Kumpulan Puisi Chairil Anwar


PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(194
Siasat,
Th III, No. 96
1949)


MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957



SENJA DI PELABUHAN KECIL


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946



CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
DOA

kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943



SAJAK PUTIH


Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…




PENERIMAAN


Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943




HAMPA


kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

(194
Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954)



DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954



KRAWANG-BEKASI


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


(194
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957)



AKU (SEMANGAT)


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lag

36 komentar:

Anonim mengatakan...

om saya bener2 suka banget ma puisinya tapi kok gak da yang bertema pendidikan

henscyber mengatakan...

pendidikan waktu barang langka, esensi penyair waktu itu lebih kepada perjuangan dan pencarian jati diri bangsa

nietha mengatakan...

puisi chairilanwar baguz" bgt, memberi insirasi bwt hti q yg kering tuk ttp menulis, merangkai kata.

Anonim mengatakan...

Bukan Kematian benar menusuk kalbu,
keridaanmu menerima segala tiba,
tak kutahu setinngi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta
(Nisan~Chairil Anwar)

biadap aRp mengatakan...

mati hati yang tak lebih..,
sudahi kata lalu pergi..
melihat sekumpulan anak anak negeri,,,

berjuang untuk nanti..


(hebat juga si om anwar. sayangnya terlalu imajinatif saat berbicara tentang kemerdekaan)

Gekk Rii mengatakan...

keren ..
akuu suka semua kumpulan puisi dari Chairil Anwar ..
indah dan bermakna ..
:))

smoga smua anak Indonesia yang memiliki potensi dalam bidang seni sastra khususnya puisi mampu mengembangkan bakatnya dan menjadi penerus dari Chairil Anwar .

odi mengatakan...

aku sanagat suka dengan puisinya CA.
pengarang yang seangat memiliki karisma yang luar biasa.

Anonim mengatakan...

wow,,,bagus bett daah,,,

Anonim mengatakan...

ingin sekali aku sepertinya
menjadi ksatria berpena
yang akalnya tercurah
membuat bait indah penuh makna

Anonim mengatakan...

Aku suka puisi puisi CA,,, puisinya selalu kerasa menggebu.. Adakalanya kadang egois dan individualis,, hal yang keras diubahnya jadi manis ..
Keren keren... 4thumbs,,,

Anam mengatakan...

Biarkn aku turut brjuang..
Mnggoreskn pisau pena dlm helaian srbuk kayu..

tito mengatakan...

saya suka puisi

Anonim mengatakan...

W terinspirasi bgt saat baca puisi chairil anwar..
setiap w mau ujian baca puisi,puisi pertama yg langsung terngiang di kpala w,puisinya seorang..

Anonim mengatakan...

hitam.saat dimana aq merasa sendiri . . . .

dengan atau tanpa adanya sebersit cahaya putih . . . .

hina bagai deru tanpa debu yang menyapu bersih hati nurani . . . .

aq sadar dengan apa yang ada,tetapi hanya diam melihat tanpa daya dan upaya . . . .

dimana keihklasan itu ada tanpa di minta dengan paksa . . . .

karena disitulah hidup itu ada serta tegarkan apa yang ada di dalam diri kita . . . .

tanpa melihat bangkai yang ada di depan cermin yang menatap tajam pada dalam diri kita . . . .

nahdyatul h mengatakan...

tambah lg duuunk puisinya, lg ada tugas neh mencari puisi karya om khairil, jadi perlu mlht puisi2 yg laen

Prazz Asek mengatakan...

lumayan apik.

Anonim mengatakan...

aku adalah kau
kau adalah aku
kau yg amenjadi inspirasi dalam berpuisiku
karyamu kan dikenang sepanjang masa,
walau kau kini tutup usia
kau adalah aku
aku adalah kau

Niesha shine mengatakan...

jika q mampu,q ingin orgpun tau bahwa q bz membeku dalam tiang kekagumanQ ^^,

Candra Aditya mengatakan...

What a cool Poetry are those!!!

Zulkarnen mengatakan...

I Like it..

Anonim mengatakan...

.sastra itu indah,, terLaLu indah jika diungkapkan dgn kata2.. i'm so speech Less..

Anonim mengatakan...

iya kueren" puisinya au ska............

Anonim mengatakan...

bagus puisinya.

aku paling suka yang sajak putih.

ada ga yaang karya taufik ismail?

Mari Berkomunitas Di Faceblog mengatakan...

Chairil Anwar memang manstap dengan karya sastranya........

Anonim mengatakan...

tergores pena diatas lusuh kertas ini..
tercurah hati hendak buat aku lakui..
indah tiada kata ku torehkan...
tapi hendak ku tlah tersampaikan..

Puja's Zone mengatakan...

terpatri lekat2 dihatiku
tiap kata yg menggetarkan raga
meluruhkan rasa
masih tampak keras terlihat
gurat2 luka yg bergaris melintang
di antara untaian2 sarat makna

Dheo Yonathan mengatakan...

Semoga Anak Sastra
Lebih Mencintai Puisi
Khususnya
Puisi Karya Chairil Anwar

Anonim mengatakan...

saya sangat senang dengan seluruh karyanya. apa lagi di salah satu puisi nya ada kata2 spt ini : "bukan maksudku berbagi nasib. nasib adlah seni masing2:))"

Anonim mengatakan...

jika kau melahirkan sajak-sajak
kita yg kau lahirkan
sehingga orang-orang bertanya
kapan kau berhenti melahirkan??
bangsa ini sdh cukup terang dengan anak-anakmu

Scanner Barcode Online mengatakan...

makasih gan infonya

NinkShe MS mengatakan...

luar biasa...
tak ada kata-kata lagi
yang mampu ku rangkaikan tuk mengagumi setiap karya sastra mu...
i like you

Anonim mengatakan...

maju terus untuk para pecinta sastra...kembangkanlah bakat kalian seperti CHAIRIL ANWAR

irfan ali sya'bana mengatakan...

Bisa gk ya aq kaya g2. .

irfan ali sya'bana mengatakan...

Aminn

Muhammad Haykal mengatakan...

Keren Sob. Salam kenal!

harpa mengatakan...

Asyik bwt nambah WaWaSaN.,

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra