Cerpen; Segelas Jus Alpukat Tanpa Irisan Cokelat


Oleh : Feri Muhamad Sukur

Seorang pelayan datang menghampiriku, sedang aku termenung, menunggu Puspita datang kembali.

Perempuan itu menyodorkan padaku beberapa kertas yang dijilid sedemikian rupa, hingga menyerupai sebuah buku kecil berisi daftar makanan dan minuman.

Aku terima tumpukan kertas itu, dari tangan gemetar. Sebuah pena di tangan kiri, sedikit menjuntai bebas. Gigi putih yang dipaksa untuk mejeng di hadapan orang.
Sejenak saja aku memandangi wajah itu, Puspita datang dari balik punggung pelayan lain. Puspita membawa senyum dari kamar belakang, kemudian menyimpannya selalu dalam mulut yang pernah aku kecup itu.

Tak ada Tanya atau apa, ketika aku dan pelayan itu bercakap dengan patahan kalimat yang kaku. Sekaku rambutku yang diberi minyak. Pelayan itu mengangguk, ketika aku memesan padanya dua gelas jus alpukat tanpa irisan coklat.


“Kau masih suka itu?”
“Aku merasa mengecup bibirmu.”
“Jangan begitu, nanti kita berkecupan di waktu senggang.”
“Kita sama-sama sibuk.”
“Dan aku merasa terlalu puas untuk menyibukkan diriku.”
“Ah, kamu ini. Aku jadi rindu kamu kecup.”
Jangan Puspita. Aura kecupan kita begitu menggema. Orang-orang mengintip kita dengan sudut matanya. Tahukah kau, orang di belakang kita selalu memasang telinganya untuk menampung percakapan nakal kita?
Puspita duduk saja santai. Beberapa orang naik panggung. Berkenalan, dan menyanyikan lagu-lagu romantis. Puspita begitu terpesona, ketika penyanyi itu membawakan beberapa lagu lawas yang cukup dia kenal. Suaranya yang empuk memang pas untuk dimakan malam-lmalam begini.
Grup band itu baru saja selesai menghabiskan lagu ketiganya.
Pelayang datang, membawa pesanan. Dia berdiri di hadap meja depan antara aku dan Puspita. Dua gelas jus alpukat tanpa irisan coklat dia letakkan di hadapan meja.
Puspita sedikit lengah, dariku. Sebercak kertas kusam yang aku selipkan di antara tip, aku simpan di atas tampan yang kini kosong. Sang pelayan melotot melihatku, bertanya tanpa suara. Aku pandang balik padanya, seolah aku berkata padanya, ambil saja uang ini, dan tolong berikan aku pesan selanjutnya.
Lima detik ia berfikir. Aku lemparkan senyum, maka ia membalasnya dengan senyum pula.
Kembali pandangku pada Puspita. Sepasang mata yang berubah dengan lensa mata. Melirikku tanda tanya, adakah yang salah pada dirinya? Aku isyaratkan padanya tak ada yang salah. Puspita tak percaya, dan menggerak-gerakkan kepalanya pelan. Ketakutan berlebihan itu membuat beberapa lembar rambutnya berubah menjadi poni yang jatuh secara beruntut.
“Kau begitu cantik, Puspita.”
“Sudah keseribu kau katakana seperti itu!”
“Kau membuat aku selalu rindu Puspita.”
“aku lemparkan gemgaman tanganku pada tangannya. Tangan Puspita tak bereaksi, hanya desiran darah yang begitu cepat berlalu, membuat aku begitu merasa bersalah talah menangkap tangan itu. Kini menjadi dingin. Beku. Mukanya pucat, mata lensa berubah menjadi Puspita lugu, yang kehilangan kesadaran sejenak dalam tidur.
“Kenapa kau Puspita?”
“Tanganmu telah menyerap hangat tubuhku.”
“Kau kedinginan Puspita?”
“Aku begitu merasa jujur untuk mengatakan, bahwa aku benar-benar telah terpikat olehmu.”
Puspita memejamkan matanya. Meresapi tangaku yang mencuri hangat tubuhnya. Seolah Puspita adalah ruh lama yang masuk kembali ke tubuh barunya.
Di depan sana, di atas sebuah panggung sederhana, beberapa orang mulai kembali memainkan musiknya. Petikan gitar. Dentuman bas. Pukulan gendang. Gesesan pasir. Bersatu dengan suara berat sang vokalis.
Puspita melepaskan tangannya, seolah penyanyi itu menghentakkan tidur sederhananya. Memalingkan wajah dariku, dan mulai mengikuti larik dari bait lagu.
“Kau begitu hafal menyanyiakn lagu Puspita?”
Puspita tersenyum. Menundukkan mata. Melihat sejenak kakinya yang mulai berkeringat.
“Pertanyaan itu membuat aku merasa gerah.”
“Tidak Puspita, aku tidak mengintrogasimu. Aku hanya kagum pada ular otakmu yang terus menggeliat, mencari kata-kata dalam nada.”
“Kau lebih ahli beretorika dari pada sebagai pujangga.”
“Dan kau terlalu munafik untuk mengelak, bahwa kau jatuh cinta padaku, Puspita.”
Barisan gunung Puspita terlihat begitu indah. Dari balik bibir merah segaris tipis menyembul cahaya keteduhan. Aku merasa sedang berteduh dari cahaya keteduhan itu. Jari-jari pandangnya, dengan cat warna merah menghiasi ujungnya, Puspita begitu tinggi kelasnya untuk duduk bersamaku. Tapi Puspita adalah perempuan rendah hati. Karena kerendahan hati itu, Puspita telah menerima cintaku sebagai manusia pilihan yang diterima masuk ke balik bilik hatinya.
Aku ikut tertawa, senyum yang dilebarkan. Aku berusaha menutup meulut, agar taringku yang sedikit keluar dari jalurnya bias tersembunyikan. Karena itu pula, senyum Puspita menjadi tawa. Menertawakan aku yang tertawa karenanya. Aku dan Puspita sama-sama tertawa dalam satu meja.
Cukup lama aku dan Puspita tertawa. Mata Puspita, keKasih yang aku jaga air matanya menetes. Aku berikan padanya sebuah tisu dari balik saku kemejaku. Puspita menerimanya, dan mengusapkan selembar tisu pada kedua matanya yang berlinangkan air mata ketawa.
Sejanak lalu Puspita tertwa, maka air mata tawa berubah menjadi tawa yang begitu menyakitkan. Ketika tawa dan derail air mata bahagia turun, maka kesedihan dan air matanya cepat menggantikan posisi tawa di mata aku dan Puspita.
“Jangan kau bawa air mata itu, Puspita. Air mata yang seharusnya kau berikan pada laki-laki di rumahmu itu, kenapa kau bawa ke hadapku? Sebagai sebuah kesatuan dalam mata yang sama.”
Puspita masih terus mengusap-usap matanya. Air mata terus berjatuhan. Dari mata air pegunungan yang suci, berubah menjadi air keruh yang membawa segala kepenyakitan.
“Lepaskan bola mata itu, Puspita!”
Seolah Puspita tak mendengar pintaku. Dia terus saja mengusap kedua boloa matanya. Puspita yang detik lalu kutemui sebagai wanita yang merenda di hati, menjadi semacam batu kerikil dalam kerongkongan.
Gelas jus di hadap Puspita, sebatang sedotan berurat bengguk, bersumsumkan jus, menempel di mulut Puspita. Puspita meminum beberapa tetes jus tanpa cioklatnya.
“Kau beri berapa para penuang jus ini?”
“Tak perlu kita perbincangan harta yang memojokan aku pada kenyataan kau kini menjadi milik laki-laki tua di rumahmu. Aku tak sebegitu bias menjadi pencandu rook, karena rokok terlalu mahal untuk aku beli. Sekarang, nikmatilah semua ini. Ini jus alpukat tanpa irisan coklat yang selalu kau bawakan padaku, ketika orang tuamu tak ada, dan aku menjadi kucing yang mengambil minum tuannya di rumahmu.”

“Kenapa kau bawa lagi kenangan kita, Kasih? Aku dan dia adalah atap dan dan daun pointu, tapi dia terlalu lemah untuk menyangga rumah kita. Biarkan dia dan segala kekayaannya mengendap bersama debu. Terhapus kepulan asap dari lamanya waktu yang menyisihkan diri. Aku dan kamu menjadi semacam benalu di rumah itu. Biarkan saja orang melihat kita apa, karena rasa cinta tak bias dihitung oleh angka, berapa besar, dan berapa mutu cinta kita beradu mesra.”
Puspita menghentikan minumnya. Seorang pelayan datang pada kami, memberikan padaku sebuah surat kabar nasional dua hari yang lalu. Mata Puspita menjamah Koran itu, dari mulai dalam pangkuan pelayan itu, hingga kini berpindah pangkuan padaku.
“Kau apakan pelayan itu, sampai dia mau mengantarkanmu surat kabar? Adakah di dalamnya wasiat suamiku?”
Hamper saja Puspita mengambil Koran itu dari pangkuanku. Tanganku masih cukup cepat untuk melawan tangan Puspita yang gemuali menampar angina.
“Jangan terlalu cepat untuk memvonis aku, Puspita. Aku masih saja baik seperti dulu, cukup untuk memuat beberapa kepercayaan orang di sana.”
“Kalau begitu apa, Kasih?”
Aku membuka isi Koran itu, membolak-baliknya, dan memberikan selembar Koran itu padanya.
“Cobalah kau baca ini, Puspita.”
“Apa ini?”
“Sebuah sajak mungil yang menampung sejenak kerinduanku padamu. Ketika tangan-tangaku tak sampai membelai rambutmu, maka tanganku menjamah kertas-kertas untuk di cercah beberapa puisi tentang kamu. Bacalah, Puspita. Bacalah di hadapan suamimu. Biarkan dia merasakan betapa tak bermanfaat dirinya di hadapanmu. Lepaskan kecemburuan itu, agar tangan-tangan tuhan yang membelenggu jari manis itu terlepas, dan membuka seirama cinta kita yang terus menggebu.”
“Maksudmu?”
“Maukah kamu menemaniku, mengintari garis-garis tuhan yang ada di tangku ini. Agar setiap garis dan lekukannya akan begitu lurus menuliskan sebuah huruf sederhana bertuliskan M?”

1 komentar:

Anonim mengatakan...

5t5t5

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra