Sosiolinguistik : Bahasa Gaul, Budaya Kuis dan Rejuvenasi Kebahasaan Kita


Kajian Sosiolinguistik

Penulis
ridwan-munawar.blogspot.com

Sebagai salah satu modus sekaligus aset kebudayaan, bahasa tidak pernah lepas dari problematika kebudayaan yang terjadi di luar sekaligus melatarbelakangi sistem bahasa itu sendiri. Bahasa adalah cermin budaya, jadi problema apapun yang terjadi pada kebudayaan dan mengakibatkan perubahan signifikan di dalamnya, secara otomatis akan terlihat pada tubuh bahasa. Bahasa memiliki keterpautan erat dengan yang di luar bahasa.

Vitalitas bahasa termanifestasikan secara nyata dalam kehidupan sosial bahasa itu. Dalam dinamika masyarakat. Dalam penggunaan secara kolosal-lah fungsionalitas bahasa menjadi maksimal. Sebagai suatu sistem tanda yang lahir dari daya cipta karsa akal budi manusia, bahasa pun menjadi sebuah dunia yang terbuka untuk pelbagai macam aktifitas reflektif, diagnostik dan evaluasi terhadap sejauh mana perkembangan sistem berfikir akal budi masyarakat kita, baik secara individual maupun kolektif. Karenanya, karakter suatu sistem bahasa menunjukkan karakter masyarakat penggunanya.


Komaruddin Hidayat dalam sebuah bukunya “Menafsirkan Kehendak Tuhan” (Teraju: 2003) memberikan kiasan yang kritis sekaligus ironis tentang keadaan masyarakat kita dan bahasanya; “….karena kita lahir dan tumbuh sudah dalam bahasa yang kita gunakan, seringkali kita tidak lagi kritis menilai dan meneliti pertumbuhan bahasa yang kita gunakan, sebagaimana ikan yang tak pernah mempertanyakan hakekat air. Padahal, ibarat udara ataupaun air yang kita hirup, bahasa bisa juga terkena polusi, virus dan terkontaminasi yang pada gilirannya mendatangkan penyakit pada sistem berfikir individu maupun masyarakat…”

Kontaminasi Virus Bahasa
Dewasa ini kita lihat; kontaminasi makin tidak karu-karuan dalam kebahasaan kita; terutama dalam praktek keseharian atau bahasa tuturan. Pada satu sisi, kontaminasi kebahasaan terjadi sebagi akibat dari batas-batas kebahasaan yang semakin mencair adalah salah satu implikasi dari semakin mencairnya batas-batasan geografis antar kebudayaan. Muncullah kemudian bahasa ‘hibrida’ yang kacau.
Salah satu bentuk dari kontaminasi hibrid ini adalah bahasa gaul. Sepintas lalu, tampaknya tak ada masalah dengan bahasa gaul. Bila bahasa gaul digunakan sesekali untuk bercanda, mungkin kadar problematikanya tak perlu sungguh-sungguh kita perhatikan. Tetapi menurut hemat saya, dalam bahasa gaul terdapat suatu penyakit mental dan penyakit kognitif tertentu.

Saya mendiagnosis beberapa kemungkinan latar belakang munculnya bahasa gaul; pertama, ekspansi bahasa teknologi yang semakin merangsek hingga efek negatifnya adalah terjadi suatu dekarakterisasi terhadap bahasa dari kebudayaan yang menerimanya—objek ekspansinya.

Di negara kita, bahasa gaul adalah bentuk dekarakterisasi itu. Jean Baudrillard dengan tegas memperingatkan hal ini: ”power isn’t only politics, but also speech” kekuasaan bukan hanya politik, melainkan juga bahasa. Kekuasaan dalam kalimat Baudrillard tersebut saya tafsirkan sebagai kekuasaan yang eksfansif atau hegemonistik yang tersembunyi dibalik penyebaran bahasa.

Dan sejatinya bukan sekedar faktor eksternal yang mensukseskan hegemoni bahasa asing itu, namun lebih pada faktor internal-psikologis masyarakat kita sendiri; sebab, bahasa gaul tertutur dari mental yang mendekam rasa minder/inferior dengan bahasa ibu dan nasionalnya sendiri.

Bahasa gaul bahkan telah ada kamusnya. Perlahan tapi pasti ia mulai berdiri sendiri sebagai sebuah rumpun bahasa tersendiri. Bahasa gaul semakin populer hingga jumlah penuturnya semakin banyak dari hari ke hari, apalagi didukung oleh semakin mudahnya akses televisi—yang tidak lain adalah media yang penuh dengan bahasa gaul itu-- ke tiap rumah bahkan di pedalaman. Kemudian, dengan perlahan tapi pasti pula, bahasa nasional dan bahasa lokal sedikit demi sedikit memudar dari ingatan masyarakat kita.

Ini berarti kemungkinan punah bagi bahasa-bahasa lokal dan nasional kita cukup lebar, sebab bukakah faktor utama kepunahan suatu bahasa/rumpun bahasa adalah jumlah penutur yang kian hari kian berkurang lalu kalis sama sekali? Lalu apakah arti berkurangnya para penutur selain penutur itu sendiri yang meninggalkan bahasa originalnya?

TTS sebagai Cagar Bahasa Kita

Mungkin penting untuk merenungkan kembali mengapa kita mesti melestarikan bahasa nasional dan lokal kita. Ini bukan suatu sikap over-historisis atau anti perubahan, namun keinginan untuk melestarikan bahasa sendiri. Hanya bangsa yang memiliki keberakaran kuat terhadap sejarahnyalah yang akan muncul sebagai bangsa yang memiliki karakter kuat di tengah pergaulan kehidapan bangsa-bangsa seluruh dunia. Dan salah satu jalan keberakaran sejarah kita tak lain adalah dengan lestarinya bahasa lokal kita sendiri.

Seorang ahli bahasa, Gerard Bibang, pada tahun 2002 dalam penelitiannya tentang umur bahasa-bahasa lokal mengatakan bahwa setiap tahunnya rata-rata 10 bahasa di berbagai belahan dunia punah. Alasannya selalu hamper sama; kehilangan penutur.

Jika suatu bahasa punah, maka punah pula suatu kebudayaan. Dan selama ini yang banyak musnah adalah bahasa-bahasa lokal. Padahal bahasa lokal adalah bahasaibu (mother tongue) yang dijamin sebagai salah satu hak asasi manusia dalam undang-undang PBB tentang bahasa.

Menariklah apa yang ditradisikan oleh media-media massa kita, yakni adanya kuis-kuis kebahasaan (TTS). Beberapa media massa seperti Koran Tempo atau Kompas seringkali memberikan teka-teki berupa arti dari kosakata lokal atau istilah-istilah bahasa Indonesia klasik yang sudah jarang diketahui orang. Dan karena kuis-kuis itu menjanjikan hadiah yang menggiurkan, maka para pengisi TTS pun mau tidak mau harus mencari jawaban dari setiap teka-teki dengan rigorus dan akurat.

TTS, tanpa disadari, sedikit banyak telah banyak berpengaruh pada ingatan sejarah kebahasaan kita. TTS telah menjadi ‘cagar bahasa’ kita. Cagar bahasa yang cukup populer dan ringan tapi berbobot untuk masyarakat kita Bahasa-bahasa lokal dan bahasa klasik yang melapuk dari ingatan kebanyakan masyarakat kita, di rejuvenasikan (diremajakan) kembali dengan kehadiran TTS-TTS itu.

Dengan demikian, terlihat adanya suatu perang bahasa yang seru; di satu sisi bahasa asing gencar menyisihkan bahasa-bahasa lokal dan klasik kita, disisi lain ada tradisi-tradisi tertentu yang gigih mempertahankan kelestrian bahasa lokal-klasik. Dan saya melihat, pertarungan kekuatan antar bahasa ini memiliki nilai positif juga; banyangkan jika kedua-duanya berjalan seimbang dan sinergis; masyarakat kita akan menjadi masyarakat heterolingual; menguasai bahasa asing dengan baik juga menguasai bahasa lokal-klasik dengan baik. Dan mereka tidak mencampuradukan keduanya.

Mungkin selanjutnya yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana cara dan strategi kita untuk menambah cagar-cagar bahasa itu, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tidak hanya pada level populer-entertainer tapi juga pada level yang lebih serius dan intensif.

(jogjakarta, 2007)
*tulisan ini pernah dimuat di Koran Surya di tahun 2007

Penulis
ridwan-munawar.blogspot.com

3 komentar:

mas bob mengatakan...

terimakasih artikelnya...

fang^^ mengatakan...

Artikelnya bagus. Sangat membangun untuk tetap mempertahankan eksistensi bahasa nasional di tengah-tengah kemajuan yang semakin pesat.
Salut.

Anonim mengatakan...

nice info..

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra