<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351</id><updated>2012-01-24T06:27:18.838-08:00</updated><category term='Hacker'/><category term='resensi'/><category term='opini'/><category term='ragam'/><category term='Linguistik'/><category term='Teknologi'/><category term='Game'/><category term='IT'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Komunitas Anak Sastra</title><subtitle type='html'>Universitas Pendidikan Indonesia


LINGUISTIK

SASTRA

JURNALISTIK</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>114</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-6896041463028091303</id><published>2010-02-20T11:38:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T11:38:49.554-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Saat Seni Tradisional Menjadi Beban</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A6NAaROjI/AAAAAAAAAU4/FoSEFhmTMNg/s1600-h/opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A6NAaROjI/AAAAAAAAAU4/FoSEFhmTMNg/s320/opini.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;KOMPAS 20/02/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Luki Muharam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Jumat malam puluhan pendekar dari beberapa padepokan berkumpul di studio Radio Stasiun Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Cianjur. Di stasiun milik Pemerintah Kabupaten Cianjur ini secara bergiliran mereka menunjukkan kebolehannya ngibing atau menari pencak silat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekar yang tampil diiringi secara live oleh nayaga gendang pencak yang menabuh gendang indung, gendak anak, trompet, gong, dan rebab. Pesilat yang rata-rata datang dari pedesaan itu semangat sekali ngibing. Padahal, mereka tidak dilihat "penonton"-nya karena tampil hanya di stasiun radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak dibayar, tetapi malah sebelumnya para pengibing yang umumnya buruh tani itu rela "patungan" mengumpulkan uang untuk menyewa kendaraan bak terbuka agar dapat mengangkut mereka dan perangkat seni dari kampung agar dapat tampil ngibing di RSPD Cianjur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Menurut catatan Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) Cabang Cianjur, hampir di 32 kecamatan di Cianjur masih terdapat satu atau dua padepokan silat. Namun, kondisinya rata-rata sudah mati suri karena ditinggalkan warga yang menontonnya. Pergelaran ibing pencak silat paling sering terdengar di sekolah dasar. Itu pun diiringi kaset. Kalaupun diiringi nayaga, biasanya saat samen atau setiap selesai pembagian rapor kenaikan kelas SD di pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perkotaan jangan harap dapat melihat pentas ibing pencak silat di setiap sekolah. Itu karena ibing pencak silat umumnya sudah tidak digandrungi. Apalagi, di SMP atau SMA siswa dan gurunya lebih suka menampilkan grup band aliran pop atau rock ketika mengadakan pesta akhir tahun pelajaran. Tidak teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPSI sebenarnya sudah berupaya agar pesilat dapat berlaga di panggung dengan mengadakan Pandiangan Seni Ibing Pencak Silat secara bergilir di setiap kecamatan di Cianjur. Namun, pelaksanaannya semakin tidak teratur dan kemudian menghilang, lagi-lagi karena minim anggaran dan tidak ada sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan seperti itu berimbas pula pada industri pembuatan alat seni gendang pencak, yakni perajin gendang dan gong, seperti yang dialami Sunarya (65), pembuat gendang dan gong silat. Warga Desa Cibaregbeg, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, ini mengaku saat ini menjadi perajin gendang dan gong silat sudah tidak bisa lagi dijadikan lahan mencari nafkah keluarga karena sepinya order. Dalam setahun paling-paling hanya dapat satu pesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti itu mulai ia rasakan sejak akhir tahun 1980-an saat kehidupan warga di perkotaan mulai meninggalkan panggung pertunjukan seni ibing silat. Warga kini lebih tertarik mengundang orkes dangdut atau band dalam setiap hajatan keluarga. Dahulu Sunarya masih ingat saat suara gendang pencak masih terdengar di setiap gang di Kota Bandung, hampir setiap malam Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah ia pun marema order membuat gendang dan gong. Dari keuntungannya itu, ia pun dapat membuat rumah permanen dan membeli sawah. Namun, hal itu kini tinggal kenangan, dan alat-alat membuat gendang dan gong ibing pencak silat lebih sering ia simpan di gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang mengenaskan seperti itu dialami pula oleh Tati Sawitri (55), juru kawih tembang Cianjuran. Ibu empat anak ini tetap setia tampil walau tanpa dibayar setiap Senin malam di RSPD Cianjur. Ia mengaku sudah jarang sekali mendapat panggilan tampil. Saat ini sekadar mendapat order sekali sebulan saja sudah lumayan. Untuk setiap kali tampil, juru tembang dan empat orang nayaga Cianjuran rata-rata mendapat Rp 500.000. Ironisnya honor sebesar itu kemudian mereka bagi rata dengan teman-temannya. Masih lumayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abah Ruskawan, Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur, kondisi pesilat dan seniman Cianjuran masih terbilang lumayan dibandingkan dengan seni tradisional lain di Jawa Barat. Apalagi, pencak silat dan seni Cianjuran kini, oleh beberapa pemerintah daerah/kota di Jabar, sudah dimasukkan menjadi kurikulum muatan lokal di SD. Namun, pelaksanaannya sangat tergantung kemampuan keuangan setiap sekolah. Abah memperkirakan sedikitnya terdapat 300 seni tradisional khas Sunda di Tanah Air yang kini punah atau hampir punah. Dan sepertinya, kondisi seperti itu kemungkinan dialami sebagian besar seniman tradisional di Tanah Air. Perhatian setiap pemerintah daerah masih ada, misalnya dengan memberikan anggaran dari APBD, walaupun biasanya birokrat mengalami keterbatasan dana dalam menjaga kelestarian seni tradisional di masing-masing daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya bila sudah seperti itu, alangkah bijak bila kemudian berkaca kepada Provinsi Bali yang berhasil mengemas seni tradisional menjadi aset daerah berharga yang membuat Pulau Dewata ini terkenal ke seluruh dunia. Bali berhasil menjadikan beragam seni tradisional daerah menjadi sumber utama pendapatan asli daerah, di saat hampir setiap pemerintah daerah lain di Tanah Air masih memperlakukan seni tradisional sebagai beban APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sepertinya diikuti pula oleh perhatian sebagian pengusaha yang menyumbang kegiatan seni tradisional sebagai amal ala kadarnya, bukan sebagai sebuah peluang yang menguntungkan perusahaannya. Ini masih lebih baik ketimbang tidak peduli sama sekali terhadap upaya pelestarian seni tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LUKI MUHARAM Penggiat Lembaga Kebudayaan Cianjur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-6896041463028091303?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/6896041463028091303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/02/saat-seni-tradisional-menjadi-beban.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6896041463028091303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6896041463028091303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/02/saat-seni-tradisional-menjadi-beban.html' title='Saat Seni Tradisional Menjadi Beban'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A6NAaROjI/AAAAAAAAAU4/FoSEFhmTMNg/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-3528560703473337755</id><published>2010-02-20T11:33:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T11:33:02.927-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Teori Mazhab Tagmemik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A41tnipSI/AAAAAAAAAUw/XH74pzQN9ZQ/s1600-h/linguistik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A41tnipSI/AAAAAAAAAUw/XH74pzQN9ZQ/s320/linguistik.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tagmemik memandang bahasa tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan sebagai konteks tingkah laku manusia. Dalam pmerian bahasa Tagmemik memperhitungkan fonologi, morfologi, sintaksis, makna dan konteks secara serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagmemik menekankan keketatan pembagian tataran dalam pemerian bahasa, yakni dengan menghindari percampuradukan tatatan dalam analisis karena masing-masing tataran menduduki fungsi khusus dalam satu hirarki. Yang dimaksud dengan hirarki ialah bahwa unsur-unsur bahasa mengikuti suatu aturan dari yang tekecil sampai dengan yang terbesar. Suatu satuan yang besar terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil, dan satuan-satuan yang lebih kecil terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil lagi, sampai pada satuan-satuan terakhir. Tataran di atas tergantung pada tataran di bawahnya dan semuanya saling berhubungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Teori Tagmemik menggunakan alat pemerian yang memilahkan padangan etik dan pandangan emik. Etik adalah sauatu satuan yang merupakan bagian dari tingkah laku tutur maupun tingkah-laku nontutur, disebut etik apabila manifestasi diamati, dipikirkan dan diukur secara imprsionistis oleh pengamat atau peneliti sebagai orang luar. Suatu satuan disebut emik bila satuan tersebut meruakan suatu bagian dari suatu sistem tertutup, bukan menurut pengamat maupun peneliti (orang luar). Prinsip etik dan emik merupakan dasar epistemologis teori tamemik yang menemukan pola dan makna pada ada yang ditelitinya. Secara lengkap dan terperinci perbeadaan konsep etik dan konep emik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMIK&lt;br /&gt;1. Mengamati satu kebudayaan atau bahasa secara khusus.&lt;br /&gt;2. Satuan lingual ditentukan oleh apa yang ditemukan di lapangan pada waktu meneliti suatu  bahasa.&lt;br /&gt;3. Struktur bahasa yang ditemukan waktu meneliti dan telah diujikan pada penutur asli.&lt;br /&gt;4. Pandangan  internal (orang dalam) mengenai suatu sistem berdasarkab kriteria yang ada dalam sisten itu sendiri.&lt;br /&gt;5. Kriteria bagi suatu pandangan bersifat relatif (nisbi) menurut sifat-sifat internal.&lt;br /&gt;6. Suatu satuan mempunyai hubungan fungsional dan struktural dengan satuan yang lebih besar dan bersama-sama membentuk hierarki.&lt;br /&gt;7. Dua satuan etik dinyatakan berbeda bila pengukuran dengan alat bantu menunjukan adanya perbedaan. &lt;br /&gt;8. Data etik diperoleh dari analsis yang bersifat sementara atau sebagian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIK&lt;br /&gt;1. Mengamati semua kebudayaan atau suatu kelompok yang dipilih secara bersama- sama secara komparatif&lt;br /&gt;2. Pandangan tentang satuan lingual sebelum mengadakan penelitian lapangan mengenai suatu bahasa, seperti ramalan pola-pola berdasarkan pola behasa peneliti.&lt;br /&gt;3. Struktur bahasa yang diperkirakan sebagai hasil kreasi peneliti sebelum diuji pada penutur asli.&lt;br /&gt;4. Pandangan eksternal (orang luar) mengenai suatu sistem.&lt;br /&gt;5. kriteria bagi suatu pandangan bersifat mutlak dan dibangun menurut dasar penalaran peneliti dan mungkin dapat diukur dangan nyata dan langsung memakai alat.&lt;br /&gt;6. Suatu satuan tidak perlu dipandang sebagai bagian dari satu-satuan yang lebih besar.&lt;br /&gt;7. Dua satuan emik berbeda bila satuan-satuan tersebut menghasilkan tanggapan yang berbeda pada penutur asli.&lt;br /&gt;8. Data emik menurut pengetahuan yang utuh tentang keseluruhan sistem dan merupakan data akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-3528560703473337755?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/3528560703473337755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/02/teori-mazhab-tagmemik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3528560703473337755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3528560703473337755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/02/teori-mazhab-tagmemik.html' title='Teori Mazhab Tagmemik'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S4A41tnipSI/AAAAAAAAAUw/XH74pzQN9ZQ/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-525610306453582488</id><published>2010-01-06T02:47:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T02:47:15.226-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Kasus WC</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S0RqFbJCAHI/AAAAAAAAAUo/LX7YeHwIf0c/s1600-h/opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S0RqFbJCAHI/AAAAAAAAAUo/LX7YeHwIf0c/s320/opini.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Fikri Ariyanto*&lt;br /&gt;lampung post, agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WC atau Water Closet adalah nama populer bagi tempat kita biasanya berak. Nama atau istilah tersebut asing tentunya. Asing namun telah akrab di telinga karena kita menganggap lebih enak didengar dibandingkan dengan kakus atau jamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan istilah asing lain seperti AC atau Air Conditioner. Menggeser istilah Indonesia yang telah ada. Sejenak lewatkan dulu kisah klasik mengenai membabibutanya kita terhadap bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Kali ini kita akan sedikit mengorek-ngorek WC dan C lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Selama ini huruf C biasa kita lafalkan sebagai /se/. Pelafalan atau pengucapan huruf C sebagai /se/ umumnya terjadi saat disandingkan dengan huruf lain atau dalam singkatan, cotohnya  WC, AC, dan kampus DCC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini jelas keliru karena huruf C dalam abjad Indonesia haruslah dibaca /ce/. Ketidakkonsistenan dalam melafalkan  C juga kita temukan pada istilah lain seperti nama penyakit TBC, Vitamin C, atau merek dagang ABC , yang terkadang diucapkan /ce/ dan kadang /se/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan saya pelafalan huruf C yang tidak konsisten dan menyimpang bisa jadi disebabkan karena huruf tersebut dapat dikatakan ’baru’ dalam abjad Indonesia setelah penyederhanaan ejaan. Sama halnya dengan J, U, dan Y. Pada prinsipnya huruf-huruf tesebut memang ada namun dengan bentuk yang berbeda. Huruf C awalnya masih terintegrasi dengan huruf lain dengan tujuan membentuk bunyi serapan, yakni CH yang kini telah diubah menjadi KH. Contohnya dahulu ditulis ’chusus’ maka kini mengikuti perubahan ejaan ditulis ’khusus’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep huruf C  sebelum tahun 70-an masih  dimuat oleh gabungan huruf  TJ. T dan J merupakan huruf yang memuat bunyi tersendiri namun digunakan sebagai bunyi C: /ce/ bila digabungkan. Jika kita menulis ’cinta’ maka pada masa sebelum tahun 70-an  tulisannya adalah ’tjinta’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula J,U,dan Y, masih dalam bentuk berbeda yaitu DJ, OE, dan J. Nama orang-orang yang mungkin lahir di era ejaan lama seperti Jusuf Kalla (baca: Yusuf kalla), Djadjat Sudradjat (Jajat Sudrajat), dan Sudjarwo (Sujarwo) adalah contoh nyata bentuk huruf yang telah berubah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena sejarah huruf C yang panjang tersebut, saya menduga menyimpangnya pelafalan C karena pengaruh bahasa Inggris. Mengingat kita begitu membabibuta menggunakannya. Pelafalan huruf dalam bahasa Inggris sangat tidak konsisten. Coba lihat kata city (kota) dan cut (potong). Huruf C pada dua kata itu dilafalkan dengan bunyi yang berbeda. C pada kata city berbunyi /s/ dan pada cut berbunyi /k/. Begitulah pelafalan huruf dalam bahasa Inggris. Tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengucapan huruf dalam bahasa Indonesia tentu berbeda dengan bahasa Inggris. Huruf dalam abjad Indonesia sangat teguh memuat satu konsep bunyi saja—kecuali huruf E. Jadi keliru jika C dilafalkan /se/. C adalah /ce/. Keteguhan dan kebenaran pelafalan C akan kita temukan pada nama stasiun televisi RCTI dan SCTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WC dan AC sebetulnya lebih tepat dibaca sebagai /dabelyusi/ dan /eisi/, karena keduanya istilah Inggris. Saya yakin sebagian besar kita fasih berbahasa Inggris, tetapi saya ragu kita sanggup melafalkan WC dan AC dalam bahasa Inggris. Jadi, lebih enak jika kita lafalkan saja dengan bahasa Indonesia. WC: /wece/, AC: /ace/. Atau jika tidak, kita pakai saja istilah pribumi: kakus. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-525610306453582488?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/525610306453582488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/01/kasus-wc.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/525610306453582488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/525610306453582488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2010/01/kasus-wc.html' title='Kasus WC'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/S0RqFbJCAHI/AAAAAAAAAUo/LX7YeHwIf0c/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8556048750316507107</id><published>2009-12-19T04:31:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T02:52:38.401-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Pahlawan di Tengah Krisis Zaman</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SyzHYlyx7NI/AAAAAAAAAUg/u0ZIYU8e2_g/s1600-h/opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SyzHYlyx7NI/AAAAAAAAAUg/u0ZIYU8e2_g/s320/opini.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas.com&lt;br /&gt;SABTU, 19 DESEMBER 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah bangsa yang selalu mengadakan pesta pora memperingati nilai dan arti kepahlawanan. Bahkan di media, film, buku, dan komik istilah ini kerap terdengar seolah-olah itu kata sehari-hari. Apa sebenarnya pahlawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tanyakan pada anak Anda atau generasi muda, pahlawan seperti apa yang mereka kenal. Apakah lebih mengenal pahlawan animasi Jepang dan Amerika daripada Pangeran Dipenogoro, Bung Tomo, Tuanku Imam Bonjol, Sultan Agung, atau bahkan Sukarno sekalipun. Bahkan yang lebih mengejutkan adalah  pemuatan patung Obama di Menteng, yang seakan-akan menjadi simbolisme bahwa dia adalah pahlawan bagi negeri ini. Tapi apakah benar bahwa dia lebih hebat kedudukannya dibandingkan dengan Tan Malaka sekalipun?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seiring perubahan zaman, pergeseran nilai etika, adat istiadat sampai dengan teknologi mulai merasuki setiap jenjang kehidupan bangsa ini. Sebuah zaman ketika masyarakat Indonesia merasakan kuatnya cengkraman globalisasi yang berkedok modernisasi. Adakalanya perubahan tersebut memicu ke arah positif, namun tidak dapat dimungkiri, bahwa ada perubahan negatif yang mengkhawatirkan. Pengaruh negatif tersebut akan tampak dalam kehidupan generasi muda dewasa ini, terutama dalam menghayati dan mengamalkan nilai kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya pemasukan nilai-nilai kepahlawanan dalam generasi muda harus dilakukan sejak dini. Urgensi harus dicapai mengingat perubahan zaman yang semakin nyata. Kemunculan komik, TV, internet dan media massa lainnya lambat laun mengikis nasionalisme  generasi muda. Pengikisan tersebut terwujud dalam etika, budaya, perilaku sosial dan gaya hidup. Kecenderungan gaya materialisme dan hedonisme menghapus habis tinta sejarah bangsa ini, akan nilai-nilai kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan lainnya, generasi muda kita begitu lekat bahkan mengidolakan pahlawan khayalan ciptaan luar negeri. Disatu sisi ini merupakan ironisme, karena sesungguhnya pengagungan terhadap pahlawan luar negeri akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan anak. Bukan hanya nilai dan moral yang tidak sesuai dengan kultur kebudayaan Indonesia, namun pada prakteknya kultur bangsa ini akan digantikan oleh kultur kebudayaan asing. Tentu kita masih ingat ketika ada kekerasan anak yang diakibatkan oleh tontonan yang tidak baik semisal smackdown, itu merupakan bukti nyata betapa lemahnya mempertahankan budaya di tengah degradasi zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pahlawan fiksi ciptaan luar negeri lebih melekat dalam kehidupan generasi muda?  Sangat sederhana, karena media membuatnya sebagai figur dan konsumsi publik. Anak-anak yang kurang pengawasan dari orang tua, kemungkinan besar tak mengenal lagi siapa yang mendirikan dan memperjuangkan negeri ini.  Mau tidak mau generasi muda saat ini mengalami degradasi nilai-nilai kepahlawanan. Mereka lebih mengidolakan tokoh-tokoh fiksi buatan animasi Jepang dan Paman Sam. Sementara itu, mereka kurang atau bahkan tidak mengenal tokoh dan nilai kepahlawanan. Kalaupun mereka mengenal, hanya sebatas ingat nama dalam balutan buku sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan nilai-nilai kepahlawanan sudah sepatutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika para politisi tahu dan mengerti arti sebuah kepahlawanan bangsa ini tentu tidak akan mengenal korupsi. Nilai kepahlawanan tentu tidak akan mengkhianati amanat dan menjunjung tinggi pengabdian untuk rakyat. Kenyataan seperti inilah yang harus dipupuk dalam benak generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berpikir ke depan, tentu saja peranan orang tua, lingkungan dan negara diperlukan. Orang tuanya setidaknya mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan tersebut dalam ruang lingkup keluarga, jangan sampai semangat dan nilai pahlawan tersebut hanya diterapkan pada formalitas pendidikan semata. Karena kenyataannya pendidikan sejarah dan kewarnegaraan bagi generasi muda hanya dijadikan kebutuhan pemenuhan nilai akademik dibandingkan dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepahlawanan. Hal yang perlu ditekankan lagi bahwa generasi tua harus menyerahkan mata rantai kepemimpinan terhadap generasi penerus dengan bekal-bekal nilai-nilai luhur yang dimiliki para pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya peran pendidik dalam lingkungan akademik mempunyai porsi cukup besar, mereka tidak hanya menerangkan nilai dan semangat para pahlawan nasional, namun menerapkan konsep transformasi perjuangan generasi muda.  Jika dulu pahlawan menggunakan otot dalam memperjuangkan bangsa ini, generasi muda tentu harus tahu dan mengerti posisi mereka. Perjuangan dengan menggunakan otak adalah senjata bangsa ini untuk terus maju, dan setidaknya meneruskan cita-cita perjuangan. Namun dalam kenyataannya, banyak terjadi aksi tawuran antar pelajar, apakah ini tidak dapat dijadikan barometer bagaimana generasi sekarang lebih menggunakan otot daripada otak, memang sungguh ironis. Seharusnya generasi muda tidak menempatkan diri sebagai penjajah negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, peran negara justru besar pengaruhnya. Pemuatan buku, brosur, atau bahkan pengarahan, bisa saja dianggap angin lalu oleh generasi muda. Media massa sudah menjadi santapan dalam kehidupan yang serba modern. Nah, sudah sepantasnya pemerintah mencoba menggunakan media tersebut untuk digunakan dalam kampanye pemulihan nilai-nilai kepahlawanan. Misalnya dengan membuat film, sinetron yang berbau kepahlawanan dan mengedepankan aspek moralitas bangsa. Jangan sampai yang ditonton dan ditiru justru kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kultur kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas bangsa ini juga patut dipertanyakan. Andai saja bangsa ini mau berusaha, tentu akan lahir karya yang mencerminkan kepahlawanan bangsa ini. Misalnya dengan membuat komik, sinetron, buku dan novel, atau bahkan video game yang mengangkat salah satu tokoh nasional. Proses kreatif seperti itu setidaknya mengubur habis anggapan bahwa nilai kepahlawanan hanya dijadikan sebagai materi dan ilmu yang ada dalam buku-buku sejarah. Selain itu,   jangan sampai tokoh luar negeri diangkat dan dipuja-puja layaknya pahlawan bagi negeri ini, tetapi bangsa ini kurang atau bahkan tidak mengenal lagi pahlawan yang telah sujud di pangkuan ibu pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, kita memang harus tetap optimistis bahwa bangsa ini mau menghargai dan menerapkan nilai-nilai kepahlawanan. Semangat juang, kegigihan dan pantang menyerah, mengedepankan amanat rakyat, anti korupsi, adalah beberapa sifat pahlawan yang dapat kita teladani. Dari situ kita bisa menghargai jasa para pahlawan serta menerapkan sifat-sifat teladan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya kita harus tahu dan benar-benar menghayati darah para pejuang yang telah membela negeri ini, bila dibandingkan dengan kehadiran “Pahlawan’ Obama sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri R.H, lahir di Sumedang 4 Agustus 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengamat sosial dan aktivis kampus. Menulis Esai dan dan  opini. Aktif dan bergabung Komunitas Anak Sastra UPI www.anaksastra.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8556048750316507107?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8556048750316507107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/12/pahlawan-di-tengah-krisis-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8556048750316507107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8556048750316507107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/12/pahlawan-di-tengah-krisis-zaman.html' title='Pahlawan di Tengah Krisis Zaman'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SyzHYlyx7NI/AAAAAAAAAUg/u0ZIYU8e2_g/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8400838011927477576</id><published>2009-12-01T01:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T02:51:05.498-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Kala Nabi Menjadi Jahat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SxTpLMdW7RI/AAAAAAAAAUU/keuJmz6b1Hs/s1600/opini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SxTpLMdW7RI/AAAAAAAAAUU/keuJmz6b1Hs/s200/opini.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kompas.com Senin, 14 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Nabi harus manusia yang membawa kebenaran? Apakah seorang Nabi harus membawa kebahagiaan bagi umatnya? Apakah seorang Nabi harus membawa kedamaian di muka bumi? Bagi sebagian orang jawabannya ya. Tapi bagi teater lakon UPI Bandung, lain lagi ceritanya. Tanggal 21 November bertempat di gedung PKM UPI mereka membawakan drama besutan Arifin C Noer berjudul Umang-umang, sosok Nabi yang selalu identik dengan pembawa nilai kemanusiaan, kini berubah radikal menjadi sosok yang jahat berwujud manusia, kesukaannya merampok, mencopet, memalak, bahkan membunuh orang. Sungguh radikal bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Dedy Warsawa sang sutradara yang menjembatani nilai amanat yang ACN tulis dalam bentuk seni pertunjukan.  Dari mulai seni dekorasi, pertunjukan bahkan seni musik, ia hadirkan guna menghadirkan roh ACN ke dalam panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan saya mengatakan demikian, pikiran ACN yang kerap terperangkap dengan persoalan sosial, ujung-ujungnya memaksa kita menyerap mentah-mentah kritik sosial, gaya parlemen jalanan, bahkan pesta orang-orang marjinal. Kompleksitas tersebut nampaknya ada dalam drama tersebut, terlebih ACN membawa-bawa seorang Nabi dalam naskah umang-umang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika merunut kebelakang, seni drama seringkali lahir dari persoalan sosiologi. Lihat saja Shakespare dengan karyanya Hamlet, begitu berani mengangkat persoalan yang waktu itu oleh gereja dianggap wilayah abu-abu. Lebih-lebih di negeri ini, konon disebut juga negara dunia ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena padahakekatnya setiap karya sastra (drama) merupakan jawaban terhadap berbagai hipotesis hidup, maka ACN menghadirkan belenggu sosialnya dengan pertunjukan drama. Saya masih ingat ketika menonton drama Tengul dan AA-II-UU  nuansa tersebut hadir dalam setiap adegan yang dibawakan. Dan pada akhirnya hipotesis tersebut akan menjadi efek domino saling melengkapi, dan merupakan serangkaian potret-potret diri kita dalam berbagai ekspresi aktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Nabi sampai ke Semar&lt;br /&gt;Bentuk dualisme tokoh dalam pertunjukan drama, baru pertama kali saya tonton. Bentuk-bentuk seperti itu bisa saja menghadirkan sebuah revolusi pertunjukan atau bahkan menambal kekurangan dengan tidak adanya “monolog cerita”. Saya menemukan bentuk dualisme ini dalam tokoh Waska yang diperankan oleh Yussak Anugrah. Disatu sisi Waska digambarkan sebagai seorang Nabi bagi penjahat dan perampok, namun di sisi lain ia berpose sebagai seorang penuntut cerita layaknya dalang dalam hal ini sebagai tokoh Semar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waska yang merupakan penjelmaan kaum marjinal, membawakan sosok spiritual bagi kaumnya, ia hendak merampok kota dengan membawa kaum yang memujanya. Oleh kaumnya ia dianggap sebagai seorang Nabi yang membawa kebenaran dan keberuntungan  hidup, terlebih mereka berada dalam zona ekonomi lemah, Waska hadir dan memberikan solusi untuk merampok kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Waska yang dipentaskan dengan gaya dualisme penokohan, dua orang tangan kanannya Ranggong dan borok yang masing-masing diperankan oleh Sahlan Bahuy dan Chandra Kudapawana, menyajikan bentuk yang satu watak satu pertunjukan. Mereka digambarkan setia untuk mewujudkan keinginannya tuanya. Tapi masalah timbul ketika Sang Nabi tiba-tiba sakit dan menuntut mereka untuk mencari obat kepada seorang nenek agar sang Nabi dapat hidup kekal. Nenek tersebut mensyarakatkan untuk memakan jantung bayi. Hingga mereka kekal dan tak bisa mati, dan disinilah masalah muncul, karena ketika keinginan merampok kota terpenuhi, mereka mengingkari keinginan sebelumnya yaitu hidup kekal. Kini mereka tersiksa karena tidak bisa mati, berbagai cara dilakukan agar bisa mati, tapi tetap saja nihil. Sama halnya dengan nihilisme penokohan, begitu absurd dan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan tokoh dengan watak yang penuh absurdisme, setidaknya menuntut penonton untuk memasangkan tokoh dengan alur cerita. Hal ini tentu saja membawa konsekuensi tersendiri karena tokoh dan penokohan dalam drama biasanya menampilkan juga kompleksitas psikologis. Sehingga justru yang berkembang adalah tokoh-tokoh tiruan dunia nyata dengan memasukan untuk absurdisme. Dalam teater kompleksitas tersebut kadang membawa tantangan penafsiran bagi penonton, namun seperti yang saya sebutkan, penonton harus jeli memisahkan antara bentuk universal tokoh dengan aspek psikologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil tokoh Waska, yang dianggap sebagai Nabi. Penonton bisa saja tergiring bahwa Waska adalah tokoh yang jahat dan penuh onar, dalam dimensi seperti ini memang benar adanya. Namun, jika harus berpikir ala dekosntruktif, tokoh Waskalah yang mempunyai peranan yang baik, bahkan bagi dimensi penonton sekalipun, karena setiap tingkah lakunya yang jahat dia menghadirkan aspek psikologisnya untuk membawa pesan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri menyimpulkan bahwa tokoh dan penokohan tersebut hanyalah dijadikan sutradara untuk mewujudkan gagasan-gagasannya. Tubuh dan gesture aktor menjadi gagasan sutradara, sehingga ia akan kehilangan identitas sesungguhnya. Lihat saja Tokoh Waska dan Semar, begitu apik sutradara menjembatani dua tokoh yang bertolak belakang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi ACN penggambaran Waska merupakan kenikmatan tersendiri menghadirkan tokoh yang penuh anomali. Dalam sebuah tulisan di blog ACN, dia menyebut bahwa naskah dramanya merupakan naskah drama cerdas, ia harus didukung oleh kecerdasan sang sutradara menjembatani amanat ACN dengan penonton. Sutradara dan aktor dituntut berpikiran cerdas dan piawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah panggung misalnya, sutradara mencoba mengimbangi kekurangan tata artistik dengan guyonan dan lelucon, misalnya dalam tokoh ulama (saya tidak tahu yang sebenarnya siapa, tapi penampilannya seperti ulama). Karena ketiadaan efek angin untuk menggerakan jubahnya, ia mencoba menutup kekurangan tersebut dengan menyuruh seseorang untuk menggerakannya. Mungkin kedengarannya aneh dan kelihatan bodoh sang sutradara menyuduhkan adegan tersebut tanpa efek. Tapi ia berpikir lain, orang yang menggerakan jubah tersebut dipaksa naik panggung, dan menyuruh aktor lain untuk mengomentarinya “Hei, ulama bawa juga pelayan yang menggerakan jubahmu itu”, kira-kira seperti itu dialognya. Namun yang pasti ia tidak menghadirkan kekurangan sebagai lahan untuk menabur benih kebodohan, justru menambah kelebihan, hingga saya berkata “Waw menakjubkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aspek lain, seni musik juga dihadirkan dengan apik. Saya teringat ketika menonton film mafia Hollywood kental dengan lagu ghotic, atau bahkan lagu James Bond. Tapi dalam mafia Indonesia, ia menghadirkan lagu dangdut sebagai pengiring jalan cerita. Memang benar apa yang dilakukan sutradara bahwa unsur lokalitas terkadang menjadi senjata ampuh untuk membuat decak kagum penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umang-umang sebuah filosofi hidup&lt;br /&gt;Apalah artinya sebuah karya jika tak membawa pesan moral atau setidaknya esensi hidup. Mungkin itulah yang terpikirkan oleh ACN, karena pada hakikatnya penonton membutuhkan sebuah suguhan isi cerita yang disampaikan mengandung bobot filosofis yang bisa menambah bagasi pengetahuan. Sama halnya dengan teater ini. Penuh dengan nilai dan esensi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengawali dengan tokoh Waska, yang menjadi sentral pertunjukan tersebut. Tokoh Waska hadir sebagai tokoh yang penuh pemberontakan, ia senantiasa mengayomi kaum marjinal untuk merampas kekayaan kaum konglomerat. Bisa saja ini bentuk kebiadaban, namun lagi-lagi saya berpikir dekonstruktif. Jika seandainya yang menonton adalah kaum berada, sudah barang tentu mereka akan mendalami tokoh Waska sebagai seorang yang membutuhkan uluran tangan, sehingga ia rela merampok. &lt;br /&gt;Tokoh ini bahkan hadir pergolakan batin antara kehidupan seniman dan dunia kaum terpinggirkan, saya selalu teringat sajak Rendra “Penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ACN tidak meniru gaya Rendra dalam mengkritik fungsi dan kepekaan seorang penyair. Ia bahkan berpikir lebih kritis lagi, bahwa kehadiran penyair yang membawa penderitaan rakyat dan kehidupan kaum marjinal, hanyalah sebuah kedok untuk mendongktak populariras, mereka hanya memanfaatkan nama, setidaknya itulah yang terpikirkan ACN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi saya akan membongkar filosofi umang-umang, mengapa ACN rela memberi judul drama tersebut dengan judul yang aneh dan kurang populer. Mungkin ACN senang memberi judul yang penuh kontroversi dan berada dalam dimensi  anomali. Umang-umang hanyalah binatang laut yang tidak mempunyai tempat tinggal, bahkan cangkang yang selalu ia bawa hanyalah pinjaman dari sisa hidup binatang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiduplah sederhana seperti umang-umang, itulah mungkin yang hendak diangkat oleh ACN. Kesederhaan begitu penting dalam esensi hidup. Namun seperti yang telah saya ulas, bahwa ACN tidak puas dengan nilai-nilai yang universal, ia senang berkecimpung di sisi absurdisme. Bahwa dengan kesederhanaan manusia tidaklah cukup, ia harus memberontak, bahkan memberontak kepada Tuhan agar ia tidak mati. Tapi saya dapat menikmati suguhan esensi drama ini bahwa “hidup adalah sebentuk keabadian yang tak pantas untuk dimiliki. apalah artinya hidup jika tidak mati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8400838011927477576?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8400838011927477576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/12/kala-nabi-menjadi-jahat.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8400838011927477576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8400838011927477576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/12/kala-nabi-menjadi-jahat.html' title='Kala Nabi Menjadi Jahat'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SxTpLMdW7RI/AAAAAAAAAUU/keuJmz6b1Hs/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5579129284442313561</id><published>2009-11-22T07:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T02:52:18.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Restu Redaksi Untuk Sastrawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SwldQoVd_MI/AAAAAAAAAT8/5-B1iyatgQM/s1600/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SwldQoVd_MI/AAAAAAAAAT8/5-B1iyatgQM/s200/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406955367921745090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;Kompas.com Senin, 30 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ini sebuah guratan takdir bahwasannya kami harus menyembah redaksi kebudayaan untuk dikatakan sebagai seorang sastrawan. Lalu apakah menjadi sebuah kemutlakan bahwa sastrawan harus melewati penggonjlogan redaksi sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar sastrawan bagi seorang  penyair, penulis, esais, dan dramawan bukanlah proses formal sebuah pendidikan akademik. Ada semacam dikotomi bahwa sebenarnya pendidikan formal bagi sastrawan adalah media massa. Pemerolehan gelar sarjana sastra dalam formalitas akademik, tentu tidak menjamin menjadi sastrawan, diperlukan suatu jalan panjang bahwa proses kreatif dan pengakuan dari sastrawan lain itu hal yang cukup penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika dilihat dari sudut pandang berbeda, proses untuk mendapatkan pengakuan sebagai sastrawan tidaklah mudah. Ada semacam gengsi tersendiri bahwa seorang sastrawan harus identik dengan media massa, atau  bahkan karyanya harus sering nongol di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan yang baru naik daun akan senang ketika karyanya dihargai oleh orang sekelas Nirwan Dewanto, atau bahkan sekalipun dicaci maki oleh seorang H.B Jassin. Karya sastra yang dihasilkan tentu bukan hanya untuk konsumsi pribadi namun juga dipublikasikan ke khalayak umum. Dengan kata lain sastrawan sendiri membutuhkan eksistensi agar karya-karyanya dapat dikenal.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menariknya dalam ruang lingkup sejarah sastra Indonesia, kemunculan media massa membawa angin perubahan yang cukup berarti, lihat saja W.S Rendra yang karyanya pertama kali dimuat dalam majalah-makalah terkemuka di Jakarta dan lembaran kebudayaan di Solo dan Yogya. Belum lagi Seno Gumira Adjidarma, Acep Zamzam Noor, Sutardji Calzoum Bachri dan Joni Aria Dinata yang hidup dan menemukan gelar sastrawannya lewat media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan dan pengakuan tersebut sebenarnya membuat sebuah pembenaran bahwa seorang penulis ketika berhasil melewati testing redaksi, telah dianggap sebagai seorang sastrawan. Asumsi semacam ini memang benar adanya, karena saking hidupnya dunia sastra, bermunculan penyair-penyair muda dalam khazanah sastra Indonesia. Di satu sisi hal ini menjadi modal awal bagi sastrawan muda untuk menggali dan mengembangkan potensinya. Terlebih ketika karyanya dimuat, mau tidak mau akan mempengaruhi kepercayaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruang batas seperti inilah, penggolongan antara penulis akademik dan non-akademik, berbaur menjadi satu. Dihadapan seorang redaktur sastra, tidak ada semacam dikotomi berlabel akademisi sastra, justru karya yang menjadi label tersendiri. Sehingga siapa saja bisa menemukan gelar sastrawannya ketika memasuki dunia koran dan majalah.&lt;br /&gt;Pengkaderan sastrawan oleh redaktur sastra sebenarnya berawal dari abad ke-20 ketika di Bandung terbit sebuah surat kabar Medan Prijaji dengan redaktur R.M.D Tirto Adhi Soerjo yang memuat cerita-cerita bersambung berbentuk roman. Berlanjut sampai zaman balai Pustaka dan angkatan 66, sudah banyak media massa yang ikut melestarikan sastra diantaranya Jong Sumatra, Sastra, Indonesia dan Horizon dan Kalam yang dikelola oleh kelompok Teater Utan Kayu. Sampai sekarang ini, mungkin hanya surat kabar yang masih setia menyajikan rubrik sastra tiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerolehan gelar untuk menjadi seorang sastrawan tentu saja tidak harus melalui koran atau majalah. Taufik Ismail misalnya, justru eksis ketika karyanya dibacakan dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dan pelajar dalam menyampaikan TRITURA. Pengarang yang hidup dalam dunia “perlawanan” juga tak kalah eksistensinya, misalnya Wiji Tukul yang menyuarakan kaum buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hal demikian akan sulit diterapkan pada masa sekarang, dulu ketika orang membaca dan menulis dianggap sebagai sebuah barang langka, kini setiap orang bisa melakukannya. Sehingga mau tidak mau sastrawan butuh media untuk eksisistensi dan penggonjlogan dari redaksi sastra, terutama bagi media yang sudah malang melintang di media massa, seperti Horizon, Kompas, Republika, dan Tempo. Persaingan tentu menjadi hal menarik untuk mengukuhkan gelar sastrawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saking ketatnya persaingan untuk karya pada koran dan majalah. Seorang sastrawan muda harus mampu bersaing dengan sastrawan senior dalam hal eksistensi. Sastrawan sekelas Hamsad Rangkuti, Taufik Ismail, Putu Wijaya dan Sides Sudyarto, masih tetap aktif menulis untuk Koran dan majalah. Padahal sebenarnya mereka sudah mempunyai pamor jika seandainya mau menerbitkan buku sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seno Gumira Adjidarma yang malang melintang dalam dunia Koran, membuat sendiri kumpulan cerpennya, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Saksi Mata, Penembak Misterius, Kematian Donny Osmond, Dunia Sukab, Iblis Tidak Pernah Mati, Di Larang Menyanyi di Kamar Mandi, adalah kumpulan cerpen dia ketika ditulis di media massa. Padahal jika berpijak pada ketenaran namanya, dia toh bisa saja membuat antologi independen yang terlepas dari media massa. Namun testing media massa justru membuat para cerpenis membukukan kembali karyanya, seakan cerpen-cerpen tersebut sudah lulus dan berlabel sertifikasi media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hal dengan para penyair yang rame-rame membukukan kembali karyanya ketika di media massa. Kompas saban tahun juga menerbitkan buku kumpulan cerpen, yang lebih dikenal dengan cerpen pilihan kompas. Pembukuan kembali cerpen seperti ini seperti mengundang kembali kanonisasi karya sastra yang digembar-gemborkan oleh Saut Situmorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kanonisasi yang heboh terlebih dahulu, ketika  seorang kritikus sastra Marcel Reich-Ranicki jerman membuat kumpulan karya terbaik. Menurut dia, karya tersebut layak dipandang sebagai karya abadi.  Bagaimana dengan Indonesia, tentu saja menimbulkan polemik tersendiri. Akan timbul asumsi publik bahwa karya sastra di luar kumpulan karya sastra tersebut merupakan karya yang tidak bermutu, terutama kumpulan karya media massa ternama yang sudah lulus testing redaksi sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut situmorang bahkan menyebut bahwa betapa susahnya menjadi seorang sastrawan Indonesia. Seperti yang ia ungkapkan ketika mengutip pernyataan Nirwan Dewanto  dalam “Kilas Balik 2002”, 5 Januari 2003.Redaktur Tempo ini mengatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul?”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Memandang sekilas tentang peranan media masa dalam mendidik seorang penyair. Akan selalu berbenturan bahwa dengan otoriterisme seorang redaksi sastra atau setidaknya harus melewati meja redaksi.  Akibatnya banyak orang yang hendak menjadi seorang sastrawan harus menelan pil pahit karena karyanya dimuat sama sekali. Sebagai perlawanan muncul berbagai media lainnya sebagai  tandingan media massa, yaitu Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan situs dan komunitas sastra Internet mulai merebak ketika Internet masuk ke  Indonesia. Hakikatnya setiap orang bisa menulis karya sastra, tanpa ada interfereni semacam redaksi sastra, bahkan saking mudahnya, orang bisa memajang karya-karya dalam ruang pribadi di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologipuisi, puisikita, gedongpuisi, puitika dan cybersastra merupakan antek-antek generasi sastra Internet. Saking merakyatnya dunia sastra orang-orang mulai meramaikan khazanah sastra Internet. Malah tahun 2002 situs cybersastra membuat sebuah antologi puisi bernama cyberpunk. Penerbitan antologi puisi sebagai “jalan pintas” untuk mencapai gelar sastrawan tentu saja mengundang berbagai reaksi keras. Dalam sebuah esai Saut Situmorang, Maman S. Mahayana Pengajar FSUI mengatakan , bahwa para penyair cyberpunk Indonesia itu belum pantas untuk dikategorikan sebagai “penyair” tapi “penulis puisi” hanya berdasarkan ketidakjelasan produktivitas mereka belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tamparan keras juga dilontarkan Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Republika ini menyebut bahwa pemuatan karya sastra di Internet, hanyalah karya yang tidak lolos ke Media. Pernyataan ini seakan-akan ada dikotomi yang begitu jauh antara sastra Koran dan sastra Internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis di dunia internet, mungkin menyadari betul bahwa eksistensi menulis di media masa tentu lebih menantang dan mendapatkan keuntungan finansial tersendiri. Namun sepertinya karena kemudahan dan kemajuan zaman, mereka dengan mudah dapat menciptakan media sendiri, sehingga akan lebih bebas berekspresi tanpa rasa deg-degan kecewa ketika karyanya tidak dimuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Label-label media massa yang diisi oleh para sastrawan seperti Nirwan Dewanto, Ahda Imran, Rahim Asik, Ahmadun Yosi Herfanda. Seakan sebuah simbolisme keutuhan pengkaderan gelar sastrawan, di tangan merekalah mungkin gelar tersebut dapat diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan media massa untuk membuka gerbang seorang sastrawan memang tidak dapat dielakan. Eksistensi dan persaingan tentu menjadi hal yang menarik dan menuntut seorang untuk lebih kreatif. Tetapi untuk menjadi gelar seorang sastrawan tentu tidaklah mudah, tidak hanya mengandalkan peran media massa, pemantapan, daya kreatifitas, atau bahkan gelar akademik sekalipun. Karena menjadi seorang sastrawan adalah panggilan hati, itulah kiranya yang dikatakan oleh Acep Zam-zam Noor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5579129284442313561?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5579129284442313561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/restu-redaksi-untuk-sastrawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5579129284442313561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5579129284442313561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/restu-redaksi-untuk-sastrawan.html' title='Restu Redaksi Untuk Sastrawan'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SwldQoVd_MI/AAAAAAAAAT8/5-B1iyatgQM/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1660379440898300674</id><published>2009-11-07T06:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T06:34:58.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Anak Haram</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvWFCakRtII/AAAAAAAAAT0/4Zcq9N5o5G4/s1600-h/cerspn.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvWFCakRtII/AAAAAAAAAT0/4Zcq9N5o5G4/s200/cerspn.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401369604638487682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: Hendri R.H&lt;br /&gt;Ketua Divisi Linguistik Komunitas Anak Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas.com&lt;br /&gt;SABTU, 7 NOVEMBER 2009 | 02:25 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah mengerti kenapa dilahirkan, bahkan Aku tak pernah meminta Tuhan untuk meniupkan ruhnya ke dalam rahim Ibuku. Andai kata ada semacam pemilihan di Alam Ruh, Aku lebih memilih dilahirkan dari rahim seorang Ibu negara, ustadz, atau bahkan seorang guru. Setidaknya kalau dilahirkan dari mereka tidak akan dicap sebagai anak haram. Karena sepuluh tahun yang lalu Aku menangis dipangkuan seorang Ibu yang kini kukenal sebagai seorang pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat bertanya pada seorang Ustadz, “ Kenapa Aku dilahirkan di mulut Rahim seorang pelacur, bukankah Tuhan membenci pekerjaan itu?”&lt;br /&gt;“Karena suatu saat Kau akan menemukan kebenaran dan hakikat hidup dari seorang hamba Tuhan, Dia tidak menciptakan makhluk yang tidak mempunyai jalan hidup, perkara kau dilahirkan dari seorang pelacur atau bukan, itu kehendak Dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu menyesal bertanya hal itu pada Ustadz, pikiranku selalu dipenuhi tanda tanya, esensi hidup apa yang Tuhan rencanakan, bukankan dia Maha adil? Ah, pertanyaan itu hanya membuatku pusing, seperti benturan-benuran keras ketika ku memikirkannya, bahkan Ibuku sendiri tak mengetahui kenapa ia menjadi pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saban hari Aku hanya menunggu seseorang di balik pintu. Kursi-kursi yang kujajarkan dan ditata rapi, hingga menyapu ruangan tamu kulakukan tiap hari. Perlakukan terhadap rumahku  selalu istimewa setiap harinya, bahkan ketika menginjak bangku SD. Aku terbiasa membaca buku di ruang tamu. Semua itu kulakukan demi menemukan seorang manusia yang harus memenuhi fitrahnya, sebagai Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa hari itu Aku memakai pakaian bagus, pemberian Ibuku memang, walapun tidak halal, tapi harus berbuat apalagi. Tuhan juga memaklumi keadaanku, perkara Aku berkomplot dengan Ibu sebagai kejahatan pelacuran, tak kupedulikan. Dia toh harus memenuhi kewajiban sebagai seorang Ibu dan menapkahiku sebagai seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pakaianku yang serba bagus, daun telingaku menangkap suara langkah kaki, perlahan tapi pasti, langkah itu semakin jelas, dan terakhir berhenti, tak kedengaran lagi. Malah bunyi ketukan pintu yang terdengar, Aku membuka pintu itu, berharap yang datang bukan Ibuku. Benar saja, seorang lelaki. Ia terlihat santai dan penuh wibawa, sosok ayah yang kuidam-idamkan dari dulu kini ada didepanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kuhidangkan makanan yang enak-enak, Aku langsung lari ke ruang tengah, mengambil cermin dan mengintip lelaki itu dari balik tirai. Kini kubandingkan bahwa wajah lelaki itu dengan wajahku, tak ada yang mirip, bahkan hidungnya pesek, kulitnya hitam, perawakannya agak kecil. Sedangkan Aku justru kebalikannya. Benarkan ia Ayahku? tak berani mulut ini menanyakanya langsung, tapi Aku berharap ia memang Ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara cermin Aku tak pernah pedulikan, memang benar bahwa cermin adalah makhluk yang paling jujur, setidaknya itu yang dikatakan sastrawan dalam sajaknya. Tapi dalam kondisi ini Aku tak boleh percaya pada benda itu, keinginanku terlalu besar untuk menebak bahwa lelaki yang ada dihadapanku adalah seorang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana Ibumu nak?” Lelaki itu membuyarkan lamunanku, dari tadi Aku hanya memandang wajahnya seakan ia hendak pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;“Pergi keluar.” Jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berani Aku menyebut bahwa Ibu pergi melacur, Aku takut calon Ayahku ini kecewa dan pergi begitu mengetahui bahwa wanita yang ditunggunya sedang mengobral rahimnya untuk ditukarkan rupiah. Lama benar dengan pergolakan senandung lamunan, Ibu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa Ibuku selalu pulang dengan badan lemas, tak pernah Aku tanyakan padanya. Sepulang dari tempat melacur ia selalu tidur dan tak boleh diganggu. Bahkan Aku tak berani menanyakan bahwa lelaki didepanku adalah ayahku sendiri, biarlah Ibu sendiri yang mengatakan padaku, lebih indah pengakuan seorang Ibu kepada anaknya, bahwa ayahnya telah lama berpisah, kini ada dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama menunggu Mas,” Ibuku bertanya pada lelaki itu.&lt;br /&gt;“Dari tadi, tidak lama untungnya ada anakmu, dia mungkin jadi anak yang baik.”&lt;br /&gt;“Semoga mas, jangan sampai menjadi Aku yang seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah ku dengar doa seorang lelaki yang mengharapkan untuk kebaikan masa depanku. Aku semakin yakin bahwa ini adalah Ayahku, Ayah yang selama ini kutunggu, yang bisa mendidik, yang bisa menjadi raja dalam kerajaan kecilku. Biar Ibu tak mengobral tubuhnya dijalanan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cepat-cepat pergi ke kamar, tak kuasa menahan tangis, walaupun Ibu tak menyebutkan langsung bahwa itu ayahku, namuan Aku tetap terharu sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;Dari balik tirai kuintip lagi dan kudengar pembicaraan mereka, namun alangkah kagetnya ketika Ibu memberi uang pada lelaki itu.&lt;br /&gt;“Ini uang kembalian yang kemarin mas,” kata Ibuku sambil memberi uang dua puluh ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak batinku kaget, hancur luluh, dan harapanku untuk medapatkan seorang ayah pupus sudah. Kini lelaki itu pergi tanpa beban telah meminjam Rahim Ibuku, seakan telah membayar ia langsung pergi tanpa ada dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil gelas yang telah ia minum, langsung Aku banting ke lantai, jijik melihat dia dan tak sudi menerima kenyataan bahwa dia hanyalah pelanggan Rahim Ibuku. Buat apa penjamuan ini dan penghayatan bahwa dia bukan ayahku. Kini Aku mulai mempercayai cermin, makhluk yang selalu berkata jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau berkelakuan aneh, Ibu tidak suka.”&lt;br /&gt;“Apa Ibu tidak mengerti, Aku merindukan ayah, yang membuat Aku lahir ke dunia ini adalah Ayah dan dan Ibu. Kini yang kukenal hanyalah Ibu, mana Ayahku, seorang anjing yang lahir ke dunia pun akan menanyakan dimana ayahnya berada, Aku bosan dikatain anak haram terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hanya tetesan air mata sebagai jawaban atas pertanyaanku. Aku sendiri pergi ke kamar dengan penuh tanda tanya. Tak mungkin menyalahkan Ibu mengenai keberadaan ayahku, tak mungkin juga menyalahkan Tuhan karena membuat Aku ada di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak pernah dimengerti, kenapa Ibu tak tahu dimana Ayahku. Sudah berapa lelaki yang pernah memakai rahimnya. Mungkin bercampur dengan lelaki lain dan lahirlah Aku. Hanya bisa menghibur diri sendiri bahwa yang memakai Ibu adalah pejabat, guru, dosen, pebisnis. Biar Aku yang dikatakan anak haram setidaknya masih ada keturunan dari orang-orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari setelah kejadian itu, Aku jarang mengobrol dengan Ibuku. Hingga suatu malam ia pulang dengan wajah lesu, kasian benar melihatnya terlebih ia masih sebagai Ibuku. Aku harus membalas budi, setidaknya itu yang dikatakan oleh agama.&lt;br /&gt;“Nak, maafkan Ibu tak bisa mendidikmu”&lt;br /&gt;“Ndak apa-apa Bu, gimana kondisinya sekarang”&lt;br /&gt;“Ibu tak kuasa lagi, beban ini terlalu berat, Ibu tak bisa menemukan ayahmu, bahkan Ibu tak becus menghapus diksi anak haram dalam kehidupanmu” Jawabnya dengan terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Aku tahu bahwa Ibuku sekarat, namun yang anehnya ia selalu memegang payudaranya. Ku beranikan bertannya padanya. &lt;br /&gt;“Adakah yang bisa ku bantu bu.”&lt;br /&gt;“Ndak ada nak, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu menderita kanker payudara ketika kau lahir, maafkan Ibu nak, jadilah anak yang sholeh dan teruskan cita-citamu.” Itulah kalimat terakhir yang kudengar. Ibuku menghembuskan napasnya yang terakhir.&lt;br /&gt;Kini dua kali Aku tertegun bagai disambar geledek, mendengar kenyataan bahwa Ibuku menderita kanker payudara. Aku menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;“Durhalah diriku yang telah memperlakukan Ibu seperti orang asing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keremangan malam, kutemukan esensi hidupku, bahwa manusia mempunyai arti untuk orang lain. Perkara Ibuku masuk surga atau neraka, itu urusan Tuhan, namun akan kudoakan agar dia masuk surga, semoga doa anak yatim dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Ibu bahkan melampui ayahku jiga memang ada, dialah Ibuku sebenarnya rela berjuang demi anaknya. Tak pernah ia mengeluh, dan melawan sinisme sosial. &lt;br /&gt;Aku tak boleh membenci Ibu, dia adalah pahlawan dalam hidupku, rela berkorban batin dan fisik. Aku tak boleh menggugat Tuhan atas kelahiranku, Kini yang kugugat adalah masyarakat yang mengatakan Aku anak haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 1 November 2009&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1660379440898300674?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1660379440898300674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/anak-haram.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1660379440898300674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1660379440898300674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/anak-haram.html' title='Anak Haram'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvWFCakRtII/AAAAAAAAAT0/4Zcq9N5o5G4/s72-c/cerspn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-6730259189251606349</id><published>2009-11-05T02:21:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T02:24:23.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Bahasa Indonesia sebagai Aspal Kolonial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvKnomtR5sI/AAAAAAAAATs/KNxndM-tq9A/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvKnomtR5sI/AAAAAAAAATs/KNxndM-tq9A/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400563219197716162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A Windarto&lt;br /&gt;Kompas Rabu, 28 Mei 2008 | 00:45 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan P Ari Subagyo berjudul ”Masalah Utama Bahasa Indonesia” (Kompas, 3/5) menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sebab, apa yang dipersoalkan dalam tulisan itu selalu menjadi perdebatan yang aktual di kalangan orang muda Indonesia sesudah mereka berkumpul dan berikrar dalam Soem- pah Pemoeda pada 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatannya adalah di seputar ”kesatuan bahasa” yang baru saja digagas atau dibangun demi tujuan perjuangan untuk merdeka dari Belanda. Bagi Partai Indonesia Raya, bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang diperintahkan untuk digunakan dalam semua pernyataan umum terhadap setiap anggotanya. Begitu pula dengan anggota-anggota pribumi di Volksraad, yang telah memutuskan untuk berbicara dengan bahasa Indonesia ketika bersuara dalam dewan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seperti apakah sesungguhnya bahasa Indonesia yang ditunjuk oleh partai politik terbesar zaman itu dan badan penasihat Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut? Sebetulnya itu adalah juga bahasa Melayu. Namun, Melayu yang benar. Artinya, ”Melayu Tinggi” yang dibakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, Volkslectuur (Bacaan Rakyat) dan penerbit Balai Poestaka. Sering pula disebut ”Melayu Ophuijsen” sesuai dengan nama insinyur bahasa yang membentuknya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Melayu itu berbeda dengan ”Melayu Rendah”, ”Melayu Betawi”, atau ”Melayu bazaar (pasar)”, seperti yang dipakai oleh Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis dan penulis pribumi awal. Gaya penulisannya dikenal sebagai koyok Cino (seperti China) yang identik dengan China-Melayu. Namun, ia juga memakai campuran Melayu-Belanda yang begitu ekspresif atau bersifat banci-banci modernitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, Mas Marco berulang kali ditangkap dengan jeratan pasal haatzaai (menyebarkan kebencian). Bahkan, di akhir hayatnya, ia hidup di kamp interniran Boven Digoel, Irian Barat, dalam pembuangan mirip dengan bahasa Melayu-nya. Sebuah bahasa jalanan yang dibuang, dikucilkan secara linguistik dan diasingkan dengan sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian mengenai bahasa Indonesia—atau lebih tepat politik bahasa—di atas dipaparkan dengan baik oleh sejarawan Rudolf Mrázek dalam bukunya yang berjudul Engineers of Happyland. Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006). Bahkan, dengan baik pula, Mrázek menempatkan dan mengibaratkan persoalan bahasa itu sebagai aspal. Hal ini sejalan dengan modernitas kolonial yang sedang digalakkan melalui pembangunan jalan dan rel modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan bahasa Indonesia pasca-Soempah Pemoeda tak lepas dari usaha untuk membuat suatu bangsa yang masih lemah dan sedang tumbuh menjadi seperti sebuah jalanan yang beraspal. Dengan penampilan seperti itu, bahasa Indonesia dihadapkan pada bahaya-bahaya yang merupakan permainan dari bahasa teknis (vaktaal). Dalam bahasa ini, ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah yang diharapkan mampu mengikat atau menyatukan rasa kesatuan dapat gagal dan bahkan hancur berantakan. Dengan kata lain, bahasa itu menjadi seperti ”tidak punya perasaan” (rasaloos) atau ”tidak punya malu” (ma-loeloos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrobat otak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya bahasa Indonesia yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan sebagai bahasa persatuan tampil tak jauh berbeda dengan ”Pak Koesir yang telanjang kaki, bingung, ketakutan, gugup, ragu-ragu, dan pantas ditertawakan di tengah lalu lintas umum”. Penampilan itu adalah stereotip yang dikenakan kepada para pengguna jalan modern yang berlabel p.k. (paardekracht) atau ”daya kuda”, ”Sidin”, dan juga ”Simin”. Label-label itulah yang merepresentasikan identitas ”penduduk asli” atau ”pribumi” yang lebih sering menjadi korban kecelakaan/tabrakan di jalanan dan berjalan tanpa sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk akal jika sejak semula bahasa Indonesia tak pernah utuh, apalagi terikat pada satu peraturan permainan linguistik semata. Melalui bahasa itu, terbuka kemungkinan untuk ”mengabstrakkan dunia dari keadaan- keadaan sosialnya” dan ”untuk membuatnya tampak seolah- olah, secara teknologis, menggantung di awang-awang”. Dengan demikian, bahasa seperti itu mampu merekatkan bersama segala sesuatu yang paling tidak akur, bahkan dapat bermanfaat untuk melawan rasa malas dan ketakutan dalam berbahasa karena mirip seperti sebuah batu yang dapat dipasang dan dilepas secara bebas seturut kepentingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logisnya, bahasa Indonesia menjadi seperti akrobat otak. Atau, mengeltaal, mischprache, gado-gado, ”bahasa campuran”, ”bahasa oblok-oblok”, ”bahasa campur aduk” yang tidak hanya memiliki satu rasa. Dengan cara itulah bahasa Indonesia tidak menjadi mesin, instrumen, dan bahkan komoditas yang dapat diperjualbelikan di pasar. Hal ini dapat dilacak dari pengalaman berbahasa kaum nasionalis radikal Indonesia yang menulis di majalah atau surat kabar tentang gerakan nasionalisme mereka. Yang ditulis—termasuk dilukis— bukan lagi wilayah Indonesia yang tropis dengan pemandangan alam yang hijau dan lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Mas Marco, misalnya, dengan mudahnya menggores dan meretakkan, bahkan merusak, apa yang sudah dipoles atau diperhalus dalam bahasa ibu/asli. Singkatan Weltvaartscomissi (Komisi Kesejahteraan) dapat terlihat ”subversif” di mata pejabat kolonial yang terhormat ketika dibuat menjadi WC. Atau, boemipoetra yang secara teknis lucu dan menggigit disingkat sebagai bp Bahkan, Kromoblanda- nya Tillema yang memperlihatkan perpaduan yang tenang dan bahagia antara penduduk asli dan Belanda digubah dengan campuran Melayu-Belanda-nya menjadi ”kromolangit”, ”kromorembulan”, dan ”kromobintang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak setiakah bahasa yang mencampuradukkan istilah-istilah asli dengan ungkapan-ungkapan yang seolah-olah datang dari dunia lain? Seorang pakar Jawa termasyhur, Dr Poerbatjaraka, pernah menyatakan kepada salah satu mahasiswanya bahwa keindahan bahasa (Belanda) terletak pada kemampuannya untuk tidak melukai orang (Jawa). Namun, bagi para pekerja kereta api di Semarang yang pernah menggalang aksi pemogokan terbesar pada 10 Mei 1923, istilah spoor tabrakan, ”tabrakan kereta”, justru menjadi teriakan perang yang mampu membangkitkan dan menggerakkan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda meski hanya dalam waktu 12 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa memang potensial sebagai perekat kebangsaan di antara orang-orang yang tak saling kenal. Hanya masalahnya, bahasa seperti itu dapat muncul secara historis jika, salah satunya, tidak dianggap sebagai kebenaran yang dikeramatkan. Begitu pula dengan bahasa Indonesia yang telah mampu menumbuhkan nasionalisme. Bahasa itu sesungguhnya tidak dilahirkan di ruang- ruang resmi perserikatan/perkumpulan, tetapi ”dipungut” dari jalanan kolonial yang keras atau beraspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Windarto Anggota Staf Peneliti Lembaga Studi Realino, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-6730259189251606349?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/6730259189251606349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/bahasa-indonesia-sebagai-aspal-kolonial.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6730259189251606349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6730259189251606349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/11/bahasa-indonesia-sebagai-aspal-kolonial.html' title='Bahasa Indonesia sebagai Aspal Kolonial'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SvKnomtR5sI/AAAAAAAAATs/KNxndM-tq9A/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5730581774799514804</id><published>2009-10-26T05:46:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:36:45.146-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Melebur Karya Sastra Picisan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SuWdl72dYZI/AAAAAAAAATk/KP5KVN4_PK4/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SuWdl72dYZI/AAAAAAAAATk/KP5KVN4_PK4/s200/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396893003520237970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Catatan Muallaf Sastra&lt;br /&gt;Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih tidak mengerti kenapa Pramoedia Anata Toer dilahirkan, terlebih berbagai karyanya dilarang pemerintah. Saya sendiri yang mendekam di jurusan sastra sempat menolak untuk membaca karya-karyanya, “kumpulan roman picisan” itulah kiranya yang sempat terucap. Praduga tak bersalah tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya roman yang dilahirkan awal abad ke-19 kebanyakan bertemakan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya sastra dalam ruang lingkup khazanah pembaca, setidaknya harus dipenuhi oleh pergulatan ideologis, pemahaman dan pencarian konsep filsafat. Permasalahan yang paling mendasar adalah konsep-konsep tersebut hanya dijadikan “ban serep” untuk mendukung gaya bercerita. Walaupun toh maksudnya ditulis secara eksplisit, tetap saja pengolahan diksi untuk menuju konsep filsafat dihadirkan secara eksplisit. Itulah mungkin kenapa saya tak begitu menyukai karya sastra berbau percintaan yang membosankan. Bukan tanpa alasan, lebih baik menonton film kalau hanya sekedar bernostalgia dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu mempertanyakan kenapa novel-novel teenlit begitu banyak diminati oleh pembaca. Jika harus  jujur, saya berani mengatakan bahwa novel itu tidak manfaat terutama bagi saya. Anda setuju, itu terserah anda? Tapi saya mempunyai alasan kenapa tulisan itu tak lebih dari novel picisan gaya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, selalu teringat perkataan Sides Sudyarto sewaktu acara seminar sastra (FMIPA UPI), beliau mengatakan bahwa cerpen/novel bergaya teenlit terlalu jauh melangkah, terutama penggunaan bahasa yang “amburadul”. Terdoktrin dengan perkataan tersebut saya analisis berbagai cerpen dan novel bergaya Teenlit, hasilnya waw, sungguh mengagetkan tulisan ini racun atau madu bagi sastra Indonesia, atau bahkan sebagai pelemahan asas Bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak pada pergelutan dan pergulatan gaya sastra abad modern, begitu banyak bermunculan aliran dan teori sastra, terlebih diiringi dengan karya-karya yang begitu deras bermunculan (Tak diimbangi dengan kritik sastra). Di satu sisi kemunculan novel dan cerpen tersebut merupakan sumbangsih yang begitu luar biasa, sastra bukan hanya berpesta pora oleh kaum elit atau bahkan para sastrawan yang saling memuji karya sastra, namun telah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat awam, terutama anak-anak remaja. &lt;br /&gt;Tetapi perkembangan sastra tersebut begitu “liar” terutama dalam pemakaian bahasa. Pencampuradukan pemakaian bahasa prokem terlalu kelewatan. Pemuatan kata-kata prokem misalnya gue, loe, coyat, atau kosa kata yang tidak sesuai kaidah tentunya menghadirkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Dampaknya masyarakat khususnya anak muda tidak lagi mengenal mana Bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baik, harus sesuai dengan pemakaian dan benar, harus sesuai dengan norma atau kaidah kebahasaan. Apalah artinya sebuah karya sastra kalau untuk memuliakan bahasa sendiri tidak bisa, atau bahkan meracuninya. Padahal sebentar lagi peringatan sumpah pemuda, “Apalah bedanya kita dengan penjajah gaya modern kalau untuk memuliakan bahasa sendiri tidak bisa, terlalu menyakitkan mungkin bagi nenek moyang yang hidup memperjuangkan bahasa ini tetap menjadi bahasa persatuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itu hak bagi seorang penulis untuk mengeksplotasi pemilihan kata, tapi setidaknya ia perlu dibarengi dengan nilai-nilai kaidah berbahasa yang baik dan benar. Penulis tidak hanya menghadirkan karya bernuansa cinta untuk tujuan komersil, tetapi setidaknya mendidik masyarakat untuk lebih menghargai bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak percaya? Lihat saja implikasinya. Di FB ada orang yang menulis kata yang baku menjadi kata-kata aneh, coyat, luthu, dsd. Bahkan yang lebih parah ada huruf kapital di tengah kata “aKu mAu kE RuMah”. Kita hanya bisa menunggu, para penulis yang takluk pada besarnya arus bahasa prokem, atau jutru para penulis sendiri yang mebina masyarakat. Saya hanya menduga bahwa jawabannya tertuju pada satu kalimat “takut tulisannya tak laku, kalau bahasanya terlalu formal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi himbauan itu didasarkan pada doktrin linguistik bahwa bahasa itu dinamis. Tetapi penggunaan istilah ini terlalu luas bahkan salah kaprah barangkali. Membericarakan bahasa yang dinamis setidaknya harus diikuti aturan dan tata norma yang ada, untuk apa kita mempunyai kita aturan tata bahasa baku kalau pun ujung-ujungnya masyarakat hanya memandang sebelah mata “hanya dijadikan konsefp formalitas akademik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Pemerintah mau sedikit berusaha, harus ada semacam pemaksaan bahasa. Misalnya dengan menaikan derajat bahasa Indonesia, agar mempunyai nilai. Jangan sampai Bahasa Indonesia tak bertuan di rumahnya sendiri. Program Tes Kemahiran Berbahasa harus segera dilakukan baik untuk keperluan kerja, maupun untuk tes akademik. Kita hanya mengandalkan TOEFL untuk tes bahasa, lalu dimana urgensi bahasa Indonesia? Saya sendiri yang berdiam di jurusan bahasa tak pernah tahu berapa nilai tes tersebut, memalukan. Ini implikasi nyata, bangsa ini terlalu menganggungkan konsep kebebasan berekspresi. Setidaknya inilah peran karya sastra, ketika masyarakat sudah demikian sastra hadir dengan konsep mendidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua penentuan tema tersebut kadang hanya menonjolkan hedonisme anak-anak remaja, tak pernah saya menemukan novel Teenlit bertemakan nasionalisme atau pergolakan batin menuju wejangan filosof (Kalau anda menemukan saya sendiri dengan senang hati akan membacanya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah konsep-konsep seperti itu penting? Terlalu penting mungkin. Sastra tidak hanya hadir sebagai sebuah bacaan untuk bernostalgia, atau bahkan sebagai hiburan semata. Tetapi lebih dari itu sastra harus hadir sebagai bacaan yang mendidik. Novel dan cerpen Teenlit tidak harus berkutat tentang gaya hidup anak muda atau percintaan, pemuatan nilai-nilai kemanusiaan, norma agama dsb dirasa sebagai sebuah urgensi tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya membuat novel teenlit yang bertemakan tentang korupsi, ini mungkin menjadi senjata pemerintah untuk mendidik masyarakat terutama anak muda untuk mengenal korupsi. Iklan dan wejangan dirasa cukup membosankan untuk mendidik anak muda yang perngaruh oleh gaya hedonisme yang begitu hebat. Pemuatan karya sastra seperti itu tidak hanya  berdampak bagi pendidikan anak remaja, tetapi lebih jauh lagi mendidik masyarakat untuk mencintai dan menghargai peran dan fungsi karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kembali ke permasalahan awal, tadinya mau menghabiskan pembahasan mengenai novel teenlit, namun segelas kopi mendorong saya untuk membandingkannya dengan Tetralogi karya Premoedia Ananta Toer. Terlalu jauh memang membandingkan dua jenis novel tersebut, apalagi di waktu dan kultur zaman yang berbeda. Tapi apalah sebuah karya kalau hanya dikagumi tanpa dianalisis dan diapresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roman pertama yang dibaca berjudul Bumi Manusia, teman saya yang membawakan untuk dibaca, hingga bertanya apa kehebatan Roman ini.  Ratusan orang yang saya lihat profilnya di Facebook menulis Bumi Manusia sebagai buku Favoritnya. Ini keterlaluan, saya sempat mengutuk diri sendiri kenapa tak pernah menyentuh karya tersebut, awalnya hanya ingin membuktikan bahwa teman-teman di Fabecook tidak hanya menulis buku favorit tersebut sebagai ajang gagahan, tetapi ada esensi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram dalam pemikiran saya, dikenal sebagai orang yang selalu menghabiskan hidupnya di penjara. Entah itu takdir atau apa, yang pasti Tuhan menciptakan manusia tersebut bukan tanpa alasan. Setidaknya ia manusia pertama Indonesia yang berkali-kali masuk nominasi nobel sastra, andai kata pemerintah mendukung Pram mungkin ceritanya lain lagi. Indonesia akan mendapat orang yang pertama kali memenangkan nobel, mengagumkan. &lt;br /&gt;Lalu apa kesalahnanya? PKI atau apa, ah saya tidak terlalu memikirkannya. Terlalu nisbi memikirkan nasib sastrawan tersebut, yang penting mahakarya beliau dapat di masukan ke dalam tinta emas kesusatraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hendak berpikiran dekonstruktif, mungkin proses pembelajaran di balik tembok penjara ada untungnya (manusia selalu berkata “untung” walaupun itu adalah kecelakaan). Pram di balik penjara tidak lantas berhenti atau menuntut Tuhan, tetapi ia menulis, bahkan mengukir sebuah mahakarya dengan balutan penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah saya terlalu jauh mengangungkan sastrawan ini, karena sebuah karya sastra akan begitu saja terlepas dari pengarangnya. Sastrawan hanya penyampai wahyu pemikirannya, setelah wahyu tersebut sampai ditulisnya, bukan orangnya untuk kita agungkan tapi tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam roman pertama berjudul Bumi Manusia, Pram membalut kultur percintaan dengan pergulatan ideologi dan pencarian jati diri seorang manusia tentang masa depan tanah airnya. Permilihan tema begitu apik, terkadang perlombaan antara kultur percintaan, nilai kemanusiaan, dan nasionalisme berbaur menjadi satu, tidak ada perlombaan tema atau ada kecenderungan Pram menonjolkan satu tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan tema-tema novel remaja yang masih bergulat tentang percintaan. Pram nampaknya membawa tema picisan sekedar untuk melengkapi ruang lingkup cakrawala yang lebih besar, yaitu semangat nasionalisme dan nilai-nilai sosial. Tidak ada gaya borjuis atau hedonisme dalam cerpen itu, karena membicarakan cinta hanyalah alat untuk mencapai titik amanat yang luhur, yaitu mencintai tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemilihan diksi sengaja ia memperkenalkan bahwa inilah Bahasa Indonesia, terlalu berapi-api mengatakan hal itu, bagi saya tidak. Ia dengan lantang membedakan mana bahasa Indonesia dan mana bahasa daerah bahkan bahasa Belanda. Etimologi setiap diksi yang dirasa asing tidak lantas dijadikan arena gagahan untuk menguatkan “efek sastranya”, tapi ia mencoba mengekploitasi pemilihan diksinya menjadi sesuatu yang begitu lumrah dalam roman tersebut, sekalipun kita baru mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya novel teenlit mau bercermin pada mahakarya Pram. Mungkin peran dan fungsi sastra begitu jelas di masyarakat. Kita tak perlu mempersoalkan repetisi karya sastra yang begitu hebat atau bahkan mengarah ke plagiat, namun kita harus berkaca mau kemanakah arah sastra kita? Tak perlu berkutat pada komersialisme kalu ujung-ujugnnya menghacurkan anak bangsa, memang efek seperti ini tidak langsung terlihat, namun perlahan-lahan merubah pola hidup berbahasa masyarakat Indonesia. Inikah yang diimpikan Pram dalam romannya, tentu tidak kita tak perlu menjadi penjajah gaya modern yang menjejah bahasanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak begitu banyak yang bisa di analisis, menghakimi karya sastra sekelas tetralogi roman hanya dengan 4 sampi 5 paragraf sungguh tidak bijak. Saya sendiri perlu berpeluh keringat untuk benar-benar mengungkap makna di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghakimi karya sastra tentu sah-sah saja, semua orang bisa melakukannya, tetapi tetap saja ada kode etik yang mendasarinya. Tetapi untuk menentukan baik dan buruknya sastra tergantung pembaca sendiri. Seperti sebuah takdir, kadang kepenyairan seorang ditentukan oleh seseorang yang bernama ketua redaksi. Kalau mau jujur betapa susah menjadi penyair, harus mampu menembus benteng redaksi jurnal sastra. Bukan hanya kepenyairan, tapi masa depan kebudayaan ada ditangan otoriterisme redaksi. Proses penghakiman cukup ia katakan “karyanya belum layak dimuat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu jauh mungkin saya berkata-kata, terlalu banyak menggunakan kata mungkin dalam tulisan ini. Tetapi setidaknya kita bisa mengambil hikmah bahwa cerpen yang berbalut cinta tidak hanya berkutat pada gaya hidup anak muda yang mengarah pada nilai-nilai indovidualiasme, atau bahkan melupakan kebudayaan sendiri. Tetapi, tema-tema cinta dalam novel teenlit setidaknya dibarengi dengan nilai norma dan agama. “Para penyair yang bersajak tentang anggur dan rembulan” itulah kata W.S Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5730581774799514804?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5730581774799514804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/10/melebur-karya-sastra-picisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5730581774799514804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5730581774799514804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/10/melebur-karya-sastra-picisan.html' title='Melebur Karya Sastra Picisan'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SuWdl72dYZI/AAAAAAAAATk/KP5KVN4_PK4/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2907445748601909996</id><published>2009-10-08T07:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-08T07:48:28.010-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>BAHASA YANG MELEGITIMASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Ss37h1g4aSI/AAAAAAAAATc/nmavIfMA1a4/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Ss37h1g4aSI/AAAAAAAAATc/nmavIfMA1a4/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390240887751600418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Munawir Aziz&lt;br /&gt;Pikiran Rakyat Minggu, 03 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum pilpres 8 Juli 2009 ini, akan semakin ramai dengan perang jargon, kompetisi simbol, dan kontestasi legitimasi diri antarsetiap pasangan. Setelah melewati detik-detik saling menutup diri, saling mengintip strategi, akhirnya ketiga pasangan capres-cawapres hadir merebut simpati pemilih. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpasangan dengan Boediono (SBY-Boediono), Jusuf Kalla (JK)-Wiranto (JK-Win), dan Megawati Soekaarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro), sepakat bertarung untuk menjadi pemimpin negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan dendam selepas pemilu legislatif, yang bermuara pada eksistensi partai, bercampur dengan hasrat serta fokus memperebutkan kursi presiden-wakil presiden. Catatan dan riwayat hidup ketiga pasangan capres-cawapres mulai ramai menyesaki halaman koran, menghidupkan perbincangan di televisi, maupun obrolan ringan di media internet. Riwayat SBY sebagai presiden 2004-2009, dengan setumpuk catatan atas prestasi, musibah, dan kebimbangan untuk mengartikulasikan sosok santun dan hati-hati. Boediono, dengan kapasitas sebagai ekonom tangguh, diperbincangkan dengan pertarungan karakter yang dahsyat; antara pendekar ekonomi dan antek asing. Jusuf Kalla, hadir dengan karakter tegas, gaya ucap ceplas-ceplos, namun bertindak cekatan. Wiranto mulai membangun stigma kalem, santun, dan baik hati, namun tak bisa menghindari catatan buram atas riwayat militer yang menjadi tangga kariernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megawati, sebagai tokoh oposisi, mewarisi daya juang Bung Karno, walaupun tak bisa mengakomodasi semua nilai dan praktik perjuangan ayahnya. Sosok mantan presiden selepas Gus Dur ini, masih terkesan "pendiam" dan belum mengartikulasikan kecerdasan dan ketegasan Soekarno dalam strategi politik yang dibangun. Wakilnya, Prabowo Subianto, belum bisa melepaskan diri dari noktah hitam pelanggaran HAM, ketika berkuasa sebagai tokoh militer. Namun belakangan, citra Prabowo sudah didongkrak habis dengan iklan, gerakan politik dan laju partainya yang didukung beragam tokoh. Pertarungan karakter tiga pasangan ini, saling melawan, kadang menjaga jarak, membangun benteng pribadi, dan menyusun stigma diri.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang penting diamati dalam kompetisi politik di pilpres 2009, adalah pertarungan bahasa untuk menyusun legitimasi diri. Ruang politik riuh dengan kompetisi bahasa, yang menohok, menyindir, namun kadang dilapisi selaput untuk pertahanan diri. Sindiran kerap muncul di seminar, rapat partai, maupun di sela-sela menghadiri hajatan publik. Media mengukuhkan pertarungan bahasa dalam jejaring kata dan berita. Pertarungan simbol dan citra saling melengkapi diri untuk membangun legitimasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY-Boediono memanggungkan jargon "bekerja keras untuk rakyat". Kerja pemerintah difokuskan sebagai usaha untuk kesejahteraan rakyat semata. Rakyat hadir sebagai tujuan, namun kerap dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JK-Wiranto hadir dengan jargon "lebih cepat, lebih baik". Kecepatan ditempatkan sebagai prasyarat untuk mengukuhkan diri yang lebih baik. Istilah "cepat" hadir untuk memukul "lambat serta hati-hati", yang selama ini disandang SBY. Sindiran hadir untuk menggoyang citra lawan, sambil terus berlari menyusun legitimasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Megawati-Prabowo, menahbiskan diri dengan berjuang "membangun ekonomi kerakyatan". Isu yang kerap berdengung ini, merupakan modal penyusun karakter prorakyat. Dimensi ekonomi menguatkan jejaring tanda yang hadir dengan sekian catatan, perenungan dan tujuan untuk menggapai simpati. Jargon-jargon saling berlawanan, menggoyang, merobohkan, namun tetap saja berusaha serius membangun legitimasi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang jargon akan semakin riuh, seiring dekatnya gerbang Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. Panggung politik ramai dengan perang bahasa, citra, dan pesona, namun absen dari kegigihan memperjuangkan ideologi. Tiga pasangan capres-cawapres juga memakai jurus komunikasi agar dekat dengan telinga konstituen, dengan istilah ringkas dan bernas. Istilah ini menunjukkan optimisme, pesona, citra, namun juga harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY Berboedi, muncul dalam deklarasi pasangan SBY-Boediono, di Bandung, 15 Mei lalu. Walaupun cepat-cepat diganti, karena desakan partai pendukung serta pertaruhan politis, namun istilah ini menghadirkan jejak di ring kompetisi pilpres. JK-Wiranto memunculkan harapan kemenangan lewat "JK-Win". Optimisme ditebarkan dengan permainan tanda untuk merengkuh kuasa. Mega-Pro, menjadi tanda komunikasi efektif bagi tim kemenangan Megawati-Prabowo Subianto. Pemilihan istilah ini tentu untuk menarik garis simpati agar mendukung pasangan capres-cawapres dari PDIP-Gerindra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan bahasa akan terus memanas dengan lahirnya jargon dan tanda baru yang disematkan untuk membangun cita diri. Inilah kompetisi politik yang disesaki dengan bahasa yang menyusun legitimasi diri.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*pemerhati bahasa, peneliti di Cepdes, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2907445748601909996?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2907445748601909996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/10/bahasa-yang-melegitimasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2907445748601909996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2907445748601909996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/10/bahasa-yang-melegitimasi.html' title='BAHASA YANG MELEGITIMASI'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Ss37h1g4aSI/AAAAAAAAATc/nmavIfMA1a4/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-3922517866590248379</id><published>2009-08-11T07:39:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:39:01.799-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sejarah Singkat Pengkajian Bahasa.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoGDpReIQrI/AAAAAAAAASs/qleaEtzh5XU/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoGDpReIQrI/AAAAAAAAASs/qleaEtzh5XU/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368716975889990322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan konvensional yang digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi. Pengertian bahasa tersebut, sepertinya sudah menunjukan ciri-ciri bahasa yang bersifat Universal. Pengelompokan bahasa secara Universal dimaksudkan pada sebuah ciri umum, bahwa bahasa digunakan oleh manusia dalam setiap aktivitas dan segala aspek kehidupan. Oleh karena bahasa digunakan oleh manusia, sehingga munculah berbagai macam para ahli untuk mengkaji berbagai bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum abad ke-19 pengkajian bahasa hanya dilakukan dalam studi filsafat, hal ini dilakukan karena bahasa sebelumnya diposisikan sebagai objek filsafat. Sekalipun Zaman renaisance berkembang di Eropa pada abad ke-16 dengan munculnya tokoh bernama Descartes (Saya selalu teringat, Cogitu Ergu Sum, aku berpikir maka itu aku ada), bahasa tetap dijadikan sebagai objek filsafat, itu berarti ada kurun waktu yang cukup lama antara pengkajian bahasa yang ada sejak Zaman Yunani sampai zaman Renaissance. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya munculah seorang tokoh bahasa bernama Ferdinan De Sausure, ia merupakan bapak inguistik yang mengkajia bahasa secra modern, ia memposisikan bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai objek pengetahuan. Jos Daniel Parera (Kajian Linguistik umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural, hal 4) menyebutkan, seandainya kita hendak mempelajari sesuatu, entah itu ilmu. Maka kita akan dihadapkan pada tiga pertanyaan besar, pertama ialah apakah objek itu, kedua bagaimanakah kita mempelajari objek itu, dan yang ketiga apa manfaat studi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,  itulah yang membedakan pengkajian bahasa secara device origin dan pengkajian bahasa secara modern oleh Ferdinan de Sausure. Perngkajian bahasa oleh Saussure merupakan sebuah revolusi besar terhadap pengkajian bahasa, setelah sekian lama bahasa hanya bagian dari ilmu filsafat, kini bahasa dikaji dan dipelajari oleh suatu studi ilmu bernama Linguistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linguistik adalah suatu studi ilmu yang mempelajari bahasa. Penyebutan linguistik sebagai suatu studi ilmu, bukan hanya soal penyebutan secara spontan, tetapi ada semacam pertanggungjawaban. Pertama sebuah sebuah studi harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kedua sebuah studi ilmu harus mempunya nilai ekonomis dan manfaat dan yang ketiga sebuah studi harus objektif atau tidak memihak.&lt;br /&gt;Pengkajian bahasa tersebut, jika dikelompokan akan terbentuk tiga zaman yang mengkaji bahasa, pengelompokan zaman tersebut meruapakan usaha manusia dalam mempelajari bahasa. Diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahap Device Origin&lt;br /&gt;Tahap ini merupakan tahap ”kuno” dalam mempelajari bahasa, disebut kuno karena orang-orang pada zaman tersebut, masih mengelompokan bahasa dalam suatu tahap kealamian bahasa. Pengkajian ini masih berkaitan dengan asal-usul bahasa. Dari mana bahasa itu bersasal? Apakah Tuhan menurunkan bahasa? Pertanyaan seperti itulah yang muncul dalam tahap device origin. Berikut adalah contoh tahap manusia menemukan kebenaran bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bangsa Mesir menggangap bahwa bahasa pertama adalah bahasa yang diturunkan oleh Tuhan pada Bangsanya. Percobaan ini dilakukan dengan memasukan seorang bayi ke dalam sebuah bangaunan tertutup. Bayi tersebut diisolasi dari kehidupan sosial, dan yang terpenting jangan sampai bayi tersebut mendengar bunyi bahasa. Setelah beberapa waktu bayi tersebut tinggal, ia kemudian dibawa keluar dan kata pertama yang diucapkan bayi tersebut adalah “becos” atau roti.&lt;br /&gt;b. Bangsa jepang mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa ameterazu sang dewa matahari.&lt;br /&gt;c. Bangsa Cina mengatakan bahwa bahasa pertama dibawa oleh kura-kura.&lt;br /&gt;d. Orang Jerman mengatakan bahwa Tuhan memakai bahasa Swedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tahap Organic.&lt;br /&gt;Pada tahap ini pengkajian bahasa sudah tidak melibatkan unsur ketuhanan dan dewa-dewa, sehingga bahasa pada tahap ini digolongkan dalam objek kajian filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahap Modern.&lt;br /&gt;Kemunculan tahap modern ini, diwali dengan lahirnya buku Course The L:inguistic General” oleh Ferdinand De Saussure dinamakan juga kajian linguistik karena sudah disebut studi ilmiah. Pengkajian bahasa oleh Saussure menghasilkan suatu teori bahasa dan ciri dari bahasa yang diposisikan sebagai objek pengkajian linguistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari tiga tahap pengkajian tersebut, dapat saya simpulkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tahap Device Origin = Darimana bahasa berasal?&lt;br /&gt;2. Tahap Organic = Bagaimana manusia bisa berbahasa?&lt;br /&gt;3. Tahap Modern = Apa dan bagaimana bahasa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-3922517866590248379?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/3922517866590248379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/08/sejarah-singkat-pengkajian-bahasa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3922517866590248379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3922517866590248379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/08/sejarah-singkat-pengkajian-bahasa.html' title='Sejarah Singkat Pengkajian Bahasa.'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoGDpReIQrI/AAAAAAAAASs/qleaEtzh5XU/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1457633362850102427</id><published>2009-08-03T05:16:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:41:23.618-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Mazhab Linguistik: Teori Aliran Tradisional</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl4MUHUmyYI/AAAAAAAAAQs/41f_2G6gKqA/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl4MUHUmyYI/AAAAAAAAAQs/41f_2G6gKqA/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358734146319862146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap studi ilmiah akan menghasilkan berbagai teori tentang dan hubungan studinya dengan objek studinya. Demikian pula linguistik sebagai sebuah studi ilmu bahasa. Keilmuan linguistik ini akan mengkaji segala aktivitas dan gejalan bahasa yang berhubungan dengan manusia. Hal ini dilakukan karena bahasa bersifat manusiawi, artinya bahasa hanya dapat digunakan oleh manusia. Objek studi lainnya yang tidak berkaitan dengan manusia tidak dapat digolongkan ke dalam kajian objek linguistik misalnya bahasa komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan diatas, saya berpendapat bahwa setiap orang atau bahasawan yang hendak meneliti bahasa, harus berpijak pada berbagai macam teori yang ada. Mengapa hal itu perlu dilakukan, pertama teori suatu studi ilmu akan mmberi arahan kemana kita melangkah, dan kedua teori-teori tersebut yang berkaitan dengan bahasa, tidak selama benar dan mutlak untuk dibenarkan, karena kebenaran itu subjektif, maka diperlukan penujian, mengenai suatu teori kebahasaan. Kenapa hal ini perlu dilakukan, saya berpendapat pertama bahasa merupakan &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;suatu fenomena yang bergerak secara dinamis, artinya mungkin saja satu teori kebahasaan akan tidak relevan lagi dengan kemajuan jaman. Kedua, bahasa merupakan sebua objek yang akan melahirkan objek baru, artinya ketika kita meneliti suatu bidang dalam linguistik misalnya sintksis, maka secara tidak langusng akan berimbas pada penelitian lain misalnya wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih mengenal teori kebahasaan tersebut, secara garis besar dalam studi ilmu linguistik terbagi menjadi dua golongan pertama golongan tradisional dan kedua golongan sturuktural. Namun pada tulisan ini saya akan membahas mengenai aliran tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sampai disebut sebagai aliran tradisional? Hal ini dilakukan karena teori kebahasaan ini paling tua dan merupakan tumpuan perkembangan teori kebahasaan lain. Parera menyebutkan bahwa teori kebahasaan ini telah menjadi tradisi para peneliti bahasa untuk mendeskripsikan dan menjelaskan gejala dan fakta sebuah bahasa. Tradisi dan teori bahasa ini telah mempengarui pelajaran dan pengajaran teori kebahasaan di sekolah sampai di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut merupakan ciri-ciri teori kebahasan tradisional, &lt;br /&gt;1. Teori-teori kebahasaan yang bersifat tradisional mengambil sumber asumsi-asumsi dan hipotesis tentang bahasa filsafat dan logika. Jadi, Jadi dengan latar belakang filsafat dan logikalah lahirlah asumsi dan hipotesis bahasa.&lt;br /&gt;2. Data bahasa yang diteliti mulanya adalah data bahasa tertulis dan bahasa yang telah mengenal ejaan.&lt;br /&gt;3. Data bahasa tertulis itu terbatas pada bahasa Yunani dan latin.&lt;br /&gt;4. Bahasa dipandang bukan merupakan sebuah produk kebudayaan tetapi hanya dipandang sebagai sarana dan alat komunikasi berpikir.&lt;br /&gt;5. Data dan Fakta bahasa yang tidak sesuai dengan teori-teori filsafat dianggap kekecualiaan atau kesalahan atau perlu pula diperbaiki sesuai dengan teori filsafat dan logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelamahan dari teori kebahasan ini ialah &lt;br /&gt;1. Asumsi-sumsi dan hipotesis kebahasan bukanlah harus dikaji dengan fakta dan data bahasa, melainkan fakta dan data bahasa harus disesuaikan dengan asumsi dan hipotesis filsafat dan logika tentang bahasa.&lt;br /&gt;2. Teori kebahasaan bersifat universal dan dapat dilakukan untuk semua bahasa di dunis, sementara karakteristik setiap bahasa berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah dari pengulasan dari Jos Daniel Parera tersebut dapat dimbil kesimpulan bahwa teori kebahasan tradisional selalu bertumpu pada logika dan filsafat. Memang filsafat merupakan mother science dari setiap studi ilmu. Oleh karena itu tidak heran jika membicarakan aliran in kita akan tertuju ada negeri asalnya, yaitu Yunani. R.H Robins menyebut bahwa para pemikir Yunani mengawali kajian linguistik sebut saja Plato, dengan karyanya mean of the menaning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, pada perkembangan awal aliran ini banyak menghasilkan teori-teori kebahasan, selain itu ada juga teori kebahasa yang bersifat orimitif seperti aliran anomali, alira analogi dll. Aliran-aliran tersebut akan saya jelaskan pada tulisan beikutnya, termasuk mengenai aliran struktural, dan perkembangannya di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Alwasiah, Drs. A. Chaedar. 1985. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik, Bandung, Penerbit.&lt;br /&gt;Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: P.T Gramdia.&lt;br /&gt;Keraf, Drs. Gorys. 1978 Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores, Nusa Indah.&lt;br /&gt;Parera. J.S. Daniel. 1977. Pengantar Linguistik Umum Bidang Sintaksis. Ende Flores; Nusa Indah.&lt;br /&gt;Parera. J.S. Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif Dan Tipologi Struktural. Jakarta; Erlangga.&lt;br /&gt;Venhaar, J.w.m. Dr. 1980. Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Kansisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1457633362850102427?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1457633362850102427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/08/mazhab-linguistik-teori-aliran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1457633362850102427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1457633362850102427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/08/mazhab-linguistik-teori-aliran.html' title='Mazhab Linguistik: Teori Aliran Tradisional'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl4MUHUmyYI/AAAAAAAAAQs/41f_2G6gKqA/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-6559914616524652207</id><published>2009-07-30T08:59:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:41:59.041-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>Panduan Membeli Buku Online</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SnHQ4KqOkxI/AAAAAAAAASc/dCl3DCnHuN4/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SnHQ4KqOkxI/AAAAAAAAASc/dCl3DCnHuN4/s200/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364298294527693586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tips Membeli Buku Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya mendapat kiriman e-mail dari salah satu penjual buku online. Isinya menginformasikan mengenai promosi penjualan buku secara online, produsen ini malah mau memberikan 30% untuk setiap buku yang dipesan pada hari itu juga. Setelah saya memutuskan untuk membeli salah satu buku karangan John Daniel Parera, saya terkejut. Ternyata biaya pengiriman sampai ke kota saya mencapai ¼ harga buku. Akhirnya saya tidak jadi membeli mengingat harga ongkir menggunakan layanan jasa antar barang telalu mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang membeli buku secara online sama seperti membeli kucing dalam karung, kalau kita tidak teliti dan hati-hati dalam membeli, ujung-ujungnya anda akan merasa menyesal. Tentu saja hal ini berbeda dengan jika anda membeli buku secara langsung, anda menawar, anda memilih, dan anda bawa pulang. Bayangkan jika barang yang kita terima tidak sesuai dengan keinginan, misalnya barang rusak atau cacat, mau kemana kita akan mengadu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditinjau dari efesiensi, buku online membuat anda merasa nyaman, anda tidak perlu capek-capek untuk pergi ketoko buku (kalau saya suka ke palasari), atau bahkan anda harus bertanya &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kepada penjual buku yang anda beli. Sedangkan membeli buku secara online setidaknya kita tidak akan dihadapkan pada masalah tersebut, anda tinggal memesan barang, dan akhirnya baranga akan langsung diantar ke rumah. Selain itu anda bisa melihat katalog buku secara menyeluruh, dari mulai pengarang, halaman, sampul, bahkan beberapa layanan toko buku online menyediakan resensi dari setiap buku yang ada di katalog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bentuk dan pelayanan toko buku online dapat dibedakan menjadi dua, pertama toko buku yang menyediakan buku sebenarnya, artinya buku yang anda pesan sesuai dengan buku yang aslinya. Kedua, adalah toko buku online yang menyediakan format digital, misalnya menggunakan file digibook, sehingga buku yang anda terima hanya berupa file elektronik yang tentunya hanya bisa dibaca di komputer.&lt;br /&gt;Nah,  berikut beberapa tips untuk memandu anda membeli buku secara online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertimbangkan efesiensi antara membeli buku secara langsung ataupun secara online, jika sekiranya ada titik keuntungan di salah satu cara, pergunakanlah cara tersebut, online atau offline. Selain itu pertimbangkan juga membeli buku fisik dan elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Carilah buku online yang memberikan diskon untuk setiap pembelian buku, anda harus ingat bahwa penyedia buku online bak jamur di musim hujan, sehingga tentunya akan ada persaingan, manfaatkalah hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pertimbangkan ongkos kirim yang diterapkan oleh penyedia buku online, misalnya anda berdomisili di bandung, jangan memesan buku dari Surabaya, usahakan cari toko buku online yang dekat dengan domisili anda, sehingga pengeluaran biaya bisa ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Cari informasi lebih lajut mengenai setiap penyedia buku online, kunjungi forum-forum diskusi untuk memastikan bahwa toko buku online yang anda pilih benar-benar berkualitas, baik dari segi pelayan, maupun manajemennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pastikan bahwa toko buku tersebut memberikan garansi dan tentunya pelayan jika seandainya ada masalah dengan buku yang anda pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk tahap pertama, cobalah membeli satu buku, jangan membeli buku dengan jumlah banyak, disaat anda tidak pernah melakukan transaksi sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kerugian atau adanya masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Perhatikan cara pembayaran yang anda lakukan, sebaiknya tidak melakukan transaksi online dengan menggunakan kartu kredit. Usahakan anda menggunakan pihak ketiga misalnya Paypal, Alertpay, E-gold. Hal dilakukan untuk meminmalisir pencurian identitas oleh para hacker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Beberapa layanan buku menyediakan pembayaran buku ditempat, artinya ketika buku anda sampai dirumah anda bisa membayarnya kepada petugas jasa pengriman. Sebaiknya anda menggunakan layanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jika sekiranya pelayanan nomor 7 tidak memungkinkan, ada baiknya anda perhatikan cara pembayran online, hati-hari dengan para hacher. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Lihat keamanan dari situs tersebut, jika seandainya menggunakan web link dengan https// (lihat di address bar, s berarti secure) maka bisa dipastikan situs tersebut aman. Jika anda mendapatkan web link dengan http// gunakan perlindungan antivirus dan firewall yang kuat, saya merekomendasikan kaspersky karena tersedia virtual keyboard yang memungkinkan hacker tidak bisa melakukan key logging.(maaf saya bukan promosi antivirus, hanya sekedar contoh, semua tergantung anda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Simpan bukti transfer yang anda dapatkan, biasanya anda akan mendapat suatu serial number identitas pembelian, simpan baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Terakhir bacalah buku anda baik-baik, jangan membei tapi tidak dibaca(hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu tips dan pandunnya semoga bermanfaat, panduan di atas bisa juga digunakan untuk membeli barang secara online. Untuk daftar situs penyedia buku online ada baiknya anda cari di mbah google, sengaja saya tidak posting, nanti dikira promosi. Akhir kata saya ucapkan terima kasih telah membacaa artikel ini, saya tunggu komentarnya, salam anak sastra.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-6559914616524652207?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/6559914616524652207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/panduan-membeli-buku-online.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6559914616524652207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6559914616524652207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/panduan-membeli-buku-online.html' title='Panduan Membeli Buku Online'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SnHQ4KqOkxI/AAAAAAAAASc/dCl3DCnHuN4/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5405595029961963238</id><published>2009-07-28T22:56:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:47:19.058-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teknologi'/><title type='text'>Menginstall Window Vista dan XP Dalam Satu Komputer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sm_lg1yLdlI/AAAAAAAAASE/RE1YnbE4tW4/s1600-h/teknologi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sm_lg1yLdlI/AAAAAAAAASE/RE1YnbE4tW4/s200/teknologi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363758033577670226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat beberapa hari yang lalu penulis hendak memainkan game CRISYS, Game tersebut merupakan Game pertama yang memerlukan dukungan direct 10 untuk memainkan settingan tertinggi, terutama untuk memuncul segala efek dalam permaian. Awalnya saya install di Windows XP namun setelah menggunakan setingan tertinggi ia malah meminta saya untuk merekomendasikan direct 10. Direct 10 sendiri merupakan lanjutan dari direct 9.c yang merupakan versi final dari Windows XP. Sementara Windows Vista hadir dengan dukungan direct 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pun dimulai, teman saya merekomendasikan untuk menginstall Windows Vista, saya waktu itu agak kebingungan, bisakah Windows Vista dan XP diinstall dalam satu PC. Awalnya mencoba dengan mengisntal Vista semua berjalan lancar, semua proses installasi berjalan sesuai dengan harapan, dan akhirnya Windows Vista pun jadi. Namun ketika melakukan proses booting saya terkejut kemana Windows XP yang telah saya install, yang ada hanya Windows Vista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit flasback kebelakang, jika kita hendak menjadikan dual boot Windows  XP dan Windows 2000 dalam satu PC, tidak akan menimbulkan masalah. Malah penggunaan dual sistem tersebut akan menguntungkan kita manakala satu sistem  mengalami kesusakan atau crash, satu sistem lainnya masih bisa diandalkan. Microsoft dalam situs resminya mengatakan Windows XP dan Windows 2000 menggunakan sistem boot manager yang sama sehingga apabila anda menginstall dua sistem tersebut tidak akan menemukan masalah berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal itu tidak berlaku dengan Windows Vista. Windows yang hadir dengan berbagai kontroversi tersebut, justru berbeda dalam menggunakan sistem boot manager, sehingga jika anda menginstall dua sistem tersebut akan mengalami masalah. Misalnya pada waktu awal anda telah menginstall Windows XP di PC anda, namun ketika anda menginstall Windows Vista baru (di partisi berbeda tentunya), saya yakin yang terbaca hanyalah Windows Vista dan Windows XP tidak akan terbaca sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beberapa orang yang kurang suka dengan kehadiran Windows Vista, sehingga akhir-akhir ini malah banyak user yang menggunakan Windows XP dibandingkan Windows Vista. Ujung-ujungnya Paman Bill Gates, merespon aksi tersebut dengan merilis Windows versi terbaru yaitu Windows 7. Jika anda tidak percaya, coba anda luangkan waktu ke BEC, atau tempat komputer lainnya. Bandingkan harga asli Vista dan XP yang cukup jauh, XP dibandrol dengan 1,5 juta sementara Vista Edisi Businees dibandrol dengan harga 1 jutaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu segi fungsionalitas patut dipertimbangkan, inilah alasan saya menggunakan dua sistem sekaligus dalam satu komputer.&lt;br /&gt;1. Windows XP merupakan sistem operasi yang stabil, menggunakan sistem operasi ini tidak diperlukan spesifikasi komputer yang terlalu besar, bandingkan dengan Vista, PC anda harus mempunyai spek yang cukup tinggi. Dari mulai RAM sampai dukungan Video Card untuk  memaksimalkan fungsi Aero Vista.&lt;br /&gt;2. Jika anda hendak memainkan game keluaran 2007 ke bawah dengan dukungan shader memory standar, lebih baik anda menggunakan Windows XP. Tetapi jika anda hendak memainkan game dengan Shader Memory 3.0 dengan dukungan direct 10, lebih baik anda menggunakan Vista, misalnya game Crisys, Assasin Creed, GTA 4 dll.&lt;br /&gt;3. Sistem keamanan Windows Vista merupukan sistem keamana terbaik, terbukti dengan adanya sistem Windows Defender, sehingga ketika menggunakan internet saya selalu menggunakan Vista dibanding XP.&lt;br /&gt;4. Untuk pengguna dengan mobilitas tinggi (Laptop), saya menggunakan Windows Vista. Vista hadir dengan power Management yang lebih baik dari pada XP. Saya sendiri Online UPInet, jika menggunakan XP hanya 2 jam, tetapi jika menggunakan Vista akan menghemat battrei sampai 2,5 jam. Lumayan kan? &lt;br /&gt;5. Ini yang terakhir, segi eksistensi dan gengsi, kenapa? Sepertinya malu juga jika kita mempunyai komputer dengan spesifikasi high atau laptop keluaran baru, tatapi malah menggunakan sistem Operasi yang jadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah itu lah alasan saya menggunakan dua sistem sekaligus,  tetapi hal itu terserah anda. Dibawah ini saya akan jelaskan cara menginstall Vista di komputer anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapkan CD/DVD Vista dan XP.&lt;br /&gt;2. Komputer anda harus mempunyai spect minimal Vista. Terutama RAM minimal 512, tetapi saya rekomendasikan 1 GB untuk kenyamanan.&lt;br /&gt;3. Download program Vista Boot Pro di situs  http://en.kioskea.net/telecharger/telechargement-126-Vista-boot-pro atau download &lt;a href="http://en.kioskea.net/telecharger/telechargement-126-Vista-boot-pro"&gt;disini&lt;/a&gt;. Terima kasih buat softpedia.com untuk trik ini.&lt;br /&gt;4. Hardisk anda harus mempunyai 2 partisi, partisi pertama untuk Vista minimal 25 GB, sedangkan pastisi kedua minimal  10 GB.&lt;br /&gt;5. Installah Vista dalam partisi C, setelah anda install lakukan restar. (Tutorial install Vista banyak  google, tetapi jika anda menginginkan saya menulisnya, silahkan isi di komentar.&lt;br /&gt;6. Setelah anda mengintal Vista, langkah selanjutnya adalah mengistal XP, installah dalam partisi D. Setelah anda install, lakukan restar ulang.&lt;br /&gt;7. Jangan panik yang terlihat justru Windows XP, lalu mana Windows Vistanya, Tenang Installlah Program Vista Boor Pro. &lt;br /&gt;8. Setalah Anda Install, masuk ke menu Diagnostics, jalankan Run Diagnostics.&lt;br /&gt;9. Setelah menjalankan menu tersebut, program ini akan menginformasikan bahwa di komputer anda telah terpasang Vista dan XP. Ia kemudian akan menulis sebuah bott manager.&lt;br /&gt;10. Masuk ke menu Manage OS Entris, jika terindikasi ada 2 sistem operasi, maka langkah anda untuk memasang dua sistem operasi telah berhasil. Program ini merupakan freeware, jadi anda bebas menggunakannya, dibandingkan dengan program lainnya yang berbayar sampai 100 dollar, program ini patut dicoba. Bahkan penulis sempat mencoba 3 sistem operasi XP, Vista, dan 2000 dan semua berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tulisan kali ini, mungkin kawan-kawan heran kenapa anaksastra menerbitkan artikel teknologi bukan bahasa atau sastra. Ini merupakan keinginan penulis sendiri . terutama basic sebelumnya adalah berkecimpung di dalam teknologi, bukan bahasa dan sastra. Namun kedepan saya akan berkarya lagi. Di tunggu komentarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5405595029961963238?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5405595029961963238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/menginstall-window-vista-dan-xpdalam.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5405595029961963238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5405595029961963238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/menginstall-window-vista-dan-xpdalam.html' title='Menginstall Window Vista dan XP Dalam Satu Komputer'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sm_lg1yLdlI/AAAAAAAAASE/RE1YnbE4tW4/s72-c/teknologi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1755897456082613977</id><published>2009-07-21T22:06:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T17:08:43.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Cerpen : Album Kenangan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmafkmszhjI/AAAAAAAAAR8/8kcJ-mJxgUs/s1600-h/cerspn.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmafkmszhjI/AAAAAAAAAR8/8kcJ-mJxgUs/s200/cerspn.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361147857643734578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Faisal Syahreza&lt;br /&gt;Penggagas dan penasihat Komunitas Anak sastra dimuat di Lampung Post Minggu, 22 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut bulan, malam itu indah tergerai, cahaya remang menyelinap masuk celah-celah rumah. Jalusi rumahmu tentunya juga tertembus. Atau bisa saja masuk ke jendelamu yang lupa kau tutup dengan gorden rapat-rapat. Aku memasuki rumahmu berbarengan dengan keremanganya, pula kesenyapan yang memahami perasaan perempuan. Aku sendiri tak tahu persis, malam itu aku merasakan hal yang sama denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan dan rasa ngilu, ketika cinta dikoyak-moyak. Aku lihat pasfoto yang biasa kau banggakan telah jatuh, pecah tergeletak di ruang tengah rumah. Pasfoto yang kau ceritakan dengan semangat dan berapi-api pada keluargamu dan sahabatmu. Foto pernikahanmu yang kau dokumentasikan juga lewat video. Pernikahanmu dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Aku selalu terpaku bisu memandangi semua itu. Kau, betapa cantiknya mengenakan gaun putih yang aku tahu itu, kau pesan jauh hari sebelum pesta dilangsungkan. Dan dulu aku sempat membayangkan akulah akan bersanding di pelaminan bersamamu. Aku memakai jas yang hitam nan elegan yang sengaja--lagi-lagi kau pesankan, kau pilihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu. Kau berbulan madu di segala penjuru negeri yang indah, memetik candu kebahagian. Ah, aku tak bisa membayangkan itu. Karena aku ternyata tak sampai bisa bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, aku malam ini adalah tamu untukmu. Mengendarai kesunyian rumah tangga. Ketika orang-orang sedang terlelap, aku menjengukmu. Tapi. Kau tak kutemukan sedang tidur terlelap malam ini. Bebarengan dengan suamimu itu. Kau malah sedang menangis di meja riasmu. Make up-mu luntur, berlumuran air mata. Aih, kenapa denganmu. Ada apa? Bolehkan waktu sedikit saja kutumpahkan kembali ke masa lalu. Agar kutahu apa yang membuatmu sedih begitu tersedu? Pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda masih memegang tas kerja Rinto, sebelum pergi kerja. Kecup manis di bibirnya lebih dari kopi nikmat yang disuguhkan Linda untuk Rinto. Mereka baru saja menikah, sebulan lalu. Begitu manis setiap detiknya yang bergeser. Penuh kebersamaan. Makan pagi-siang-malam penuh pujian. Tidur malam tak lagi ada kesendirian. Cari uang begitu penuh semangat. Dan rumah, seakan berubah menjadi tempat bagai surga. Serasa waktu selalu berputar tetap di tempat yang sama. Tentang kebahagian dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat pulang, Sayang!" Linda dengan wajahnya yang manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku langsung pulang begitu jam kerja selesai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepasnya suami di mulut pintu. Lambaian tangan dan sejumput doa selalu terlintas begitu saja. Di lemparnya seketika. Bahkan punggungnya yang selalu didaki Linda itu tak pernah dibiarkan hilang dari tatapan. Ia pandang lekat-lekat punggung yang mulai menjauh itu. Yang kemudian hilang ditelan jarak atau menelikung di kelokan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan berharap suaminya akan mengetahuinya, bahwa ia begitu teramat mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jaga rumah dan jangan ke mana-mana?" Pesan suaminya itu, bila ia hendak keluar rumah. Selalu mengiang di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda memang seorang istri yang baik. Begitu suaminya keluar rumah untuk kerja ia tak pernah menyia-nyiakannya. Linda isi dengan segala rutinitas sebagai seorang istri pada umumnya. Membereskan rumah, mulai dari membersihkan perabotan dapur dengan mencucinya. Membersikan sofa dan lemari, ruang kerja. Mengepel lantai rumah. Dan merapihkan kamarnya. Mencuci pakaian. Menyiapkan masakan yang nanti akan disuguhkannya begitu suaminya itu pulang. Kadang ia mencoba menu masakan yang lain yang ia temukan resepnya di sebuah majalah. Semua itu hanya untuk membahagiakan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila segala pekerjaan sudah selesai. Dan tak ada lagi yang musti diselesaikan. Mulai dari ruang depan sampai halaman belakang dibereskan, Linda terkadang menikmati album kenangan. Sebuah album yang begitu membuatnya sejuk. Ia pandang album itu seperti menemukan potongan masa lalu. Ia bolak-balik tanpa bosan. berulang-ulang. Hingga tak terasa waktu pun begitu saja meleos di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinto adalah lelaki yang tampan, menyukai kesederhanaan. Ia pekerja kantoran yang santai. Ia bekerja di sebuah penerbitan buku bacaan. Kadang tulisan-tulisannya dimuat di beberapa koran. Bertemu dengan Linda karena ulah kedua orang tua mereka. Karena bapaknya adalah sahabat karib semasa mudanya. Kebetulan juga mereka berasal dari kampung halaman yang sama, sebuah perdesaan yang dekat kekerabatannya, kuat darah pesaudaraan adat-istiadatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan tangisi orang yang sudah meninggal!" Bapak Linda menasihati. Linda yang saat itu baru ditinggal mati kekasihnya. Kekasihnya yang sempat berjanji melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua Linda sibuk dibuatnya. Karena pekerjaan anaknya hanya mengucurkan air mata sambil memandangi sebuah album yang selalu Linda bawa dan jaga ke mana-mana. Sebuah album yang bisa ia pandangai berjam-jam, berhari-hari. Hingga lupa makan. Dan seakan melupakan segelanya, termasuk hidupna. Akhirnya tak ada jalan keluarnya selain harus segera menggantikan orang yang dicintainya dengan yang lain. Agar bisa cepat melupakan lelaki yang ada pada album itu, kedua orang tuanya berniat menikahkan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya dalam keterpurukan, kesedihan atas kematian, Rinto datang mengulurkan tangan dan harapan. Linda sekuat apa pun, pada saat itu merasa hancur akibat perpisahan yang begitu sangat memilukan. Hati Linda mencair juga, ketika melihat kesungguhan Rinto pada Linda dengan keterbukaannya dan perasaan menerima apa pun adanya. Linda luluh, dan memutuskan menikah. Cinta dicoba, dipupuk dengan penuh cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Linda bosan menunggui suaminya, Rinto yang masih sibuk mengedit naskah di kantor, ia menelpon ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, bagaimana kabarnya? Bapak juga baik-baik saja!" Linda di seberang telpon rumah, bertanya kabar melepas kangen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah. Kau sendiri dengan suamimu bagaimana kabarnya?" Ibu menjawab dengan suaranya yang khas. Begitu membuat Linda semakin kangen saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami di sini baik semua berkat doa Ibu-Bapak. Bu, apakah pernah ada surat untukku yang diposkan ke rumah?" Linda akhirnya bertanya perkara yang selalu sama. Setiap kali menelpon rumah orang tuanya, selalu pertanyaan yang sama diajukannya. Dan ketika ibunya kembali bertanya "dari siapa?" Linda akan memberikan jawaban yang mengaburkan, kadang ia sekenanya saja. "Ya misalnya dari sahabatku atau dari beberapa panitia lomba yang sedang aku ikuti". Dan ketika ibunya menjawab tak pernah ada surat ditujukan padanya, Linda selalu kehilangan gairah bercakap-cakap lagi. Terasa sekali ia tak sesemangat perbincangannya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, kalau begitu Linda sudahi dulu, lain waktu Linda menelpon lagi. Linda mau ke dapur dulu." Menutup perbincangan anak dan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, kalau begitu ya sudah. Linda kamu jaga dirimu dan suamimu. Ingat jangan sampai begitu suamimu pulang rumah masih berantakan dan masakan belum siap dihidangkan. Beri suamimu kesan rumahmu, surgamu!" Ibu dengan nada menggebu-gebu akhirnya menutup telponnya, setelah Linda mengiyakan semua nasihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan demi bulan menggenapkan almanak menjadi tahun. Dan hitungan delapan tahun pun menginjakkan usia pernikahan. Semula pada beberapa tahun pertama terasa kebahagian terbina. Segalanya penuh suka-cita. Namun, mengapa tak ada hidup tanpa ujian dan kegoyahan. Ketawakalan yang selalu rapuh. Kepasrahan yang selalu goyah. Rumah tangga kini seperti sebuah perahu yang dihuni dua orang melayari samudra, kadang harus tertumbuk karang, dihantam ombak kecil-besar, bahkan kadang badai besar. Tapi semua itu, setelah usai dan redam kadang selalu ada kebahagian. Hingga saat itu tiba, Rinto pernah memergoki Linda sedang asyik tersenyum sendirian memandangi sebuah album kenangan. Sebuah album yang berisi foto-foto lelaki yang dulu kekasih Linda. Lelaki yang hilang dan tiada sebelum masa reformasi tiba. Ketika semasih mahasiswa. Dalam album itu tampak sesosok lelaki yang sedang berduan dengan Linda--istrinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau masih tidak bisa melupakannya. Kau anggap aku ini apa?" Rinto begitu marahnya. Sorot matanya yang merah menandakan bahwa ia benar-benar merasa telah diinjak-injak harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa artinya pernikahan kita ini bila di pikiranmu masih ada lelaki lain, selain suamimu ini?" Rinto menghamburkan segala kekesalannya. Linda hanya bisa diam membisu seribu bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda merasa begitu bersalah. Ia kehabisan ulah. Dan entah apa lagi yang harus ia perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak pertengkaran itu, Rinto jadi jarang pulang. Makan di luar, kalau pun pulang sekadar mengganti pakaian dan pergi keluar lagi. Entah apa sebabnya hingga ia begitu murkanya. Tapi Linda bukan tidak merasa bersalah, dan tidak meminta maaf. Beribu kali ia meminta maaf pada suaminya. Tapi kini semua berbalik, Rinto selalu diam, tidak membuka mulutnya. Seakan-akan kesalahannya tak bisa dimaafkan. Padahal bila Rinto meminta sesuatu pada Linda untuk bisa memaafkannya, Linda akan berusaha mengabulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada malam jahanam itu harus datang juga. Rinto dan Linda terlibat perselisihan hebat. Kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut mereka berdua. Kata-kata yang sering dipakai dalam pertengkaran seorang lelaki-perempuan dilanda kebencian. Kehilangan kepercayaan. Ketakcocokan. Saling menyalahkan satu sama lainnya. Rinto katanya telah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Linda semakin menjadi-jadi dengan kebiasaannya memandangi lelaki pada album foto. Dan tidak dimungkiri lagi, Linda selalu bilang ia masih mengingat kekasihnya yang dulu, yang dianggap telah mati. Tapi Linda tidak percaya sepenuhnya. Ia meyakini kekasihnya masih hidup di luaran sana. Linda masih berharap kabar setidaknya secarik surat yang menjelaskan padanya, ketakbisaannya pulang menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut bulan, malam itu begitu indah tergerai, cahaya remang menyelinap masuk ke celah-celah rumah. Jalusi rumahmu tentunya juga tertembus. Atau bisa saja masuk ke jendelamu yang lupa kau tutup dengan gorden rapat-rapat. Aku memasuki rumahmu bebarengan dengan keremanganya, pula kesenyapan yang memahami perasaan perempuan. Aku sendiri tak tahu persis, malam itu aku merasakan hal yang sama denganmu. Kesedihan dan rasa ngilu, ketika cinta dikoyak-moyak. Aku lihat pasfoto yang biasa kau banggakan telah jatuh, pecah tergeletak di ruang tengah rumah. Pasfoto yang kau ceritakan dengan semangat dan berapi-api pada keluargamu dan sahabatmu. Foto pernikahanmu yang kau dokumentasikan juga lewat video. Pernikahanmu dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Aku selalu terpaku bisu memandangi semua itu, Kau, betapa cantiknya mengenakan gaun putih yang aku tahu itu, kau pesan jauh hari sebelum pesta dilangsungkan. Dan dulu aku sempat membayangkan akulah akan bersanding di pelaminan bersamamu. Aku memakai jas yang hitam nan elegan yang sengaja lagi-lagi kau pesankan kau pilihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sisa pertengkaran hebat yang kau siratkan dari tangisanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisanmu seperti jerit luka yang sangat perih. Apakah ada yang melukaimu? Aku selalu ingin membahagiakanmu, dan tak ingin menyaksikanmu begitu terluka. Sedang aku, begitu tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kenapa masih terduduk menangis memandangi album kenangan itu? Album foto-foto kita berdua semasa remaja. Ketika dunia yang kita tumpangi sama?" Ketika kubertanya tentu saja kau tak mampu menangkap suara dari dunia yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih mengharapkan kau menepati janjimu, melamarku." Linda mendekap album kenangannya. Yang masih ia bawa-bawa dan ia jaga. Air mata tak pernah bisa memuaskan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu, Rinto yang selalu kuharapkan akan bisa menggantikanmu. Tadi pagi kusaksikan sedang berduaan dengan perempuan yang tak kukenal. Mereka berdua masuk ke sebuah penginapan. Setelah kubuntuti, dan kucari informasi, mereka memesan satu kamar. Dan betapa tak mengerti aku harus memahami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda seperti sedang bercerita kepada seseorang. Mungkin ia hanya bisa menumpahkan kesedihannya pada album kenangannya. Berharap sesosok lelaki yang terpampang di lembaran album itu mendengarkan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November, 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faisal syahreza, Penyair lahir di Cianjur, merampungkan pendidikannya di UPI, Bahasa dan Sastra Indonesia. Kini Bekerja sebagai Sekertaris Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1755897456082613977?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1755897456082613977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/cerpen-album-kenangan-perempuan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1755897456082613977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1755897456082613977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/cerpen-album-kenangan-perempuan.html' title='Cerpen : Album Kenangan Perempuan'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmafkmszhjI/AAAAAAAAAR8/8kcJ-mJxgUs/s72-c/cerspn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8626322732592776058</id><published>2009-07-17T08:34:00.001-07:00</published><updated>2009-11-08T19:46:54.274-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Lagi, Indonesia Diguncang Bom</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmCaPgXzC9I/AAAAAAAAARs/QKHmY-cTdLs/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmCaPgXzC9I/AAAAAAAAARs/QKHmY-cTdLs/s200/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359453147749354450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genderang kematian sudah ditabuh, kepala sudah terpenggal, anak-anak mejerit dan ibu pertiwi menangis, cobaan apa lagi yang akan engkau hadapi wahai negaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa memilukan dan biadab kembali menampar wajah Negara Republik Indonesia, tepat hari jumat 17 juli sekitar jam 7.30, dua bom meledak hampir bersamaam di Mega Kuningan Jakarta. Bom pertama meledak di hotel J.W Marriot, selang sepuluh menit kemudian, bom kembali menggunjang tepat di lobi restauran hotel Ritz Caltron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa tersebut saya dengar waktu bangun tidur, saya terkejut sekaligus sedih, ada apa lagi ini? Dari berbagai laporan yang dihimpun oleh berbagai media massa kejadian itu sedikitnya merenggut 12 korban jiwa 40 orang lainnya luka berat. Polisi mensinyalir bom tersebut merupakan bom tipe low eksplosif dan dilakukan dengan cara bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang menimpa hotel tersebut bukan pertama kalinya terjadi, kejadian pertama mengguncang jakarta tahun 2003 di tempat yang sama. Tentu saja berbagai macam kerugian akan diderita bangsa ini, setelah lima tahun Indonesia berjuang untuk memulihkan citranya sebagai negera yang aman, kini ramai-ramai berbagai negara menyatakan Travel Warning ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut tentu disayangkan mengingat jati diri kita sebagai negara yang aman justru tercoreng. Sepertinya bukan hanya sampai disana, saya mensinyalir akan ada rentetan akibat kejadian ini yang justru akan memperpuruk kondisi Indonesia. Dari berbagai macam sektor riil bangsa ini akan mengalami sedikit guncangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama dari sektor ekonomi, dalam ruang lingkup stabilitas perdagangan peranan keamanan negara sangat penting karena hal ini tentu saja akan mempengaruhi nilai tkar rupiah dan harga bursa saham. Jika senandainya hal ini dibiarkan akan ada efek domino terhadap perkonomian Indonesia. Kita coba tengok kebelakang kejadian bom bali satu dan dua, nilai tukar rupiah dan harga saham merosot tajam, disamping itu secara tidak langsung akan mematikan sektor pariwisata, akan ada berbagai macam Trvel Warning, sekarang ini Australia, Amerika, Singapura, Inggris sudah menyetakan hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dari sektor keamanan, hal ini patut dipertanyakan. Sudah berapa kali Polri dan BIN kecolongan dalam menyikapi berbagai macam kejadian seperti ini. Rentetan kejadian seperti ini bukan yang pertama kali, Indonesia bahka sepertinya selalu diguncang oleh rentetan aksi-aksi terorisme, baik skala kecil maupun sekala besar. Nah yang jadi pertanyaan jika seandainya mata rantai dari pelaku ini tertangkap, bisa saja akan memicu berbagai macam kejadian. Apakah ini ada hubungannya dengan nordin M.Top atau bahkan kelompok teroris lain. Semoga hal-hal tersebut dapat diungkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dari sektor politik, Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam jumpa pers-nya menyebutkan bahwa kejadian ini merupakan teror yang dilandasi oleh aksi politis. Ia bahkan menyebutkan bahwa ada laporan dari badan Intelegen bahwa akan ada peristiwa yang akan mengguncang pemerintahan. Ia bahkan menyebut ada kelompok yang sengaja menetang pemerintahan dan kemenangannya, akan membuat jakarta seperti Iran, akan menduduki KPU dan akan revolusi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat jika sendainya pesan yang diterima oleh SBY ini merupakan pesan yang rahasia kenapa ia malah membeberkan ke publik, justru hal itu akan menambah kekacauan di ranah masyarakat. Kalupun ada laporan seperti itu kenapa baru sekarang diungkapkan, kita patut bertanya kemana saja BIN selama ini. Ada baiknya peristiwa seperti ini jangan dijadikan kendaraan politik, atau bahkan dipolitisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang terakhir dari segi hiburan, mungkin seluruh penggemar sepakbola di tanah air akan menyesal ketika MU batal untuk melaksanakan opertandingan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh agum Gumelar dan perwakilan MU, pihak panitia sendiri merugi 35 M, mungkin yang paling rugi adalah rakyat Indonesia tidak bisa menyaksikan Indonesia berlaga dengan klub raksasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata saya hanya bisa berharap kejadaian terkutuk ini segera dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali, mengutip perkataan ketua NU, JANGAN DIKAITKAN AKSI TEROR INI DENGAN ISLAM.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8626322732592776058?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8626322732592776058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/lagi-indonesia-diguncang-bom.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8626322732592776058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8626322732592776058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/lagi-indonesia-diguncang-bom.html' title='Lagi, Indonesia Diguncang Bom'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SmCaPgXzC9I/AAAAAAAAARs/QKHmY-cTdLs/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2869574719590704581</id><published>2009-07-16T08:39:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:46:45.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Ada Apa Dengan Dunia Pendidikan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl9O31cuwKI/AAAAAAAAAQ0/sA8s4aqOdkw/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl9O31cuwKI/AAAAAAAAAQ0/sA8s4aqOdkw/s200/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359088802741534882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dalam ruang lingkup dunia globalisasi akan menjadi ukuran sejauh mana tingkat keberhasilan dan kamajuan suatu bangsa. Karena hampir tidak ada negara di duna ini yang pembukaan undang-undang dasarnya menempatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu kewajiban konstitusional pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang Dasar (UUD)  1945 dijelaskan bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa. Hak dalam persepektif UUD 45 adalah Hak Asasi Manusia (HAM), yang namanya HAM tentu saja adalah hak dasar setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, TIDAK TERKECUALI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik untuk kita cermati dalam dunia pendidikan kita, adalah kasus tukar guling lahan sekolah di Pematang Siantar yang katanya mau dijadikan sebagai lahan bisnis. Sungguh &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;menggelikan saya melihat berita tersebut, mau dikemanakan program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan selanjutnya mengalakan kemajuan bangsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komersialisasi pendidikan, MEMALUKAN&lt;br /&gt;Seorang sosiolog Amerika, George Ritzer mengatakan dalam tulisannya di Journal Of American Culture tahun 1983, ia mengemukakan istilah mcdonalisasi pendidikan. Ya memang benar apa yang disebutkan oleh beliau, dunia pendidikan kita telah dimasuki oleh wabah mcdonalisasi atau komersialisme pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri gejala tersebut sempat merebak dengan munculnya berbagai masalah diantaranya kisruh perguruan tinggi menjadi BHMN yang sekarang diubah menjadi BHP, namun sepertinya tidak hanya cukup disana, sekolah-sekolah dari mulai SD sampai SMA terkena imbasnya, lihat saja di pematang siantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mcdonalisasi sendiri merupakan palaksanaan prinsip-prinsip dan sistem makanan cepat saji dari produsen makanan asal amerika ini. Seperti kita ketahui outlet-outlet ini hampir menyebar disetiap penjuru dunia. Nah, lalu apa kesamaan dengan kasus yang saya angkat, mengutip tulisan dari H.A.R Tilaar beliau mengemukakan prinsip prinsip tersebut diantaranya prinsip efisensi, kaukulabilitas dan prektibilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kaukulailitas sepertinya sama dengan kasus tersebut, mcdonal mengemukakan prinsip ini dengan ajaran sebagai berikut, Bisnis yang diadakan haruslah dapat dihitung untung ruginya. Apabila tidak memungkinkan, maka dicari jalan pemecahan agar bisnis tetap memberi keuntungan. Sepertinya ini sama dengan sikap pemerintah kita, pendidikan dijadikan nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hal tersebut saya katakan, pertama pemerintah selalu mengedepankan untung ruginya menyelenggrakan pendidikan , dalam kasus tersebut sekolah tersebut bahkan akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan dan pemerintah akan mendapatkan royalti sebanyak 35 M. Apakah ini sepadan dengan para siswa dan guru yang terlantar. Kalau pemerintah berniat memajukan pendidikan, contohlah sistem pendidikan Prancis. Di sana Mall-Mall dilarang dibangun di pusat kota bahkan dengan dengan pusat-pusat pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sistem pendidikan kita jangan dijadikan sebagai objek bisnis dan politisasi, kalau hal ini dibiarkan dunia pendidikan kita malah akan tertinggal, Mungkin kita harus bertanya buat apa program pendidikan gratis, kalau sekolah saja harus ditukarkan dengan pembangunan mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, dengan adanya perubahan nama departemen yang tidak lagi mengusung nama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melainkan Departemn Pendidikan Nasional,  seharusnya mampu merubah mekanisme dan kinerja untuk memajukan dunia pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jika membicarakan masalah pendidikan tidak akan lepas dari membicarakan lembaga pendidikan sendiri, yaitu sekolah. Banyak permasalahan muncul yang berkaitan dengan sekolah saat ini. Belum lagi masalah banyaknya gedung sekolah yang sudah tidak layak huni ditambah dengan anggaran pendidikan yang kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai alokasi anggaran pendidikan, mungkin tidak akan lepas dari dua hal, pertama alokasi anggaran pendidikan menjadi tolak ukur keseriusan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kedua alokasi pendidikan merupakan refleksi dan prioritas pendidikan di masa depan. Kalau dari gembar-gembor pendidikan gratis sudah dijalankan, jangan sampai program lainnya malah terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mungkin sebagai penutup saya hanya berpesan jangan gadaikan harga diri bangsa dan pendidikan kita untuk sekedar mearaup rupiah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2869574719590704581?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2869574719590704581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/ada-apa-dengan-dunia-pendidikan-kita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2869574719590704581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2869574719590704581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/ada-apa-dengan-dunia-pendidikan-kita.html' title='Ada Apa Dengan Dunia Pendidikan Kita'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sl9O31cuwKI/AAAAAAAAAQ0/sA8s4aqOdkw/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7369806976435661702</id><published>2009-07-10T14:05:00.001-07:00</published><updated>2009-07-29T17:12:48.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Cerpen:  RINDU RANI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Slets1wFP7I/AAAAAAAAAQk/YfQNhzLbk-4/s1600-h/cerpen.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Slets1wFP7I/AAAAAAAAAQk/YfQNhzLbk-4/s200/cerpen.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356941267635093426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Rizki tiara novyani Tia&lt;br /&gt;Komunitas Lingkar Sastra Universitas Islam Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku membantah pada keangkuhan, aku membantah pada air mata, pada uraian logis yang kadang magis, aku membantah pada kesedihan. Di dalam sana aku melihat perih, perih yang tak terurai tapi menggumpal. Aku…aku yang berdiri ditengah badai kerinduan jauh bunda, melihat sederet redam yang remuk dalam kebisuan… Tepat sangat tepat di depan wajahku, berdiri tegar dengan senyum yang hambar. Kawan, hari yang cerah membutakan lagi mataku dari segumpal rindu tak bertuan.&lt;br /&gt;Sobatku ini, sama layaknya dengan sobatku yang lain dalam teori fisik dia tidak kekurangan sama sekali, tidak, dari segi psikologis dia logis walaupun tidak sangat, dari kecerdasan emosional dia mengagumkan, kecerdasan intelektual tidak memalukan. Lantas dimana yang membuat dia kadang ada tapi tak ada… Kenapa dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata aku lemah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tidak aku sangat lemah, katanya saat dia mendatangiku di taman sekolah ketika aku sedang asyik dengan buku ku. Tapi aku ingin kuat, aku ingin sekuat mereka, aku ingin setegar mereka, aku ingin lariku secepat mereka…” tersedu. Kali pertama aku melihat air matanya, belum jatuh sobat masih tergenang dalam lingkaran abadi yang ingin dia kuat-kuatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” ah bodoh. Kataku (tak terucap)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” hhh… klise&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pertanyaan apa aku harus menjawab itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari mana aku harus memulai pertanyaan. Aku tak tahu. Tapi aku yakin, dia tak perlu jawaban dariku, dia hanya ingin menyaksikan ketidak adilan denganku, lebih tepatnya mengajakku. Aku terpaku, ku ingat penolakkanku pada kejadian tahun 2002 lalu, kejadian dimana tak dapat ku genggam tangan bunda… tidak dengan air mata untuk menghentikannya, tapi jiwa tenang tak mengerti apa-apa dan pasti tatapan kosong. Tak setetespun air mataku jatuh… begitu cepat semuanya begitu cepat terjadi sampai tak masuk segalanya dalam logikaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang bisa ku lakukan untuk sobat?” akhirnya aku berucap tak ada jawaban aku menunggu, air matanya menjawab “Ada kerinduan yang memuncak dalam nafasku tak tahu harus ku bawa kemana rindu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sedang kau rindukan sahabatku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhhh… helaan nafas panjangnya terasa berat “Mama…!” dengan menutup wajahnya ia terisak. Satu… ya satu lagi kawan kisah hati di tinggalkan bunda, hampir sama denganku tapi ternyata banyak sekali berbedanya. Ku dekati dia ku genggam tangannya yang berusaha menutup wajah penuh air mata, matanya terbuka. Ku tatap tajam ku cari dimana letak bedaku dengannya, dengan sedikit ragu dia mengatakan pertengkaranya dengan Mamanya. Semua semata gengsi anak yang sudah merasa cukup mampu hidup sendiri. Satu kalimat perih kawan, yang memang tak pantas diucapkan pada wanita yang telah lama merawat kita! “Ma… katanya walaupun mama adalah ibuku, sekalipun aku nggak mau mengemis pada Mama!” dengan tanda seru dibelakang kalimat menegaskan bahwa kalimat itu bersifat perintah pada dirinya sendiri untuk jangan sampai ia mengemis-mengemis walaupun pada Mamanya. Luar biasa kawan yang dikatakan sahabatku itu pada Mamanya, ku tahan amarahku untuk mengalahkanya karena aku yakin sudah lebih dari 100x dia memaki dirinya sendiri dengan kata-kata mengalahkannya. Bukan hanya kata-kata itu yang luar biasa kawan, tapi dampak yang ditimbulkan luar biasa. Lagi… tidak kurang dari tiga bulan setelah tragedy itu tak satupun pesan singkat sahabatku ini, Rani yang di balas sang Mama, tak satupun telfonya terjawab suara Mama… semua seakan lenyap dan yang lebih menghebohkan sakit yang di deritanya kian hari kian parah, bukan sekedar sakit kepala, sakit gigi apalagi flu tapi leukemia di deritanya… Kawan aku lelah aku yang hanya mendengarkan ceritanya saja lelah bagaimana dengan rani? Tidak sama sekali dia tampakkan penderitaannya, tak seorangpun melihatnya bersedih, pintar dia menutupi, tapi ketahuilah di balik sapa cerianya, di balik tawa palsunya dia menyimpan berjuta sakit tak terperi, kerinduan tak terbendung… temanku ini juga lelah Kawan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah di suatu ketika kutanyakan padanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahkah ibumu menjawab telfonmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum …” hhh… sambil tersenyum kecil dia menambahkan “aku sampai lupa jika mempunyai seorang ibu” Aku menahan air mata itu agar tidak jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum” (jawabku ditelfon, siang hari tepat setelah satu kuliahku selesai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam, Rara?” Tanya di sebrang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, benar, ini siapa?” timpalku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rara ini aku Ivon, Rani pingsan sewaktu berangkat kuliah tadi keadaannya kritis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah sakit mana?” tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Widya Farma” jawab Ivon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku langsung kesana” tutupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperjalanan tak ada yang bisa aku pikirkan hanya gundah yang membuatku resah, bukan pertama kalinya kabar ini ku terima tapi entahlah ada yang lain, pesan yang ku dapat dari Ivon… Kritis, dalam bayanganku kritis berarti koma terlambat sedikit saja… ah… aku tak mau membayangkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Rani?” tanyaku pada Ivon setibaku di RS Widya Farma, sudah banyak yang berada disana selain sahabat ada juga Keluarga Rani nenek dan tante-tantenya, disini hanya itu keluarga Rani sebab orang tuanya dan adik-adiknya tinggal di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata dokter penyakit yang diderita Rani bisa disembuhkan dengan cara pencangkokkan sum-sum tulang belakang, hanya itu harapan terbesar , sedangkan yang bisa mendonor sum-sum tulang belakang tersebut hanya keluarga kandung dan yang cocok dengan sum-sum tulang belakang Rani” jelas ivon. Aku tertunduk, separah itukah penyakit yang dideritamu Ran…? Tak seberkas rasa sakitpun kau perlihatkan kepada kami kini dengan cara yang seperti ini kah yang kau inginkan untuk memberitahu kepada kami? Air mataku mulai menggenang. Tiba-tiba dokter keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang bernama Rara? “ Tanya dokter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dok…” aku melangkah kearah dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara Rani terus menyebut nama Saudara, silakan masuk tapi saya harap jangan terlalu lama mengajaknya bicara” perintah dokter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun masuk, kulihat serba putih, tabung oksigen, kabel infus, alat deteksi jantung lengkap terpasang pada tubuh Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ran…” panggilku lembut, Rani membuka matanya perlahan sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ra…” hampir tak bisa ku dengar gerak bibirnya pun lambat, pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama… beritahu mama” terbata tak jelas, ku tahan isak ku tak bisa ku bayangkan hari-hari yang selama ini selalu kita lewati bersama akankah purna, aku berusaha untuk tidak berfikir seperti itu, tapi tahukah kau kawan siapa yang tidak akan berfikir sama dengan ku ketika melihat sesosok hidup terbaring lemah tak berdaya dibantu selang-selang oksigen? Selama ini Rani menyembunyikan ini dari orang tuanya dan kini ia ingin aku memberitahukanya, ku ambil HP Rani di tas yang tergeletak di atas meja disamping tempat ia berbaring, ku cari nama Mama di kontak HPnya, dan astaqfirullah HPnya bergetar, satu pesan diterima ada tulisan Mama dari identitas pengirim, aku tak percaya… Rani mulai menggelincang seperti ada sesuatu yang membebaninya, ku panggil dokter dan keluarga serta sahabat ikut masuk, dokter memeriksa Rani, Rani mulai tenang setelah di beri suntikan, dokter mempersilahkan siapa saja yang ingin bicara dengan Rani, semua air mata tumpah, aku terpaku lalu keluar dan sedikit bicara pada perawat disebelahnya tapi aku ingat pada pesan di HP Rani yang masih ku genggam, Rani masih membuka matanya. Ku dekatkan HP itu di wajahnya, ku lihat dia membaca pesan itu… matanya berkaca-kaca, semua orang masih tersedu-sedu menatapnya, nenek Rani hampir jatuh tapi ia tak mau pergi dari tempatnya berdiri, Ivon dan tante Rani membopong lengan nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani menggerakkan bibirnya ia tersedu dan berkata ”Aku lega… aku tenang… ja..ngan khawatir…” Diam Rani menutup matanya, monitor menggambarkan garis lurus dengan bunyi yang mengiris hati, tangis histeris dari masing-masing kami, nenek tak bisa menangis ia langsung pingsan, aku tak bisa menerimanya aku tatap pesan di HP Rani “Nak…” hanya tulisan yang ku baca, penantian Rani tak lebih dari satu tahun hanya dijawab dengan kata itu, tapi Rami sudah merasa cukup hanya dengan kata itu aku ingin memakinya betapa bodohnya dia menunggu hanya demi kata iu aku tak terima…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter masuk bersama dua perawatnya tapi mengapa ada senyum disana, tak lama kemudian ia angkat bicara “tenang semuanya Rani hanya tertidur karena pengaruh obat penenang saya berikan tadi” katanya dengan tampang seperti orang yang menang taruhan. Aku masih belum percaya “lalu mengapa monitor itu…” tak ku teruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O… itu memang saya yang mematikanya karena Rani sudah tak memerlukan itu. Ku tatap dada Rani masih ada gerakan naik turun… Bodoh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7369806976435661702?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7369806976435661702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/cerpen-rindu-rani.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7369806976435661702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7369806976435661702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/cerpen-rindu-rani.html' title='Cerpen:  RINDU RANI'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Slets1wFP7I/AAAAAAAAAQk/YfQNhzLbk-4/s72-c/cerpen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7176964809364167545</id><published>2009-07-07T12:59:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:46:34.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Problematik Penggunaan Bahasa Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SlOr6hv0PnI/AAAAAAAAAQY/aFfmR5hNBWo/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SlOr6hv0PnI/AAAAAAAAAQY/aFfmR5hNBWo/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355813403853340274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagian satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita sering mendengar jargon &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar”&lt;/span&gt;. Apakah jargon tersebut salah? Menurut saya tidak juga, tapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita selaku pengguna bahasa meralisasikan dan menggunakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang untuk menggapai kriteria baik dan benar sering terbentur oleh tata kalimat, susunan kata, atau bentuk kata tertentu yang memang sulit untuk membedakannya mana yang dianggap memenuhi kaidah penggunaan bahasa. Mungkin untuk memecahkan permasalahnnya ada baiknya menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau hanya sekedar melihat pedoman pembentukan bahasa baku Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu saja persoalan tersebut tidak hanya datang dari unsur kesalahan kaidah, terkadang ada kaidah yang memang sudah mendarah daging dan ada kecenderungan sulit untuk menghilangkanya. Misalnya penggunaan kata himbau, saya yakini masih banyak orang Indonesia yang menggunakan kata tersebut, bahkan saya lihat dalam suart dinas sekalipun masih ada juga yang Menggunakannya. Padahal jika kita lihat ke dalam kamus, tidak ada tidak akan menemukan kata tersebut karena yang benar adalah kata imbau.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian awal ini saya hanya akan membahas berbagai macm problematik bahasa, sumber dan data penulisan diambil dari perkuliahan “Problematik Bahasa Indonesia” Oleh Iyo Mulyono, beliau adalah dosen terbaik tempat saya belajar di Universitas Pendidikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas mungkin tidak begitu asing di telinga kita, kalimat tersebut sering dipergunakan pembawa acara dalam memandu jalannya suatu acara. Bila dianalisis lebih lanjut, kalimat tersebut tidak mengetengahkan jalan pikiran dengan baik. Permasalahan kekeliruan jalan pikiran atau nalar ini ialah penggunaan kata untuk dan adalah. Mengapa demikian? Menurut norma bahasa, di depan kata adalah harus berupa kata benda atau kata yang dibendakan karena bagian itu akan berfungsi sebagai subjek kalimat. Jadi kata depan untuk harus dibuang. Kata depan untuk sendiri merupakan bentuk kata keterangan yang bermakna menyatakan maksud dan tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau mempertahankan kata depan untuk digunakan, maka bagian kalimat yang didahuluinya kata depan itu akan berfungsi keterangan. Dengan begitu, perhatian harus ditujukan terhdap kata adalah. Kata atau bagian kalimat yang terletak di belakang adalah akan berfungsi sebagai pelengkap, padahal yang dibutuhkan adalah bagian kalimat yang berfungsi sebagai subjek. Agar sambutan-sambutan bisa berfungsi sebagai subjek maka kata adalah harus diubah, misalnya menjadi akan di sampaikan, akan kami sampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya ialah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Tidak baku  : Untuk acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan&lt;br /&gt;Baku  : Acara selanjutnya adalah sambutan-sambutan&lt;br /&gt;Untuk acara selanjutnya akan kami sampaikan sambutan-  sambutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2. Kepada Ka-UU jujarimatika, Bpk Tami Jaka, dipersilakah untuk menyampaikan        sambutannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kata serapan jujarimatika dalam kalimat di atas, berdasarkan KBBI (1993) tidak tepat. Bentuk-bentuk tersebut harus seperti berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kepada Ka-UU jujarimatik, Bpk Tami Jaka, sipersilakah untuk menyampaikan        sambutannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk –ika seperti dalam kata serapan jujarimatika, berasal dari bentukan –ics dalam bahasa asal, yaitu bahasa Inggirs, yang berarti ……. Bagaimana dengan bentuk lainnya? Misalnya kata etika berasal dari ethics, static berasal dari statics, matematika berasal dari mathematics, dan statistika berasal dari statistics. Karena itu, tidaklah tepat, dalam bahasa Indonesia dimunculkan kata jujarimatika yang berarti matematika jari, seharusnya jujarimatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan muncul ketika bentuk tersebut sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Misalnya sering kita mendengar kata fisika daripada fisik, padahal kata tersebut diambil dari bentuk serapan bahasa Inggris fisics. Dan sepertinya ada rasa kecanggungan menggunakan kata etik daripada etika. &lt;br /&gt;• Kelakuanmu tidak sesuai dengan etik yang ada.&lt;br /&gt;• Kelakuanmu tidak sesuai dengan etika yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya bentuk kata tersebut yang sering dipermasalahkan. Penggunaan di media massa dan tingkat akademik khususnya patut dipertanyakan. Kita sering mendengar jurusan matematika daripada jurusan matematik, dan itu dipakai dalam ruang lingkup akademik. Mungkin saja bentuk-bentuk tersebut akan menjadi bahasa baku Indonesia. Siapa yang harus mengalah, bahasa yang dinamis atau bahasa baku Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;3.  UU Pronografi bisa menjadi bom waktu bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Terbukti dengan munculnya satu provinsi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua cara penulisan di atas cukup bersaing dalam penggunanya. Artinya kedua cara itu digunakan dalam kaidah berbahasa. Banyak surat yang kita baca dengan menggunakan penulisan propinsi. Apabila merujuk Pedoman Penulisan Istilah, cara penulisan provinsi tidak tepat. Yang tepat ialah cara penulisan provinsi. Namun sepertinya bahasa berkembang dinamis, timbul penggunaan lain yaitu bentuk propinsi. Untuk mengatasi hal tersebut, dalam  KBBI tahun (1993), menyatakan kedua cara penulisan itu, kedua-duanya betul, hanya yang lebih tepat ialah provinsi. Bentuk kata bersaing lainnya ialah penggunaan kata berbagai dan pelbagai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;4. Warga permukiman liar di perkotaan, memang memiliki keterbatasan dalam pendidikan dan keterampilan, namun mereka unggul, ulet, dan tangguh untuk bertahan hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat di atas memang mengetengahkan bentuk tata bahasa gramatikal yang sesuai dengan kaidah yang ada. Tetapi, tidak ada salahnya dikaji lebih jauh, untuk menangkap bentuk problematic yang sering muncul di dmsyarakat. Terutama dalam penggunaan kata permukiman dan perkotaan. Banyak orang yang salah menerapkan konsep tersebut, sehingga munculah kata pemukiman, pedesaan, dan pegunungan. Mengapa bentuk tersebut bisa muncul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan bentuk kata pemukiman, pedesaan, dan pegunungan tidak baku. Mengapa? Dalam KBBI, pemukiman berarti ‘proses atau tindakan memukimkan’. Bentuk pemukiman sejalan dengan bentuk-bentuk berikut:&lt;br /&gt;  Pemindahan berarti ‘proses atau hal memindahkan’&lt;br /&gt;  Pemahaman berarti ‘proses atau hal memahami’&lt;br /&gt;  Pemaksaan berarti ‘proses atau hal memaksa’&lt;br /&gt;Sedangkan permukiman artinya tempat bermukim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;5. Salah satu masyarakat modern adalah berkembangnya sikap saling ketergantungan antara profesi yang satu dengan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata saling berfungsi menerangka kata kerja aktif yang mengikutinya, misalnya dalam bentuk saling menuduh, saling memahami, dan saling mengahrgai. Bentuk saling ketergantungan mengetengahkan bentuk tata gramatikal yang kurang baik, mengapa? berikut analisisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling   : menerangkan kata kerja aktif yang mengikutinya.&lt;br /&gt;Ketergantungan : fungsi imbihan ke-an disini menyatakan bentuk saling, mempengaruhi, saling keterlibatan antara dua subjek yang dibicarakan, dan saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bentuk saling ketergentungan tidaklah tepat, karena maknanya akan berubah menjadi bentuk saling-saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;Sehingga kalimat tersebut harus diubah menjadi:&lt;br /&gt;Salah satu masyarakat modern adalah berkembangnya sikap ketergantungan antara profesi yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata saling sebaiknya dibuang, karena keta ketergantungan atau imbuhan ke-an sudah menyatakan makna saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;6. Karena adanya saling pengertian di kedua belah pihak, maka sengketa tentang kedua pulau tersebut dapat diselesaikan dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis pada kalimat di atas sama halnya dengan analisis kalimat pada nomor lima. Kata saling berfungsi menerangka kata kerja aktif yang mengikutinya, misalnya dalam bentuk saling menuduh, saling memahami, dan saling menghargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling   : menerangkan kata kerja aktif yang mengikutinya.&lt;br /&gt;Pengertian  : fungsi imbihan pe-an disini menyatakan bentuk saling, mempengaruhi, saling keterlibatan antara dua subjek yang dibicarakan, dan saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bentuk saling pengertian tidaklah tepat, karena maknanya akan berubah menjadi bentuk saling-saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;Sehingga kalimat tersebut harus diubah menjadi:&lt;br /&gt;Salah satu masyarakat modern adalah berkembangnya sikap pengertian antara profesi yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata saling sebaiknya dibuang, karena kata pengertian sudah menyatakan makna saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;7. Mahasiswa tidak mengetahuinya kalau universitas ini nomor satu dalam hal visibilitasnya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya enklitik –nya pada kalimat di atas merupakan kesalahan berbahasa yang sering dijumpai. Lihat kata mengetahuinya dan kata visibilitasnya. Bentuk enklitik –nya tersebut mengacu pada satu maksud yang saling bergentungan. –nya pada kata mengetahuinya mengacu pada visibilitas. Sedangkan –nya pada visibilitasnya mengacu pada mahasiswa. Tetapi bentuk tersebut tidaklah efektif, kalimat yang efektif untuk solusinya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mahasiswa tidak mengetahui kalau universitas ini nomor satu dalam hal visibilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;8. Kecuali bermain piano, dia juga bernyanyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kecuali merupakan kata depan atau kata penghubung yang menyatakan ‘sesuatu yang tidak termasuk ke dalam sesuatu yang lain’. Karena itu, sering kita mendengarungkapan ‘dikecualikan’ dan ‘pengecualian’. Selain merupakan kata depan atau kata penghubung bermakna sebaliknya dari makna kecuali, yaitu makna penambahan atau penggabaungan. Yang menjadi perosalan ialah sering digunakannya kata kecuali untuk menyetakan makna penambahan atau penggabungan.&lt;br /&gt;Maka kalimat diatas seharusnya diubah menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain bermain piano, dia juga bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini diambil dari perkuliahan Problematika Bahasa Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7176964809364167545?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7176964809364167545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/bagian-satu-mungkin-kita-sering.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7176964809364167545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7176964809364167545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/07/bagian-satu-mungkin-kita-sering.html' title='Problematik Penggunaan Bahasa Indonesia'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SlOr6hv0PnI/AAAAAAAAAQY/aFfmR5hNBWo/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2607087821705828114</id><published>2009-06-23T05:23:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:46:23.757-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Kontak Bahasa = Penyerapan Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SkDKDZH91yI/AAAAAAAAAQI/KEOyQLxirY8/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SkDKDZH91yI/AAAAAAAAAQI/KEOyQLxirY8/s200/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350498516948866850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membicarakan bahasa, sepertinya tidak akan lepas dari masyarakat. Setiap masyarakat pemakai suatu bahasa memiliki kesepakatan tentang bahasanya, misalnya berkaitan dengan kaidah, struktur, dan kosakata. Kesepakatan mengenai kaidah dan kosakata itu sampai batas waktu tertentu secara umum masih mampu mewadahi seluruh konsep, gagasan, dan ide para pemakainya. Namun, pada saat tertentu akan sampailah pada suatu kebutuhan akan adanya kesepakatan baru yang memperkaya dan melengkapi kesepakatan sebelumnya, yatu manakala kesepakatan lama telah tidak cukup lagi mewadahi konsep, gagasan, dan ide yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah sampai pada titik waktu sepeti itu, maka masyarakat bahasa yang bersangkutan biasanya melirik kesepakatan masyarakat pemakai bahasa lain. Dengan demikian, maka terjadilah sebuah proses kreavititas masyarakat bahasa yang disebut pemungutan (borrowing)  unsur bahasa dari bahasa lain. Demikianlah pemungutan/penyerapan menjadi salah satu penyebab terjadinya perkembangan sebuah bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses terjadinya penyerapan itu sendiri tentu saja diawali oleh adanya kontak antarbahasa. Kontak antarbahasa pu terjadi karena adanya kontak antar masyarakat bahasa. Terjadinya kontak antara bangsa Arab dengan bangsa Indonesia misalnya, menyebabkan terjadinya &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kontak antara kedua bahasa itu. Penyerapan kosakata bahasa-bahasa asing: bahasa Inggris, bahasa Arab, Belanda dan lain-lain ke dalam bahasa Indonesia menjadi bukti adanya kontak antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak antarbangsa saat ini tidak dapat dihindari. Tidak ada bangsa yang dapat membebaskan diri dari kontak dengan dunia luar. Hal ini menyebabkan satu bahasa pun yang terbebas dari kontak dengan bahasa lain. Sebuah bahasa yang tidak menjalin kontak dengan bahasa lain lambat laun akan menjadi bahasa yang mati, menjadi bahasa yang tidak memiliki penuturnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bahasa yang berkontak akan saling mempengaruhi. Kontak bahasa yang terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah menyebabkan terjadinya proses saling mempengaruhi antara bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah. Akibatnya, beberapa kosakata bahasa Indonesia diserap oleh bahasa-bahasa daerah dan beberapa kosakata bahasa daerah pun diserap oleh bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyarapan kata dari bahasa lain ke dalam bahasa tertentu bisa berdasarkan kondisi objektif, bisa juga berdasarkan kondisi subjektif. Pnyerapan yang berdasarkan pada kondisi objektif, yaitu penyerapan bahasa akibat kurang emadainya khazanah kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa sehingga perlu dilakukan pemungutan kosakata dari bahasa lain. Sedangkan penyerapan akibat kondisi subjektif ialah penyerapan yang disebabkan oleh anggota masyarakat pemakai bahasa tertentu yang merasa lebih bangga menggunakan kosakata di luar bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia bukanlah bangsa terpencil yang terisolasi. Oleh karena itu, maka bangsa Indonesia melakukan kontak dengan bangsa-bangsa lain. Memang perjalanan sejarah tidak dapat dimungkiri bahwa di antara kontak yang terjadi antara bangsa Indonesia dengan dunia luar itu ada yang terjadi dengan cara yang tidak manusiawi lewat imperialisme. Namun, dalam bentuk apa pun kontak itu terjadi, kontak antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain itu tetap dapat membawa manfaat bagi perkembangan bangsa dan juga bahasa Indonesia. Kita menyaksikan penjajahan Belanda atas bumi Indonesia telah menyebabkan adanya perkembangan bahasa Indonesia yang cukup positif. Kita tidak dapat menutup mata atas pengaruh positif bahasa Belanda terhadap bahasa Indonesia. Bahkan kosakata serapan dari bahasa Belanda yang dapat kita selidiki dalam khazanah kosakata bahasa indonesia jumlahnya menduduki peringkat pertama di atas bahasa Inggris dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah bahasa Indonesia, dalam proses perkembangannya, telah menyerap beribu kata dari bahasa lain, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. Ribuan kata yang telah masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyerapan itu telah menyebabkan bahasa Indonesuia bersalin rupa dari bahasa aslinya. Bahasa Indonesia, memang, kini sudah tidak lagi sama dengan bahasa Melayu yang menjadi asal-usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia yang dipergunakan sehari-hari dalam berbagai kesempatan dan berbagai situasi pragmatik, misalnya berbeda dengan bahasa Malaysia, meskipun kedua bahasa itu sama-sama berasal dari bahasa Melayu. Perbedaan itu di antaranya disebabkan oleh perbedaan pengaruh-pengaruh luar yang masuk termasuk kata-kata serapan dari bahasa lain. Demikianlah pula halnya dengan bahasa Brunei Darussalam. Bahasa tersebut sedikit banyak berbeda, baik dengan bahasa indonesia maupun dengan bahasa Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Rujukan&lt;br /&gt;Resume Mata Kuliah Bahasa Bantu, Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;Badudu,J.S.1989. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia   &lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1980. Sosiolinguistik :Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta    &lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Balai Pustaka.    &lt;br /&gt;www.wikipedia.com  &lt;br /&gt;Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang disempurnakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Penataran Guru Sltp Setara D-II tahun 1997/1998 disusun oleh&lt;br /&gt;Drs. Ma’mur Saadie, M.Pd&lt;br /&gt;Drs. H.M Idris Suryana K.W.&lt;br /&gt;Drs  Eddy Sapardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2607087821705828114?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2607087821705828114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/06/kontak-bahasa-penyerapan-bahasa.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2607087821705828114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2607087821705828114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/06/kontak-bahasa-penyerapan-bahasa.html' title='Kontak Bahasa = Penyerapan Bahasa'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SkDKDZH91yI/AAAAAAAAAQI/KEOyQLxirY8/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1949562693238994175</id><published>2009-06-03T08:48:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:46:10.695-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Bahasa Indonesia Antara Gengsi dan Nasionalisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiacPyfHLaI/AAAAAAAAAPg/el_06JMRAoE/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiacPyfHLaI/AAAAAAAAAPg/el_06JMRAoE/s400/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343129802985909666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memainkan peran yang sangat penting dalam mengikat persatuan dan kesatuan. Dalam sumpah pemuda tahun 1928, dijelaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan dan dijadikan sebagai satu bahasa kesatuan, Itu berarti bahwa bangsa kita terdahulu sudah mengerti akan adanya perencanaan bahasa (language planning). Hal tersebut kemudian dikokohkan dengan adanya undang-undang yang mengaturnya. Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, pasal 36 menyatakan bahwa “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam tataran ilmu sosiolinguistik, keadaan kebahasaan di Indonesia kini, pertama ditandai dengan adanya sebuah bahasa nasional yang sekaligus juga menjadi bahasa negara, yaitu bahasa Indonesia. Kedua, adanya ratusan bahasa daerah yang ada di seluruh nusantara, dan ketiga, adanya sejumlah bahasa asing yang digunakan atau diajarkan di dalam pendidikan formal. Ketiga bahasa ini secara sendiri-sendiri mempunyai masalah, dan secara bersama-sama juga menimbulkan masalah yang cukup kompleks, dan perlu diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak mempunyai nilai jual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada masalah yang cukup mendasar dalam perkembangan bahasa Indonesia dalam era globalisasi budaya sekarang. Melihat fakta di lapangan, bahwa bahasa Indonesia tidak mempunyai nilai jual, sehingga cenderung masyarakat menomorduakannya. Dari mulai aspek &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;komersialisme sampai aspek administrasi negara misalnya. Kita cenderung menganggap bahwa penggunaan bahasa asing lebih mempunyai nilai loyalitas dibandingkan dengan menggunakan bahasa Indonesia.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari segi perniagaan, penggunaan bahasa asing sungguh mengkhawatirkan. Lihat saja di toko-toko atau tempat keramaian lain, intensitas penggunaan bahasa asing meningkat. Tentunya bukan hanya dari segi perniagaan saja yang mengindikasikan bahasa Indonesia terpinggirkan, dalam aspek penerapan misalnya, bahasa Indonesia cenderung digunakan hanya sebatas untuk urusan komunikasi belaka. Padahal jika kita sedikit berani untuk menaikan gengsi bahasa Indonesia, tentunya lain lagi ceritanya. Misalnya dengan menggunakan Tes Kemampuan Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan bahasa Inggris yang sudah mempunyai rasa “gengsinya”, dengan mengeluarkan Test of English as Foreign Language (TOEFL) sebagai pengukur kemampuan penggunanya. Kenapa bahasa Indonesia tidak mempunyai hal tersebut? Orang akan bangga jika mempunyai nilai TOEFL yang bagus, tapi belum tentu nilai Tes Kemampuan Bahasa Indonesia bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang akan melamar kerja, melanjutkan pendidikan, dsb. Biasanya akan diminta nilai TOEFL sebagai sarat untuk memenuhi administrasinya. Padahal jika bahasa Indoensia diterapkan demikian, kiranya orang-orang akan sadar akan pentingnya bahasa Indonesia sendiri, lebih jauh lagi akan mempunyai nilai jual yang tinggi dan bersaing dengan bahasa asing. Mungkin perlu ada sosialisasi akan perlunya tes kemampuan bahasa Indonesia, peran Lembaga Pusat Pembinaan dan Pengembanganb Bahasa (LP3B) juga diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalah gengsi&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, seharusnya digunakan dalam berbagai aspek kehidupan baik itu kehidupan formal maupun nonformal. Dalam aspek pengajaran semestinya bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar pengajaran, dan penerapan tersebut harus terus dilakukan untuk memupuk rasa nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gengsi berbahasa sepertinya sudah mengakar, orang akan merasa lebih pintar bila menggunakan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Mereka mengganggap bahasa asing lebih tinggi derajatnya daripada bahasa Indonesia. Orang Indonesia merasa malu bila tidak menguasai bahasa asing, padahal belum tentu mereka mahir menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, orang akan merasa lebih pandai bila menggunakan bahasa asing dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi seperti inilah bahasa Indonesia harus mempertahankan jati dirinya, lebih-lebih krisis kosakata bahasa Indonesia juga mulai muncul kepermukaan. Banyak orang Indonesia lebih suka menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan asing. Padahal kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, bahkan sudah umum dipakai dalam bahasa Indonesia. Misalnya, download, copy, paste, print, klik masing-masing untuk “unduh”, “salin”, “cetak”, dan “tekan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa orang Indonesia justru lebih senang menggunakan  istilah-istilah asing? Mungkin mereka beranggapan bahwa bahasa yang maju adalah bahasa yang banyak menggunakan istilah asing, mungkin juga tujuannya untuk mengimbangi bahasa Indonesia agar sesuai dengan jaman. Padahal justru hal tersebut menjadikan bahasa Indonesia tidak mempunyai jati diri. Kalau dalam bahasa Indonesia sudah ada istilah-istilah tersebut, mungkin ada baiknya kita menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab maju atau mundurnya bahasa Indonesia, tentunya akan kembali lagi kepada pengguna bahasa itu sendiri. Kesadaran demikian harusnya dipupuk sejak awal. Kita jangan hanya mengedepankan aspek gengsi berbahasa, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tentunya akan memupuk rasa nasionalisme atau kecintaan terhadap tanah air. Usaha-usaha tersebut memang harus digalangkan untuk mempertahankan bahasa Indonesia dari gempuran budaya-budaya asing, apalagi ditengah globalisasi budaya dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi seperti inilah kita harus memilih antara rasa gengsi menggunakan bahasa asing atau lebih mementingkan rasa nasionalisme.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Biodata Lengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N. I. K  : 10.1708.040889.0005&lt;br /&gt;Nama  : Hendri Hidayat&lt;br /&gt;Kelahiran : Sumedang, 04 – 08 – 1989 &lt;br /&gt;Alamat  : Dsn Cikeusik RT 18 RW&lt;br /&gt;                  Desa Pamekaran Kec. Rancakalong&lt;br /&gt;                  Kab. Sumedang 45361&lt;br /&gt;Email       : henscyber@gmail.com   &lt;br /&gt;  Blog     : anaksastra.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri Hidayat, lahir di Sumedang 4 agustus 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis Essai dan Puisi, Aktif dan bergabung di Unit Pers Mahasiswa Isola Pos dan komunitas Anak Sastra UPIsebagai kepala bagian divisi linguistik www.anaksastra.blogspot.com dan www.anaksastra.tk/ &lt;br /&gt;Hp. 085220953141 no.rek BNI. 0133308015 a/n Hendri Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1949562693238994175?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1949562693238994175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/06/bahasa-indonesia-antara-gengsi-dan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1949562693238994175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1949562693238994175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/06/bahasa-indonesia-antara-gengsi-dan.html' title='Bahasa Indonesia Antara Gengsi dan Nasionalisme'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiacPyfHLaI/AAAAAAAAAPg/el_06JMRAoE/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-6346306735417801188</id><published>2009-05-29T07:33:00.001-07:00</published><updated>2009-11-08T19:45:04.329-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Analisis Struktur Kerangka Berita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiafHXs3j1I/AAAAAAAAAQA/t1Iu7Ex6QFU/s1600-h/dasar-dasar+jurnalistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiafHXs3j1I/AAAAAAAAAQA/t1Iu7Ex6QFU/s200/dasar-dasar+jurnalistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343132956891778898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting atau tidak penting, struktur berita memuat dan menjadi acuan awal seseorang untuk mengembangkan tulisan. Pada awalnya sebuah struktur kerangka tulisan hanya memuat tema besar, kemudian berkembang menjadi sebuah kerangka tulisan yang utuh. Dari kerangka tulisan juga seorang penulis mempunyai arahan yang jelas dan tahu sasaran mana yang harus dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada anggapan bahwa menulis itu sebuah proses yang berkerja seperti air yang mengalir, namun tetap saja ia akan membutuhkan acuan dan pijakan awal. Seorang penulis terkenal sekalipun pasti mempunyai planning kerja. Kalau seorang pekerja bangunan mengandalkan panduan arsitek untuk membangun sebuah gedung, seorang penulis membuthkan panduan menulis berupa kerangka karangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan saya, wartawan PR waktu itu memberikan pelatihan jurnalistik di isola pos. Beliau mengatakan tulisan yang efektif memiliki sebuah bentuk yang mengandung dan sekaligus mengungkapkan cerita. Umumnya berbentuk narasi, dan sebuah narasi bakal sukses jika memiliki semua informasi yang dibutuhkan pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang efektif juga mampu meletakan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan ke mana mengalir, seberapa jauh dampaknya dan seberapa tipikal. Penulis yang tak terlalu piawai menyajikan konteks dalam kapsul besar secara sekaligus, sehingga sulit dicerna. Di sinilah sebenarnya kerangka tulisan dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara kita membuat kerangka tulisan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita lihat, beberapa acuan yang dijadikan parameter kerangka tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1.Topik  &lt;br /&gt;Saya biasanya menyebut sebagai pikiran pembuka, pikiran pembuka? Ya karena disanalah sebenarnya kita menemukan ispirasi awal untuk menulis. Topik biasanya berupa tema besar yang ingin kita angkat ke dalam tulisan. Topik yang paling mudah dapat mengamati tingkah laku sosial yang terjadi di msyarakat. Topik tentu saja merupakan bahan mentah, dan hanya dapat dijadikan sebagai panduan awal. Misal kita akan mengangkat topik mengenai ekonomi kerakyatan yang diusung para capres, itu merupakan tema besar, jadi harus diperinci lagi. Seorang penulis berita yang piawai mampu menangkap gejolak sosial yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sub topik&lt;br /&gt;Jika kita telah menentukan topik tulisan, mau tidak mau kita harus menjabarkannya. Sub topik di dapat dari penjabaran topik utama. Misal mengacu pada topik diatas kita akan mengangkat konsep ekonomi yang di usung oleh para capres. Maka sub topik yang bisa ditentukan adalah asas ekonomi apa yang di usung, bagaimana mereka menerapkannya, dan apa dampak untuk masyarakat Indonesia kedepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Signifikansi dan kemaknawian&lt;br /&gt;Disinilah letak kekuatan dari sebuah tulisan, kemaknawian merupakan persepsi pembaca terhadap tulisan yang dibuat oleh penulis. Resepsi pembaca memang diperlukan, karena sadar atau tidak bahwa sebuah tulisan yang di muat di berbagai media akan mempengaruhi pembaca. Seperti dalam sebuah TV swasta “Kami mengabarkan anda memutuskan”. Efek yang ditimbulkan bisa menghibur, memberi motivasi, bahkan membentuk sebuah opini publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memahami apa itu kerangka tulisan, kita lihat sebuah tulisan dari kompas.com edisi Rabu, 27 Mei 2009 mengenai isu agenda ekonomi para capres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Isu ekonomi terlalu mendominasi visi dan program pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga pada Pemilu Presiden 2009. Persoalan konsolidasi demokrasi dan penataan sistem bernegara yang belum tuntas sejak reformasi cenderung terabaikan.&lt;br /&gt;Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia Jimly Asshiddiqie di sela acara Maklumat Politik ICMI Menghadapi Pemilu Presiden 2009 di Jakarta, Selasa (26/5).&lt;br /&gt;Turut hadir antara lain Ketua Presidium ICMI Muslimin Nasution, Sekretaris Jenderal ICMI Agus Salim Dasuki, dan tokoh ICMI, Marwah Daud Ibrahim.&lt;br /&gt;Persoalan konsolidasi demokrasi tidak menjadi prioritas pasangan capres-cawapres. Selain tidak populer, isu itu juga tidak menarik untuk dijual guna menggalang dukungan masyarakat.&lt;br /&gt;”Padahal, ekonomi tidak akan berkembang kalau sistem negara tidak ditata dan diawasi,” ungkap Jimly. Jika konsolidasi demokrasi tidak bisa dilakukan pemerintahan hasil Pemilu 2009, lanjutnya, pelaksanaan demokrasi sesudah tahun 2014 tidak akan menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;Konsolidasi demokrasi&lt;br /&gt;Struktur bernegara yang dihasilkan dari proses demokrasi akan merusak diri sendiri dan kebebasan yang didapat masyarakat juga hanya sekadar bebas tanpa makna.&lt;br /&gt;Hasil akhirnya, demokrasi yang dilaksanakan tidak akan mampu menyejahterakan masyarakat. Muslimin menambahkan, tanpa konsolidasi demokrasi, kepercayaan masyarakat pada demokrasi dapat memudar.&lt;br /&gt;Terlebih lagi saat ini semangat antidemokrasi mulai menguat di masyarakat. Sudah 11 tahun reformasi, pemerintahan yang ada belum juga menyelesaikan persoalan bangsa.&lt;br /&gt;Persoalan bernegara yang masih mengalami ganjalan antara lain dalam penataan sistem bernegara dengan munculnya lembaga-lembaga pemerintah baru yang tidak efektif, hubungan pemerintah pusat dan daerah, hubungan antarcabang kekuasaan negara, serta reformasi lembaga peradilan dan hukum.&lt;br /&gt;Untuk itu, kata Jimly, siapa pun pasangan yang terpilih dalam pemilu harus memiliki dukungan mayoritas di DPR. Tanpa dukungan mayoritas, sulit mendapat pemerintahan yang efektif demi konsolidasi demokrasi.&lt;br /&gt;Secara terpisah, ekonom Chatib Basri dan Raden Pardede serta Direktur Eksekutif The Indonesian Center for Responsive Politics Bara Hasibuan meminta agar pertentangan paham neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan dihentikan.&lt;br /&gt;Chatib dan Raden mengatakan, kecaman terhadap neoliberalisme menunjukkan ketidakpahaman pengecam terhadap paham itu. ”Semua ideologi ekonomi bertujuan mulia, menyejahterakan rakyat. Tinggal bagaimana orang yang melakukan,” ujar Raden. (MZW/ HAM)&lt;br /&gt;Maka kerangka penulisan berita dalam tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;A. &lt;br /&gt;1. Topik&lt;br /&gt;Agenda ekonomi para capres dalam menata ekonomi kedepan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masalah dan Subtopik&lt;br /&gt;Bagaimana isu ekonomi yang diusung oleh para capres.&lt;br /&gt;Subtopik;&lt;br /&gt;- Kecenderungan para capres memprioritaskan isu ekonomi dalam visi misi kerja mereka.&lt;br /&gt;- Kekeliruan paradigma masyarakat dalam menyikapi isu ekonomi.&lt;br /&gt;- Munculnya permasalahan baru diluar isu ekonomi yang perlu diperhatikan seperti masalah birokrasi pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Signifikansi/Kemaknawian&lt;br /&gt; Agar Pembaca mengetahui agenda ekonomi para capres dan permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pola Tulisan&lt;br /&gt; Dalam tulisan ini menggunakan pola tulisan kronologis. Penulis mencoba memaparkan paradigma pemikiran agenda ekonomi para capres, yang berkembang dimasyarakat. Disamping itu penulis mencoba menulis kronologis kejadian yang berkaitan dengan pemberitaannya, anatar lain mengenai seminar Maklumat Politik ICMI Menghadapi Pemilu Presiden 2009 di Jakarta. &lt;br /&gt;B. Membuat Kerangka Tulisan&lt;br /&gt;Oke, setelah anda mempelahari apa itu kerangka berita, sebaiknya anda membuat kerangka awal sebuah tulisan, seperti dalam contoh berikut ini.&lt;br /&gt;1.  Topik: Problematik Penggunaan Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;2. Masalah dan Subtopik:&lt;br /&gt; Bagaimanakah penggunaan bahasa Indonesia menghadapi gerusan bahasa asing?&lt;br /&gt;Subtopik;&lt;br /&gt;- Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, nasional, dan negara.&lt;br /&gt;- Fungsi bahasa indonesia dalam kehidupan berbangsa.&lt;br /&gt;- Faktor-faktor yang menyebabkan problematik bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sinifiknsi dan Kemaknawian&lt;br /&gt; Agar pembaca mengetahi problematik bahasa, karena ada kecenderungan bahwa budaya berbahasa yang baik dan benar mulai tergusur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pola Tulisan &lt;br /&gt; Dalam tulisan ini digunakan beberapa pola penulisan diantaranya spasial yaitu pola tulisan yang mengungkapkan perbandingan waktu. Dan disipkan juga pola penulisan opini penalaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-6346306735417801188?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/6346306735417801188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/analisis-struktur-kerangka-berita.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6346306735417801188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6346306735417801188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/analisis-struktur-kerangka-berita.html' title='Analisis Struktur Kerangka Berita'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SiafHXs3j1I/AAAAAAAAAQA/t1Iu7Ex6QFU/s72-c/dasar-dasar+jurnalistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7089187377173392481</id><published>2009-05-24T06:02:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:44:57.868-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Resensi Buku : Siapa yang Mengawasi Pengawas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShlHwptjiUI/AAAAAAAAAOM/T_E7GUFhXg8/s1600-h/digital-fo2rtress-1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 223px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShlHwptjiUI/AAAAAAAAAOM/T_E7GUFhXg8/s400/digital-fo2rtress-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339377734380652866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Unduh Gratis Buku Karya Dan Brown Digital Fortres-Benteng Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spionase dan agensi elit ala amerika mungkin sudah banyak diangkat menjadi sebuah novel bahkan menjadi sebuah film, tetapi bagaimana jika sebuah novel menceritakan dunia spionase yang begitu berbeda? Ya, jawabannya hanya di buku ketiga karya Dan Brown, Digital Fortres-Benteng Digital penulis terlaris abad Ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Dan Brown melambung setelah novelnya, The Da Vinci Code, mengguncang dunia dengan tema kontroversial yang diangkatnya. Konon novel tersebut sudah terjual hingga 45 juta eksemplar. Dalam setiap Novel yang dibuatnya, ciri khas Dan Brown sering ditampilkan, gaya menulis novel yang menggabungkan gaya thriller detektif dan cerita konspirasi,menjadi sesuatu yang unik bahkan menjadi nilai lebih dibanding dengan novel sejenis. Bahkan Novel keduanya Angels and Demons, sudah difilmkan kembali dalam balutan gaya holiwood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Spionase&lt;br /&gt;Dalam novel tersebut Dan Brown menyajikan sebuah cerita yang bersetting dunia oraganisasi elit Amerika. Kalau selama ini orang lebih mengenal organisasi semacam CIA (Central Intelligence Agency), DEA (Drug Enforcement Administration), SWAT, dan FBI (Federal Bureau of Investigation). Brown mencoba menghadirkan sebuah organisasi paling elit, bergengsi, bahkan paling rahasia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namanya NSA, National Security Agency (Badan Keamanan Nasional). Sebuah agensi kriptografi milik pemerintah Amerika Serikat, didirikan oleh Presiden Harry S. Truman pada 4 November 1952. Tugasnya adalah melindungi Amerika dari serangan agensi negara asing, bahkan serangan teroris. Oleh karena itu organisasi semacam FBI, CIA, DEA menggantung informasi intelegen mereka melalui NSA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NSA mengkoordinasi, mengarahkan, serta menjalankan aktifitas-aktifitas amat istimewa bertujuan untuk mengumpulkan informasi intelijen dari luar negeri, terutama menggunakan kriptoanalisis. Selain itu, NSA melindungi komunikasi pemerintah dan sistem informasi di AS dari agensi lainnya, yang melibatkan kriptografi tingkat tinggi. NSA merupakan bagian dari Dephan AS, dan dikepalai oleh seorang direktur dari militer AS berpangkat Letnan Jenderal atau Laksamana Madya. NSA adalah komponen kunci dari Komunitas Intelijen Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Direktur Intelijen Nasional (wikipedia.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan NSA meliputi penyadapan dan pengamanan. Penyadapan NSA meliputi telepon, komunikasi internet, komunikasi radio, serta komunikasi-komunikasi lainnya yang dapat disadap. Pengamanan NSA meliputi komunikasi militer, diplomatik, serta komunikasi-komunikasi rahasia atau sensitif pemerintah. NSA merupakan organisasi yang mempekerjakan ahli matematika dan memiliki superkomputer terbanyak di dunia. Namun NSA berusaha untuk tetap low profile, bahkan Pemerintah AS pernah tidak mengakui keberadaannya selama beberapa tahun. Karena itu, NSA sering dipelesetkan sebagai No Such Agency (Tidak ada agensi seperti itu), atau Never Say Anything (Jangan bilang apa-apa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan dalam sebuah permainan&lt;br /&gt;Awal cerita, ciri khas Dan Brown mulai ditampilkan. Seperti dalam karya lainnya, novel ini juga diawali dengan sebuah kematian misterius yang akan menjadi titik awal kisah ini dibentuk. Ensei Tankado seorang anak cacat namun memiliki otak jenius ditemukan mati secara misterius di Sevilla Spanyol. Kematiannya menjadi perhatian NSA, karena sebelmunya ia pernah bekerja untuk organisasi terebut. Bukan hanya itu Tankado menciptakan sebuah kode rahasia yang tidak bisa dipecahkan oleh ahli kriptografi Amerika bahkan oleh superkompouter (TRANSLTR) kepunyaan NSA sekalipun. Tentu saja NSA menjadi gusar, namun kasus tersebut dirahasiakan keberadaannya oleh wakil direktur NSA Strathmore.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strathmore mencoba menghubungi profesor jenius dan dan cantik Susan Fletcher untuk memecahkan kasus tersebut, ia juga mencoba menghubungi kekasihnya Davis Becker untuk berangkat ke spanyol, menyelidiki kasus tersebut. Dari prolog tersebut, jelaslah bahwa novel ini mengajak kita menyelami dunia sepionasi dengan berburu sandi, tetapi kita juga diburu oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur penceritaannya sangat unik, Dan Brown mencoba menyajikan gaya bercerita yang khas. Sebuah cerita dengan alur Zig_Zag (Itu istilah saya sendiri). Mengapa demikian? Karena dalam novel ini Dan Brown menyajikan alura cerita yang bergantian secara cepat dan tepat. Seperti ketika menampilkan kilasan peristiwa di Spanyol tetang Becker yang mencoba mencari sandi petunjuk, bergantian dengan ketegangan penuh intrik di markas NSA, yang menceritakan Susan Fletcher dan misteri pembunuhan.Kepingan-kepingan fakta disuguhkan dengan begitu apik, sehingga tiap lembar yang saya baca begitu membawa kepenasaran yang berlebih. Kita akan terpancing dalam cerita ini untuk menentukan siapa kawan dan lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itulah tujuan Dan Broen menyajikan cerita ini, walaupun penuh intrik khas elit agensi amerika. Namun novel ini masih diawali oleh sebuah tema besar yakni cinta, kesetian, dan patriotik. Mungkin pembaca di akhir cerita pembaca akan menyimpulkan untuk mencibir organisasi tersebut, bagaimana tidak, hak privasi tiap orang di dunia dapat dengan mudah diungkap. Itu wilayah Hak Asasi Manusia, namun lagi-lagi alasannya adalah keamanan, dan patriotik negara. Seperti yang diungkap dalam novel ini Quis custodiet ipsos custodes? Siapa yang akan mengawasi para pengawas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, novel tetaplah novel, ia hadir untuk menghibur pambaca. Penilaian subjektif pembaca sah-sah saja, dengan begitu Dan Brown sudah berhasil menyajikan sebuah novel yang mempengaruhi pembacanya. Saya sendiri ketika membaca novel tersebut tidak menyangka bahwa ending ceritanya begitu berbeda dari prediksi awal ketika membaca. Sungguh sebuah cerita yang unik. WAJIB ANDA BACA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Jika Anda ingin menyelami dunia spionase khas NSA silakan mainkan game Splinter Cell: Double Agent, dan Splinter Cell: Chaos of Theory. Murah hanya 10.000/DVD. Melayani seluruh Indonesia, VIA TIKI ) Ribuan Judul Game. 085220953141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDUH BUKUNYA DISINI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/55107509/62be32e5/Ebook_-_Digital_Fortress_-_Benteng_Digital.html?s=1"&gt;benteng digital&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7089187377173392481?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7089187377173392481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/siapa-yang-mengawasi-pengawas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7089187377173392481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7089187377173392481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/siapa-yang-mengawasi-pengawas.html' title='Resensi Buku : Siapa yang Mengawasi Pengawas'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShlHwptjiUI/AAAAAAAAAOM/T_E7GUFhXg8/s72-c/digital-fo2rtress-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-6437397258885139297</id><published>2009-05-21T03:18:00.000-07:00</published><updated>2009-11-08T19:44:49.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Analisis Teater :  Air ,“ Mahluk yang Teraniaya”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShUrsSsN2QI/AAAAAAAAAN8/Lis-qcsCHZo/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 245px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShUrsSsN2QI/AAAAAAAAAN8/Lis-qcsCHZo/s400/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338220973249124610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri R.H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air, dalam persfektif umum dikategorikan sebagai barang yang hanya  diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup . Namun dalam persfektif sekarang, air dikategorikan sebagai “mahluk yang selalu teraniaya”, dari mulai pencemaran lingkungan hidup, sampai pada tindakan yang tidak mencerminkan pelestarian lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan masalah lingkungan hidup sepertinya  tidak bisa lepas dari soal pohon, tanah dan air. Kehidupan dan tingkah laku manusia sangat bergantung pada hal itu. Jika hutan-hutan kian gundul, apa yang mau diharapkan. Jika tanah tercemar, apa yang mau kita tanam. Demikian juga jika sumber air tercemar, apa yang bisa kita minum. Kita tahu semua itu, tapi sayangnya apa yang kita ketahui itu seringkali tidak dipakai rujukan dalam kehidupan. Kita lebih suka merusak daripada memelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran manusia sekarang, tapi gambaran tersebut coba dilukis kembali dari goresan karya Iman Soleh, ke dalam dunia teater yang disutradarainya, yang berjudul “Air”. Teater tersebut sempat beberapa kali dipentaskan, terakhir  dipentaskan di Taman Budaya Dago ini mencoba untuk mengkritik prilaku sosial yang sudah menjadi budaya yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Air yang menjadi poros kehidupan, digambarkan dalam dunia panggung ini sebagai barang yang sudah langka, bahkan saking langkanya manusia harus bekerja keras untuk mendapatkannya, tapi semua itu tidaklah mudah, manusia juga dibayangi oleh sesuatu hal yang mengerikan, kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dimulai dengan munculnya pergelutan tubuh yang dipadu dengan permainan cahaya. Menandakan seperti sebuah prolog. Tiga orang laki-laki muncul dari balik panggung membawa layang-layang yang menyerupai burung. Selanjutnya di tengah panggung, burung-burung tadi coba digerakan menyerupai lingkaran kebebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi dengan gerak cahaya, selanjutnya dua laki-laki muncul membawa tongkat di lengannya masing-masing. Tongkat itu coba mereka gerakan dengan memukulnya ke permukaan tanah, mereka menggali, dan terus menggali. Tentu saja apa yang mereka lakukan adalah untuk mendapatkan air yang kini sudah menjadi barang langka. Namun perjuangan meraka sia-sia, sampai akhirnya dalam perjuangan tersebut, mereka harus merelakan nyawa mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah yang kini mengganti air, mulai membasahi bumi, manusia mulai kalang kabut. Mereka mulai putus asa dengan perjuangannya untuk melestarikan lingkungan hidup, terutama air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disatu sisi ada orang yang merusak lingkungan hidup, mereka digambarkan dalam teater ini sebagai figur orang yang sudah tidak merasa lagi perlu dengan lingkungan hidup, namun ada juga orang yang mencoba mempertahankan dan melestarikan lingkungan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian akhir teater, adegan yang mempertontonkan doa manusia kepada tuhannya, benar-benar membawa pesan edukatif.Munkin teater yang disutradarai oleh pendiri Center of Cultural Ledeng (CCL), ini tidak hanya mengajak manusia untuk melestarikan lingkungan tetapi juga, bagaimana mensyukurinya yaitu dengan bersyukur kepada tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, pertunjukan teater bukanlah sekedar geliat tubuh dan omongan  para aktor yang tak mempunyai makna apa-apa. Pertunjukan teater air ini, memang sarat dengan kritik sosial. Kita tidak akan dibuat mengerutkan dahi untuk memahami esensi dari pertunjukan tersebut. Karena sebuah pertunjukan teater bukan hanya sekedar menjadi prosesi onani yang hanya memuaskan satu pihak, namun akan melibatkan penonton yang implikasinya tentu saja menyampaikan amanat dari pertunjukan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman dan lingkungan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada permasalahan yang cukup mendasar, dengan adanya perusakan lingkungan hidup. Bukan hanya pada rusaknya lingkungan hidup akibat ulah manusia, namun dibalik itu semua sikap apatis manusia menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap apatis tersebut tidak hanya disampaikan oleh Iman Soleh dengan teaternya, namun acara yang mengusung tema lingkungan hidup ini, menampilkan juga seniman-seniman lain yang peduli akan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja grup 100%, Oseng Percussion dan Ferry Kurtis. Seniman-seniman tersebut mencoba membawa pesan dan membawa suatu sugesti kepada penonton untuk selalu melestarikan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Fery Kurtis misalnya, mencoba membawakan musikalisasi puisi karya Iman Soleh yang berjudul “awan diatas pohon”. Dalam alunan nada dan dentingan piano, penonton diajak untuk meresapidan menghayati isi dan maksud puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang seniman dan lingkungan hidup, seharusnya menjadi dua mata uang yang sulit dipisahkan, agar karya sastra tidak berkutat pada kritik sosial atau politik semata. Seniman harus mampu memberikan sugesti kepada masyarakat bagaimana pentingkannya menghilangkan sikap apatis terhadap lingkungan hidup. Setidaknya hal itulah yang tergambar dari pertunjukan buadaya yang bertema seni untuk lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pertunjukan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sebatas wacana lingkungan hidup yang diekspresikan dalam dunia seni, yang kemudian hanya sebatas oral sugesti semata, atau hanya menjadi terapi kejut semata. karena toh kehancuran lingkungan hidup di negeri ini dari tahun ke tahunnya bukannya berkurang malah bertambah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk menjawab polemik tersebut,   kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkan kita memperhatikan mahluk yang bernama air? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-6437397258885139297?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/6437397258885139297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/air-mahluk-yang-teraniaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6437397258885139297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/6437397258885139297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/air-mahluk-yang-teraniaya.html' title='Analisis Teater :  Air ,“ Mahluk yang Teraniaya”'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ShUrsSsN2QI/AAAAAAAAAN8/Lis-qcsCHZo/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-3456371281588547364</id><published>2009-05-15T03:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:42:58.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik : Hubungan Bahasa Dengan Konteks Sosial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sg1AyYfxOyI/AAAAAAAAAN0/Cng8nKIaZKQ/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sg1AyYfxOyI/AAAAAAAAAN0/Cng8nKIaZKQ/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335992367817243426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan mestilah selalu berinteraksi dengan sesamanya. Untuk keperluan tersebut, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai identitas kelompok. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan terbentuknya kepelbagaian bahasa di dunia yang memiliki ciri-ciri yang unik yang menyebabkannya berbeda dengan bahasa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang Sosiolinguistik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Trudgill bahwa “Sosiolinguistik adalah bahagian linguistik yang berhubung kait dengan bahasa, fenomena bahasa dan budaya. Bidang ini juga mengkaji fenomena masyarakat dan berhubung kait dengan bidang sain sosial seperti Antropologi seperti sistem kerabat (Antropologi) bisa juga melibatkan geografi dan sosiologi serta psychologi sosial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala, Fishman menyatakan bahwa Sosiolinguistik memiliki komponen utama yaitu ciri-ciri bahasa dan fungsi bahasa. Fungsi bahasa &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;dimaksud adalah fungsi sosial (regulatory) yaitu untuk membentuk arahan dan fungsi interpersonal yaitu menjaga hubungan baik serta fungsi imajinatif yaitu untuk meneroka alam fantasi serta fungsi emosi seperti untuk mengungkapkan suasana hati seperti marah, sedih, gembira dan apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan bahasa yang selari dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa seperti jargon dan argot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Keterkaitan bahasa dengan kelas sosial&lt;br /&gt;Kelas sosial (sosial class) mengacu kepada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta, dan sebagainya. Misalnya si A adalah seorang bapak di keluarganya, yang juga berstatus sosial sebagai guru. Jika dia guru di sekolah negeri , dia juga masuk ke dalam kelas pegawai negeri. Jika dia seorang sarjana, dia bisa masuk kelas sosial golongan “terdidik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Ragam bahasa kelas sosial &lt;br /&gt;Kita melihat di Indonesia kelas sekelompok pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi. Tetapi ragam bahasanya justru nonbaku. Ragam bahasa mereka dapat dikenali dari segi lafal mereka, yaitu akhiran –kan yang dilafalkan –ken. Jadi perbedaan atau penggolongan kelompok masyarakat manusia tercermin dalam ragam bahasa golongan masyarakat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Peranan Labov &lt;br /&gt;Tahun 1966, William Labov menerbitkan hasil penelitiannya yang luas tentang tutur kota New York, berjudul The Social Stratification of English in New York City (lapisan sosial Bahasa Inggris di Kota New York). Ia mengadakan wawancara yang direkam, tidak dengan sejumlah kecil informan, hanya terdiri dari 340 orang. Dengan ini Lobov memasukkan metode sosiologi ke dalam penelitiannya. Sosiologi menggunakan metode pngukuran kuantitatif dengan jumlah besar, dan dengan metode sampling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Kelas sosial dan ragam baku&lt;br /&gt;Ada kaidah yang baku dalam bahasa Inggris. Jika subjek adalah kata ganti orang ke tiga tunggal (she, he, it), predikat kata kerjanya harus menggunakan sifiks-s. kemudian diadakan penelitian apakah ada hubungan antara kelompok sosial dengan gejala bahasa ini. Penelitian diadakan di dua tempat, yaitu di Detroit (AS) dan di Norwich (Inggris). Informannya meliputi berbagai tingkat kelas sosial, yaitu:&lt;br /&gt; Kelas Menengah Tinggi (KMT)&lt;br /&gt; Kelas Menengah Atas (KMA)&lt;br /&gt; Kelas pekerja (buruh) menengah (KPM)&lt;br /&gt; Kelas pekerja bawah (KPB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keterkaitan Bahasa dengan Komunikasi&lt;br /&gt;Bahasa dengan komunikasai sangat berhubungan. Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam ini pesan tidak lain penbawa gagasan (pikiran, saran, dan sebagainya) yang disampaikan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merimuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal sebagai istilah semantic encoding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai pengirim, dan si penerima tetap sebagai penerima. Misalnya, dealam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti Tanya jawab. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima menjadi pangirim. Komunikasi dua arah ini terjadi dalam rapat, perundingan, diskusi dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek yaitu:&lt;br /&gt; Aspek linguistic&lt;br /&gt; Aspek nonlinguistik atau paralinguistik &lt;br /&gt; Kedua aspek itu bekerjasama dalam membangun komunikasi bahasa. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan, yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, idea tau konsep). Aspek paralinguistik mencakup:&lt;br /&gt; Kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang seperti falsetto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus), dan sebagainya.&lt;br /&gt; Unsur supra segmental, yaitu tekanan (stress), nada (pitch), dan intonasi.&lt;br /&gt; Jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan,anggukan kepala, dan sebagainya.&lt;br /&gt; Rabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa (pada kulit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek linguistic dan paralinguistik berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengaruh bahasa dalam Ragam kelas Sosial&lt;br /&gt;Perkembangan bahasa yang searah dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa seperti jargon dan argot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jargon&lt;br /&gt;Dalam “Thesaurus: Oxford Thesaurus of English” oleh Maurice Waite (2004) dinyatakan bahwa jargon adalah bahasa khas, teknis, idiom tertentu, selanga dan lain sebagainya yaitu “specialized language, technical language, slang, cant, idiom, argot, patter, patois, vernacular, computerese, legalese, bureaucratese, journalese, psychobabble, unintelligible language, obscure language, gobbledegook, gibberish, double Dutch”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut “The Oxford Companion to the English Language” oleh Tom McArthur (1996) istilah jargon ini muncul pada abad ke-14 yang merupakan istilah Bahasa Inggris Abad Pertengahan (Midle English) yaitu ”iargo(u)n”, “gargoun”, “girgoun” yang berarti kicauan, nyanyian burung-burung, pembicaraan yang tidak bermakna, merepet /membual atau mericau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jargon ini juga terdapat dalam istilah Bahasa Perancis yaitu “jargoun”, “gargon” dan “gergon”. Kemungkinan makna asalnya yaitu bunyi “echo” dan merupakan istilah umum yang seringkali mengacu kepada bahasa asing pedalaman yang bermacam-macam. Hal itu dapat ditemukan dalam ucapan yang dirasakan sebagai merepet atau ucapan-ucapan kosong (mumbo jumbo), slang, bahasa pidgin atau bahasa khas dalam perdagangan, profesi atau kelompok lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, istilah ini juga sering dihubungkaitkan dengan ilmu tertentu seperti hukum dan perundang-undangan, kedokteran dan ilmu pengetahuan yang merupakan jargon teknis maupun jargon saintifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kelompok yang tidak professional maupun tidak berprofesi, penggunaan bahasanya dinilai penuh dengan istilah maupun kalimat yang tidak seperti bahasa umumnya sehingga sulit dipahami oleh orang kebanyakan. Namun bagi anggota kelompok professional tersebut, penggunaan istilah itu sangat akrab dan mencapai matlamat yang sesungguhnya. Karena faktor kemudahan dan keakrabannya inilah, jargon dapat menggungkapkan teknis dan gaya yang menjadi ciri khas dalam kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Kuliah Sosiolinguistik, Universitas Pendidikan Indonesia &lt;br /&gt;Alwasiah, A Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung:Angkasa &lt;br /&gt;Badudu,J.S.1989. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia &lt;br /&gt;Pateda, Mansyur.1987. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa &lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1980. Sosiolinguistik :Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta &lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Balai Pustaka. &lt;br /&gt;www.wikipedia.com &lt;br /&gt;Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang disempurnakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-3456371281588547364?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/3456371281588547364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/hubungan-bahasa-dengan-konteks-sosial.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3456371281588547364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3456371281588547364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/hubungan-bahasa-dengan-konteks-sosial.html' title='Sosiolinguistik : Hubungan Bahasa Dengan Konteks Sosial'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sg1AyYfxOyI/AAAAAAAAAN0/Cng8nKIaZKQ/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8981429383663033124</id><published>2009-05-05T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T07:28:10.488-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Analisis Semiotik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SgBM8wTKYEI/AAAAAAAAANs/1_lVaNzAcRY/s1600-h/m_puisig.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SgBM8wTKYEI/AAAAAAAAANs/1_lVaNzAcRY/s400/m_puisig.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332346565447802946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika anda menyukai apa yang namany puisi pasti mengenal istilah keilmuan smiotika. Semiotika sendiri berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap. Bicara cepat, berjalan &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap sebagai tanda. Dari penjelasan diatas tentunya semiotika dapat dijadikan referensi untuk mengkaji sebuah sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganalisis sajak itu bertujuan memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang mempergunakan medium bahasa. Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotic atau ketandaan yang mempunyai arti, medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum digunakan dalam lukisan masih bersifat netral, belum mempunyai arti apa-apa; sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum digunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang-lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyarakat. Lambang-lambang atau tanda-tanda kebahasaan itu berupa  satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti oleh konvensi masyarakat. Sistem ketandaan itu disebut semiotik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang penting dalam lapangan semiotik, lapangan sistem tanda, adalah pengertian tanda-tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan petanda (signified) atau yang ditandai, yang merupakan arti tanda. Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya, gambar kuda menandai kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya, asap menandai api. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, Hubungan keduanya bersifat arbitrer dan berdasarkan konvensi (perjanjian masyarakat. Misalnya, kata ibu berarti ‘orang yang melahirkan kita’ &lt;br /&gt; Dalam ilmu tanda-tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda tingkat  pertama itu disebut meaning (arti). Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat ( sastra) karena sastra (karya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi (atas) kedudukannya dari bahasa, maka disebut sistem semiotik tingkat kedua. Dalam karya sastra, arti kata-kata (bahasa) ditentukan oleh konvensi sastra. Dengan demikian, timbullah arti baru yaitu arti sastra itu,. Jadi, arti sastra itu merupakan arti dari arti (meaning of meaning) untuk membedakannya (dari arti bahasa), arti sastra itu disebut makna (signified). Apa  yang dimaksud makna sajak (karya sastra) itu bukan semata-mata itu bahasanya, melainkan arti bahasa dan suasana, perasaan, intensitas arti, arti tambahan (konotasi) daya liris, pengertian yang ditimbulkan tanda-tanda kebahasaan atau tanda-tanda lain yang ditimbulkan oleh konvensi sastra, misalnya tipografi, enjambement, sajak, baris sajak, ulangan, dan yang lainnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan dalam membentuk sistem dan maknanya dalam karya sastranya harus mempertimbangkan juga konvensi bahasanya sebab bila ia sama sekali meninggalkannya, maka karyanya tidak dapat dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Puisi sajak secara semiotik seperti telah dikemukakan merupakan struktur tanda-tanda yang bersistem dan bermakna ditentukan oleh konvensi. Memahami sajak tidak lain drai memahami makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap mkna sajak. Makna sajak adalah arti yang timbul oleh bahasa yang disusun berdasarkan struktur sastra menurut konvensinya, yaitu arti yang bukab senata-mata karena arti bahasa, melainkan berisi arti tambahan berdasarkan konvensi sastra yang bersangkutan. Dengan demikian, teranglah bahwa untuk mengkaji puisi (sajak) perlulah analisis struktural dan seniotik, mengingat bahwa sajak itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi sastra bersifat semiotik merupakan usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai  makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antara unsur-unsurnya  akan dihasilkan bermacam-macam makna. Kritikus menyendirikan satuan-satuan berfungsi dan konvensi-konvensi sastra yang berlaku. Satuan berfungsi itu misalnya alur, setting, penokohan, satuan-satuan bunyi, kelompok kata, kalimat (gaya bahasa), satuan visual, seperti tipografi, enjambement, satuan baris (bait) dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, karena sastra itu karya (imajinatif) yang bermedium bahasa, maka tanda-tanda yang utama dalam karya sastra itu adalah tanda-tanda kebahasaan meskipun ada konvensi ketandaan sastra yang lain yang merupakan konvensi tambahan. Konvensi tambahan itu diataranya : perulangan, persajakan, tipografi, pembagian baris sajak, pembaitan, persejajaran, makna kiasan karena konteks dalam struktur yang semuanya itu menimbulkan makna dalam karya sastra.  Tentu saja tanda-tanda tersebut erat hubungannya dengan tanda kebahasaan misalnya saja ulangan tidak terpisahkan dengan kata-kata yang diulang-ulang atau kalimat yang diulang, yang semuanya menimbulkan ulangan bunyi dan menimbulkan efek intensitas, atau efek liris, atau efek yang lain. Maka dalam analisis sajak terutama dicari tanda-tanda kebahasaan dan baru sesudah itu dicari (dianalaisis) tanda-tanda (tambahan) yang lain yang merupakan konvensi tambahan dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8981429383663033124?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8981429383663033124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/analisis-semiotik.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8981429383663033124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8981429383663033124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/analisis-semiotik.html' title='Analisis Semiotik'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SgBM8wTKYEI/AAAAAAAAANs/1_lVaNzAcRY/s72-c/m_puisig.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5684332751232297591</id><published>2009-05-02T02:45:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:42:52.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik : Hubungan Bahasa dengan Budaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfwW7Vzz-HI/AAAAAAAAANg/5egZbfpcjBg/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfwW7Vzz-HI/AAAAAAAAANg/5egZbfpcjBg/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331161267622377586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua. Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. Dengan kata lain, budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut menentukan wajah dari bahasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah bahasa dalam bahasa Indonesia, sama dengan language, dalam bahasa Inggris, taal dalam bahasa Belanda, sprache dalam bahasa Jerman, lughatun dalam bahasa Arab dan bhasa dalam bahasa Sansekerta. Istilah-istilah tersebut, masing-masing mempunyai aspek tersendiri, sesuai dengan pemakainya, untuk menyebutkan suatu unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;luas, sehingga merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Seperti yang diungkapkan oleh para ahli:&lt;br /&gt;1. menurut Sturtevent berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosisal untuk kerjasama dan saling berhubungan.&lt;br /&gt;2. Menurut Chomsky language is a set of sentences, each finite length and contructed out of a finite set of elements.&lt;br /&gt;3. Menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih banyak lagi definisi tentang bahasa yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. Setiap batasan yang dikemukakan tersebut, pada umumnya memiliki konsep-konsep yang sama, meskipun terdapat perbedaaan dan penekanannya. Terlepas dari kemungkinan perbedaan tersebut, dapat disimpulkan sebagaimana dinyatakan Linda Thomas dan Shan Wareing dalam bukunya Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan bahwa salah satu cara dalam menelaah bahasa adalah dengan memandangnya sebagai cara sistematis untuk mengabungkan unit-unit kecil menjadi unit-unit yang lebih besar dengan tujuan komunikasi. Sebagai contoh, kita menggabungkan bunyi-bunyi bahasa (fonem) menjadi kata (butir leksikal) sesuai dengan aturan dari bahasa yang kita gunakan. Butir-butir leksikal ini kemudian digabungkan lagi untuk membuat struktur tata bahasa, sesuai dengan aturan-aturan sintaksis dalam bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian bahasa merupakan ujaran yang diucapkan secara lisan, verbal secara arbitrer. Lambang, simbol, dan tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa mengandung makna yang berkaitan dengan situasi hidup dan pengalaman nyata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN BUDAYA&lt;br /&gt;Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Gooddenough sebagaimana disebutkan Mudjia Rahardjo dalam bukunya Relung-relung Bahasa mengatakan bahwa budaya suatu masyarakat adalah apa saja yang harus diketahui dan dipercayai seseorang sehngga dia bisa bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat, bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang harus dicari dan perilaku harus dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Karena itu budaya merupakan “cara” yang harus dimiliki seseorang untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hidupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep ini kebudayaan dapat dimaknai sebagai fenomena material, sehingga pemaknaan kebudayaan lebih banyak dicermati sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat. Karenanya tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang terlihat wujudnya dalam berbagai pranata yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam mengatakan kebudayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan atauran-atauran yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Definisi-definisi di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul Chaer yaitu:&lt;br /&gt;1. Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayaan.&lt;br /&gt;2. Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan.&lt;br /&gt;3. Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakekat kebuadayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku.&lt;br /&gt;4. Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuaikan diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.&lt;br /&gt;5. Definisi sturktural definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.&lt;br /&gt;6. Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial, oleh para anggota suatu masyarakat. Sehingga suatu kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan dan tata kelakuan tetapi suatu sistem perilaku yang terorganisasi. Dan kebudayaan melingkupi semua aspek dan segi kehidupan manusia, baik itu berupa produk material atau non material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, yang terdiri dari berbagai budaya, menjadikan perbedaan antar-kebudayaan, justru bermanfaat dalam mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. Pluralisme masyarakat dalam tatanan sosial agama, dan suku bangsa telah ada sejak jaman nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan secara damai merupakan kekayaan yang tak ternilai dalam khasanah budaya nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUBUNGAN ANTARA BAHASA DAN BUDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai teori mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Ada yang mengatakan bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Sebaliknya, ada juga yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia atau masyarakat penuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.10 Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masinambouw menyebutkan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Kalau kebudayaan itu adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam, du buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang, sisi yang satu sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FENOMENA ANTARA BAHASA DAN BUDAYA&lt;br /&gt;Bahasa bukan saja merupakan "property" yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Dari sudut pandang wacana, makna tidak pernah bersifat absolut; selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.11 Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk; dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish. Melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal ini bisa terjadi ? semua ini karena bahasa itu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain berarti gabah dan pada konteks lain lagi berarti beras atau padi. Lalu karena makan nasi bukan merupakan budaya Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyakatnya tidak berbudaya makan nasi; tidak ada kata yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin: brother dan sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia: yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga berarti adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5684332751232297591?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5684332751232297591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/hubungan-bahasa-dengan-budaya.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5684332751232297591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5684332751232297591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/05/hubungan-bahasa-dengan-budaya.html' title='Sosiolinguistik : Hubungan Bahasa dengan Budaya'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfwW7Vzz-HI/AAAAAAAAANg/5egZbfpcjBg/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-3136286455723816435</id><published>2009-04-30T05:10:00.000-07:00</published><updated>2009-07-06T01:13:03.737-07:00</updated><title type='text'>Cerpen : Tajug Nadhoman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfmWjAoO9XI/AAAAAAAAANY/Lv4njp4K-Kw/s1600-h/1101230332_nvensional-copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 211px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfmWjAoO9XI/AAAAAAAAANY/Lv4njp4K-Kw/s400/1101230332_nvensional-copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330457162178033010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;cerpen Feri Muhammas Sukur. di jurnal bogor edisi 26 April 2009&lt;br /&gt;Beliau adalah ketua divisi sastra Komunitas Anak Sastra UPI Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari udara yang menyembur dari kedalaman rongga mulut, Jumadi menghela nafas sedalam mungkin. Dari dalam perut yang tak bisa mengharap kesabaran lanjut. Setelah matahari mencapai pecat sawed, Jumadi tak mendapati seorang pun datang ke tajug biasa adanya pangaosan nadhoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari rabu, kampung Cireuleu akan hangat oleh nadhoman yang dibacakan kaum tua. Kaum yang mengharapkan kemaslahatan akhirat lebih dari kaum muda.&lt;br /&gt;Tapi kaum tua satu persatu tumpur, hilang masuk ke dalam bumi, kemudian tidak berganti dengan generasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini adalah hari Rabu. Hari di mana para tua bersimpuh. Perempuan tua mengenakan samping. Bubututan ala kadarnya, dan kerudung tipis di kepalanya. Sedang para bapak akan datang dengan batik atau koko, sarung, kopeah, dan sebungkus bako lengkap dengan pahpir daun kawung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajug masih kosong. Jumadi membuka lagi ingatan yang telah menumpuk.&lt;br /&gt;Sejak kedatangannya kembali ke kempung ini, tanah kelahiran yang lama ia tinggalkan, bersama istri dan dua anaknya, Iman Suherman dan Sri Rahayu, Jumadi membuka lahan kecil di samping rumahnya. Dulu itu kebun paling banyak menghasilkan jagong, sampeu, dan juga beberapa samara dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kata bapaknya dulu, ketika ia masih jumeneng, jika kita ingin menyedekahkan dengan pahala yang belipat ganda, sedekahkanlah sesuatu yang paling kita cintai. Dan Jumadi mencintai kebun itu sebagai tonggak pialang untuk Jumadi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya istri Jumadi –Nurkumalasari, tidak setuju kebon itu dijadikan tajug. Sebagai lahan paling produktif, tentunya sangat berat melepaskan itu semua.&lt;br /&gt;“Mau makan apa kita nanti, Akang?”&lt;br /&gt;“Rizki itu ada di tangan gusti Allah, Nur. Kita kan masih punya sawah di leuwi tiga puluh tumbak. Itu lebih cukup dari makan kita.dan menjamu warga yang datang ke pangaosan nanti”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur tidak bisa lagi bicara. Yang ia lakukan hanya bisa berdoa untuk kemaslahatan bersama. Masyarakat dan keluarganya.&lt;br /&gt;Pertama kali ia datang ke kampung itu, masyarakat kampung Cireuleu ini jauh dari jalan kelurusan. Segala peningalan leluhur masih mengakar kuat. Jangjawokan, nyupang, ngamat, masih saja menjadi kehidupan sehari-hari. Sesajen setiap panen dan tanam padi masih saja ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lambat laun, Jumadi dengan sabar membimbing mereka ke arah yang diridoi Allah. Tak jarang, untuk membimbing mereka Jumadi merelakan beras di goah dibagikan pada masyarakat yang ikut pengajian. Dan untuk Jumadi, dia merasa cukup kenyang tajugnya penuh. Walau hanya oleh orang-orang senja saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu cukup menghaluskan hati mereka. Sesajen yang bisaa masyarakat kampung itu dibiarkan hilang sendirinya, dimakan ronda atau hewan, kini berubah menjadi upacara cacarakan bagi warga sekitar. Nasi kuning, telor rebus, daging suwir, kerupuk, mie bihun, sambel, dan juga lalapan alakadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dengan jangjawokan. Dengan peerjuangan yang sulit, melawan arus adat istiadat, Jumadi membawa nadhoman. Jumadi mengajarkan mereka nadhoman seminggu sekali. Di hari rabu. Pukul tujuh hingga pukul setengah sembilan. Sedikit menyisihkan waktu dari waktunya menuju sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat rizki dari panennya yang sukses, Jumadi membeli sebuah speaker sederhana yang bisa menjangkau sekampung Cireuleu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertamanya merasa terganggu dengan adanya pengeras suara itu, tapi akhirnya, lagu nadhoman bisa menarik perhatian mereka untuk sejenak menyisihkan waktu untuk bertemu dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, nadhoman melekat di hati masyarat dan memberikan warna tersendiri dari tajug itu. Orang-orang pun menamakan tajug itu sebagai tajug nadhoman. Karena dari tajug itulah mereka mengenal nadhoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumadi dan istrinya setiap kali pengajian reboan, mereka memasak makanan alakadarnya. Yang lebih banyak dari bisaanya. Tumpeng, bolocot, tutug oncom dan juga sambal dan lalabnya, surawung, daun sampeu, dan juga irisan bonteng. Terkadang leupeut dan gorengan, bugis, kicimpring, dan makanan kampung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah bahagianya Jumadi melihat semua itu. Usahanya untuk mengislamkan umat Islam itu telah mendapatkan titik terang dari Allah. Walaupun terkadang ia harus merasa kenyang dengan nadhoman yang menggema ke seluruh pojok kampung saja.&lt;br /&gt;Tapi setelah hujan menjadi hal yang langka. Wabah merajalela. Tikus menggasak semua pare mereka. Tanah tandus. Air hilang. Udara panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladang dan sawah terbengkalai. Kelaparan menerjang. Satu persatu para tua mati. Kuburan menjadi begitu banyak. Istigasah telah berulangkali di kumandangkan, tapi seolah Allah tak menghiraukan, setelah kebaikan yang mereka mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang kambali berpikir. Pada sesajen. Jangjawokan. Ngamat. Kembali kehilangan ruh Allah. Orang jarang pergi lagi berjamaah. Pengajian kosong. Satu persatu dari mereka mundur untuk duduk bersimpuh pada Allah. Tajug kembali lagi berdebu. Masyarakat kampung lupa entah melupakan dirinya. Setelah para tua meningal, dan sebagian meninggalkan, kini tinggallah Jumadi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumadi sering duduk sendiri di papangge tajug. Melempar pandangan pada hamparan sawah yang tandus, kering, tanpa padi. Ada beberapa orang melintas di galengan membawa tapian berisi makanan pakaulan. Pakaulan yang kembali pada patekong.&lt;br /&gt;Kemarau kepanjangan ini membuat anak-anak kecil malas tadarusan. Yang sedikit dewasa mencari pohon uang di kota. Mencoba memetik lembaran-lembaran uang, yang katanya di kota lebih mudah dari pada di kampung. Kampung menjadi sepi. Orang hilang dan meninggalkan  kampung. Juga tajug nadhoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang Rabu itu, waktu pecat sawed, Jumadi dan istrinya duduk-duduk di papangge tajug. Iman tertidur di dalam tajug, sedangkan Sri tertidur dalam siaran ibunya. Jumadi menatap kosong pada sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya tidak tahu apa yang dipikirkan suaminya. Nur membawa Sri masuk tajug, agar tidur bersama kakaknya di dalam. Nur keluar lagi, duduk kembali di samping suaminya. Dengan kesabaran, Nur menyentuh bahu Jumadi, lalu meletakkan kepalanya di bahu suaminya.&lt;br /&gt;Jumadi masih terdiam. Kopiah yang miring diambil Nur. Disimpannya di sisilain Jumadi. Jumadi akhirnya melempar pandangan pada istrinya itu. Nur tersenyum membalas tatapan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama pandangan Jumadi hinggap di senyuman itu. Jumadi berpikir, hanya senyum itu saja yang selalu menguatkan tajug ini berdiri. Senyum istrinyalah yang menyuburkan hari-harinya dalam berdakwah di kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumadi menghela nafas panjang. Mengulur kesabaran yang sudah menjualang terulur pada arasy Tuhan. Lalu Jumadi dan istrinya mendendangkan nadhoman beberapa bait.&lt;br /&gt;Sambil terus menunggu ada orang yang akan singgah di tajug nadhoman, dan membaca nadhoman bersama-sama.&lt;br /&gt;Bandung, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-3136286455723816435?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/3136286455723816435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/tajug-nadhoman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3136286455723816435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3136286455723816435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/tajug-nadhoman.html' title='Cerpen : Tajug Nadhoman'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SfmWjAoO9XI/AAAAAAAAANY/Lv4njp4K-Kw/s72-c/1101230332_nvensional-copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1742203438547151073</id><published>2009-04-20T07:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T07:41:34.765-07:00</updated><title type='text'>Menggali Kreatifitas Dengan Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeyI9C1VWeI/AAAAAAAAAMg/gN5uFOvWkVA/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeyI9C1VWeI/AAAAAAAAAMg/gN5uFOvWkVA/s400/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326783041586420194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kreatifitas dan intelektualitas selalu dipandang sebagai dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan, esensinya, jati diri dan eksistensi menjadi titik awal sebuah perubahan. Perubahan tersebut mengacu ada pembentukan karakteristik tiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruang lingkup proses pembelajaran, konsep mengenai kreatifitas dan intelektualitas memang diperlukan. Jika dilihat dari segi fungsi dan hakikatnya, konsep tersebut menunjukan adanya suatu pembelajaran yang didasari oleh gagasan, ide, kekuatan berpikir, dan jiwa kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan konsep tersebut, mungkin akan terwujud dalam dunia tulis menulis, mengapa demikian? Karena sesungguhnya dalam bentuk pembelajaran tersebut, akan digali antara kreativitas tiap individu dan kekuatan intelektalitasnya. Pada kondisi seperti inilah karakteristik seseorang dapat dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan dari seseorang akan mencerminkan kepribadian dan jiwa intelektualitasnya. Bahkan dengan menulis kita bisa melihat kemampuan seseorang dalam mengolah bahasa. Dari fenomena tersebut muncul berbagai macam tipe manusia, ada orang yang pandai berbicara, tetapi kurang pandai menulis, atau sebaliknya ada orang pandai menulis tetapi kurang pandai berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menjadi penulis profesional?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada permasalahan yang cukup mendasar dalam persepsi dunia tulis menulis, orang akan langsung tertarik dunia tersebut, ketika dia melihat orang yang sudah mahir menulis. Sehingga ada satu keinginan yang begitu berlebih dalam mencapai cita-citanya. Banyak orang yang putus ditengah jalan karena mereka tidak mampu menjalani jalan panjang untuk menjadi penulis, bahkan sebagian sudah tidak bersemangat lagi untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam menggapai predikat penulis profesional bukan perkara mudah, ada suatu jalan panjang yang dilalui. Jalan panjang tersebut adalah suatu hambatan, dimana setiap hambatan yang kita lalui akan menjadi guru yang paling berharga. Pada kondisi seperti inilah diperlukan jiwa kesabaran dan ketekunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi penulis professional berarti menjadi sebuah tujuan, bukan sebuah keinginan. Tujuan disini berarti ada suatu jalan yang kita lalui, disaat seperti itulah kenikmatan menulis didapatkan. Jalan yang panjang tersebut tidaklah dapat dicapai dengan mudah apabila tidak ada keinginan yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya untuk menjadi penulis profesinal, bukan perkara bisa atau tidak, bakat atau tidak bakat, tetapi yang terpenting adalah niat dan dan keinginan. Seperti yang telah saya tulis diatas terkadang niat untuk menjadi penulis akan menjadi barometer keberhasilan. Andaikata pada suatu saat kita mengalami jalan buntu, tetapi karena niat kita benar-benar matang, pasti akan melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat tanpa dilandasi usaha, sepertinya hanya omongan usang yang tidak perlu didengarkan. Seperti yang tertera dalam agama “Doa dan Ihtiar”. Dimana ada niat, disana ada jalan. Mungkin pepatah tersebut seharusnya diteken kepada para penulis pemula, saya juga tentunya yang masih mencari jati diri dengan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kondisi seerti inilah, kita sudah seiap bertempur, dengan niat dan usaha sepertinya bukan hal yang tidak mungkin ikita menjadi penulis professional, tetapi bukan hanya jala pintas tetapi memang ada jalan panjang yang harus dilalui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis pemula seperti saya, terkadang bingung juga, “apa yang harus saya tulis”. Tetapi sebenarnya menjawab pertanyaan ini amatalah mudah untuk dijawab dan bahkan dilakukan. Pertama coba tuliskan apa yang ada dipikiran anda, terserah apa saja. Pada akhirnya anda akan menemukan pokok permasalahan yag anda tulis, dari pokok permasalahan tersebut kembangkan menjadi paragraph pendukung. Kebiasaan saya menulis adalah menulis pikiran pokok dulu untuk setiap paragraph, minimal 12 pikiran pokok, sehingga nantinya akan didapat artikel tulisan yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang paling mudah untuk menulis, adalah menulis artikel yang sifatnya real time, misalnya menulis artikel yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, anda hanya perlu menonton TV selama 30 menit, tentunya berita yang harus ditonton. Setelah anda menyaksikan berita, kita tulis kembali dengan bahasa kita sendiri, dengan gaya kita. Pada kondisi seperti inilah kita akan menemukan gaya menulis. Kalau gaya menulis sudah didapat alhasil, arikel sesulit apapaun pasti akan kita kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk menumbuhkan jiwa menulis adalah dengan membawa buku catatan kemanapun pergi. Apa yang anda lihat, cobalah tulis, apa yang anda dengar, cobalah anda catat. Konsep seperti ini sangat mungkin membuat anda menjadi penulis yang profeiosnal, karena disinilah anda dituntut untuk peka terhadap lingkungan yang ada. Ingat penulis yang professional dalah penulis yang mampu mendeskripsikan kejadian yang ada dilapangan ke dalam bentuk tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membuat media komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi dan penyebaran tulisan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menumbuhkan kreatiftas dan eksistensi anda, misalnya cobalah untuk membuat blog. Blog saya sarankan karena pembuatnnya mudah dan tidak memakan banyak biaya dan waktu, tetapi manfaatnya amat besar bagi kuita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog sebagai media eksistensi adalah sarana untuk menyebarkan tuisan. Jangan sampai bentuk kreatifitas anda dengan menulis hanya diam dan tertutup rapat dalam kertas kerja, kalau sikap seperti itu bagaimana mungkin kita bisa menyebarkan luaskan ide dan gagasan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dan gagasan tersebut sebenarnya untuk memancing reaksi orang lain terhadap tulisan kita. Baaimanapun juga tulisan yang baik adalah tulisan yang menimbulkan reaksi dan tanggapan dari orang lain, percuma saja tulisan yang anda buat tidak menimbulkan apa-apa. Justru penulis profesioanal adalah penulis yang mampu membentuk opini publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat ketika melakukan pelaihan di Unit Pers Mahasiswa ISOLA POS, bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu menimbulkan emosi pembaca, dan bahkan menimbulkan pengalaman baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah seorang teman saya pernah bertanya, kenapa anda susah-susah membuat blog hanya untuk memampang tulisan saya, kenapa tidak dikirmkan saja ke media masa. Sebenarnya pertanyaan tersebut mudah untuk dijawab, saya membuat blog untuk membuat media sendiri. Seperti punya rumah sendiri di blog kita bisa menulis apapun dan kapanpun anda mau, tanpa ada interferensi dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada tahap awal dituntut untuk membawa catatan kecil setiap anda pergi, sekarang kita beralih ke yang lebih bergengsi. Anda dituntut untuk memuat media sendiri, yang namanya media tentu harus dapat menarik orang lain. Tulisan yang kita buat minuimal dapat bermanfaat bagi orang lain. Sekiranya anda sudah mahir dalam menulis dan mengelola blog anda, ada baiknya tulisan yang dibuat coba dikirmkan lewat media masa.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Konsistensi dan rutinitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada permasalahan yang cukup mendasar dalam membetuk karakter seorang menjadi jiwa penulis professional, yaitu bentuk konsistensi dan rutinitas. Percuma saja kita mempunyai rasa niat dan keinginan yang cukup kuat tanpa dibarengi dengan konsistensi dan rutinitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hal tersebut perlu? Sangat perlu, karena disilah sebenarnya kita diuji antara menjadi penulis profesioanal atau menjadi penulis pecundang. Jangan sampai menulis itu hanya sebatas keinginan sesaat, dan tidak berkelanjutan. Intinya kita harus mempunyai semacam agenda untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya agenda tersebut tidak mutlak diperlukan, misalnya kita sedang senang menulis opini politik, tapi kita paksakan utuk menulis opini lainnya, maka hal tersebut hanya percuma dilakukan. Dosen saya pernah berkata “ Ketika ide anda masih anda, tetapi anda berhenti menulis maka tulisan anda blong. Sebaliknya ketika ide anda sudah tidak ada, tapi memaksakan menulis, maka tulisan anda bohong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal ada bentuk kesungguhan dalam menulis, ingat kita sudah mepunyai blog. Sebisa mungkin ada bentuk konsistensi dalam menulis artikel di blog kita, misalnya harian, atau mingguan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menumbuhkan konsistensi tersebut? Memang ada anggapan bahwa menulis itu ada masa subur dan tidak subur, menurut pendapat saya ada benarnya juga. Tetapi kalau kita hanya terjebak dalam permainan perasaan, mau kapan majunya. Cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa menulis adalah menumbuhkan inspirasi anda, misalnya dengan menonton TV, mendengarkan lagu dll. Ingat penulis yang baik adalah penulis yang peka terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa penulis pujaan anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin anda bertanya-tanya kenapa harus ada penulis yang dikagumi. Inilah sebenarnya barometer semangat anda. Jangan sampai anda putus di tengah jalan dengan tidak ada inspirasi dan tujuan yang jelas. Dengan menjadikan penulis idola anda, sebenarnya anda akan menemukan gaya menulis, dan konsep dari kepenulisannya. Minimal anda tahu dan menemukan gaya tersendiri dengan mencontoh dan meniru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu mengikuti mata kuliah dasar-dasar Jurnalistik. Dosen saya mengatakan, penulis terkenal sekalipun akan meniru gaya penulis idolanya, tidak ada penulis yang mampu berdiri sendiri. Penyair sekelas Sapardi Djoko Damono, masih dipengaruhi oleh puis-puisi karangan Amir Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondasi pembelajaran untuk menjadi penulis professional sebenarnya akan dilandasi dari keinginan anda untuk meniru dan mencontoh penulis idola anda, dari mencontoh dan meniru tersebut, suatu saat anda akan menemukan sendiri gaya menulis dan menemukan titik ”enak” dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, penulis idola saya, tentunya penulis yang mampu membangkitakan dan menumbuhkan semangat menulis dalam diri saya sendiri. Maklum saya jebolan anak STM yang tidak tahu dunia tulis menulis. Seperti yang saya jelaskan di awal tulisan, terkadang manusia hanya dibekali satu kemampuan, yaitu kreativitas, mungkin dengan menulis dapat menjadikan saya menjadi orang yang menjunjung tinggi kreativitas dan intelektualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang mampu membangkitkan jiwa kepenulisan itu adalah, wartawan senior tempo, Goenawan Muhammad. Saya sering menyebutnya “bang caping”. Karena sebenarnya dialah yang mengisnpirasi saya untuk menulis bahkan membuat blog. Tulisannya dimuat di blog pribadinya, di catatanpinggir.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana saya dapat pembelajaran? Saya pernah mengikuti seminar beliau yang diadakan oleh mahasiswa FIKOM UPAD, sungguh merupaka pelajaran yang cukup berharga, dan jujur membaca tulisan beliau, menuntun saya untuk menemukan gaya kepenulisannya. Pada kondisi awal kepenulisan, saya bingung juga “apa yang harus saya tulis”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya masih bisa menemukan kata-kata mutiara, bahkan kalimat kunci kepenulisan beliau. Misalnya kalau ingin menulis artikel mengenai politik, saya seperti biasa akan menggunakan lead “Ada permasalaha yang cukup mendasar….”. Memang kekuatan lead yang beliau tulis begitu kuat. Tinggal saya sendiri mengembakan gaya kepenulisa saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sepertinya tidak adil saya hanya bercakap dengan tulisan ini, saya bukan penulis terkenal dan bukan penulis professional. Tetapi otak saya memaksa saya untuk menulis. Ingin rasanya orang mengenal saya dengan tulisan. Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bermanfaat baik bagi diri saya maupun bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1742203438547151073?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1742203438547151073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/menggali-kreatifitas-dengan-menulis.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1742203438547151073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1742203438547151073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/menggali-kreatifitas-dengan-menulis.html' title='Menggali Kreatifitas Dengan Menulis'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeyI9C1VWeI/AAAAAAAAAMg/gN5uFOvWkVA/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8358912901412402685</id><published>2009-04-17T02:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T03:01:37.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Menggali Esensi Kebudayaan Lama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SehTdsk1ytI/AAAAAAAAAMY/w4PYmtH67sE/s1600-h/foklor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SehTdsk1ytI/AAAAAAAAAMY/w4PYmtH67sE/s400/foklor.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325598329012603602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar atau tidak, perkembangan kebudayaan Indonesia dewasa ini, tidak akan terlepas dari peran kebudayaan lama/kuno. Kebudayaan lama tersebut merupakan cerminan dan bentuk kebudayaan awal yang membentuk kebudayaan Indonesia selanjutnya. Namun, yang menjadi permasalahan, generasi muda sekarang ini sudah tidak mengenal lagi adanya mengenai kebudayaan lama. Pada kondisi seperti inilah berarti ada suatu ketimpangan budaya, tidak ada sinkronisasi antara kebudayaan kuno dan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan konsep kebudayaan terpadu, hubungan antara antara kebudayaan lama dan kebudayaan modern, eharusnya terjalin dengan erat. Mengapa demikian? Karena itulah sebenarnya jati diri bangsa kita. Kalau kita sudah tidak menghargai kebudayaan lama, sepertinya bangsa yang dahulu dianggap sebagai lumbung kebudayaan dunia hanya tianggal kenangan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati sastra lama dalam rangkan menggali kebudayaan Indonesia merupakan usaha yang erat hubungannya dengan pembangunan bangsa Indonesia. Pembangunan negara yang &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;sifatnya multikompleks memberi tempat kepada bidang mental dan spiritual. Sastra lama merupakan sumber yang kaya untuk menggali unsur-unsur spiritual itu. Dalam hal ini, bangsa Indonesia boleh berbangga karena memiliki dokumentasi sastra lama yang benar-benar merupakan khazanah yang penuh berisi kekayaan yang tidak terhingga nilainya. Sastra lama Indonesia yang terdapat di beberapa daerah, misalnya Jawa, Melayu, Sunda, Madura, Bali, Aceh, Makasar, dan Bugis merupakan rekaman Kenudayaan Indonesia dari kurun silam yang mengandung berbagai lukisan kehidupan, buah pikiran, ajaran budi pekerti, nasihat, hiburan, pantangan, termasuk kehidupan keagamaan pada wakti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami hasil sastra, khususnya sastra lama, pengetahuan yang memadai tentang latar belakang penciptaan dan sosiokultural karya sastra itu akan dapat membantu. Pengetahuan sosiokultural itu, antara lain, kepercayaan, agama, pandangan hidup, adat istiadat, sosial, politik, dan ekonomi (Wellek), 1956:61-61). Untuk mengungkapkan kembali latar nelakang kebudayaan sastra lama diperlukan pengetahuan masa hidup dan sejarah penyebarannya. Di antara manfaat mempelajari sastra lama adalah mengenal kekayaan kebudayaan sendiri dan kebesaran masa lampau untuk kepentingan pembentukan masa sekarang dan masa yang akan datang, memperluas pandangan hidup kemanusiaan, memperluas pengetahuan tentang dunia luas di luar masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi kemudian perlu memanfaatkan peninggalan yang tersebar di berbagau daerah di Indonesia. Peninggalan-peninggalan itu perlu diamati dan digali serta hasilnya dipublikasikan untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian, persepsi tentang nusantara akan lebih luas, tidak terbatas pada daerah ataupun suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari sejarah memiliki arti yang sangat pentinga dalam kehidupan. Ada tiga manfaat yang dapat ditemukan dalam mempelajari sejarah (Nugroho Notosusanto, 1964:61) yaitu:&lt;br /&gt;1. Memberikan pendidikan.&lt;br /&gt;2. Memberikan ilham dan Ispirasi.&lt;br /&gt;3. Memberikan kesengan atau pleasure,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sejumlah naskah nusantara yang mengandung fakta sejarah yang oleh pengarangnya diolah sedemikian rupa sehingga menjadi suatu sajian yang berupa rekaan yang menarik, misalnya Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, dan Babad Tanah Jawi. Mengingat sastra adalah cermin masyarakat, dalam kaitanya dengan sejarah bangsa Indonesia, naskah-naskah sastra lama itu sangat penting dan sangat berguna untuk dipelajari. Dengan memahami sejarah Indonesia pada masa lampau maka arah pembentukan keperibadian bangsa Indonesia akan lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, penggalian naskah Nagarakretagama penting bagi pembangunan Negara Republik Indonesia di masa kini karena Nagarakretagama berisi sejarah pembangunan kerajaan Majapahit di masa lampau. Sejarah masa silam merupakan senjata yang ampuh, yang adapat digunakan untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perjuangan kebudayaan untuk membentuk keperibadian serta masa depan bangsa. Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gakah Mada telah dapat mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh Nusantara. Pembangunan kerajaan Majapahit enam abad yang lampau itu ada titik pertemuan dengan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa kini meskipun kondisnya berbeda (Slametmulyana, 1979).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman pemerintah yang diuraikan berdasarkan sejarah Islam dengan contoh-contoh dalam bentuk hikayatyang di sana-sini disertai dalil-dalil kutipan dari %uran dan Hadis dapat dikaji melalui naskah Tajussalatin dan Bustanussalatin. Kedua karya itu merupakan hasil sastra lama yang dilakukan oleh raja-raja, menteri, hulubalang, bendahara, penulis, para duta, dan pejabat kerajaan lainnya, terhadap Allah dan Rakyat;demikian juga sebaliknya, bagaimana kewajiban yang harus dilaksanakan oleh rakyat terhadap terhadap Allah dan negara (Siti Chamamah, 1981; Khalid Hussain, 1966). Lambang negara Bhineka Tunggal Ika, dari semula sudah diketahui bahwa asalnya bukan dari Sansekerta. Kalimat itu diambil dari kitab Jawa Kuna Sutasoma (CXXXIX,5). Unsur Sansekertanya hanyalah kata bhinna (Haryati Soebadio, 1983 :556 dan 561).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;Pikiran saya yang memaksa untuk menulis&lt;br /&gt;Sadi, Suripan, Mutiara yang Terlupakan, HISKI JATIM, 1991&lt;br /&gt;Mata Kuliah Folklor Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, Balai Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8358912901412402685?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8358912901412402685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/menggali-esensi-kebudayaan-lama.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8358912901412402685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8358912901412402685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/menggali-esensi-kebudayaan-lama.html' title='Menggali Esensi Kebudayaan Lama'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SehTdsk1ytI/AAAAAAAAAMY/w4PYmtH67sE/s72-c/foklor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2997045654546835541</id><published>2009-04-14T14:30:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T15:16:14.847-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik : Diglosia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeUKfRa-sAI/AAAAAAAAAMQ/uesE8SIL1Pw/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeUKfRa-sAI/AAAAAAAAAMQ/uesE8SIL1Pw/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324673666804264962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ah, sepertinya masih ingat dalam memoar saya, waktu tepat tanggal 12 desember, saya harus menyerahkan tugas mata kuliah Sosiolinguistik. Diglosia, begitulah kira-kira tugas yang harus saya selesaikan, walaupun jari kecil ini, tidak henti-hentinya mengetik hurup demi hurup, kata demi kata, akhirnya selesai juga. Selesai memang, apalagi ditemani dengan setumpuk pustaka acuan, yang telah siap dipelototi oleh mata saya selama berjam-jam, hanya untuk menangkap esensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama tugas tersebut, tersimpan dalam laptop, namun tidak terpikirkan untuk mempostingkannya. Kebetulan ada teman saya, Doni aditia dari Universitas Gajah Mada, meminta kepada saya untuk memposting artikel mengenai kajian sosiolinguistik yaitu diglosia. Seperti apa fenomena diglosia dalam tataran sosiolinguistik, berikut pemaparannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diglosia dalam perspeptif umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah diglosia ini pertama kali digunakan dalam bahasa Perancis diglossie yang diserap dari bahasa Yunani διγλωσσία, 'dwibahasa') oleh bahasawan Yunani Ioannis Psycharis. Ahli bahasa Arab William Marçais lalu juga menggunakannya pada tahun 1930 untuk menuliskan situasi bahasa di dunia Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Yang dimaksud ialah bahwa terdapat perbedaan antara ragam formal atau resmi dan tidak resmi atau non-formal. Contohnya misalkan di Indonesia terdapat perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, istilah diglosia tersebut menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah digunakan oleh C.A. Ferguson, seorang sarjana dari Stanford University pada tahun 1958 dalam sebuah symposium tentang “Urbanisasi dan Bahasa-bahasa Standar” yang diselenggarakan oleh American Antropological Association di Washington DC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat dimana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing punya peranan tertentu. Ferguson membahas diglosia ini dengan mengemukakan sembilan topic, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standarisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, dan fonologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi merupakan kriteria diglosia yang sangat penting. Menurutnya, dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu bahasa. Variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R). dalam bahasa Arab dialek T-nya adalah bahasa arab klasik, bahasa al-Qur’an yang disebut al-Fusha. Dialek R-nya adalah berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakn oleh bangsa Arab yang lazim disebut ad-Darij. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pristise. Dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menganggap bahwa dialek T lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang dan merupakan bahasa yang logis. Sedangkan dialek R dianggap inferior, malah ada yang menolak keberadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerolehan dialek T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan dialek atau ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman. Dan karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan kalau standarisasi dilakukan terhadap ragam T tersebt melalui kodifikasi formal. Kamus, tata bahasa, petunjuk lafal, dan buku-buku kaidah untuk penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Stabilitas dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama dimana ada sebuah variasi bahasa yang dipaertahankan eksistensinya dalam masnyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diglosia menurut pandangan Ferguson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari suatu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Rumusan asli Ferguson tentang diglosia adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain terdapat sejumlah dialek-dialek-dialek utama (lebih tepat:ragam-ragam utama) dari satu bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dialek-dialek utama itu, di antaranya bisa berupa sebuah dialek standar, atau sevuah standar regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki ciri&lt;br /&gt;- Sudah sangat terkodifikasi&lt;br /&gt;- Gramatikalnya lebih kompleks&lt;br /&gt;- Merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati&lt;br /&gt;- Dipelajari melalui pendidikan formal&lt;br /&gt;- Digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal &lt;br /&gt;- Tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan sehari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferguson membicarakan diglosia itu dengan mengambil contoh empat buah masyarakat tutur dengan bahasa mereka. Keempat masyarakat tutur itu adalah masyarakat tutur bahasa Arab, Yunani modern, Jerman Swiss, dan Kreol Haiti.Diglosia ini dijelaskan oleh Ferguson dengan mengetengahkan sembilan topik, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standarisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, dan fonologi. Berikut kita bicarakan secara singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi merupakan kriteria diaglossa yang sangat penting. Menurut ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari suatu bahasa, Variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T atau ragam T), dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R atau Ragam R). Dalam bahasa Arab dialek T-nya adalah bahasa Arab klasik, bahasa Al5uran yang lazim disebut al-fusha, dialek R-nya adalah berbagai bentuk bahasa Arab yang digunakan oleh bangsa Arab, yang lazim disebut addarij. Dalam bahasa Yunani dialek T-nya disebut Katharevusa, yaitu bahasa Yunani murni dengan ciri-ciri linguistik Yunani klasik: Sedangkan dialek R-nya disebut dhimotiki, yakni bahasa Yunani Lisan. Dalam bahasa jerman-Swiss dialek T-nya adalah Jerman Standar, dan dialek R-nya adalah berbagai dialek bahasa Jerman. Di Haiti, yang menjadi dialek T-nya adalah bahasa Francis, sedangkan bahasa R-nya adalah bahasa Kreol-Haiti, yang dibuat berdasarkan bahasa Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan dialek T atau R yang tidak cocok dengan situasinya menyebabkan si penutur bisa disoroti, mungkin menimbulkan ejekan, cemoohan, atau tertawaan orang lain.  Sastra dan puisi rakyat memang menggunakan dialek R, tetapi banyak anggota masyarakat yang beranggapan bahwa hanya sastra/puisi dalam dialek T-lah yang sebenarnya karya sastra suatu bangsa. Dalam pendidikan formal dialek T harus digunakan sebagai bahasa pengantar, namun seringkali sarana kebahasaan menggunakan dialek R. Di Indonesia juga ada perbedaan ragam T dan ragam R bahasa Indonesia, ragam T digunakan dalam situasi formal seperti di dalam pendidikan; sedangkan ragam R digunakan dalam sistuasi nonformal seperti dalam pembicaraan dengan teman karib, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestise, dalam masyarakat diglosis para penutur biasanya menggunakan dialek T lebih bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan merupakan bahasa yang logis. Sedangkan dialek R dianggap inferiror; malah ada yang menolak keberadaannya. Menurut Ferguson banyak orang Arab dan Haiti terpelajar menganjurkan agar dialek R tidak perlu digunakan, meskipun dalam percakapan sehari-hari mereka menggunakan dialek R itu. Anjuran golongan terpelajar Arab dan Haiti itu tentu merupakan kekeliruan, sebab dialek T dan dialek R mempunyai fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan. Dalam masyarakat Indonesia pun ragam bahasa Indonesia baku dianggap lebih bergengsi daripada ragam bahasa Indonesia nonbaku. Dalam masyarakat Melayu/Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu juga ada pembedaan bahasa Melayu T dan bahasa Melayu R, di mana yang pertama menjadi bahasa sekolah, dan yang kedua menjadi bahasa pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan kesusastraan. Pada tiga dari empat bahasa yang digunakan Ferguson sebagai contoh terdapat kesusastraan di mana ragam T yang digunakan dan dihormati oleh masyarakat bahasa tersebut. Kalau ada juga  karya sastra kontemporer dengan menggunakan ragam T , maka dirasakan sebagai kelanjutan dari tradisi itu, yakni bahwa karya sastra harus dalam ragam T. Tradisi kesusastraan yang selalu dalam ragam T ini (setidaknya dalam empat contoh diatas) menyebabkan kesusastraan itu menjadi asing dari masyarakat umum. Namun, kesusastraan itu menjadi asing dari masyarakat umum. Namun, kesusastraan itu tetap berakar, baik di negara-negara berbahasa Arab, bahasa Yunani, bahasa Prancis di Haiti, dan Bahasa Jerman di Swiss yang berbahasa Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerolehan. Ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali. Mereka yang mengenal ragam T hampir tidak pernah menguasai dengan lancar, selancar  penguasaannya terhadap ragam R. Alasannya, ragam T tidak selalu digunakan, dan dalam mempelajarinya selalu terkendali dengan berbagai kaidah dan aturan tata bahasa; sedangkan ragam R digunakan secara reguler dan terus menerus di dalam pergaulan sehari-hari. Dalam masyarakat diglosis banyak orang terpelajar menguasai dengan baik kaidah-kaidah ragam T, tetapi tidak lancar menggunakan ragam tersebut. Sebaliknya, mereka tidak tahu atau tidak pernah memperhatikan kaidah-kaidah tata bahasa ragam R, teapi dengan lancar mereka dapat menggunakan ragam tersebut. Dalam beberapa masyarakat diglosis malah banyak penutur yang mengatakan  bahwa ragam R tidak punya tata bahasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hubungan Bilingualisme dengan Diglosia&lt;br /&gt;Ketika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa dan bilingualisme sebagai adanya penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam masyarakat, maka Fishman menggambarkan hubungan diglosia sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilingualisme dan diglosia&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat yang dikarekterisasikan sebagai masyarakat yang bilingualisme dan diglosia, hamper setiap orang mengetahui ragam atau bahasa T dan ragam atau bahasa R. kedua ragam atau bahasa itu akan digunakan menurut fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilingaulisme tanpa diglosia&lt;br /&gt;Dalam masyarakat yang bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah individu yang bilingual, namun mereka tidak membatasi penggunaan bahasa untuk satu situasi dan bahasa yang lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi dan tujuan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diglosia tanpa bilingualisme&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat yang berisi diglosia tapi tanpa bilingualisre terdapat dua kelompok penutur. Kelompok pertama yang biasanya lebih kecil, merupakan kelompok ruling group yang hanya bicara dalam bahasa T. sedangkan kelompok kedua yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbicara bahasa R. situasi diglosia tanpa bilingualisme banyak kita jumpai di Eropa sebelum perang dunia pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bilingualisme dan tidak diglosia&lt;br /&gt;Masyarakat yang tidak diglosia dan tidak bilingual tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala tujuan. Keadaan ini hanya mungkin ada dalam masyarakat primitive atau terpencil, yang dewasa ini tentunya sukar ditemukan. Masyarakat yang tidak diglosia dan bilingual ini akan mencair apabila telah bersentuhan dengan masyarakat lain&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pustaka Acuan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mata Kuliah Sosiolinguistik, Universitas Pendidikan Indonesia &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alwasiah, A Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung:Angkasa &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Badudu,J.S.1989. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pateda, Mansyur.1987. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1980. Sosiolinguistik :Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Balai Pustaka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;www.wikipedia.com &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang disempurnakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2997045654546835541?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2997045654546835541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/sosiolinguistik-diglosia.