SELAMAT TIDUR SASTRA SEKOLAH

“Kami tahu novel, Bu! Tapi harganya, terlampau tinggi dari jatah uang saku kami.”
Masalah sastra dan pengajarannya kerap dipermasalahkan para pakar (sastrawan, juga mahasiswa ilmu budaya, serta bebrapa kalangan yang menganggap penting pembelajaran sastra,) dalam setiap perbincangan, ataupun artikel budaya di koran. Sejumlah pertanyaan dari realitas pendidikan mereka lontarkan. Sekedar informasi,


permsalahan yang dipergunjingkan pun berulang dari itu ke itu juga. Yakni, pengajaran sastra yang menurut mereka jauh dari idealis, mengalir namun tak bergelombang sehingga terkesan menjemukan anak didik yang akhirnya menjadi buta bahkan tak suka sastra.

Kualitas guru, kurikulum, dan perpustakaan menjadi keluhan dan makian jika berbicara tentang pembelajaran sastra. Guru yang diharapkan menjadi panutan, seringkali berbuat lain dari apa yang dikatakan. Penerapan Kurikulum yang bombastis dan penganaktirian sastra sebagai sisipan pelajaran Bahasa Indonesia, juga menjadi masalah utama. Singkat cerita, hal-hal tersebut mesti mendapat perhatian kita.
Tapi, bukankah saat ini pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sudah mengarah pada Kurikulum Berbasis Kompetensi? Kuruikulum yang menggawangi guru untuk memberikan bahan pelajaran kepada anak didik, sesuai basis yang dimiliki. Artinya, kurikulum yang memberikan kebebasan kepada guru atau murid untuk memberikan materi dan mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuan. Dengan demikian, guru dituntut untuk lebih kreatif dan siswapun (seharusnya) tak mustahil menjadi aktif.

Tapi pada kenyataannya, salah seorang guru yang ditemui RD tak bisa memungkiri, kalau pembelajaran sastra disekolahnya jauh dari tujuan yang disebutkan diatas. Malah justru yang ‘membunuh’ kreatifitas, lagi-lagi disebabkan kurikulum yang mendiskriminasikan sastra sebagai materi sisipan dalam pelajaran Tata Bahasa. Jadi secara tidak langsung, bisa dipastikan kalau KBK yang diterapkan pemerintah hanya slogan atau lebih tepat bila dikatakan cumbongan alias cuma boong-boongan, atau jangan-jangan guru itu sendiri tidak mampu membawa atmosfir sastra ke dalam bentuk apresiasi yang mengasyikan.

Ditanya mengenai pembelajaran sastra di sekolahnya, Wawat Setiawati, atau yang akrab dipanggil Ibu Wawat, guru SMA PGRI 2 Serang ini mengatakan kalau praktek pembelajaran sastra di kelas saat ini, siswa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ukurannya? Dalam pelajaran mengarang yang dilakukan satu bulan sekali, siswa ternyata piawai untuk membuat alur cerita. Sayangnya, hal ini diyakini bukan dipengaruhi siswa yang gemar membaca, melainkan peranan teknologi, antara lain tayangan sinetron di televisi yang memang menjadi bulan-bulanan remaja saat ini.
Pernah, lulusan D3 FK Unila yang tengah melanjutkan studi di STKIP Banten ini menugasi siswa membawa sebuah novel ke kelas, dengan iming-imingan penambahan nilai di raport kenaikan. Tapi, apa yang mereka bawa? “Saya lebih suka menyebutnya barang stensilan, yang biasa dijual di pinggir jalan. Buku fulgar, tepatnya.” Ketika menanyakan alasannya kepada siswa, beliau berkata sambil menirukan gaya berbicara siswanya. “Kami tahu novel, Bu! Tapi harganya, terlampau tinggi dari jatah uang saku kami.”

Begitulah, sebuah alasan yang sepertinya sudah mendogma ketika siswa ditugasi membawa novel untuk keperluan mereka sendiri. Mengapa tidak menyisihkan seribu rupiah perhari? Dalam kurun dua minggu atau lebih, kan bisa membeli novel, tuh!
Kalau keadaan setiap sekolah seperti ini, selain terpaku kepada kurikulum yang membelenggu kreatifitas, maka bisa dipastikan sastra di sekolah akan pulas tertidur kalau tidak segera diberi penyegar.

Lantas, siapa yang mesti menyegarkan?
Adalah tugas bersama, yakni komunitas bahasa dan sastra kita, seperti mahasiswa, sastrawan, guru bahasa dan sastra, penyusun kurikulum di Departemen Pendidikan, pecinta sastra di masyarakat, anggota HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia,) PGRI (Persatuan Guru Republiik Indonesia,) juga elemen terkait, yang menganggap penting sastra dalam dunia pendidikan, (maaf yang tidak sempat tercantum pada tulisan di atas,) agar kita tidak segera mengucapkan selamat tidur pada sastra di sekolah yang saat ini tengah dalam kondisi merem-melek menahan kantuk, lewat penyuluhan, ide-ide, serta saran segar seperti cairan kopi, untuk menghentikan problematika sastra dalam dunia pendidikan.

Maka segeralah, ucapkan selamat tidur pada sastra di sekolah apabila kita tidak bersegera menyegarkan sastra dalam lingkungan kaum pelajar.
Disadur dari Rumah dunia

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra