Cerpen : Tajug Nadhoman


cerpen Feri Muhammas Sukur. di jurnal bogor edisi 26 April 2009
Beliau adalah ketua divisi sastra Komunitas Anak Sastra UPI Bandung

Dari udara yang menyembur dari kedalaman rongga mulut, Jumadi menghela nafas sedalam mungkin. Dari dalam perut yang tak bisa mengharap kesabaran lanjut. Setelah matahari mencapai pecat sawed, Jumadi tak mendapati seorang pun datang ke tajug biasa adanya pangaosan nadhoman.

Setiap hari rabu, kampung Cireuleu akan hangat oleh nadhoman yang dibacakan kaum tua. Kaum yang mengharapkan kemaslahatan akhirat lebih dari kaum muda.
Tapi kaum tua satu persatu tumpur, hilang masuk ke dalam bumi, kemudian tidak berganti dengan generasi selanjutnya.

Dan hari ini adalah hari Rabu. Hari di mana para tua bersimpuh. Perempuan tua mengenakan samping. Bubututan ala kadarnya, dan kerudung tipis di kepalanya. Sedang para bapak akan datang dengan batik atau koko, sarung, kopeah, dan sebungkus bako lengkap dengan pahpir daun kawung.

Tajug masih kosong. Jumadi membuka lagi ingatan yang telah menumpuk.
Sejak kedatangannya kembali ke kempung ini, tanah kelahiran yang lama ia tinggalkan, bersama istri dan dua anaknya, Iman Suherman dan Sri Rahayu, Jumadi membuka lahan kecil di samping rumahnya. Dulu itu kebun paling banyak menghasilkan jagong, sampeu, dan juga beberapa samara dapur.


Kata bapaknya dulu, ketika ia masih jumeneng, jika kita ingin menyedekahkan dengan pahala yang belipat ganda, sedekahkanlah sesuatu yang paling kita cintai. Dan Jumadi mencintai kebun itu sebagai tonggak pialang untuk Jumadi hidup.

Sebenarnya istri Jumadi –Nurkumalasari, tidak setuju kebon itu dijadikan tajug. Sebagai lahan paling produktif, tentunya sangat berat melepaskan itu semua.
“Mau makan apa kita nanti, Akang?”
“Rizki itu ada di tangan gusti Allah, Nur. Kita kan masih punya sawah di leuwi tiga puluh tumbak. Itu lebih cukup dari makan kita.dan menjamu warga yang datang ke pangaosan nanti”

Nur tidak bisa lagi bicara. Yang ia lakukan hanya bisa berdoa untuk kemaslahatan bersama. Masyarakat dan keluarganya.
Pertama kali ia datang ke kampung itu, masyarakat kampung Cireuleu ini jauh dari jalan kelurusan. Segala peningalan leluhur masih mengakar kuat. Jangjawokan, nyupang, ngamat, masih saja menjadi kehidupan sehari-hari. Sesajen setiap panen dan tanam padi masih saja ada.

Tapi, lambat laun, Jumadi dengan sabar membimbing mereka ke arah yang diridoi Allah. Tak jarang, untuk membimbing mereka Jumadi merelakan beras di goah dibagikan pada masyarakat yang ikut pengajian. Dan untuk Jumadi, dia merasa cukup kenyang tajugnya penuh. Walau hanya oleh orang-orang senja saja.

Waktu cukup menghaluskan hati mereka. Sesajen yang bisaa masyarakat kampung itu dibiarkan hilang sendirinya, dimakan ronda atau hewan, kini berubah menjadi upacara cacarakan bagi warga sekitar. Nasi kuning, telor rebus, daging suwir, kerupuk, mie bihun, sambel, dan juga lalapan alakadarnya.

Juga dengan jangjawokan. Dengan peerjuangan yang sulit, melawan arus adat istiadat, Jumadi membawa nadhoman. Jumadi mengajarkan mereka nadhoman seminggu sekali. Di hari rabu. Pukul tujuh hingga pukul setengah sembilan. Sedikit menyisihkan waktu dari waktunya menuju sawah.

Setelah mendapat rizki dari panennya yang sukses, Jumadi membeli sebuah speaker sederhana yang bisa menjangkau sekampung Cireuleu.

Pertamanya merasa terganggu dengan adanya pengeras suara itu, tapi akhirnya, lagu nadhoman bisa menarik perhatian mereka untuk sejenak menyisihkan waktu untuk bertemu dengan Allah.

Hingga akhirnya, nadhoman melekat di hati masyarat dan memberikan warna tersendiri dari tajug itu. Orang-orang pun menamakan tajug itu sebagai tajug nadhoman. Karena dari tajug itulah mereka mengenal nadhoman.

Jumadi dan istrinya setiap kali pengajian reboan, mereka memasak makanan alakadarnya. Yang lebih banyak dari bisaanya. Tumpeng, bolocot, tutug oncom dan juga sambal dan lalabnya, surawung, daun sampeu, dan juga irisan bonteng. Terkadang leupeut dan gorengan, bugis, kicimpring, dan makanan kampung lainnya.

Alangkah bahagianya Jumadi melihat semua itu. Usahanya untuk mengislamkan umat Islam itu telah mendapatkan titik terang dari Allah. Walaupun terkadang ia harus merasa kenyang dengan nadhoman yang menggema ke seluruh pojok kampung saja.
Tapi setelah hujan menjadi hal yang langka. Wabah merajalela. Tikus menggasak semua pare mereka. Tanah tandus. Air hilang. Udara panas.

Ladang dan sawah terbengkalai. Kelaparan menerjang. Satu persatu para tua mati. Kuburan menjadi begitu banyak. Istigasah telah berulangkali di kumandangkan, tapi seolah Allah tak menghiraukan, setelah kebaikan yang mereka mulai.

Maka orang kambali berpikir. Pada sesajen. Jangjawokan. Ngamat. Kembali kehilangan ruh Allah. Orang jarang pergi lagi berjamaah. Pengajian kosong. Satu persatu dari mereka mundur untuk duduk bersimpuh pada Allah. Tajug kembali lagi berdebu. Masyarakat kampung lupa entah melupakan dirinya. Setelah para tua meningal, dan sebagian meninggalkan, kini tinggallah Jumadi sendiri.

Jumadi sering duduk sendiri di papangge tajug. Melempar pandangan pada hamparan sawah yang tandus, kering, tanpa padi. Ada beberapa orang melintas di galengan membawa tapian berisi makanan pakaulan. Pakaulan yang kembali pada patekong.
Kemarau kepanjangan ini membuat anak-anak kecil malas tadarusan. Yang sedikit dewasa mencari pohon uang di kota. Mencoba memetik lembaran-lembaran uang, yang katanya di kota lebih mudah dari pada di kampung. Kampung menjadi sepi. Orang hilang dan meninggalkan kampung. Juga tajug nadhoman.

Siang Rabu itu, waktu pecat sawed, Jumadi dan istrinya duduk-duduk di papangge tajug. Iman tertidur di dalam tajug, sedangkan Sri tertidur dalam siaran ibunya. Jumadi menatap kosong pada sawah.

Istrinya tidak tahu apa yang dipikirkan suaminya. Nur membawa Sri masuk tajug, agar tidur bersama kakaknya di dalam. Nur keluar lagi, duduk kembali di samping suaminya. Dengan kesabaran, Nur menyentuh bahu Jumadi, lalu meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
Jumadi masih terdiam. Kopiah yang miring diambil Nur. Disimpannya di sisilain Jumadi. Jumadi akhirnya melempar pandangan pada istrinya itu. Nur tersenyum membalas tatapan suaminya.

Lama pandangan Jumadi hinggap di senyuman itu. Jumadi berpikir, hanya senyum itu saja yang selalu menguatkan tajug ini berdiri. Senyum istrinyalah yang menyuburkan hari-harinya dalam berdakwah di kampung itu.

Jumadi menghela nafas panjang. Mengulur kesabaran yang sudah menjualang terulur pada arasy Tuhan. Lalu Jumadi dan istrinya mendendangkan nadhoman beberapa bait.
Sambil terus menunggu ada orang yang akan singgah di tajug nadhoman, dan membaca nadhoman bersama-sama.
Bandung, 2009

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah bergabung bersama kami. Komunitas Anak Sastra