadap berbagai hipotesis hidup, maka ACN menghadirkan belenggu sosialnya dengan pertunjukan drama. Saya masih ingat ketika menonton drama Tengul dan AA-II-UU nuansa tersebut hadir dalam setiap adegan yang dibawakan. Dan pada akhirnya hipotesis tersebut akan menjadi efek domino saling melengkapi, dan merupakan serangkaian potret-potret diri kita dalam berbagai ekspresi aktor.

Dari Nabi sampai ke Semar
Bentuk dualisme tokoh dalam pertunjukan drama, baru pertama kali saya tonton. Bentuk-bentuk seperti itu bisa saja menghadirkan sebuah revolusi pertunjukan atau bahkan menambal kekurangan dengan tidak adanya “monolog cerita”. Saya menemukan bentuk dualisme ini dalam tokoh Waska yang diperankan oleh Yussak Anugrah. Disatu sisi Waska digambarkan sebagai seorang Nabi bagi penjahat dan perampok, namun di sisi lain ia berpose sebagai seorang penuntut cerita layaknya dalang dalam hal ini sebagai tokoh Semar.

Waska yang merupakan penjelmaan kaum marjinal, membawakan sosok spiritual bagi kaumnya, ia hendak merampok kota dengan membawa kaum yang memujanya. Oleh kaumnya ia dianggap sebagai seorang Nabi yang membawa kebenaran dan keberuntungan hidup, terlebih mereka berada dalam zona ekonomi lemah, Waska hadir dan memberikan solusi untuk merampok kota.

Lain halnya dengan Waska yang dipentaskan dengan gaya dualisme penokohan, dua orang tangan kanannya Ranggong dan borok yang masing-masing diperankan oleh Sahlan Bahuy dan Chandra Kudapawana, menyajikan bentuk yang satu watak satu pertunjukan. Mereka digambarkan setia untuk mewujudkan keinginannya tuanya. Tapi masalah timbul ketika Sang Nabi tiba-tiba sakit dan menuntut mereka untuk mencari obat kepada seorang nenek agar sang Nabi dapat hidup kekal. Nenek tersebut mensyarakatkan untuk memakan jantung bayi. Hingga mereka kekal dan tak bisa mati, dan disinilah masalah muncul, karena ketika keinginan merampok kota terpenuhi, mereka mengingkari keinginan sebelumnya yaitu hidup kekal. Kini mereka tersiksa karena tidak bisa mati, berbagai cara dilakukan agar bisa mati, tapi tetap saja nihil. Sama halnya dengan nihilisme penokohan, begitu absurd dan liar.

Perwujudan tokoh dengan watak yang penuh absurdisme, setidaknya menuntut penonton untuk memasangkan tokoh dengan alur cerita. Hal ini tentu saja membawa konsekuensi tersendiri karena tokoh dan penokohan dalam drama biasanya menampilkan juga kompleksitas psikologis. Sehingga justru yang berkembang adalah tokoh-tokoh tiruan dunia nyata dengan memasukan untuk absurdisme. Dalam teater kompleksitas tersebut kadang membawa tantangan penafsiran bagi penonton, namun seperti yang saya sebutkan, penonton harus jeli memisahkan antara bentuk universal tokoh dengan aspek psikologisnya.

Kita ambil tokoh Waska, yang dianggap sebagai Nabi. Penonton bisa saja tergiring bahwa Waska adalah tokoh yang jahat dan penuh onar, dalam dimensi seperti ini memang benar adanya. Namun, jika harus berpikir ala dekosntruktif, tokoh Waskalah yang mempunyai peranan yang baik, bahkan bagi dimensi penonton sekalipun, karena setiap tingkah lakunya yang jahat dia menghadirkan aspek psikologisnya untuk membawa pesan moral.

Saya sendiri menyimpulkan bahwa tokoh dan penokohan tersebut hanyalah dijadikan sutradara untuk mewujudkan gagasan-gagasannya. Tubuh dan gesture aktor menjadi gagasan sutradara, sehingga ia akan kehilangan identitas sesungguhnya. Lihat saja Tokoh Waska dan Semar, begitu apik sutradara menjembatani dua tokoh yang bertolak belakang ini.

Mungkin bagi ACN penggambaran Waska merupakan kenikmatan tersendiri menghadirkan tokoh yang penuh anomali. Dalam sebuah tulisan di blog ACN, dia menyebut bahwa naskah dramanya merupakan naskah drama cerdas, ia harus didukung oleh kecerdasan sang sutradara menjembatani amanat ACN dengan penonton. Sutradara dan aktor dituntut berpikiran cerdas dan piawai.

Dalam masalah panggung misalnya, sutradara mencoba mengimbangi kekurangan tata artistik dengan guyonan dan lelucon, misalnya dalam tokoh ulama (saya tidak tahu yang sebenarnya siapa, tapi penampilannya seperti ulama). Karena ketiadaan efek angin untuk menggerakan jubahnya, ia mencoba menutup kekurangan tersebut dengan menyuruh seseorang untuk menggerakannya. Mungkin kedengarannya aneh dan kelihatan bodoh sang sutradara menyuduhkan adegan tersebut tanpa efek. Tapi ia berpikir lain, orang yang menggerakan jubah tersebut dipaksa naik panggung, dan menyuruh aktor lain untuk mengomentarinya “Hei, ulama bawa juga pelayan yang menggerakan jubahmu itu”, kira-kira seperti itu dialognya. Namun yang pasti ia tidak menghadirkan kekurangan sebagai lahan untuk menabur benih kebodohan, justru menambah kelebihan, hingga saya berkata “Waw menakjubkan”.

Dalam aspek lain, seni musik juga dihadirkan dengan apik. Saya teringat ketika menonton film mafia Hollywood kental dengan lagu ghotic, atau bahkan lagu James Bond. Tapi dalam mafia Indonesia, ia menghadirkan lagu dangdut sebagai pengiring jalan cerita. Memang benar apa yang dilakukan sutradara bahwa unsur lokalitas terkadang menjadi senjata ampuh untuk membuat decak kagum penonton.

Umang-umang sebuah filosofi hidup
Apalah artinya sebuah karya jika tak membawa pesan moral atau setidaknya esensi hidup. Mungkin itulah yang terpikirkan oleh ACN, karena pada hakikatnya penonton membutuhkan sebuah suguhan isi cerita yang disampaikan mengandung bobot filosofis yang bisa menambah bagasi pengetahuan. Sama halnya dengan teater ini. Penuh dengan nilai dan esensi hidup.

Saya mengawali dengan tokoh Waska, yang menjadi sentral pertunjukan tersebut. Tokoh Waska hadir sebagai tokoh yang penuh pemberontakan, ia senantiasa mengayomi kaum marjinal untuk merampas kekayaan kaum konglomerat. Bisa saja ini bentuk kebiadaban, namun lagi-lagi saya berpikir dekonstruktif. Jika seandainya yang menonton adalah kaum berada, sudah barang tentu mereka akan mendalami tokoh Waska sebagai seorang yang membutuhkan uluran tangan, sehingga ia rela merampok.
Tokoh ini bahkan hadir pergolakan batin antara kehidupan seniman dan dunia kaum terpinggirkan, saya selalu teringat sajak Rendra “Penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan”.

Tentu saja ACN tidak meniru gaya Rendra dalam mengkritik fungsi dan kepekaan seorang penyair. Ia bahkan berpikir lebih kritis lagi, bahwa kehadiran penyair yang membawa penderitaan rakyat dan kehidupan kaum marjinal, hanyalah sebuah kedok untuk mendongktak populariras, mereka hanya memanfaatkan nama, setidaknya itulah yang terpikirkan ACN.

Lebih jauh lagi saya akan membongkar filosofi umang-umang, mengapa ACN rela memberi judul drama tersebut dengan judul yang aneh dan kurang populer. Mungkin ACN senang memberi judul yang penuh kontroversi dan berada dalam dimensi anomali. Umang-umang hanyalah binatang laut yang tidak mempunyai tempat tinggal, bahkan cangkang yang selalu ia bawa hanyalah pinjaman dari sisa hidup binatang lain.

Hiduplah sederhana seperti umang-umang, itulah mungkin yang hendak diangkat oleh ACN. Kesederhaan begitu penting dalam esensi hidup. Namun seperti yang telah saya ulas, bahwa ACN tidak puas dengan nilai-nilai yang universal, ia senang berkecimpung di sisi absurdisme. Bahwa dengan kesederhanaan manusia tidaklah cukup, ia harus memberontak, bahkan memberontak kepada Tuhan agar ia tidak mati. Tapi saya dapat menikmati suguhan esensi drama ini bahwa “hidup adalah sebentuk keabadian yang tak pantas untuk dimiliki. apalah artinya hidup jika tidak mati”



Baca Selengkapnya »»

Restu Redaksi Untuk Sastrawan



Oleh : Hendri R.H
Kompas.com Senin, 30 November 2009

Sepertinya ini sebuah guratan takdir bahwasannya kami harus menyembah redaksi kebudayaan untuk dikatakan sebagai seorang sastrawan. Lalu apakah menjadi sebuah kemutlakan bahwa sastrawan harus melewati penggonjlogan redaksi sastra?

Gelar sastrawan bagi seorang penyair, penulis, esais, dan dramawan bukanlah proses formal sebuah pendidikan akademik. Ada semacam dikotomi bahwa sebenarnya pendidikan formal bagi sastrawan adalah media massa. Pemerolehan gelar sarjana sastra dalam formalitas akademik, tentu tidak menjamin menjadi sastrawan, diperlukan suatu jalan panjang bahwa proses kreatif dan pengakuan dari sastrawan lain itu hal yang cukup penting.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, proses untuk mendapatkan pengakuan sebagai sastrawan tidaklah mudah. Ada semacam gengsi tersendiri bahwa seorang sastrawan harus identik dengan media massa, atau bahkan karyanya harus sering nongol di media massa.

Sastrawan yang baru naik daun akan senang ketika karyanya dihargai oleh orang sekelas Nirwan Dewanto, atau bahkan sekalipun dicaci maki oleh seorang H.B Jassin. Karya sastra yang dihasilkan tentu bukan hanya untuk konsumsi pribadi namun juga dipublikasikan ke khalayak umum. Dengan kata lain sastrawan sendiri membutuhkan eksistensi agar karya-karyanya dapat dikenal.

Menariknya dalam ruang lingkup sejarah sastra Indonesia, kemunculan media massa membawa angin perubahan yang cukup berarti, lihat saja W.S Rendra yang karyanya pertama kali dimuat dalam majalah-makalah terkemuka di Jakarta dan lembaran kebudayaan di Solo dan Yogya. Belum lagi Seno Gumira Adjidarma, Acep Zamzam Noor, Sutardji Calzoum Bachri dan Joni Aria Dinata yang hidup dan menemukan gelar sastrawannya lewat media massa.

Penghargaan dan pengakuan tersebut sebenarnya membuat sebuah pembenaran bahwa seorang penulis ketika berhasil melewati testing redaksi, telah dianggap sebagai seorang sastrawan. Asumsi semacam ini memang benar adanya, karena saking hidupnya dunia sastra, bermunculan penyair-penyair muda dalam khazanah sastra Indonesia. Di satu sisi hal ini menjadi modal awal bagi sastrawan muda untuk menggali dan mengembangkan potensinya. Terlebih ketika karyanya dimuat, mau tidak mau akan mempengaruhi kepercayaan dirinya.

Dalam ruang batas seperti inilah, penggolongan antara penulis akademik dan non-akademik, berbaur menjadi satu. Dihadapan seorang redaktur sastra, tidak ada semacam dikotomi berlabel akademisi sastra, justru karya yang menjadi label tersendiri. Sehingga siapa saja bisa menemukan gelar sastrawannya ketika memasuki dunia koran dan majalah.
Pengkaderan sastrawan oleh redaktur sastra sebenarnya berawal dari abad ke-20 ketika di Bandung terbit sebuah surat kabar Medan Prijaji dengan redaktur R.M.D Tirto Adhi Soerjo yang memuat cerita-cerita bersambung berbentuk roman. Berlanjut sampai zaman balai Pustaka dan angkatan 66, sudah banyak media massa yang ikut melestarikan sastra diantaranya Jong Sumatra, Sastra, Indonesia dan Horizon dan Kalam yang dikelola oleh kelompok Teater Utan Kayu. Sampai sekarang ini, mungkin hanya surat kabar yang masih setia menyajikan rubrik sastra tiap minggu.

Pemerolehan gelar untuk menjadi seorang sastrawan tentu saja tidak harus melalui koran atau majalah. Taufik Ismail misalnya, justru eksis ketika karyanya dibacakan dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dan pelajar dalam menyampaikan TRITURA. Pengarang yang hidup dalam dunia “perlawanan” juga tak kalah eksistensinya, misalnya Wiji Tukul yang menyuarakan kaum buruh.

Tetapi hal demikian akan sulit diterapkan pada masa sekarang, dulu ketika orang membaca dan menulis dianggap sebagai sebuah barang langka, kini setiap orang bisa melakukannya. Sehingga mau tidak mau sastrawan butuh media untuk eksisistensi dan penggonjlogan dari redaksi sastra, terutama bagi media yang sudah malang melintang di media massa, seperti Horizon, Kompas, Republika, dan Tempo. Persaingan tentu menjadi hal menarik untuk mengukuhkan gelar sastrawannya.

Bahkan saking ketatnya persaingan untuk karya pada koran dan majalah. Seorang sastrawan muda harus mampu bersaing dengan sastrawan senior dalam hal eksistensi. Sastrawan sekelas Hamsad Rangkuti, Taufik Ismail, Putu Wijaya dan Sides Sudyarto, masih tetap aktif menulis untuk Koran dan majalah. Padahal sebenarnya mereka sudah mempunyai pamor jika seandainya mau menerbitkan buku sekalipun.

Seno Gumira Adjidarma yang malang melintang dalam dunia Koran, membuat sendiri kumpulan cerpennya, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Saksi Mata, Penembak Misterius, Kematian Donny Osmond, Dunia Sukab, Iblis Tidak Pernah Mati, Di Larang Menyanyi di Kamar Mandi, adalah kumpulan cerpen dia ketika ditulis di media massa. Padahal jika berpijak pada ketenaran namanya, dia toh bisa saja membuat antologi independen yang terlepas dari media massa. Namun testing media massa justru membuat para cerpenis membukukan kembali karyanya, seakan cerpen-cerpen tersebut sudah lulus dan berlabel sertifikasi media massa.

Lain hal dengan para penyair yang rame-rame membukukan kembali karyanya ketika di media massa. Kompas saban tahun juga menerbitkan buku kumpulan cerpen, yang lebih dikenal dengan cerpen pilihan kompas. Pembukuan kembali cerpen seperti ini seperti mengundang kembali kanonisasi karya sastra yang digembar-gemborkan oleh Saut Situmorang.

Sebenarnya kanonisasi yang heboh terlebih dahulu, ketika seorang kritikus sastra Marcel Reich-Ranicki jerman membuat kumpulan karya terbaik. Menurut dia, karya tersebut layak dipandang sebagai karya abadi. Bagaimana dengan Indonesia, tentu saja menimbulkan polemik tersendiri. Akan timbul asumsi publik bahwa karya sastra di luar kumpulan karya sastra tersebut merupakan karya yang tidak bermutu, terutama kumpulan karya media massa ternama yang sudah lulus testing redaksi sastra.

Saut situmorang bahkan menyebut bahwa betapa susahnya menjadi seorang sastrawan Indonesia. Seperti yang ia ungkapkan ketika mengutip pernyataan Nirwan Dewanto dalam “Kilas Balik 2002”, 5 Januari 2003.Redaktur Tempo ini mengatakan.

“Setiap akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul?”
***
Memandang sekilas tentang peranan media masa dalam mendidik seorang penyair. Akan selalu berbenturan bahwa dengan otoriterisme seorang redaksi sastra atau setidaknya harus melewati meja redaksi. Akibatnya banyak orang yang hendak menjadi seorang sastrawan harus menelan pil pahit karena karyanya dimuat sama sekali. Sebagai perlawanan muncul berbagai media lainnya sebagai tandingan media massa, yaitu Internet.

Kemunculan situs dan komunitas sastra Internet mulai merebak ketika Internet masuk ke Indonesia. Hakikatnya setiap orang bisa menulis karya sastra, tanpa ada interfereni semacam redaksi sastra, bahkan saking mudahnya, orang bisa memajang karya-karya dalam ruang pribadi di internet.

Antologipuisi, puisikita, gedongpuisi, puitika dan cybersastra merupakan antek-antek generasi sastra Internet. Saking merakyatnya dunia sastra orang-orang mulai meramaikan khazanah sastra Internet. Malah tahun 2002 situs cybersastra membuat sebuah antologi puisi bernama cyberpunk. Penerbitan antologi puisi sebagai “jalan pintas” untuk mencapai gelar sastrawan tentu saja mengundang berbagai reaksi keras. Dalam sebuah esai Saut Situmorang, Maman S. Mahayana Pengajar FSUI mengatakan , bahwa para penyair cyberpunk Indonesia itu belum pantas untuk dikategorikan sebagai “penyair” tapi “penulis puisi” hanya berdasarkan ketidakjelasan produktivitas mereka belaka.

Sebuah tamparan keras juga dilontarkan Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Republika ini menyebut bahwa pemuatan karya sastra di Internet, hanyalah karya yang tidak lolos ke Media. Pernyataan ini seakan-akan ada dikotomi yang begitu jauh antara sastra Koran dan sastra Internet.

Para penulis di dunia internet, mungkin menyadari betul bahwa eksistensi menulis di media masa tentu lebih menantang dan mendapatkan keuntungan finansial tersendiri. Namun sepertinya karena kemudahan dan kemajuan zaman, mereka dengan mudah dapat menciptakan media sendiri, sehingga akan lebih bebas berekspresi tanpa rasa deg-degan kecewa ketika karyanya tidak dimuat.

Label-label media massa yang diisi oleh para sastrawan seperti Nirwan Dewanto, Ahda Imran, Rahim Asik, Ahmadun Yosi Herfanda. Seakan sebuah simbolisme keutuhan pengkaderan gelar sastrawan, di tangan merekalah mungkin gelar tersebut dapat diperoleh.

Pemilihan media massa untuk membuka gerbang seorang sastrawan memang tidak dapat dielakan. Eksistensi dan persaingan tentu menjadi hal yang menarik dan menuntut seorang untuk lebih kreatif. Tetapi untuk menjadi gelar seorang sastrawan tentu tidaklah mudah, tidak hanya mengandalkan peran media massa, pemantapan, daya kreatifitas, atau bahkan gelar akademik sekalipun. Karena menjadi seorang sastrawan adalah panggilan hati, itulah kiranya yang dikatakan oleh Acep Zam-zam Noor.



Baca Selengkapnya »»

Anak Haram



Cerpen: Hendri R.H
Ketua Divisi Linguistik Komunitas Anak Sastra

Kompas.com
SABTU, 7 NOVEMBER 2009 | 02:25 WIB

Aku tak pernah mengerti kenapa dilahirkan, bahkan Aku tak pernah meminta Tuhan untuk meniupkan ruhnya ke dalam rahim Ibuku. Andai kata ada semacam pemilihan di Alam Ruh, Aku lebih memilih dilahirkan dari rahim seorang Ibu negara, ustadz, atau bahkan seorang guru. Setidaknya kalau dilahirkan dari mereka tidak akan dicap sebagai anak haram. Karena sepuluh tahun yang lalu Aku menangis dipangkuan seorang Ibu yang kini kukenal sebagai seorang pelacur.

Pernah suatu saat bertanya pada seorang Ustadz, “ Kenapa Aku dilahirkan di mulut Rahim seorang pelacur, bukankah Tuhan membenci pekerjaan itu?”
“Karena suatu saat Kau akan menemukan kebenaran dan hakikat hidup dari seorang hamba Tuhan, Dia tidak menciptakan makhluk yang tidak mempunyai jalan hidup, perkara kau dilahirkan dari seorang pelacur atau bukan, itu kehendak Dia.”

Aku selalu menyesal bertanya hal itu pada Ustadz, pikiranku selalu dipenuhi tanda tanya, esensi hidup apa yang Tuhan rencanakan, bukankan dia Maha adil? Ah, pertanyaan itu hanya membuatku pusing, seperti benturan-benuran keras ketika ku memikirkannya, bahkan Ibuku sendiri tak mengetahui kenapa ia menjadi pelacur.


Saban hari Aku hanya menunggu seseorang di balik pintu. Kursi-kursi yang kujajarkan dan ditata rapi, hingga menyapu ruangan tamu kulakukan tiap hari. Perlakukan terhadap rumahku selalu istimewa setiap harinya, bahkan ketika menginjak bangku SD. Aku terbiasa membaca buku di ruang tamu. Semua itu kulakukan demi menemukan seorang manusia yang harus memenuhi fitrahnya, sebagai Ayahku.

Entah kenapa hari itu Aku memakai pakaian bagus, pemberian Ibuku memang, walapun tidak halal, tapi harus berbuat apalagi. Tuhan juga memaklumi keadaanku, perkara Aku berkomplot dengan Ibu sebagai kejahatan pelacuran, tak kupedulikan. Dia toh harus memenuhi kewajiban sebagai seorang Ibu dan menapkahiku sebagai seorang anak.

Dalam pakaianku yang serba bagus, daun telingaku menangkap suara langkah kaki, perlahan tapi pasti, langkah itu semakin jelas, dan terakhir berhenti, tak kedengaran lagi. Malah bunyi ketukan pintu yang terdengar, Aku membuka pintu itu, berharap yang datang bukan Ibuku. Benar saja, seorang lelaki. Ia terlihat santai dan penuh wibawa, sosok ayah yang kuidam-idamkan dari dulu kini ada didepanku.

Setelah kuhidangkan makanan yang enak-enak, Aku langsung lari ke ruang tengah, mengambil cermin dan mengintip lelaki itu dari balik tirai. Kini kubandingkan bahwa wajah lelaki itu dengan wajahku, tak ada yang mirip, bahkan hidungnya pesek, kulitnya hitam, perawakannya agak kecil. Sedangkan Aku justru kebalikannya. Benarkan ia Ayahku? tak berani mulut ini menanyakanya langsung, tapi Aku berharap ia memang Ayahku.

Perkara cermin Aku tak pernah pedulikan, memang benar bahwa cermin adalah makhluk yang paling jujur, setidaknya itu yang dikatakan sastrawan dalam sajaknya. Tapi dalam kondisi ini Aku tak boleh percaya pada benda itu, keinginanku terlalu besar untuk menebak bahwa lelaki yang ada dihadapanku adalah seorang Ayah.

“Kemana Ibumu nak?” Lelaki itu membuyarkan lamunanku, dari tadi Aku hanya memandang wajahnya seakan ia hendak pergi untuk selama-lamanya.
“Pergi keluar.” Jawabku.

Tak berani Aku menyebut bahwa Ibu pergi melacur, Aku takut calon Ayahku ini kecewa dan pergi begitu mengetahui bahwa wanita yang ditunggunya sedang mengobral rahimnya untuk ditukarkan rupiah. Lama benar dengan pergolakan senandung lamunan, Ibu datang.

Seperti biasa Ibuku selalu pulang dengan badan lemas, tak pernah Aku tanyakan padanya. Sepulang dari tempat melacur ia selalu tidur dan tak boleh diganggu. Bahkan Aku tak berani menanyakan bahwa lelaki didepanku adalah ayahku sendiri, biarlah Ibu sendiri yang mengatakan padaku, lebih indah pengakuan seorang Ibu kepada anaknya, bahwa ayahnya telah lama berpisah, kini ada dihadapannya.

“Sudah lama menunggu Mas,” Ibuku bertanya pada lelaki itu.
“Dari tadi, tidak lama untungnya ada anakmu, dia mungkin jadi anak yang baik.”
“Semoga mas, jangan sampai menjadi Aku yang seperti ini.”

Belum pernah ku dengar doa seorang lelaki yang mengharapkan untuk kebaikan masa depanku. Aku semakin yakin bahwa ini adalah Ayahku, Ayah yang selama ini kutunggu, yang bisa mendidik, yang bisa menjadi raja dalam kerajaan kecilku. Biar Ibu tak mengobral tubuhnya dijalanan lagi.

Aku cepat-cepat pergi ke kamar, tak kuasa menahan tangis, walaupun Ibu tak menyebutkan langsung bahwa itu ayahku, namuan Aku tetap terharu sejadi-jadinya.
Dari balik tirai kuintip lagi dan kudengar pembicaraan mereka, namun alangkah kagetnya ketika Ibu memberi uang pada lelaki itu.
“Ini uang kembalian yang kemarin mas,” kata Ibuku sambil memberi uang dua puluh ribu.

Sontak batinku kaget, hancur luluh, dan harapanku untuk medapatkan seorang ayah pupus sudah. Kini lelaki itu pergi tanpa beban telah meminjam Rahim Ibuku, seakan telah membayar ia langsung pergi tanpa ada dosa.

Kuambil gelas yang telah ia minum, langsung Aku banting ke lantai, jijik melihat dia dan tak sudi menerima kenyataan bahwa dia hanyalah pelanggan Rahim Ibuku. Buat apa penjamuan ini dan penghayatan bahwa dia bukan ayahku. Kini Aku mulai mempercayai cermin, makhluk yang selalu berkata jujur.

“Kenapa kau berkelakuan aneh, Ibu tidak suka.”
“Apa Ibu tidak mengerti, Aku merindukan ayah, yang membuat Aku lahir ke dunia ini adalah Ayah dan dan Ibu. Kini yang kukenal hanyalah Ibu, mana Ayahku, seorang anjing yang lahir ke dunia pun akan menanyakan dimana ayahnya berada, Aku bosan dikatain anak haram terus.”

Tapi hanya tetesan air mata sebagai jawaban atas pertanyaanku. Aku sendiri pergi ke kamar dengan penuh tanda tanya. Tak mungkin menyalahkan Ibu mengenai keberadaan ayahku, tak mungkin juga menyalahkan Tuhan karena membuat Aku ada di dunia ini.

Yang tak pernah dimengerti, kenapa Ibu tak tahu dimana Ayahku. Sudah berapa lelaki yang pernah memakai rahimnya. Mungkin bercampur dengan lelaki lain dan lahirlah Aku. Hanya bisa menghibur diri sendiri bahwa yang memakai Ibu adalah pejabat, guru, dosen, pebisnis. Biar Aku yang dikatakan anak haram setidaknya masih ada keturunan dari orang-orang tersebut.

Sepuluh hari setelah kejadian itu, Aku jarang mengobrol dengan Ibuku. Hingga suatu malam ia pulang dengan wajah lesu, kasian benar melihatnya terlebih ia masih sebagai Ibuku. Aku harus membalas budi, setidaknya itu yang dikatakan oleh agama.
“Nak, maafkan Ibu tak bisa mendidikmu”
“Ndak apa-apa Bu, gimana kondisinya sekarang”
“Ibu tak kuasa lagi, beban ini terlalu berat, Ibu tak bisa menemukan ayahmu, bahkan Ibu tak becus menghapus diksi anak haram dalam kehidupanmu” Jawabnya dengan terbata-bata.

Kini Aku tahu bahwa Ibuku sekarat, namun yang anehnya ia selalu memegang payudaranya. Ku beranikan bertannya padanya.
“Adakah yang bisa ku bantu bu.”
“Ndak ada nak, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu menderita kanker payudara ketika kau lahir, maafkan Ibu nak, jadilah anak yang sholeh dan teruskan cita-citamu.” Itulah kalimat terakhir yang kudengar. Ibuku menghembuskan napasnya yang terakhir.
Kini dua kali Aku tertegun bagai disambar geledek, mendengar kenyataan bahwa Ibuku menderita kanker payudara. Aku menangis sejadi-jadinya.
“Durhalah diriku yang telah memperlakukan Ibu seperti orang asing.”

Dalam keremangan malam, kutemukan esensi hidupku, bahwa manusia mempunyai arti untuk orang lain. Perkara Ibuku masuk surga atau neraka, itu urusan Tuhan, namun akan kudoakan agar dia masuk surga, semoga doa anak yatim dikabulkan.

Sosok Ibu bahkan melampui ayahku jiga memang ada, dialah Ibuku sebenarnya rela berjuang demi anaknya. Tak pernah ia mengeluh, dan melawan sinisme sosial.
Aku tak boleh membenci Ibu, dia adalah pahlawan dalam hidupku, rela berkorban batin dan fisik. Aku tak boleh menggugat Tuhan atas kelahiranku, Kini yang kugugat adalah masyarakat yang mengatakan Aku anak haram.

Bandung, 1 November 2009


Baca Selengkapnya »»

Melebur Karya Sastra Picisan



Catatan Muallaf Sastra
Hendri R.H

Saya masih tidak mengerti kenapa Pramoedia Anata Toer dilahirkan, terlebih berbagai karyanya dilarang pemerintah. Saya sendiri yang mendekam di jurusan sastra sempat menolak untuk membaca karya-karyanya, “kumpulan roman picisan” itulah kiranya yang sempat terucap. Praduga tak bersalah tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya roman yang dilahirkan awal abad ke-19 kebanyakan bertemakan cinta.

Sebuah karya sastra dalam ruang lingkup khazanah pembaca, setidaknya harus dipenuhi oleh pergulatan ideologis, pemahaman dan pencarian konsep filsafat. Permasalahan yang paling mendasar adalah konsep-konsep tersebut hanya dijadikan “ban serep” untuk mendukung gaya bercerita. Walaupun toh maksudnya ditulis secara eksplisit, tetap saja pengolahan diksi untuk menuju konsep filsafat dihadirkan secara eksplisit. Itulah mungkin kenapa saya tak begitu menyukai karya sastra berbau percintaan yang membosankan. Bukan tanpa alasan, lebih baik menonton film kalau hanya sekedar bernostalgia dengan cinta.

Saya selalu mempertanyakan kenapa novel-novel teenlit begitu banyak diminati oleh pembaca. Jika harus jujur, saya berani mengatakan bahwa novel itu tidak manfaat terutama bagi saya. Anda setuju, itu terserah anda? Tapi saya mempunyai alasan kenapa tulisan itu tak lebih dari novel picisan gaya baru.


Pertama, selalu teringat perkataan Sides Sudyarto sewaktu acara seminar sastra (FMIPA UPI), beliau mengatakan bahwa cerpen/novel bergaya teenlit terlalu jauh melangkah, terutama penggunaan bahasa yang “amburadul”. Terdoktrin dengan perkataan tersebut saya analisis berbagai cerpen dan novel bergaya Teenlit, hasilnya waw, sungguh mengagetkan tulisan ini racun atau madu bagi sastra Indonesia, atau bahkan sebagai pelemahan asas Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Berpijak pada pergelutan dan pergulatan gaya sastra abad modern, begitu banyak bermunculan aliran dan teori sastra, terlebih diiringi dengan karya-karya yang begitu deras bermunculan (Tak diimbangi dengan kritik sastra). Di satu sisi kemunculan novel dan cerpen tersebut merupakan sumbangsih yang begitu luar biasa, sastra bukan hanya berpesta pora oleh kaum elit atau bahkan para sastrawan yang saling memuji karya sastra, namun telah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat awam, terutama anak-anak remaja.
Tetapi perkembangan sastra tersebut begitu “liar” terutama dalam pemakaian bahasa. Pencampuradukan pemakaian bahasa prokem terlalu kelewatan. Pemuatan kata-kata prokem misalnya gue, loe, coyat, atau kosa kata yang tidak sesuai kaidah tentunya menghadirkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Dampaknya masyarakat khususnya anak muda tidak lagi mengenal mana Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Baik, harus sesuai dengan pemakaian dan benar, harus sesuai dengan norma atau kaidah kebahasaan. Apalah artinya sebuah karya sastra kalau untuk memuliakan bahasa sendiri tidak bisa, atau bahkan meracuninya. Padahal sebentar lagi peringatan sumpah pemuda, “Apalah bedanya kita dengan penjajah gaya modern kalau untuk memuliakan bahasa sendiri tidak bisa, terlalu menyakitkan mungkin bagi nenek moyang yang hidup memperjuangkan bahasa ini tetap menjadi bahasa persatuan”.

Memang itu hak bagi seorang penulis untuk mengeksplotasi pemilihan kata, tapi setidaknya ia perlu dibarengi dengan nilai-nilai kaidah berbahasa yang baik dan benar. Penulis tidak hanya menghadirkan karya bernuansa cinta untuk tujuan komersil, tetapi setidaknya mendidik masyarakat untuk lebih menghargai bahasanya.

Anda tidak percaya? Lihat saja implikasinya. Di FB ada orang yang menulis kata yang baku menjadi kata-kata aneh, coyat, luthu, dsd. Bahkan yang lebih parah ada huruf kapital di tengah kata “aKu mAu kE RuMah”. Kita hanya bisa menunggu, para penulis yang takluk pada besarnya arus bahasa prokem, atau jutru para penulis sendiri yang mebina masyarakat. Saya hanya menduga bahwa jawabannya tertuju pada satu kalimat “takut tulisannya tak laku, kalau bahasanya terlalu formal”.

Lagi himbauan itu didasarkan pada doktrin linguistik bahwa bahasa itu dinamis. Tetapi penggunaan istilah ini terlalu luas bahkan salah kaprah barangkali. Membericarakan bahasa yang dinamis setidaknya harus diikuti aturan dan tata norma yang ada, untuk apa kita mempunyai kita aturan tata bahasa baku kalau pun ujung-ujungnya masyarakat hanya memandang sebelah mata “hanya dijadikan konsefp formalitas akademik”.

Kalau Pemerintah mau sedikit berusaha, harus ada semacam pemaksaan bahasa. Misalnya dengan menaikan derajat bahasa Indonesia, agar mempunyai nilai. Jangan sampai Bahasa Indonesia tak bertuan di rumahnya sendiri. Program Tes Kemahiran Berbahasa harus segera dilakukan baik untuk keperluan kerja, maupun untuk tes akademik. Kita hanya mengandalkan TOEFL untuk tes bahasa, lalu dimana urgensi bahasa Indonesia? Saya sendiri yang berdiam di jurusan bahasa tak pernah tahu berapa nilai tes tersebut, memalukan. Ini implikasi nyata, bangsa ini terlalu menganggungkan konsep kebebasan berekspresi. Setidaknya inilah peran karya sastra, ketika masyarakat sudah demikian sastra hadir dengan konsep mendidik.

Kedua penentuan tema tersebut kadang hanya menonjolkan hedonisme anak-anak remaja, tak pernah saya menemukan novel Teenlit bertemakan nasionalisme atau pergolakan batin menuju wejangan filosof (Kalau anda menemukan saya sendiri dengan senang hati akan membacanya).

Apakah konsep-konsep seperti itu penting? Terlalu penting mungkin. Sastra tidak hanya hadir sebagai sebuah bacaan untuk bernostalgia, atau bahkan sebagai hiburan semata. Tetapi lebih dari itu sastra harus hadir sebagai bacaan yang mendidik. Novel dan cerpen Teenlit tidak harus berkutat tentang gaya hidup anak muda atau percintaan, pemuatan nilai-nilai kemanusiaan, norma agama dsb dirasa sebagai sebuah urgensi tersendiri.

Misalnya membuat novel teenlit yang bertemakan tentang korupsi, ini mungkin menjadi senjata pemerintah untuk mendidik masyarakat terutama anak muda untuk mengenal korupsi. Iklan dan wejangan dirasa cukup membosankan untuk mendidik anak muda yang perngaruh oleh gaya hedonisme yang begitu hebat. Pemuatan karya sastra seperti itu tidak hanya berdampak bagi pendidikan anak remaja, tetapi lebih jauh lagi mendidik masyarakat untuk mencintai dan menghargai peran dan fungsi karya sastra.

***
Kembali ke permasalahan awal, tadinya mau menghabiskan pembahasan mengenai novel teenlit, namun segelas kopi mendorong saya untuk membandingkannya dengan Tetralogi karya Premoedia Ananta Toer. Terlalu jauh memang membandingkan dua jenis novel tersebut, apalagi di waktu dan kultur zaman yang berbeda. Tapi apalah sebuah karya kalau hanya dikagumi tanpa dianalisis dan diapresiasi.

Roman pertama yang dibaca berjudul Bumi Manusia, teman saya yang membawakan untuk dibaca, hingga bertanya apa kehebatan Roman ini. Ratusan orang yang saya lihat profilnya di Facebook menulis Bumi Manusia sebagai buku Favoritnya. Ini keterlaluan, saya sempat mengutuk diri sendiri kenapa tak pernah menyentuh karya tersebut, awalnya hanya ingin membuktikan bahwa teman-teman di Fabecook tidak hanya menulis buku favorit tersebut sebagai ajang gagahan, tetapi ada esensi tersendiri.

Pram dalam pemikiran saya, dikenal sebagai orang yang selalu menghabiskan hidupnya di penjara. Entah itu takdir atau apa, yang pasti Tuhan menciptakan manusia tersebut bukan tanpa alasan. Setidaknya ia manusia pertama Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi nobel sastra, andai kata pemerintah mendukung Pram mungkin ceritanya lain lagi. Indonesia akan mendapat orang yang pertama kali memenangkan nobel, mengagumkan.
Lalu apa kesalahnanya? PKI atau apa, ah saya tidak terlalu memikirkannya. Terlalu nisbi memikirkan nasib sastrawan tersebut, yang penting mahakarya beliau dapat di masukan ke dalam tinta emas kesusatraan.

Jika hendak berpikiran dekonstruktif, mungkin proses pembelajaran di balik tembok penjara ada untungnya (manusia selalu berkata “untung” walaupun itu adalah kecelakaan). Pram di balik penjara tidak lantas berhenti atau menuntut Tuhan, tetapi ia menulis, bahkan mengukir sebuah mahakarya dengan balutan penanya.

Baiklah saya terlalu jauh mengangungkan sastrawan ini, karena sebuah karya sastra akan begitu saja terlepas dari pengarangnya. Sastrawan hanya penyampai wahyu pemikirannya, setelah wahyu tersebut sampai ditulisnya, bukan orangnya untuk kita agungkan tapi tulisannya.

Dalam roman pertama berjudul Bumi Manusia, Pram membalut kultur percintaan dengan pergulatan ideologi dan pencarian jati diri seorang manusia tentang masa depan tanah airnya. Permilihan tema begitu apik, terkadang perlombaan antara kultur percintaan, nilai kemanusiaan, dan nasionalisme berbaur menjadi satu, tidak ada perlombaan tema atau ada kecenderungan Pram menonjolkan satu tema.

Jika dibandingkan dengan tema-tema novel remaja yang masih bergulat tentang percintaan. Pram nampaknya membawa tema picisan sekedar untuk melengkapi ruang lingkup cakrawala yang lebih besar, yaitu semangat nasionalisme dan nilai-nilai sosial. Tidak ada gaya borjuis atau hedonisme dalam cerpen itu, karena membicarakan cinta hanyalah alat untuk mencapai titik amanat yang luhur, yaitu mencintai tanah air.

Dalam pemilihan diksi sengaja ia memperkenalkan bahwa inilah Bahasa Indonesia, terlalu berapi-api mengatakan hal itu, bagi saya tidak. Ia dengan lantang membedakan mana bahasa Indonesia dan mana bahasa daerah bahkan bahasa Belanda. Etimologi setiap diksi yang dirasa asing tidak lantas dijadikan arena gagahan untuk menguatkan “efek sastranya”, tapi ia mencoba mengekploitasi pemilihan diksinya menjadi sesuatu yang begitu lumrah dalam roman tersebut, sekalipun kita baru mengenalnya.

Seandainya novel teenlit mau bercermin pada mahakarya Pram. Mungkin peran dan fungsi sastra begitu jelas di masyarakat. Kita tak perlu mempersoalkan repetisi karya sastra yang begitu hebat atau bahkan mengarah ke plagiat, namun kita harus berkaca mau kemanakah arah sastra kita? Tak perlu berkutat pada komersialisme kalu ujung-ujugnnya menghacurkan anak bangsa, memang efek seperti ini tidak langsung terlihat, namun perlahan-lahan merubah pola hidup berbahasa masyarakat Indonesia. Inikah yang diimpikan Pram dalam romannya, tentu tidak kita tak perlu menjadi penjajah gaya modern yang menjejah bahasanya sendiri.

Tak begitu banyak yang bisa di analisis, menghakimi karya sastra sekelas tetralogi roman hanya dengan 4 sampi 5 paragraf sungguh tidak bijak. Saya sendiri perlu berpeluh keringat untuk benar-benar mengungkap makna di dalamnya.

Menghakimi karya sastra tentu sah-sah saja, semua orang bisa melakukannya, tetapi tetap saja ada kode etik yang mendasarinya. Tetapi untuk menentukan baik dan buruknya sastra tergantung pembaca sendiri. Seperti sebuah takdir, kadang kepenyairan seorang ditentukan oleh seseorang yang bernama ketua redaksi. Kalau mau jujur betapa susah menjadi penyair, harus mampu menembus benteng redaksi jurnal sastra. Bukan hanya kepenyairan, tapi masa depan kebudayaan ada ditangan otoriterisme redaksi. Proses penghakiman cukup ia katakan “karyanya belum layak dimuat”.

Terlalu jauh mungkin saya berkata-kata, terlalu banyak menggunakan kata mungkin dalam tulisan ini. Tetapi setidaknya kita bisa mengambil hikmah bahwa cerpen yang berbalut cinta tidak hanya berkutat pada gaya hidup anak muda yang mengarah pada nilai-nilai indovidualiasme, atau bahkan melupakan kebudayaan sendiri. Tetapi, tema-tema cinta dalam novel teenlit setidaknya dibarengi dengan nilai norma dan agama. “Para penyair yang bersajak tentang anggur dan rembulan” itulah kata W.S Rendra.


Baca Selengkapnya »»

Cerpen : Album Kenangan Perempuan



Cerpen Faisal Syahreza
Penggagas dan penasihat Komunitas Anak sastra dimuat di Lampung Post Minggu, 22 Februari 2009

Rambut bulan, malam itu indah tergerai, cahaya remang menyelinap masuk celah-celah rumah. Jalusi rumahmu tentunya juga tertembus. Atau bisa saja masuk ke jendelamu yang lupa kau tutup dengan gorden rapat-rapat. Aku memasuki rumahmu berbarengan dengan keremanganya, pula kesenyapan yang memahami perasaan perempuan. Aku sendiri tak tahu persis, malam itu aku merasakan hal yang sama denganmu.

Kesedihan dan rasa ngilu, ketika cinta dikoyak-moyak. Aku lihat pasfoto yang biasa kau banggakan telah jatuh, pecah tergeletak di ruang tengah rumah. Pasfoto yang kau ceritakan dengan semangat dan berapi-api pada keluargamu dan sahabatmu. Foto pernikahanmu yang kau dokumentasikan juga lewat video. Pernikahanmu dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Aku selalu terpaku bisu memandangi semua itu. Kau, betapa cantiknya mengenakan gaun putih yang aku tahu itu, kau pesan jauh hari sebelum pesta dilangsungkan. Dan dulu aku sempat membayangkan akulah akan bersanding di pelaminan bersamamu. Aku memakai jas yang hitam nan elegan yang sengaja--lagi-lagi kau pesankan, kau pilihkan.

Lalu. Kau berbulan madu di segala penjuru negeri yang indah, memetik candu kebahagian. Ah, aku tak bisa membayangkan itu. Karena aku ternyata tak sampai bisa bersamamu.

Sudahlah, aku malam ini adalah tamu untukmu. Mengendarai kesunyian rumah tangga. Ketika orang-orang sedang terlelap, aku menjengukmu. Tapi. Kau tak kutemukan sedang tidur terlelap malam ini. Bebarengan dengan suamimu itu. Kau malah sedang menangis di meja riasmu. Make up-mu luntur, berlumuran air mata. Aih, kenapa denganmu. Ada apa? Bolehkan waktu sedikit saja kutumpahkan kembali ke masa lalu. Agar kutahu apa yang membuatmu sedih begitu tersedu? Pilu.

***

Linda masih memegang tas kerja Rinto, sebelum pergi kerja. Kecup manis di bibirnya lebih dari kopi nikmat yang disuguhkan Linda untuk Rinto. Mereka baru saja menikah, sebulan lalu. Begitu manis setiap detiknya yang bergeser. Penuh kebersamaan. Makan pagi-siang-malam penuh pujian. Tidur malam tak lagi ada kesendirian. Cari uang begitu penuh semangat. Dan rumah, seakan berubah menjadi tempat bagai surga. Serasa waktu selalu berputar tetap di tempat yang sama. Tentang kebahagian dan cinta.

"Cepat pulang, Sayang!" Linda dengan wajahnya yang manis.

"Aku langsung pulang begitu jam kerja selesai."

Dilepasnya suami di mulut pintu. Lambaian tangan dan sejumput doa selalu terlintas begitu saja. Di lemparnya seketika. Bahkan punggungnya yang selalu didaki Linda itu tak pernah dibiarkan hilang dari tatapan. Ia pandang lekat-lekat punggung yang mulai menjauh itu. Yang kemudian hilang ditelan jarak atau menelikung di kelokan jalan.

Linda masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan berharap suaminya akan mengetahuinya, bahwa ia begitu teramat mencintainya.

"Jaga rumah dan jangan ke mana-mana?" Pesan suaminya itu, bila ia hendak keluar rumah. Selalu mengiang di telinganya.

Linda memang seorang istri yang baik. Begitu suaminya keluar rumah untuk kerja ia tak pernah menyia-nyiakannya. Linda isi dengan segala rutinitas sebagai seorang istri pada umumnya. Membereskan rumah, mulai dari membersihkan perabotan dapur dengan mencucinya. Membersikan sofa dan lemari, ruang kerja. Mengepel lantai rumah. Dan merapihkan kamarnya. Mencuci pakaian. Menyiapkan masakan yang nanti akan disuguhkannya begitu suaminya itu pulang. Kadang ia mencoba menu masakan yang lain yang ia temukan resepnya di sebuah majalah. Semua itu hanya untuk membahagiakan suaminya.

Bila segala pekerjaan sudah selesai. Dan tak ada lagi yang musti diselesaikan. Mulai dari ruang depan sampai halaman belakang dibereskan, Linda terkadang menikmati album kenangan. Sebuah album yang begitu membuatnya sejuk. Ia pandang album itu seperti menemukan potongan masa lalu. Ia bolak-balik tanpa bosan. berulang-ulang. Hingga tak terasa waktu pun begitu saja meleos di sampingnya.

***

Rinto adalah lelaki yang tampan, menyukai kesederhanaan. Ia pekerja kantoran yang santai. Ia bekerja di sebuah penerbitan buku bacaan. Kadang tulisan-tulisannya dimuat di beberapa koran. Bertemu dengan Linda karena ulah kedua orang tua mereka. Karena bapaknya adalah sahabat karib semasa mudanya. Kebetulan juga mereka berasal dari kampung halaman yang sama, sebuah perdesaan yang dekat kekerabatannya, kuat darah pesaudaraan adat-istiadatnya.

"Jangan tangisi orang yang sudah meninggal!" Bapak Linda menasihati. Linda yang saat itu baru ditinggal mati kekasihnya. Kekasihnya yang sempat berjanji melamarnya.

Orang tua Linda sibuk dibuatnya. Karena pekerjaan anaknya hanya mengucurkan air mata sambil memandangi sebuah album yang selalu Linda bawa dan jaga ke mana-mana. Sebuah album yang bisa ia pandangai berjam-jam, berhari-hari. Hingga lupa makan. Dan seakan melupakan segelanya, termasuk hidupna. Akhirnya tak ada jalan keluarnya selain harus segera menggantikan orang yang dicintainya dengan yang lain. Agar bisa cepat melupakan lelaki yang ada pada album itu, kedua orang tuanya berniat menikahkan anaknya.

Hingga akhirnya dalam keterpurukan, kesedihan atas kematian, Rinto datang mengulurkan tangan dan harapan. Linda sekuat apa pun, pada saat itu merasa hancur akibat perpisahan yang begitu sangat memilukan. Hati Linda mencair juga, ketika melihat kesungguhan Rinto pada Linda dengan keterbukaannya dan perasaan menerima apa pun adanya. Linda luluh, dan memutuskan menikah. Cinta dicoba, dipupuk dengan penuh cita.

***

Bila Linda bosan menunggui suaminya, Rinto yang masih sibuk mengedit naskah di kantor, ia menelpon ibunya.

"Bu, bagaimana kabarnya? Bapak juga baik-baik saja!" Linda di seberang telpon rumah, bertanya kabar melepas kangen.

"Alhamdulillah. Kau sendiri dengan suamimu bagaimana kabarnya?" Ibu menjawab dengan suaranya yang khas. Begitu membuat Linda semakin kangen saja.

"Kami di sini baik semua berkat doa Ibu-Bapak. Bu, apakah pernah ada surat untukku yang diposkan ke rumah?" Linda akhirnya bertanya perkara yang selalu sama. Setiap kali menelpon rumah orang tuanya, selalu pertanyaan yang sama diajukannya. Dan ketika ibunya kembali bertanya "dari siapa?" Linda akan memberikan jawaban yang mengaburkan, kadang ia sekenanya saja. "Ya misalnya dari sahabatku atau dari beberapa panitia lomba yang sedang aku ikuti". Dan ketika ibunya menjawab tak pernah ada surat ditujukan padanya, Linda selalu kehilangan gairah bercakap-cakap lagi. Terasa sekali ia tak sesemangat perbincangannya yang pertama.

"Bu, kalau begitu Linda sudahi dulu, lain waktu Linda menelpon lagi. Linda mau ke dapur dulu." Menutup perbincangan anak dan ibu.

"Iya, kalau begitu ya sudah. Linda kamu jaga dirimu dan suamimu. Ingat jangan sampai begitu suamimu pulang rumah masih berantakan dan masakan belum siap dihidangkan. Beri suamimu kesan rumahmu, surgamu!" Ibu dengan nada menggebu-gebu akhirnya menutup telponnya, setelah Linda mengiyakan semua nasihatnya.

***

Bulan demi bulan menggenapkan almanak menjadi tahun. Dan hitungan delapan tahun pun menginjakkan usia pernikahan. Semula pada beberapa tahun pertama terasa kebahagian terbina. Segalanya penuh suka-cita. Namun, mengapa tak ada hidup tanpa ujian dan kegoyahan. Ketawakalan yang selalu rapuh. Kepasrahan yang selalu goyah. Rumah tangga kini seperti sebuah perahu yang dihuni dua orang melayari samudra, kadang harus tertumbuk karang, dihantam ombak kecil-besar, bahkan kadang badai besar. Tapi semua itu, setelah usai dan redam kadang selalu ada kebahagian. Hingga saat itu tiba, Rinto pernah memergoki Linda sedang asyik tersenyum sendirian memandangi sebuah album kenangan. Sebuah album yang berisi foto-foto lelaki yang dulu kekasih Linda. Lelaki yang hilang dan tiada sebelum masa reformasi tiba. Ketika semasih mahasiswa. Dalam album itu tampak sesosok lelaki yang sedang berduan dengan Linda--istrinya itu.

"Kau masih tidak bisa melupakannya. Kau anggap aku ini apa?" Rinto begitu marahnya. Sorot matanya yang merah menandakan bahwa ia benar-benar merasa telah diinjak-injak harga dirinya.

"Apa artinya pernikahan kita ini bila di pikiranmu masih ada lelaki lain, selain suamimu ini?" Rinto menghamburkan segala kekesalannya. Linda hanya bisa diam membisu seribu bahasa.

Linda merasa begitu bersalah. Ia kehabisan ulah. Dan entah apa lagi yang harus ia perbuat.

Semenjak pertengkaran itu, Rinto jadi jarang pulang. Makan di luar, kalau pun pulang sekadar mengganti pakaian dan pergi keluar lagi. Entah apa sebabnya hingga ia begitu murkanya. Tapi Linda bukan tidak merasa bersalah, dan tidak meminta maaf. Beribu kali ia meminta maaf pada suaminya. Tapi kini semua berbalik, Rinto selalu diam, tidak membuka mulutnya. Seakan-akan kesalahannya tak bisa dimaafkan. Padahal bila Rinto meminta sesuatu pada Linda untuk bisa memaafkannya, Linda akan berusaha mengabulkannya.

Hingga pada malam jahanam itu harus datang juga. Rinto dan Linda terlibat perselisihan hebat. Kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut mereka berdua. Kata-kata yang sering dipakai dalam pertengkaran seorang lelaki-perempuan dilanda kebencian. Kehilangan kepercayaan. Ketakcocokan. Saling menyalahkan satu sama lainnya. Rinto katanya telah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Linda semakin menjadi-jadi dengan kebiasaannya memandangi lelaki pada album foto. Dan tidak dimungkiri lagi, Linda selalu bilang ia masih mengingat kekasihnya yang dulu, yang dianggap telah mati. Tapi Linda tidak percaya sepenuhnya. Ia meyakini kekasihnya masih hidup di luaran sana. Linda masih berharap kabar setidaknya secarik surat yang menjelaskan padanya, ketakbisaannya pulang menemuinya.

***

Rambut bulan, malam itu begitu indah tergerai, cahaya remang menyelinap masuk ke celah-celah rumah. Jalusi rumahmu tentunya juga tertembus. Atau bisa saja masuk ke jendelamu yang lupa kau tutup dengan gorden rapat-rapat. Aku memasuki rumahmu bebarengan dengan keremanganya, pula kesenyapan yang memahami perasaan perempuan. Aku sendiri tak tahu persis, malam itu aku merasakan hal yang sama denganmu. Kesedihan dan rasa ngilu, ketika cinta dikoyak-moyak. Aku lihat pasfoto yang biasa kau banggakan telah jatuh, pecah tergeletak di ruang tengah rumah. Pasfoto yang kau ceritakan dengan semangat dan berapi-api pada keluargamu dan sahabatmu. Foto pernikahanmu yang kau dokumentasikan juga lewat video. Pernikahanmu dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Aku selalu terpaku bisu memandangi semua itu, Kau, betapa cantiknya mengenakan gaun putih yang aku tahu itu, kau pesan jauh hari sebelum pesta dilangsungkan. Dan dulu aku sempat membayangkan akulah akan bersanding di pelaminan bersamamu. Aku memakai jas yang hitam nan elegan yang sengaja lagi-lagi kau pesankan kau pilihkan.

Ada sisa pertengkaran hebat yang kau siratkan dari tangisanmu.

Tangisanmu seperti jerit luka yang sangat perih. Apakah ada yang melukaimu? Aku selalu ingin membahagiakanmu, dan tak ingin menyaksikanmu begitu terluka. Sedang aku, begitu tak berdaya.

"Kau kenapa masih terduduk menangis memandangi album kenangan itu? Album foto-foto kita berdua semasa remaja. Ketika dunia yang kita tumpangi sama?" Ketika kubertanya tentu saja kau tak mampu menangkap suara dari dunia yang berbeda.

***

"Aku masih mengharapkan kau menepati janjimu, melamarku." Linda mendekap album kenangannya. Yang masih ia bawa-bawa dan ia jaga. Air mata tak pernah bisa memuaskan hatinya.

"Kau tahu, Rinto yang selalu kuharapkan akan bisa menggantikanmu. Tadi pagi kusaksikan sedang berduaan dengan perempuan yang tak kukenal. Mereka berdua masuk ke sebuah penginapan. Setelah kubuntuti, dan kucari informasi, mereka memesan satu kamar. Dan betapa tak mengerti aku harus memahami."

Linda seperti sedang bercerita kepada seseorang. Mungkin ia hanya bisa menumpahkan kesedihannya pada album kenangannya. Berharap sesosok lelaki yang terpampang di lembaran album itu mendengarkan kisahnya.

November, 2008

Faisal syahreza, Penyair lahir di Cianjur, merampungkan pendidikannya di UPI, Bahasa dan Sastra Indonesia. Kini Bekerja sebagai Sekertaris Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur.

Baca Selengkapnya »»

Cerpen: RINDU RANI



Cerpen Rizki tiara novyani Tia
Komunitas Lingkar Sastra Universitas Islam Malang

Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku…aku yang berdiri ditengah badai kerinduan jauh bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisuan… Tepat sangat tepat di depan wajahku, berdiri tegar dengan senyum yang hambar. Kawan, hari yang cerah membutakan lagi mataku dari segumpal rindu tak bertuan.
Sobatku ini, sama layaknya dengan sobatku yang lain dalam teori fisik dia tidak kekurangan sama sekali, tidak, dari segi psikologis dia logis walaupun tidak sangat, dari kecerdasan emosional dia mengagumkan, kecerdasan intelektual tidak memalukan. Lantas dimana yang membuat dia kadang ada tapi tak ada… Kenapa dia?

“Ternyata aku lemah…

“tidak aku sangat lemah, katanya saat dia mendatangiku di taman sekolah ketika aku sedang asyik dengan buku ku. Tapi aku ingin kuat, aku ingin sekuat mereka, aku ingin setegar mereka, aku ingin lariku secepat mereka…” tersedu. Kali pertama aku melihat air matanya, belum jatuh sobat masih tergenang dalam lingkaran abadi yang ingin dia kuat-kuatkan.

“Kenapa?” ah bodoh. Kataku (tak terucap)

“Ada apa?” hhh… klise

Dengan pertanyaan apa aku harus menjawab itu semua?


Dari mana aku harus memulai pertanyaan. Aku tak tahu. Tapi aku yakin, dia tak perlu jawaban dariku, dia hanya ingin menyaksikan ketidak adilan denganku, lebih tepatnya mengajakku. Aku terpaku, ku ingat penolakkanku pada kejadian tahun 2002 lalu, kejadian dimana tak dapat ku genggam tangan bunda… tidak dengan air mata untuk menghentikannya, tapi jiwa tenang tak mengerti apa-apa dan pasti tatapan kosong. Tak setetespun air mataku jatuh… begitu cepat semuanya begitu cepat terjadi sampai tak masuk segalanya dalam logikaku.

“Apa yang bisa ku lakukan untuk sobat?” akhirnya aku berucap tak ada jawaban aku menunggu, air matanya menjawab “Ada kerinduan yang memuncak dalam nafasku tak tahu harus ku bawa kemana rindu ini?

“Apa yang sedang kau rindukan sahabatku?”

Hhhh… helaan nafas panjangnya terasa berat “Mama…!” dengan menutup wajahnya ia terisak. Satu… ya satu lagi kawan kisah hati di tinggalkan bunda, hampir sama denganku tapi ternyata banyak sekali berbedanya. Ku dekati dia ku genggam tangannya yang berusaha menutup wajah penuh air mata, matanya terbuka. Ku tatap tajam ku cari dimana letak bedaku dengannya, dengan sedikit ragu dia mengatakan pertengkaranya dengan Mamanya. Semua semata gengsi anak yang sudah merasa cukup mampu hidup sendiri. Satu kalimat perih kawan, yang memang tak pantas diucapkan pada wanita yang telah lama merawat kita! “Ma… katanya walaupun mama adalah ibuku, sekalipun aku nggak mau mengemis pada Mama!” dengan tanda seru dibelakang kalimat menegaskan bahwa kalimat itu bersifat perintah pada dirinya sendiri untuk jangan sampai ia mengemis-mengemis walaupun pada Mamanya. Luar biasa kawan yang dikatakan sahabatku itu pada Mamanya, ku tahan amarahku untuk mengalahkanya karena aku yakin sudah lebih dari 100x dia memaki dirinya sendiri dengan kata-kata mengalahkannya. Bukan hanya kata-kata itu yang luar biasa kawan, tapi dampak yang ditimbulkan luar biasa. Lagi… tidak kurang dari tiga bulan setelah tragedy itu tak satupun pesan singkat sahabatku ini, Rani yang di balas sang Mama, tak satupun telfonya terjawab suara Mama… semua seakan lenyap dan yang lebih menghebohkan sakit yang di deritanya kian hari kian parah, bukan sekedar sakit kepala, sakit gigi apalagi flu tapi leukemia di deritanya… Kawan aku lelah aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja lelah bagaimana dengan rani? Tidak sama sekali dia tampakkan penderitaannya, tak seorangpun melihatnya bersedih, pintar dia menutupi, tapi ketahuilah di balik sapa cerianya, di balik tawa palsunya dia menyimpan berjuta sakit tak terperi, kerinduan tak terbendung… temanku ini juga lelah Kawan…

Pernah di suatu ketika kutanyakan padanya

“Sudahkah ibumu menjawab telfonmu?”

“Belum …” hhh… sambil tersenyum kecil dia menambahkan “aku sampai lupa jika mempunyai seorang ibu” Aku menahan air mata itu agar tidak jatuh.


“Assalamu’alaikum” (jawabku ditelfon, siang hari tepat setelah satu kuliahku selesai).

“Wa’alaikumsalam, Rara?” Tanya di sebrang

“Ya, benar, ini siapa?” timpalku

“Rara ini aku Ivon, Rani pingsan sewaktu berangkat kuliah tadi keadaannya kritis”

“Rumah sakit mana?” tanyaku

“Widya Farma” jawab Ivon

“Aku langsung kesana” tutupku

Diperjalanan tak ada yang bisa aku pikirkan hanya gundah yang membuatku resah, bukan pertama kalinya kabar ini ku terima tapi entahlah ada yang lain, pesan yang ku dapat dari Ivon… Kritis, dalam bayanganku kritis berarti koma terlambat sedikit saja… ah… aku tak mau membayangkan itu.

“Gimana Rani?” tanyaku pada Ivon setibaku di RS Widya Farma, sudah banyak yang berada disana selain sahabat ada juga Keluarga Rani nenek dan tante-tantenya, disini hanya itu keluarga Rani sebab orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di Bandung.

“Kata dokter penyakit yang diderita Rani bisa disembuhkan dengan cara pencangkokkan sum-sum tulang belakang, hanya itu harapan terbesar , sedangkan yang bisa mendonor sum-sum tulang belakang tersebut hanya keluarga kandung dan yang cocok dengan sum-sum tulang belakang Rani” jelas ivon. Aku tertunduk, separah itukah penyakit yang dideritamu Ran…? Tak seberkas rasa sakitpun kau perlihatkan kepada kami kini dengan cara yang seperti ini kah yang kau inginkan untuk memberitahu kepada kami? Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba dokter keluar.

“Ada yang bernama Rara? “ Tanya dokter

“Saya dok…” aku melangkah kearah dokter.

“Saudara Rani terus menyebut nama Saudara, silakan masuk tapi saya harap jangan terlalu lama mengajaknya bicara” perintah dokter

Akupun masuk, kulihat serba putih, tabung oksigen, kabel infus, alat deteksi jantung lengkap terpasang pada tubuh Rani.

“Ran…” panggilku lembut, Rani membuka matanya perlahan sekali

“Ra…” hampir tak bisa ku dengar gerak bibirnya pun lambat, pucat.

“Mama… beritahu mama” terbata tak jelas, ku tahan isak ku tak bisa ku bayangkan hari-hari yang selama ini selalu kita lewati bersama akankah purna, aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, tapi tahukah kau kawan siapa yang tidak akan berfikir sama dengan ku ketika melihat sesosok hidup terbaring lemah tak berdaya dibantu selang-selang oksigen? Selama ini Rani menyembunyikan ini dari orang tuanya dan kini ia ingin aku memberitahukanya, ku ambil HP Rani di tas yang tergeletak di atas meja disamping tempat ia berbaring, ku cari nama Mama di kontak HPnya, dan astaqfirullah HPnya bergetar, satu pesan diterima ada tulisan Mama dari identitas pengirim, aku tak percaya… Rani mulai menggelincang seperti ada sesuatu yang membebaninya, ku panggil dokter dan keluarga serta sahabat ikut masuk, dokter memeriksa Rani, Rani mulai tenang setelah di beri suntikan, dokter mempersilahkan siapa saja yang ingin bicara dengan Rani, semua air mata tumpah, aku terpaku lalu keluar dan sedikit bicara pada perawat disebelahnya tapi aku ingat pada pesan di HP Rani yang masih ku genggam, Rani masih membuka matanya. Ku dekatkan HP itu di wajahnya, ku lihat dia membaca pesan itu… matanya berkaca-kaca, semua orang masih tersedu-sedu menatapnya, nenek Rani hampir jatuh tapi ia tak mau pergi dari tempatnya berdiri, Ivon dan tante Rani membopong lengan nenek.

Rani menggerakkan bibirnya ia tersedu dan berkata ”Aku lega… aku tenang… ja..ngan khawatir…” Diam Rani menutup matanya, monitor menggambarkan garis lurus dengan bunyi yang mengiris hati, tangis histeris dari masing-masing kami, nenek tak bisa menangis ia langsung pingsan, aku tak bisa menerimanya aku tatap pesan di HP Rani “Nak…” hanya tulisan yang ku baca, penantian Rani tak lebih dari satu tahun hanya dijawab dengan kata itu, tapi Rami sudah merasa cukup hanya dengan kata itu aku ingin memakinya betapa bodohnya dia menunggu hanya demi kata iu aku tak terima…

Dokter masuk bersama dua perawatnya tapi mengapa ada senyum disana, tak lama kemudian ia angkat bicara “tenang semuanya Rani hanya tertidur karena pengaruh obat penenang saya berikan tadi” katanya dengan tampang seperti orang yang menang taruhan. Aku masih belum percaya “lalu mengapa monitor itu…” tak ku teruskan.

“O… itu memang saya yang mematikanya karena Rani sudah tak memerlukan itu. Ku tatap dada Rani masih ada gerakan naik turun… Bodoh…


Baca Selengkapnya »»

Analisis Semiotik


Jika anda menyukai apa yang namany puisi pasti mengenal istilah keilmuan smiotika. Semiotika sendiri berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap. Bicara cepat, berjalan


sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap sebagai tanda. Dari penjelasan diatas tentunya semiotika dapat dijadikan referensi untuk mengkaji sebuah sajak.

Menganalisis sajak itu bertujuan memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotic atau ketandaan yang mempunyai arti, medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik

Ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum digunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa; sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum digunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang-lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik,

Pertama kali yang penting dalam lapangan semiotik, lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya, asap menandai api. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, Hubungan keduanya bersifat arbitrer dan berdasarkan konvensi (perjanjian masyarakat. Misalnya, kata ibu berarti ‘orang yang melahirkan kita’
Dalam ilmu tanda-tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat ( sastra) karena sastra (karya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi (atas) kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Dalam karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian, timbullah arti baru yaitu arti sastra itu,. Jadi, arti sastra itu merupakan arti dari arti (meaning of meaning) untuk membedakannya (dari arti bahasa), arti sastra itu disebut makna (signified). Apa yang dimaksud makna sajak (karya sastra) itu bukan semata-mata itu bahasanya, melainkan arti bahasa dan suasana, perasaan, intensitas arti, arti tambahan (konotasi) daya liris, pengertian yang ditimbulkan tanda-tanda kebahasaan atau tanda-tanda lain yang ditimbulkan oleh konvensi sastra, misalnya tipografi, enjambement, sajak, baris sajak, ulangan, dan yang lainnya lagi.

Sastrawan dalam membentuk sistem dan maknanya dalam karya sastranya harus mempertimbangkan juga konvensi bahasanya sebab bila ia sama sekali meninggalkannya, maka karyanya tidak dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Puisi sajak secara semiotik seperti telah dikemukakan merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna ditentukan oleh konvensi. Memahami sajak tidak lain drai memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap mkna sajak. Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukab senata-mata karena arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Dengan demikian, teranglah bahwa untuk mengkaji puisi (sajak) perlulah analisis struktural dan seniotik, mengingat bahwa sajak itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna.

Studi sastra bersifat semiotik merupakan usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antara unsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Kritikus menyendirikan satuan-satuan berfungsi dan konvensi-konvensi sastra yang berlaku. Satuan berfungsi itu misalnya alur, setting, penokohan, satuan-satuan bunyi, kelompok kata, kalimat (gaya bahasa), satuan visual, seperti tipografi, enjambement, satuan baris (bait) dan sebagainya.

Bagaimanapun juga, karena sastra itu karya (imajinatif) yang bermedium bahasa, maka tanda-tanda yang utama dalam karya sastra itu adalah tanda-tanda kebahasaan meskipun ada konvensi ketandaan sastra yang lain yang merupakan konvensi tambahan. Konvensi tambahan itu diataranya : perulangan, persajakan, tipografi, pembagian baris sajak, pembaitan, persejajaran, makna kiasan karena konteks dalam struktur yang semuanya itu menimbulkan makna dalam karya sastra. Tentu saja tanda-tanda tersebut erat hubungannya dengan tanda kebahasaan misalnya saja ulangan tidak terpisahkan dengan kata-kata yang diulang-ulang atau kalimat yang diulang, yang semuanya menimbulkan ulangan bunyi dan menimbulkan efek intensitas, atau efek liris, atau efek yang lain. Maka dalam analisis sajak terutama dicari tanda-tanda kebahasaan dan baru sesudah itu dicari (dianalaisis) tanda-tanda (tambahan) yang lain yang merupakan konvensi tambahan dalam puisi.

Baca Selengkapnya »»

Menggali Esensi Kebudayaan Lama


Oleh : Hendri Hidayat

Sadar atau tidak, perkembangan kebudayaan Indonesia dewasa ini, tidak akan terlepas dari peran kebudayaan lama/kuno. Kebudayaan lama tersebut merupakan cerminan dan bentuk kebudayaan awal yang membentuk kebudayaan Indonesia selanjutnya. Namun, yang menjadi permasalahan, generasi muda sekarang ini sudah tidak mengenal lagi adanya mengenai kebudayaan lama. Pada kondisi seperti inilah berarti ada suatu ketimpangan budaya, tidak ada sinkronisasi antara kebudayaan kuno dan modern.

Dalam hubungan konsep kebudayaan terpadu, hubungan antara antara kebudayaan lama dan kebudayaan modern, eharusnya terjalin dengan erat. Mengapa demikian? Karena itulah sebenarnya jati diri bangsa kita. Kalau kita sudah tidak menghargai kebudayaan lama, sepertinya bangsa yang dahulu dianggap sebagai lumbung kebudayaan dunia hanya tianggal kenangan belaka.

Mengamati sastra lama dalam rangkan menggali kebudayaan Indonesia merupakan usaha yang erat hubungannya dengan pembangunan bangsa Indonesia. Pembangunan negara yang


sifatnya multikompleks memberi tempat kepada bidang mental dan spiritual. Sastra lama merupakan sumber yang kaya untuk menggali unsur-unsur spiritual itu. Dalam hal ini, bangsa Indonesia boleh berbangga karena memiliki dokumentasi sastra lama yang benar-benar merupakan khazanah yang penuh berisi kekayaan yang tidak terhingga nilainya. Sastra lama Indonesia yang terdapat di beberapa daerah, misalnya Jawa, Melayu, Sunda, Madura, Bali, Aceh, Makasar, dan Bugis merupakan rekaman Kenudayaan Indonesia dari kurun silam yang mengandung berbagai lukisan kehidupan, buah pikiran, ajaran budi pekerti, nasihat, hiburan, pantangan, termasuk kehidupan keagamaan pada wakti itu.

Untuk memahami hasil sastra, khususnya sastra lama, pengetahuan yang memadai tentang latar belakang penciptaan dan sosiokultural karya sastra itu akan dapat membantu. Pengetahuan sosiokultural itu, antara lain, kepercayaan, agama, pandangan hidup, adat istiadat, sosial, politik, dan ekonomi (Wellek), 1956:61-61). Untuk mengungkapkan kembali latar nelakang kebudayaan sastra lama diperlukan pengetahuan masa hidup dan sejarah penyebarannya. Di antara manfaat mempelajari sastra lama adalah mengenal kekayaan kebudayaan sendiri dan kebesaran masa lampau untuk kepentingan pembentukan masa sekarang dan masa yang akan datang, memperluas pandangan hidup kemanusiaan, memperluas pengetahuan tentang dunia luas di luar masyarakatnya.

Generasi kemudian perlu memanfaatkan peninggalan yang tersebar di berbagau daerah di Indonesia. Peninggalan-peninggalan itu perlu diamati dan digali serta hasilnya dipublikasikan untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian, persepsi tentang nusantara akan lebih luas, tidak terbatas pada daerah ataupun suku.

Mempelajari sejarah memiliki arti yang sangat pentinga dalam kehidupan. Ada tiga manfaat yang dapat ditemukan dalam mempelajari sejarah (Nugroho Notosusanto, 1964:61) yaitu:
1. Memberikan pendidikan.
2. Memberikan ilham dan Ispirasi.
3. Memberikan kesengan atau pleasure,

Ada sejumlah naskah nusantara yang mengandung fakta sejarah yang oleh pengarangnya diolah sedemikian rupa sehingga menjadi suatu sajian yang berupa rekaan yang menarik, misalnya Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, dan Babad Tanah Jawi. Mengingat sastra adalah cermin masyarakat, dalam kaitanya dengan sejarah bangsa Indonesia, naskah-naskah sastra lama itu sangat penting dan sangat berguna untuk dipelajari. Dengan memahami sejarah Indonesia pada masa lampau maka arah pembentukan keperibadian bangsa Indonesia akan lebih jelas.

Sebagai contoh, penggalian naskah Nagarakretagama penting bagi pembangunan Negara Republik Indonesia di masa kini karena Nagarakretagama berisi sejarah pembangunan kerajaan Majapahit di masa lampau. Sejarah masa silam merupakan senjata yang ampuh, yang adapat digunakan untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perjuangan kebudayaan untuk membentuk keperibadian serta masa depan bangsa. Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gakah Mada telah dapat mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh Nusantara. Pembangunan kerajaan Majapahit enam abad yang lampau itu ada titik pertemuan dengan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa kini meskipun kondisnya berbeda (Slametmulyana, 1979).

Pedoman pemerintah yang diuraikan berdasarkan sejarah Islam dengan contoh-contoh dalam bentuk hikayatyang di sana-sini disertai dalil-dalil kutipan dari %uran dan Hadis dapat dikaji melalui naskah Tajussalatin dan Bustanussalatin. Kedua karya itu merupakan hasil sastra lama yang dilakukan oleh raja-raja, menteri, hulubalang, bendahara, penulis, para duta, dan pejabat kerajaan lainnya, terhadap Allah dan Rakyat;demikian juga sebaliknya, bagaimana kewajiban yang harus dilaksanakan oleh rakyat terhadap terhadap Allah dan negara (Siti Chamamah, 1981; Khalid Hussain, 1966). Lambang negara Bhineka Tunggal Ika, dari semula sudah diketahui bahwa asalnya bukan dari Sansekerta. Kalimat itu diambil dari kitab Jawa Kuna Sutasoma (CXXXIX,5). Unsur Sansekertanya hanyalah kata bhinna (Haryati Soebadio, 1983 :556 dan 561).

Pustaka Acuan
Pikiran saya yang memaksa untuk menulis
Sadi, Suripan, Mutiara yang Terlupakan, HISKI JATIM, 1991
Mata Kuliah Folklor Universitas Pendidikan Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, Balai Pustaka

Baca Selengkapnya »»

Cerpen : Penantian dalam Pencarian


Cerpen Kiriman Nike Angguni T.L dari BSI Kelas II C

Jangan lupa lihat komentar kami mengenai cerpen ini, untuk kritik dan sarannya ditunggu

Sebuah cerita tentang perjalan hidup dan perjuangan untuk menemukan wanita yang telah melahirkanku. Inilah aku seorang gadis berusia 20 tahun . Aku adalah Yuri, Yurika Anastsya. Aku tinggal dipinggiran Kota Jakarta, di suatu pemukuiman yang warganya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sejak kecil aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Aku sangat menyayangi mereka tapi sejak 10 tahun yang lalu aku hanya tinggal berdua dengan Nenek, karena Kakek telah meninggal, sejak saat itu Nenek bekerja seorang diri demi menghidupiku. Nenek adalah semangatku, tetap tegar dan semangat bahkan Ia tak peduli dengan usianya kini telah lanjut . Aku selalu berdoa agar Nenek selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, karena hanya Nenek-lah miliku satu-satunnya di dunia ini.

Kini aku bekerja sebagai waitres. Aku bekerja paruh waktu sehingga aku bisa membantu-bantu nenek. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku karena aku tak ingin terlalu menyusahkan Nenek. Padahal aku bercita-cita menjadi seorang dokter, tapi sepertinya itu ta akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, aku memilih untuk bekerja agar aku bisa membantu ekonomi Nenek. Apapun akan kulakukan untuk membahagiakan Nenek karena aku sangat menyayanginya. Jam kerjaku mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Jadi sebelum aku pergi bekerja, Aku bisa membantu Nenek jualan dipasar.

Aku dibesarkan Nenek sejak bayi, tak jarang aku berpikir sebenarnya aku anak ibuku atau anak Nenekku? Belum pernah sekalipun aku bertemu dengan Ibuku, melihat langsung wajah Ibu. Aku hanya dapat melihat wajah Ibuku dari sebuah foto . Lantas kemanakah Ayahku? tak pernah sedikitpun Nenek bercerita tentang Ayahku, tentang Ibuku, setiap aku bertanya kepada Nenek, Ia hanya dapat menangis dan selalu bilang, “Suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahuinya, Nenek akan menceritakan semuanya jika sudah tepat waktunya.” Sebenarnya aku sangat ingin mengetahui lebih banyak cerita tentang kedua orang tuaku. Tapi aku juga tak ingin melihat nenek menangis, keceriaan Nenek adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Akhirnya aku tak pernah menanyakan hal itu lagi.


Pagi ini nenek alpa dari kegiatannya berdagang di pasar karena pagi ini nenek sakit, sehingga aku tak mengijinkanya untuk berjualan. Aku membiarkan Nenek beristirahat di rumah saat aku pergi bekerja, aku menitipkan Nenek kepada Mba Sri, tetanggaku yang sudah aku anggap seperti kakaku sendiri. Sedih rasanya melihat Nenek terbaring sakit. Tangan dan kaki nenek tak dapat bergerak, aku panik saat tahu itu sehingga aku langsung membawa Nenek ke Rumah Sakit, ternyata setelah diperiksa dokter, Nenek terkena serangan stroke. Aku sangat sedih mendengarnya. Tapi dengan penuh kasih sayang aku tetap marawat nenek.

Pada suatu malam, Nenek memanggilku dan memintaku untuk duduk disamping ranjang tempatnya berbaring lemah. Ia berkata “ Nak, Nenek rasa kini tiba saatnya kamu tahu semua rahasia yang telah Nenek pendam selama 20 tahun, tapi nenek minta kamu jangan pernah sedikitpun membenci Nenek, karena Nenek telah menyimpan ini semua seumur hidupmu. Dan satu lagi nenek minta kepadamu, kamu harus menerima semua kenyataan yang ada dalam hidupmu. Nenek percaya, kau adalah anak yang baik dan tak akan mungkin membenci dan mengingkari kenyataan.” Rasa penasaranku semakin besar , ada apakah sebenarnya yang terjadi ? Akhirnya, nenek menceritakan semuanya.

Oh… Tuhan sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.

Ibuku adalah seorang pasien Rumah Sakit Jiwa, dan aku dalah anak seorang korban pemerkosaan. Mungkin karena itulah alasan Nenek tak pernah menceritakan keberadaan Ibu apalagi ayahku. Lantas siapakah Ayahku ? dan dimanakah Ia kini?

Sejak peristiwa pemerkosaan itu, Ibu mengalami depresi berat sehingga akhirnya Ibu seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di kota Bandung. Sewaktu Kakek masih hidup, Nenek dan kakek sering mengunjungi Ibu, hampir setiap minggu mereka mengunjunginya, sampai akhirnya Ibu melahirkan Aku. Melihat keadaan Ibu yang seperti itu, akhirnya Kakek dan Nenek membawaku pulang dan merawatku hingga kini aku menjadi seorang gadis yang tegar dan semangat seperti Nenek. Kakek dan Nenek mereka sibuk dengan pekerjaanya dan merawat aku akhirnya mereka jarang menemui Ibu apalagi setelah Kakek meninggal Nenek tak pernah lagi menemui Ibu.

Suatu hari, Nenek memberikan secarik kertas dan sebuah foto seorang wanita yang Nenek bilang itu adalah Ibuku. Pada foto itu tertera sebuah nama seorang wanita yaitu Lanny Widiawati itu adalah Ibuku. Nenek memintaku untuk menemui ibuku. Sungguh rasanya sangat tak mungkin untuk aku meninggalkan Nenek dalam keadaan sakit seperti itu. Apalagi mencari seorang tidak akan mungkin dalam 1 atau 2 jam saja, apalagi sebelumnya aku belum pernah menginjakan kaki di Bandung. Nenek terus memaksaku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menuruti keinginan Nenek dan berniat meminta Mba Sari untuk menemani nenek untuk sementara waktu selama aku berada di Bandung.

Sore ini juga aku pergi ke Bandung untuk melakukan pencarian, dengan berat hati aku pergi meninggalkan Nenek. Nenek berpesan kepadaku “Nak, jaga dirimu baik-baik segeralah kembali kalau kau sudah menemukan ibumu.”

Akhirnya aku pergi ke Bandung, setibanya aku di Bandung, aku merasa seperti begitu asing berada dikota tersebut. Aku mulai bertanya kepada orang-orang yang sedang berada di situ tentang alamat tempat Ibuku tinggal.

Aku sempat kesasar untuk beberapa kali. Tapi untungnya ada seorang Ibu muda yang mau menunjukan tempat keberadaan Ibuku. Ibu muda yang mengantar aku memiliki permasalahan yang sama yaitu Ia pun hingga kini belum pernah bertemu dengan Ibu kandungnya, karena Ibunya meniggal saat melahirkannya.

Tibalah aku di tempat itu yaitu sebuah bangunan tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan dan taman. Di sana terlihat banyak orang-orang yang tak waras sedang banyak yang bermain- main layaknya anak kecil.

Oh Tuhan.... seperti apakah keadaan Ibuku? Apakah Ibu juga seperti itu ? Seorang Satpam memberitahuku untuk menemui Ibu Suster Kepala, aku pun diantar sampai keruangan tempat Suster Kepala itu. Aku bertanya satu persatu tapi Ibuku katanya tak ada di sana lagi. Katanya, Ibuku dibawa lari oleh seorang mantan Suster Kepala karena dulu tempat itu pernah mengalami suatu peristiwa kebakaran. Ketika Ibu Suster Kepala bercerita demikian aku mulai putus asa , kemala lagi aku harus mencari Ibuku ? aku mencoba meminta alamat Ibu Suster Kepala yang membawa pergi Ibuku. Tapi sayangnya Beliau tidak mempunyai alamat Ibu Rosy, Mantan Ibu Suster Kepala.

Lantas, mengapa Ibu Rosy hanya membawa pergi Ibuku? Jawab Ibu Ratna kepala Suster yang kini, katanya Ibu Rosy sangat dekat dengan Ibuku, Ia menganggap Ibuku seperti Ibunya sendiri. Ibu Ratna memberiku sebuah foto wanita paruh baya, itu adalah foto Ibu Rosy, orang yang membawa pergi Ibuku. Tetapi aku merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu, ternyata Ia adalah Ibu muda yang tadi mengantarku ketempat ini. Karena Ibunya telah meninggal , maka Ia pun begitu menyayangi Ibuku. Tapi Untungnya ada yang memberitauku tentang alamat Ibu Rosy yaitu seorang tukang kebun yang sudah berada disitu sejak lama. Rasa putus asaku sejenak hilang karena Tuhan memberiku jalan untuk mencari Ibu kandungku. Aku pergi meninggalkan tempat itudan terus mencari keberadaan Ibuku dengan menyelusuri jalan Kota Bandung yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan para pedagang yang berjualan disepanjang trotoar. Pencarianku hari ini tak membuahkan hasil. Aku memutuskan untuk mencari tempat untuku bermalam.

Esok harinya aku mulai melakukan pencarian lagi, hingga akhirnya aku menemukan alamat yang diberi tukang kebun itu kepadaku. Aku mengetok rumah itu, seorang Bapak-bapak keluar membukakan pintu. Aku menanyakan tentang Ibu Rosy, tapi ternyata Ibu Rosy telah 2 tahun pindah dari rumah itu. Aku sangat putus asa, keputusasaanku membawaku kembali keJakarta. Aku ingin melihat keaadaan Nenekku. Aku seperti kehilangan jejak akhirnya aku berhenti melakukan pencarianku.
Sakit Nenek bertambah parah. Aku menyesal telah meninggalkan Nenek untuk pergi ke Bandung. Aku sedih melihat keadaan Nenek yang semakin hari semakin parah. Aku membawa nenek keRumah Sakit , aku tak tega membiarkan Nenek menderita seperti itu. 2 hari diRumah sakit, Nenek tak bisa diselamatkan. Nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kini aku tak punya siapa-siapa lagi diDunia ini, aku kehilangan orang yang paling aku sayang yang telah merawat aku hingga kini.

Merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kecuali Ibuku, aku memutuskan pindah keBandung dan mulai kehidupan bari disana. Aku mulai mencari pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Kini aku telah bekerja disebuah restoran. Sambil bekerja aku mencari Ibuku. Setelah bekerja selama 6 bulan, aku melihat seorang wanita yang pernah mengantarkan aku dan yang telah menunjukan tempat Ibuku tinggal.. Ia adalah Ibu Rosy orang yang selama ini merawat Ibuku. Dengan rasa yakin aku mendekati Ibu itu dan bertanya ” apakah Ibu, Ibu yang pernah mengantarkan aku ke Rumah sakit Jiwa tempat Ibuku?” Ibu menjawab “ ade...?” “ ya Ibu, ini aku, apakah aku boleh bertanya kepada Ibu ?” “ boleh nak, dengan senang hati Ibu akan menjawab pertanyaanmu .” dan ternyata memang benar ia adalah perawat yang waktu itu membawa lari Ibu pada peristiwa kebakar tiu. Aku diajak kerumahnya dan aku dapat melihat Ibuku. Hatiku senang karena aku dapat melihat langsung dan memeluk Ibuku, wanita yang selama ini aku cari, yang lebih membuatku bahagia adalah Ibuku telah sembuh dari penyakit kejiwaanya. Ibu Rosy telah menganggap aku adiknya dan memintaku tinggal bersamanya.
Inilah kisahku, kisah hidup dan perjuanganku untuk mencari Ibu kandungku.





Komentar divisi sastra, Feri M. Sukur

Ketika membaca cerpen ini, saya di iringi oleh lantunan shireen bersaudara (the sister) dengan lagu curhan mereka yang berjudul kamu-kamu lagi. Jadi saya bingung harus bagaimana memilah otak saya oleh dua suara hati yang berbeda. Pertama, suara hati shiren bersaudara tadi yang dinyanyikan. Kedua, dengan suara hatinya Nike Angguni T.L ini.

Kenapa saya sulit berkonsentrasi? Itu karena keduanya memiliki kekuatan dan titik lemah yang sama. Pada kicauan saya selanjutnya, saya akan menjelaskan di mana letak kesamaannya itu.

(mouse digerakan. Icon winamp di klik. Menunggu sejenak tampilannya, lalu saya memutar lagu the sister)

Apasih maumu kerjaanmu eangganggu
Di telpon sms kerjaanmu menrayu
Aiaia. . .

Dalam sebuah pengakuannya, shiren bersaudara mengakui bahwa semua lagu yang ada dalam album mereka adalah sebuah curhat yang tak sengaja menjadi lagu. Kisah cinta mereka selama ini. Selain itu, shiren juga mengakui bahwa ketika dia bernyanyi, itu hanyalah sebuah perjalan hidup yang harus dijalani tanpa beban, terutama oleh kualitas vocal dia sendiri, yang kalau kita dengarkan lebih mendalam dalam lagu ini, ada beberapa haleuang shiren sungkar, pemeran cinta fitri ini yang fals.

Dalam cerpen saudari kita, Angguni, dengan latar belakang sebagai seorang siswa/mahasiswa bsi, yang saya ketahui bsi adalah singkatan dari bina sarana informatika (maaf jika saya salah), yang tentunya sentuhan dengan dunia bahasa secara mendalam sangat jauh. Sama seperti shiren di atas, angguni ini masih perlu kembali banyak membaca. Di mana harus menyimpan titik, koma, spasi, tanda petik, dan juga beberapa poin kebahasaan yang lain.

Saya akan mengulas kembali cerpen ini dalam bentuk synopsis kecil:
Aku (si tokoh) adalah anak yang dibesarkan oleh kakek dan nenek, yang tidak pernah sedikitpun tahu tentang kedua orang tuanya. Sehingga dia merasa bahwa dirinya lahir dari rahim seorang nenek, bukan dari rahim seorang ibu.

Kedewasaan mendesakku untuk menemukan sepenggal darah yang tidak aku kenal, aku bertanya pada nenek, tapi dia seolah bungkam. Hingga sebuah penyakit memaksa nenek untuk mengatakan semuanya.

Sebuah alamat diberikan padaku. Dengan bermodalkan itu, aku berkelana dari satu lisan ke lisan lain, lisan yang menunjukan di mana alamat ini bermuara. Dan lisan itupun banyak mengungkapkan helai demi helai hijab yang menutupi wajah ibuku. Sampai akhirnya, aku menemukan seraut wajah ibu di sebuah rumah sakit jiwa, selepas ingatannya hilang.

Bukankah begitu inti ceritanya, Anggani?

Ceritanya sangat menarik. Bagaimana perjalanan tokoh melewati beberapa rintangan yang tak pernah kita bayangkan. Berliku. Menanjak. Berlubang. Sehingga untuk melewati jalan ceritanya, kita harus melahap habis kata perkatanya dengan cermat. Saya ngat beruntung membacanya saat ini, dengan cerpen yang jujur, tanpa ada metafora yang rumit, saya bisa dengan mudah menjelajahnya. Saya tidak bisa membayangkan, jika cerpen ini di perbaiki setelah ada komentar ini.

Tapi saya juga seolah melihat sebuah cerpen yang tema, watak, alur, latar, pusat pengisahan, yang disingkat sebagai unsure-unsur intrinsic sebuah prosa, sama persis dengan apa yang ada dalam reality show termehek-mehek, mata-mata, orang ketiga, lemon tea. Tidak ada satupun yang terlewat. Detail setiap detailnya tidak ada sedikitun yang berbeda.

Saran saya untuk anggani: semakin banyak membaca, apapun jenis bacaannya, maka kamu akan menemukan sendiri bagaimana letak titik, koma, tanda petik, dll, yang sesuai dengan kaidah kebahasaan bahasa Indonesia. Ketika kamu membaca, kamu akan menemukan bagaimana imajinasi-imajinasi yang liar dari penulis. Karena untuk menjadi penulis yang mapan, diterima karyanya, sehingga banyak dibicarakan orang, imajinasi itu bukan sekedar bagaimana kita menulis curhat dalam buku diary, tapi imajinasi sudah bisa masuk ke dalam ranah pikiran pembaca.

Selepas dari apa yang sudah saya tuliskan di atas, marilah kita kembali mendengar lagu the sister, dan mulailah membaca kembali cerpen anggani ini, kita akan masuk kedalam sebuah uraian yang mengalir, berliku, batu terjal, sehingga kita akan merasakan sport jantung, harap-harap cemas menemani sang tokoh untuk menemukan ibunya.

Dan saya rasa, cerpen anggani ini lebih menarik jika disajikan dalam sebuah novel. Saya kira akan membuat saya lebih banyak memuji anggani.

Baca Selengkapnya »»

MEMBACA JAGAT SEMIOTIK PEIRCE


Oleh Adam Rizal M.

Peirce yang nama panjangnya adalah Charles Shander Peirce (1839 – 1914) bukan satu-satunya tokoh semiotik. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang bisa dipelajari pandangan mereka tentang semiotik lewat arus semiosis. Pada dasarnya Peirce cukup memberikan keluasan bagi mereka, yang tidak hanya tertarik pada tanda linguistik, tetapi juga jenis tanda lainnya yang beragam.

Peirce baru sekitar tahun delapan puluhan dikenal di Indonesia, ketika Aart van Zoest, yang disertasinya tentang Peirce datang ke Fakultas Sastra Indoenesia (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) dan memberi kuliah tentang semiotik. Pada saaat yang sama dibentuk pula lingkaran Semiotik yang mewadahi peminat semiotik.

Konsep dasar dari Peirce, terutama yang berhubungan dengan katagori tanda (sigh) dan kemungkinan aplikasinya secara sederhana, memang menarik siapapun dari lintas disiplin ilmu apapun untuk dipelajari. Tulisan-tulisan Peirce lebih bersifat umum, tetapi mendasar untuk konsep tanda.


Pengikut Peirce seringkali membedakan antara semiotik dari semiologi. Mereka menyebut Semiotik untuk aliran Peirce, dan semiologi sebagai khas aliran Saussure. Mengenai hal ini, pernah ada seseorang yang menjelalaskan bahwa Saussure sebenarnya memperhatikan aspek sosial di belakang penandaan, sementara Peirce lebih tertuju pada “the logic of general meaning”. Oleh karena itu, Sassure dan Peirce meski tidak saling mengenal—karena masing-masing berada di benua yang berbeda—memang bertolak dari titik yang berbeda dengan pendekatan berbeda pula.

Peirce memang punya intens yang kuat dalam pemahaman tentang logika. Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, Peirce berkehendak untuk menyelidiki bagaimana proses bernalar manusia.. Teori Peirce tentang tanda dilandasi oleh tujuan besar, sehingga tidak mengherankan apabila dia menyimpulkan bahwa semiotik tidak lain dan tidak bukan adalah sinonim bagi logika itu sendiri.

Sedangkan di sisi lain, terdapat pula tradisi semiotik yang dibangun pakar linguistik Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai sarjana linguistik, Saussure tidak pernah menyusun teori semiotik satu pun, bahkan dalam buku induknya yang berjudul Caurse in General Lingustics (1966), tidak disinggung sebenang pun teori-teori semiotik. Bahkan kitab suci semiotik itu tidak ditulis oleh Saussure, namun oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally dan Albert Sechehaye.

Bahasa dalam perspektif semiotika hanyadalah satu sistem tanda-tanda (system of Signs). Dalam wujudnya sebagai suatu sistem, pertama-tama, bahasa adalah sebuah institusi sosial yang otonom, yang keberadaannya terepas dari individu-individu pemakainya. Menurut Saussure bahasa merupakan salah jaringan tanda. Secara khusus tanda-tanda kebahasaan memiliki karakteristik primordial, yakni besifat linier (penanda) dan arbitre (petanda).

Dengan kata lain, bahasa merupakan suatu sistem konvensi, sistem tanda-tanda yang konvensional. Tanda-tanda yang arbitre serta konvensional ini kemudian oleh Peirce secara khusus disebut Symbol.. Oleh sebab itu, dalam terminologi Peirce, bahasa dapat dikatakan juga sebagai sistem simbol lantaran tanda-tanda yang membentuknya bersifat arbitre dan konvensional.

Menurut terminologi Peirce, simbol adalah tanda-tanda yang arbitre, sementara menurut Saussure, sebaliknya, simbol adalah tanda-tanda yang tidak sepenuhnya arbitre. Tanda-tanda yang arbitre disebut sebagai sign atau tanda saja; sementara tanda-tanda yang non arbitre oleh Peirce disebut sebagai ikon.

Bagi para selebriti semiotik dalam bukunya yang berjudul Ikonisitas, Kris Budiman menghimbau untuk dijadikan satu pelajaran bagi siapa pun yang hendak belajar semiotik. Akan tetapi, terlepas dari kerancuan konseptual di atas, boleh dikatakan bahwa hampir di sepanjang riwayatnya linguistik dan semiotik terlampau menekankan pada konvensionalitas atau kearbitreran tanda sehingga kerap mengabaikan karakteristik tanda yang sebaliknya—seolah-olah bahasa tidak mungkin berkarakteristik ikonis.

Tipologi Tanda Ikonis

Titik sentral dari semiotik Peirce adalah sebuah trikotomi dasariah mengenai relasi “menggantikan” (stand for) diantara tanda dengan objeknya melalui interpretan, sebagaimana dikemukakan sendiri Peirce dalam rumusannya yang terkenal. Trikotomi tersebut adalah representamen yaitu sesuatu yang bersifat inderawi (perciple) atau material yang berfungsi sebagai tanda. Kehadiranya kemudian membangkitkan interpretan, yakni suatu tanda yang ekuivalen dengannya, di dalam benak seorang interprener. Lalu muncul objek yang diacu oleh tanda, atau sesuatu yang kehadirannya digantikan tanda.

Proses tiga tingkat (three-fold process) di antara representamen, objek, dan interpretan yang dikenal sebagai proses semiosis ini niscaya menjadi objek kajian yang sesungguhnya dari setiap hasil studi semiotika. Dengan kata lain, semiosis adalah sebuah rangkaian yang tidak berujung pangkal, tanpa awal, tanpa akhir sebuah semiosis yag tanpa batas (unlimited semiosis). Hal itu karena, masing-masing representamen, interpretan dan objek saling bisa menggeser.


Peirce mengembangkan seluruh klasifikasinya ini berdasarkan tiga katagori universal berikut,
1.Kepertamaan (firstness) adalah mode berada sebagaimana adanya, positif dan tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Ia adalah katagori dari perasaan yang tak terefleksikan, semata-mata potensial, bebas dan langsung; kualitas tak ter-bedakan dan tak tergantung.

2.kekeduaan (secondness) merupakan metode yang mencakup relasi yang pertama dan kedua. Ia merupakan katagori perbandingan, faktisitas, tindakan, realitas, dan pengalaman dalam ruang dan waktu.

3.keketigaan (thirdness) mengantar yang kedua ke dalam hubungannya dengan yang ketiga. Ia adalah katagori mediasi, kebiasaan, ingatan, kontinuitas, sintesis, komunikasi (semiosis) representasi, dan tanda-tanda.


Trikotomi Pertama Peirce

Dilihat dari sudut posibilitas logis (logical posibilities) Peirce membedakan tanda-tanda menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Pembedaan ini menurut hakikat tanda itu sendiri, entah sebagai sekadar kualitas, sebagai suatu eksistensi aktual, atau sebagai suatu kaidah umum.

Qualisign, merupakan suatu kualitas yang merupakan tanda, walaupun pada dasarnya ia belum dapat menjadi tanda sebelum mewujud. Hawa ingin yang kita rasakan pada tubuh, ketika hujan turun, misalnya adalah qualisign sejauh dia hanya terasa dalam tubuh kita.

Sinsign, adalah suatu hal yang ada (existent) secara aktual yang berupa tanda tunggal diindikasikan lewat awalan sin-). Ia hanya dapat menjadi tanda melalui kualitas-kualitasnya sehingga dengan demikian, melibatkan sebuah atau beberapa qualisign. Hawa dingin yang kita rasakan tadi, apabila kemudian diungkapkan dengan sepatah kata “dingin”, kemudian secara spontan tangan kita sedekapkan dalam tubuh, ini merupakan sinsign.

Terakhir dalam trokotomi pertma adalah legisign yang merupakan suatu hukum atau law. Seperangkat kaidah atau prinsip yang merupakan tanda konvensional kebahasaan adalah legisign. Ungkapan Malam hari yang begitu dingin adalah legisign karena tersusun berkat adanya tatabahasa.


Trikotomi Kedua

Dipandang dari sisi hubungan representamen dengan objeknya, yakni hubungan “mengantikan” atau the “standing for” relation, tanda-tanda diklasifikasikan Peirce menjadi Ikon, Indeks (index) dan simbol. Pembagian tanda trikotomi ini menurut Peirce sangat fundamental.

Ikon, merupakan tanda yang didasarkan pada keserupaan atau kemiripan di antara representaen dan objeknya, entah objek itu betul-betul eksis atau tidak. Akan tetapi, sesungguhnya ikon tidak semata-mata mencakup citra-citra “realistis” seperti pada foto atau lukisan, melainkan juga pada grafis, skema, peta geografis, persamaan-persamaan matematis, bahkan metafora.

Kedua, indeks, merupakan tanda yang memiliki kaitan fisik, eksistensial, atau kausal di antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang mejadikannya tanda jika objeknya dihilangkan atau dipindahkan. Indeks bisa berupa hal-hal semacam zat atau benda material, asap (asap adalah indeks dari adanya api), gejala alam (jalan becek adalah indeks dari adanya api).

Indeks pun terwujud dan teraktualisasi di dalam kata penunjuk (demonstratif) seperti ini, itu, di sini, di situ, dan seterusnya; gerak-gerik (gesture) seperti jari telunjuk yang menuding; serta berbagai tanda visual lain. Dalam lukisan garis-garis juga menjadi bagian dari indeks.

Ketiga adalah simbol. Seimbol merupakan tanda yang representamennya menunjuk kepada objek tertentu tanpa motivasi (unmotivated); simbol terbentuk melalui kovensi-konvensi atau kaidah-kaidah tanpa adanya kaitannya langsung diantara representamen dan objeknya, yang oleh ferdinand de saussure dikatakan sebagai sifaf tanda yang arbitrer.



Trikotomi Ketiga

Trikotomi ketiga, menurut hakikat intrepetannya, anda-tanda dibedakan oleh Peirce menjadi rema (rheme), tanda disen, serta argumen.

Pertama, Rema adalah suatu tanda kemungkinan kualitatif, yakni tapa apapun yang tidak betul dan berdiri sendiri adalah rema, bahkan nyaris semua kata tunggal—dari kelas kata apapun, entah kata kerja, kata sifat, dsb—adalah rema pula, kecuai tanda ya dan tidak atau benar dan salah.

Kedua, tanda disen atau dicisign adalah tanda eksistensi aktual, suatu anda yang biasanya berupa sebuah proposisi. Sebagai proposisi, disen adalah tanda yang bersifat inforatif. Akan tetapi, berbeda dengan rema, sebuah disen adalah betul atau salah, namun tidak secara langsung memberi alasan mengapa begitu.

Ketiga, adalah tanda “hukum” atau kaidah, suatu tanda nalar, yang disadari oleh leading principle yang menyatakan bahwa peralihan dari premis-premis tertentu kepada kesimpulan tertentu adalah cenderung benar. Apabila tanda disen Cuma menegakkan eksistensi sebuah objek, maka argumen mampu membuktikan kebenarannya.

Baca Selengkapnya »»