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2997045654546835541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2997045654546835541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/sosiolinguistik-diglosia.html' title='Sosiolinguistik : Diglosia'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SeUKfRa-sAI/AAAAAAAAAMQ/uesE8SIL1Pw/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-45156883645197636</id><published>2009-04-07T22:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T22:22:01.582-07:00</updated><title type='text'>Golongan Putih Melawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sdw0UKGZk3I/AAAAAAAAAMI/mzpWm4H5sXk/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sdw0UKGZk3I/AAAAAAAAAMI/mzpWm4H5sXk/s400/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322186380558308210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika poros politik nasional memanas dengan adanya pemilu, mucul segelintir orang yang mengatasnamakan Golput (Golongan Putih), Seperti apa mereka ini. Sampai-sampai fatwa haram dikeluarkan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bak jamur di musim hujan, fenomena golongan putih muncul dan bahkan menjadi tren di negara kita. Tengok saja dalam pemilihan gubernur kemarin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mensinyalir orang yang menggunakan hak pilihnya lebih kecil dari golput sendiri. Dalam pemilihan gubernur Jawa Barat misalnya, masyarakat yang menggunakan hak pilihnya mencapai 40 persen, sementara orang yang yang memilih golput mencapai 60 persen. Dari fenomena tersebut keefektifan pemilu mulai diperhitungkan, lebih-lebih  biaya yang untuk menyelenggarakan pemilu mencapai 50 Triliun rupiah. Bayangkan jika dana tersebut dibagikan untuk rakyat, mungkin ceritanya lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut bukan tanpa alasan, penulis mensinyalir, ada pemicu utama yang menjadikan fenomena tersebut menjadi tren. Pertama, ada ketimpangan sosial antara pemilih dan yang dipilih. Orang sudah bosan dengan banyaknya kasus calon rakyat yang bermasalah, orang sudah bosan dengan janji-janji yang tidak terrealisasi, dan orang sudah muak dengan politisi busuk. Berpijak dari fenomena tersebut, kiranya masyarakat berpikir, untuk apa saya memilih kalau toh&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;ujung-ujungnya seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada rasa gengsi berlebihan diantara pemilih, biasanya orang-orang seperti ini tidak mempunyai pendiirian yang kuat, mereka hanya ikut-ikutan golput tanpa tahu sisi baik dan buruknya. Padahal golongan seperti ini harus digalakan untuk disosialisasikan baik dan buruknya memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan pemilu sekarang&lt;br /&gt;Jika kita menghitung hari, mungkin hanya tinggal satu hari lagi pemilu akan digelar, penulis merasa pesimis bahwa angka golput akan berkurang. Justru dengan banyaknya partai, calon legislator, dan tentunya saja janji-janji murahan calon tersebut. Masyarakat tentunya sudah pintar mana yang harus dipilih dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya fenomena tersebut dapat kita jadikan acuan dan pijakan, jangan sampai golput hanya dijadikan sebagai fenomena biasanya. Seharusnya kita harus jeli lagi melihatnya, golput bukan lahir dari keinginan untuk meruntuhakan bangsa, tetapi dimaksudkan untuk kritkan pedas bagi pendiri bangsa sekarang ini. Partai politik harus bisa intropeksi dan membenahi diri, apa yang harus dilakukan untuk kedepannya. Jangan sampai kita memilih caleg yang ujungujungnya bermasalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya memilih caleg tentunya bukan hanya membeli kucing dalam karung, kita harus jeli dan benar-benar tahu apa visi-misi dari setiap caleg, yang otomatis kita sendiri termakan janjinya. Memang tidak dapat disangkal bahwa jualan produk caleg adalah janji dan realita, jangan sampai memilih caleg yang janjinya selangit, namun pada pelaksanaannya dipertanyakan. Kalau kejadian ini terus berlanjut, saya yakin bangsa kita tidak akan maju-maju, ujung-ujungnya demontrasi dan aksi penolakan terhadap pemimpin baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang golput diancam?&lt;br /&gt;Setelah fenomena golput mulai santer dibicarakan, ada kekhawatiran bahwa fenomena-fenomena seperti mulai merebak ke segenap lapisan masyarakat. Fenomena semacam ini bukan hanya masalah buth-buth atau tidak mencontreng, tetapi ini masalah ideology pemilih. Apalagi akhir-akhir ini ada tokoh nasional yang secara terang-terangan mengajak untuk golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari terang-terangan mengejak golput, ada kekhawatiran dari para penyelenggara pemilu da konco-konconya bahwa fenomana ini semakin meluas, untuk itu perlu ada tindakan khusus atau lebih tepatnya tindakan keras, Bukan apa-apa mereka beranggapan bahwa penyelenggaraan pemilu merupakan hajat hidup rang banyak, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan orang yang tidak menggunakan hak pilihnya, aturan tersebut dikeluarkan untuk menekan angka golongan putih. Tujuan lain mungkin juga, agar tidak terjadi pemborosan pemilu, namuan apakah analogi dan keputusan tersebut benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri berpendapat bahwa peraturan tersebut kurang tepat, kenapa demikian? Pertama, kita harus ingat bahwa pemilu nanti kita menggunakan hak pilik, bukan kewajiban memilih. Yang namanya hak, tentu saja bisa dilaksanakan atau tidak. Tetapi sepertinya keputusan tersebut memaksakankita untuk memilih, SAYA TAKUT BANYAK ORANG INDONESIA, BANYAK YANG MASUK NERAKA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, seharusnya jawaban dari fenomena golput tersebut bukan seperti itu, tetapi bagaimana para elite politik memperbaharui sikap dan tingkah laku mereka yang seperti taman kanak-kanak. Nah bagaimana dengan pemilu nanti, anda akan menjadi orang golput, itu terserah anda, hak memilih adadi tangan kita. Saya hanya berpesan jangan memilih caleg atau partai yang visi-misinya tidak jelas, buat apa kita memilih kalau hanya asal-asalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih &lt;br /&gt;Hendri hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mempropokasi anda menjadi orang golput, tetapi bagaimana kita sebagai masyarakat yang cerdas, tahu dan hati-hati memilih caleg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat nasib bangsa ditentukan oleh anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-45156883645197636?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/45156883645197636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/golongan-putih-melawan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/45156883645197636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/45156883645197636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/golongan-putih-melawan.html' title='Golongan Putih Melawan'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sdw0UKGZk3I/AAAAAAAAAMI/mzpWm4H5sXk/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7485621924172149263</id><published>2009-04-06T03:01:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:04:29.163-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik : Perencanaan Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdnTfdJEEZI/AAAAAAAAAMA/-aqjtDhsXEs/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdnTfdJEEZI/AAAAAAAAAMA/-aqjtDhsXEs/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321516972067000722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat dua hari yang lalu, ada kawan kita yang minta kepada saya untuk menjelaskan mengenai perencanaan bahasa. Untuk itu dalam artikel kecil ini akan dibahasa mengenai bagaimana hubungan bahasa dan kebijakan yang diambil oleh para ahli linguistik untuk melangsungkan suatu sistem bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan perencanaan bahasa sepeetinya tidak akan lepas dari kebijakan dan pengembangan itu sendiri. Mengapa demikian karena itulah sesungguhnya konsep dari perencanaan bahasa. Bagaimana dengan keadaan perencanaan bahasa di Indonesia sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin jika kita sedikit menengok ke belakang tepatnya tanggal 28 oktober lahirlah sumpah pemuda yang yang menjadi pijakan awal bangsa ini untuk menentukan kea rah mana konsep dari perencanaan bahasanya. Mungkin jika sedikit dijabarkan pada waktu itu bangsa kita sudah mempunyai perencanaan bahasa(language planning) . Walaupun memang secara politik bangsa belum merdeka, tetapi untuk mengedepankan aspek kebahasaan bangsa kita sudah memikirkannya jauh-jauh. Yaitu Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sampai diperlukan perencanaan bahasa? Perencanaan bahasa itu sendiri apabila saya jabarkan adalah suatu konsep untuk mementukan kebijakan, penerapan dan pengembangan bahasa dalam suatu Negara tertentu. Ada beberapa factor yang mendasarinya, pertama ditinjau dari segi kebudayaan, bangsa tersebut mememiliki banyak bahasa sehingga perlu memilih bahasa mana yang akan &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;digunakan, misalkan bangsa kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, untuk mempertahankan bahasa asli Negara tersebut, agar tidak tergerus oleh bahasa asing yang masuk. Biasanya konsep tersebut diterapkan untuk memperlancar komunikasi baik dalam bidang pemerintahan, maupun kehidupan social lainnya. Oleh karena itu dikenal dengan adanya bahasa Nasiona, Bahasa resmi kenegaraan, dan bahasa Kedaerahaan. Contohnya Negara Somalia yang digolongkan ke dalam bangsa Tipe Eksoglosik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pengembangan dan pembinaan bahasa, antara lain kebijakan bahasa dan perencanaan bahasa. Ini bertujuan agar masalah pemilihan atau penentuan bahasa tertentu sebagai alat komunikasi di dalam negara itu tidak menimbulkan gejolak politik yang pada gilirannya akan dapat menggoyahkan kehidupan bangsa di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan berlama-lama lagi, berikut konsep dari perencanaan bahasa  yang diawali dengan kebijakan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kebijakan bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang dimaksud kebijakan bahasa itu? Kalau kita mengikuti rumusan yang disepakati dalam seminar politik bahasa nasional yang diadakan di Jakarta tahun 1975 maka kebijakan bahasa itu dapat diartikan sebagai pertimbnagan konseptual dan politis yang dimaksudkan untuk dapat memberi perencanaan, pengarahan dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengelolaan keseluruhan kebahasaan yang dihadapi oleh suatu bnagsa secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah kebahasaan  yang di hadapi setiap bangsa adalah tidak sama, sebab tergantung terhadap situasi kebahasaan yang ada di dalam negara itu. Negara-negara yang sudah memiliki sejarah kebahasaan yang cukup, dan di dalam negara itu hanya ada satu bahasa saja (meskipun dengan sekian dialek dan ragamnya) cenderung tidak mempunyai masalah kebahasaan yang serius. Negara yang demikian, misalnya, Saudi Arabia, Jepang, Belanda dan Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi negara-negara yang terbentuk, dan memiliki sekian bahasa banyak bahasa daerah akan memiliki persoalan kebahasaan yang cukup serius, dan mempunyai kemungkinan untuk timbulnya gejolak sosial dan polotik akibat persoalan bahasa itu. Indonesia sebagai negara yang relatif baru dengan bahasa daerah yang tidak kurang dari 400 buah, agak beruntung sebap masalah-masalah kebahasaan yang terjadi di negara lain, secara historis telah agak terselesaikan sejak agak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pengangkatan bahasa Indonesia yang terjadi pada tanggal 28 oktober 1928 dalam satu ikrar yang disebut soempah pemoeda itu tidak pernah menimbulkan protes atau reaksi negatif dari suku-suku lain di Indonesia, meskipun jumlah penuturnya lebih banyak, berlipat ganda. Kemudian, penetapan bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dalam undang-undang Dasar 1954 pun tidak menimbulkan masalah. Oleh karna itulah, para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan bahasa yang menetapkan fungsi-fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing dapat melakukannya dengan mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kebijakan bahasa adalah dapat berlangsungnya komunikasi kenegaraan dan komunikasi intra bangsa dengan baik, tanpa menimbulkan gejolak sosial dan gejolak sosial yang dapat mengganggu stsbilitas bangsa. Oleh karena itu, kebijakan bahasa yang telah di ambil Indonesia dari perkataan diatas bisa dilihat bahwa kebijaksanaan bahasa merupakan usaha kenegaraan suatu bangsa untuk menentukan dan menetapkan dengan tepat fungsi dan status bahasaatau bahasa-bahasa yang ada di negara tersebut, agar komunukasi kenegaraan dan kebangsaan dapat berlangsung dengan baik. Selain memberi keputusan mengenai status, kedudukan, dan fungsi suatu bahasa, kebijakan bahasa harus pula memberi pengarahan terhadap pengolahan materi bahasa itu yang biasa disebut sebagai korpus bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perencanaan bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat urutan dalam penanganan dan pengolahan masalah-masalah kebahasaan dalam negara yang multilingual, multirasial, dan multikultural, maka perencanaan bahasamerupakan kegiatan yang harus dilakukan sesudah melakukan kebijaksanaan bahasa. Tetapi sebelumnya perlu juga diketahui bahwa ada pula pakar yang memasukkan kebijaksanaan bahasa itu sebagai satu tahap dalam perencanaan bahasa (Neustupni 1970, Gorman 1973, dan Garvin 1973). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah perencanaan bahasa (language planning) mula-mula digunakan oleh haugen (1959) pengertian usaha untuk membimbing perkembangan bahasa ke arah yang di inginkan oleh para perencana. Menurut hougen selanjutnya, perencanaan bahasa itu tidak semata-mata meramalkan masa depan berdasarkan dari yang diketahui pada masa lampau, tetapi perencanaan itu merupakan usaha yang terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kegiatan yang serupa dengan language planning ini sebenarnya sudah berlangsung sebelum nama itu diperkenalkan oleh hougen(moeliono 1983), yakni sejak zaman pendudukan Jepang ketika ada komisi bahasa Indonesia sampai ketika Alisjahbana menerbitkan majalah pembina bahasa Indonesia tahun 1948. Malah kalau mau dilihat lebih jauh, language planning di Indonesia sudah dimulai sejak Van op huijsen menyusun ejaan bahasa Melayu (Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah memahami apa yang dimaksud dengan perencanaan bahasa itu, maka masalah berikut yang timbul adalah siapa yang harus melakukan perencanaan bahasa itu. Siapapun sebenarnya bisa menjadi pelaku perencanaan itu dalam arti perseorangan atau lembaga pemerintah atau lembaga suasta. Dalam sejarahnya, tampaknya, yang menjadi pelaku perencanaan itu adalah lembaga kebahasaan, baik dalam instansi maupun bukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia lembaga yang terlibat dalam perencanaan dan pengembangan bahasa dimulai dari berdirinya commisie voor de volkslectuur yang didirikan oleh kolonial pemerintahan belanda pada tahun 1908, yang pada tahun 1917 berubah menjadi balai pustaka. Lembaga ini dengan majalahnya sari pustaka, panji pustaka, dan kedjawen dapat dianggap sebagai perencanaan dan pengembangan bahasa. Lalu, pada tahun 1942 pemerintah penduduk Jepang membentuk dua komisi bahasa Indonesia satu di Jakarta dan satu lagi di Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi ini diberi tugas untuk mengembangkan bahasa Indonesia lewat pembentukan istilah keilmuan, penyusunan tatabahasa baru, dan penentuan kata pungutan baru(moeliono 1983). Sesudah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1947 pemerintah indonesia membentuk panitia pekerja bahasa Indonesia dengan tugas mengmban peristilahan, menyusun tata bahasa sekolah, dan menyiapkan kamus baru untuk keperluan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perencanaan bahasa tentunya harus diikuti dengan langkah-langkah pelaksanaan apa yang direncanakan. Pelaksanaan yang berkenaan dengan korpus bahasa adalah penyusunan sistim ejaan yang ideal (baku) yang dapat digunakan oleh penutur dengan benar, sebap adanya sistem ejaan yang di sepakati akan memudahkan dan melancarkan jalannya komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan perencanaan bahasa ini kemungkinan besar akan mengalami hambatan yang mungkin akibat dari perencanaannya yang kurang tepat; bisa juga dari para pemegang tampuk kebijakan, dari kelompok sosial tertentu, dari sikap bahasa para penutur, maupun dari dana dan ketenagaan. Perencanaan yang kurang tepat bisa bersumber dari pengambilan kebijaksanaan yang tidak tepat atau keliru, karena salah mengistemasi masalah kebahasaan yang harus diteliti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan dari pemegang tampuk kebijakan bisa terjadi karna mereka yang memegang tampuk kebijakan diluar bidang bahasa. Di Indonesia, misalnya tidak jarang, ada orang yang cukup berpengaruh bukannya tidak memberi contoh penggunaan bahasa yang baik, malah juga melakukan tindakan yang tidak menunjang pembinaan bahasa. Antara lain dengan mengatakan “soal bahasa adalah urusan guru bahasa” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil atau tidaknya usaha perencanaan bahasa ini adalah masalah evaluasi. Dalam hal ini memang dapat dikatakan evaluasi keberhasilan perencanaan bahasa itu memang sukar dilaksanakan. Umpamanya, bagaimana mengevaluasi keberhasilan dalam bidang pembukuan bahasa, sebap pembukuan bahasa itu tidak disertai dengan pemerian terperinci mengenai sasarannya, dan tidak pula diberi kerangka acuan waktu bilamana hasil kira-kira akan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Kuliah Sosiolinguistik, Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alwasiah, A Chaedar. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung:Angkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badudu,J.S.1989. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pateda, Mansyur.1987. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1980. Sosiolinguistik :Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga Balai Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.wikipedia.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang disempurnakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7485621924172149263?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7485621924172149263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/sosiolinguistik-perencanaan-bahasa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7485621924172149263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7485621924172149263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/sosiolinguistik-perencanaan-bahasa.html' title='Sosiolinguistik : Perencanaan Bahasa'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdnTfdJEEZI/AAAAAAAAAMA/-aqjtDhsXEs/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7105182439697326313</id><published>2009-04-01T05:32:00.000-07:00</published><updated>2009-04-01T05:39:32.818-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Kedwibahasaan Dalam Pandangan Sosiolinguistik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNgZu_BSBI/AAAAAAAAAL4/d1pjolHZmBs/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNgZu_BSBI/AAAAAAAAAL4/d1pjolHZmBs/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319701580080039954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira tiga hari yang lalu ada e-mail yang menanyakan kepada saya mengenai kedwibahasaan. Untuk itu dalam artikel singkat ini akan dibahas kembali kedwibahasaan dalam kacamata sosiolinguistik. Mudah-mudahan berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Kedwibahasaan&lt;br /&gt;Menurut para pakar linguistik kedwibahasaan didefinisikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Robert Lado (1964-214)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya. Secara teknis pendapat ini mengacu pada pengetahuan dua bahasa, bagaimana tingkatnya, oleh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MacKey (1956:155)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan adalah pemakaian yang bergantian dari dua bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hartman dan Stork (1972:27)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan adalah pemakain dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat ujaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bloomfield (1958:56)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan merupakan kemamouan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh seorang penutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;5. Haugen (1968:10)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan adalah tahu dua bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diuraikan secara lebih umum maka maka pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseftif oleh seorang individu atau oleh masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Tipologi kedwibahasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Menurut Weinreich (1953)&lt;br /&gt;tipologi kedwibahasaan didasarkan pada derajat atau tingkat penguasaan seorang terhadap ketrampilan berbahasa. Maka Weinreich membagi kedwibahasaan menjadi tiga yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kedwibahasaan Majemuk (compound bilingualism)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik daripada kemampuan berbahasa bahasa yang lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Kedwibahasaan Koordinatif / sejajar.&lt;br /&gt;Kedwibahasaan koordinatif/sejajar adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c. Kedwibahasaan Sub-ordinatif (kompleks)&lt;br /&gt;Kedwibahasaan sub-ordinatif (kompleks) adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Baeten Beardsmore (1985:22)&lt;br /&gt; menambahkankan satu derajat lagi yaitu kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimemiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai B2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut Pohl (dalam baetens Beardmore, 1985;5) tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu:&lt;br /&gt;a. Kedwibahasaan Horisontal (horizontal bilingualism)&lt;br /&gt;Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaanmaupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kedwibahasaan Vertikal (vertical bilinguism)&lt;br /&gt;Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kedwibahasaan Diagonal (diagonal bilingualism)&lt;br /&gt;Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menurut Arsenan (dalam Baerdsmore, 1985)&lt;br /&gt; tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa, maka ia mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kedwibahasaan produktif (productive bilingualism) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan simetrik (symmetrical bilingualism) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu tyerhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualism) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  DIAGLOSIA DALAM KEDWIBAHASAN&lt;br /&gt;Diaglosia adalah situasi dimana dau dialek atau lebih biasa dipakai.(Charles Fergison 1959:136). Diaglosia adalah suatu situasi bahasa yang relatif stabil dimana, selain dari dialek-dialek utama satu bahasa(yang memungkinkan mencakup satu bahasa baku atau bahasa-bahasa baku regional), ada ragam bahasa yang sangat berbeda, sangat terkondifikasikan dan lebih tinggi, sebagai wacana dalam kesaeluruhan kesusastraan tertulis yang luas dan dihormati, baik pada kurun waktu terdahulu maupun masyarakat ujaran lain, yang banyak dipelajari lewat pendidikan formal dan banyak dipergunakan dalam tujuan-tujuan tertulis dan ujaran resmi, tapi tidak dipakai oleh bagian masyarakat apa pun dalam pembicaraan-pembicaraan biasa.(Hudson 1980:54). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diaglosia adalah hadirnya dua bahasa baku dalam satu bahasa, bahasa tinggi dipakai dalam suasana-suasana resmi dan dalam wacana-wacana tertulis, dan bahasa rendah dipakai untuk percakapan sehari-hari.(Hartmann &amp; Strork 1972:67). Diaglosia adalah persoalan antara dua dialek dari satu bangsa, bukan antara dua bahasa. Kedua ragam bahasa ini pada umumnya adalah bahasa baku (standard language) dan dialek derah regional daerah (regional dialect).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. PARAMETER/PENGUKURAN DIAGLOSIA&lt;br /&gt;Mackey (1956) mengemukakan bahwa pengukuran kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Aspek tingkat.&lt;br /&gt;Dapat dilakukan dengan mengamati kemampuan memakai unsur-unsur bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon serta ragam bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Aspek fungsi&lt;br /&gt;Dapat dilakukan melalui kemampian pemakaian dua bahsa yang dimiliki sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengukuran kedwibahasaan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang menyangkut pemakaian bahasa secara internal. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar bahasa. Hal ini antara lain menyangkut masalah kontak bahasa yang berkaitan dengan lamanya waktu kontak seringnya mengadakan kontak bahasa si penutur dapat ditentukan oleh lamanya waktu kontak, seringnya kontak dan penekannya terhadap bidang-bidang tertentu. Misalnya, bidang ekonomi, budaya, politik,dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Aspek pergantian&lt;br /&gt;Yaitu pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai bahasa mampu berganti dari satu bahasa kebahasa yang lain. Kemampuan berganti dari satu bahasa ke bahasa yang lain ini tergantung pada tingkat kelancarn pemakaian masing-masing bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Aspek interferensi&lt;br /&gt;Yaitu pengukuran terhadap kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh terbawanya kebiasaan ujaran berbahasa atau dialek bahasa pertama terhadap kegiatan berbahasa&lt;br /&gt;Robert Lado (1961) mengemukakan agar dalam pengukuran kedwibahasaan seseorang dilakukan melalui kemampuan berbahasa dengan menggunakan indikator tataran kebahasaan (sejalan dengan Mackey)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelly (1969) menyarankan agar kedwibahasaan seseorang diukur dengan cara mendeskripsikan kemampuan berbahas seseorang dari masing-masing bahasa dengan menggunakan indikator elemen kebahasaan kemudian dikorelasikan untuk menentukan keterampilan berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John MacNawara (1969) memberikan disain teknik pengukuran kedwibahasaan dari aspek tingkat dengan cara memberikan res kemampuan berbahasa dengan menggunakan konsep dasar analisis kesalahan berbahasa. Pengukuran dapat memakai indikator membaca pemahaman, membaca leksikon, kesalahan ucapan, kesalahan ketatabahasaan, interferensileksikal B2, pemahaman bahasa lisan, kesalahan fonetis, makna kata dan kekayaan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pendapat-pendapat diatas yaitu Jakobovits (1970) memberikan desain teknik pengukuran kedwibahasaan dengan cara:&lt;br /&gt;1. menghitung jumlah tanggapan terhadap rangsangan dalam B1&lt;br /&gt;2. menghitung jumlah tanggapan dalam rangsangan dalam B2 terhadap B1.&lt;br /&gt;3. menghitung perbedaan total antara B1 dan B2.&lt;br /&gt;4. menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B1&lt;br /&gt;5. menghitung jumlah tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalm B2.&lt;br /&gt;6. menghitung tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalam B1.&lt;br /&gt;7. menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B2.&lt;br /&gt;8. menghitung tanggapan terjemahan terhadap rangsangan dalam B2.&lt;br /&gt;9. menyatakan hasil dalam bentuk prosentase, dan&lt;br /&gt;10. menghitung tanggapan dua bahasa terhadap rangsangan B1 dan B2 jika memungkinkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lambert (19550 mengajukan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan dengan mengungkapkan dominasi bahasa, artinya bahasa mana dari dari kedua bahasa itu dominan Mackey (1968) memberikan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan menggunakan tes ketrampilan berbahasa masing-masing bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7105182439697326313?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7105182439697326313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/kedwibahasaan-dalam-pandangan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7105182439697326313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7105182439697326313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/kedwibahasaan-dalam-pandangan.html' title='Kedwibahasaan Dalam Pandangan Sosiolinguistik'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNgZu_BSBI/AAAAAAAAAL4/d1pjolHZmBs/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2127729389321640637</id><published>2009-04-01T05:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:44:04.587-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>Tokoh Dunia : JUSTINIAN I 483-565</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNd_bHjCpI/AAAAAAAAALw/w2N7vOUep4w/s1600-h/justinian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 212px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNd_bHjCpI/AAAAAAAAALw/w2N7vOUep4w/s400/justinian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319698929047243410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;oleh Michael H. Hart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ke-96&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar Justinian terkenal karena kodifikasi hukum Romawi yang dilaksanakan di masa pemerintahannya. Kode Justinian menyelamatkan karya kreatif Romawi yang genius di bidang jurisprudensi yang selanjutnya jadi dasar perkembangan hukum di banyak negara-negara Eropa. Mungkin, tak ada kode hukum lain yang begitu punya pengaruh berjangka lama atas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justinian dilahirkan sekitar tahun 483 di Tauresium yang kini berada di wilayah Yugoslavia. Dia kemenakan Justin I, petani Thracian yang boleh dibilang buta huruf, yang naik jenjang lewat karier militer hingga sampai puncak jadi penguasa Kekaisaran Romawi bagian timur. Justinian yang meski juga berasal dari keluarga petani, peroleh pendidikan baik dan berkat bantuan pamannya maju cepat. Tahun 527, Justin yang tak punya anak mengangkat Justinian jadi pembantu Kaisar mendampinginya. Di ujung tahun itu pula Justin meninggal dunia dan sejak itu hingga kematiannya sendiri tahun 565 Justinian jadi satu-satunya kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 476, persis tujuh tahun sebelum Justinian lahir, Kekaisaran Romawi bagian barat sudah keok berantakan akibat gempuran suku Barbar Jerman dan cuma Kekaisaran Romawi &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;sebelah timur yang beribukota Konstantinopel yang tetap tak terjamah. Justinian ditakdirkan merebut kembali wilayah barat kekaisaran dan membangun empirium Romawi dan memang selagi jadi Kaisar sebagian terpokok energinya tertumpah untuk cita-cita ini. Dalam rencana ini dia sebagian berhasil karena dia bisa rebut kembali Italia, Afrika Utara dan sebagian Spanyol dari gangguan orang-orang Barbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tempat Justinian di daftar urutan buku ini tidaklah bergantung pada gerakan militernya, melainkan pada peranannya dalam hal kodifikasi hukum Romawi. Di awal-awal tahun 528, tahun dia naik tahta, Justinian membentuk sebuah panitia menyusun kode hukum-hukum kekaisaran. Pekerjaan panitia ini pertama diterbitkan tahun 529, kemudian diperbaharui dan didekritkan jadi hukum dalam perundang-undangan tahun 534. Pada saat yang berbarengan, semua perintah dan aturan terdahulu yang tidak termasuk dalam kode dinyatakan tidak berlaku. "Codex" ini merupakan bagian pemula dari "Corpus Juris Civils." Bagian keduanya, disebut "Pandects," atau "Digets" adalah ringkasan dari pandangan penulis-penulis soal hukum Romawi yang kenamaan. Itu pun punya pengaruh mengikat. Bagian ketiga, yang disebut "Institutes", intinya merupakan buku baku buat pelajar-pelajar ilmu hukum. Akhirnya hukum-hukum itu yang disahkan oleh Justinian sesudah penerimaan "Codex" dihimpun jadi satu menjadi "Novellae" yang diterbitkan sesudah meninggalnya Justinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, akibat kesibukan Justinian baik dalam peperangan maupun dalam administrasi pemerintahan, tidak sempat secara pribadi merancang "Corpus Juris Civils." Kodifikasi yang diperintahkan Justinian sebenarnya digarap oleh kelompok sarjana hukum di bawah pengawasan hakim besar dan ahli hukum Tribonian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justinian, seorang yang punya semangat kerja luar biasa, juga mengabdikan sebagian perhatiannya dalam usaha melakukan pembaharuan tata administrasi pemerintahan, termasuk sebagian gerakan yang berhasil membabat korupsi di kalangan pejabat pemerintah. Dia memberikan dorongan untuk perkembangan perdagangan dan industri, dan ikut campur dalam rencana pembangunan besar perumahan rakyat. Di bawah pemerintahannya, banyak benteng-benteng, biara-biara, dan gereja-gereja (termasuk "Hagia Sophia" di Konstantinopel) dibangunnya. Rencana pembangunan perumahan ini dan peperangan-peperangan yang dilancarkannya membuahkan kenaikan pajak-pajak dan pelbagai ketidakpuasan. Di tahun 532 pecah pemberontakan (pemberontakan Nika) yang nyaris membikin dia kehilangan tahta. Sesudah pemberontakan itu digencet habis, boleh dibilang amanlah mahkota Justinian bertengger di kepalanya. Meski begitu, pada saat kematiannya tahun 565 banyak orang bersorak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justinian dapat bantuan moril besar dari istrinya yang cakap, Theodora. Karena itu sudah selayaknya di sini dipaparkan sedikit tentang Theodora ini. Theodora lahir sekitar tahun 500. Di masa remaja puterinya, Theodora menjadi aktris dan menjadi semacam pelacur tingkat tinggi yang hanya melayani kalangan terbatas. Dari pekerjaan ini dia peroleh anak sundal. Umurnya dua puluh tahun tatkala dia bertemu Justinian, hanya dua tahun sebelum dia naik tahta. Justinian mafhum kebisaan istrinya yang luar biasa, karena itu dijadikannya penasihatnya dan dipercaya melakukan pelbagai tugas diplomatik. Dia punya pengaruh terhadap peraturan-peraturan yang dikeluarkan Justinian, termasuk beberapa pengesahan hukum yang memperbaiki hak-hak dan status wanita. Kematiannya di tahun 548 akibat serangan kanker merupakan kehilangan besar buat Justinian meskipun sisa tujuh belas tahun pemerintahannya masih mencatat keberhasilan-keberhasilan. Theodora yang jelita dan brilian senantiasa jadi sasaran pelbagai kerja seni, dilukis, dipahat, dipatungkan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempatan Justinian dalam daftar urutan buku ini paling utama lantaran arti penting "Corpus Juris Civils"-nya yang menegakkan wibawa pengukuhan kembali hukum Romawi. Ini penting artinya buat empirium Byzantium selama berabad-abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Romawi Barat hal ini umumnya dilupakan orang selama sekitar 500 tahun. Tetapi sekitar tahun 1100 pengkajian hukum Romawi bangkit kembali, khususnya di perguruan-perguruan tinggi di Italia. Selama di penghujung Abad Pertengahan, "Corpus Juris Civils" menjadi landasan pokok pengembangan sistem hukum di benua Eropa. Negeri-negeri yang mengalami perkembangan ini disebut memiliki sistem Hukum Sipil, sebagai lawan dari "Hukum Publik" (umum) yang umumnya berlaku di negeri-negeri yang berbahasa Inggris. "Corpus Juris Civils" tidaklah diterima secara keseluruhan di mana-mana. Tetapi, sebagian daripadanya digabungkan ke dalam hukum sipil dan di hampir seluruh Eropa dia menjadi basis pelajaran hukum, latihan, dan ceramah. Karena banyak negeri-negeri non Eropa akhirnya menerima bagian-bagian dari hukum sipil, pen.garuh "Corpus Juris Civils" betul-betul meluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari soal itu, keliru juga melebih-lebihkan arti penting kode Justinian. Banyak pengaruh-pengaruh penting lain dalam kaitan perkembangan hukum sipil di samping "Corpus Juris Civils" ini. Misalnya hukum-hukum yang berhubungan dengan soal kontrak lebih banyak berasal dari praktek nyata para pedagang dan keputusan-keputusan pengadilan perdagangan ketimbang berasal dari hukum Romawi. Hukum Jerman dan hukum gereja juga dipengaruhi oleh hukum sipil. Di jaman modern --tentu saja-- hukum Eropa dan sistem hukumnya telah mengalami penyempurnaan banyak sekali. Kini, intisari hukum dari umumnya hukum sipil di banyak negara sedikit sekali persamaannya, dengan kode Justinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;Michael H. Hart, 1978&lt;br /&gt;Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982&lt;br /&gt;PT. Dunia Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Jln. Kramat II, No. 31A&lt;br /&gt;Jakarta Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2127729389321640637?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2127729389321640637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/justinian-i-483-565.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2127729389321640637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2127729389321640637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/04/justinian-i-483-565.html' title='Tokoh Dunia : JUSTINIAN I 483-565'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SdNd_bHjCpI/AAAAAAAAALw/w2N7vOUep4w/s72-c/justinian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5086079540915175364</id><published>2009-03-27T06:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T07:04:18.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>Pengumuman GBSI 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sczc1VXOvGI/AAAAAAAAALo/_Z7bRYiZQjo/s1600-h/gbsi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 201px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sczc1VXOvGI/AAAAAAAAALo/_Z7bRYiZQjo/s400/gbsi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317868068843469922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikutilah GBSI 2009 Universitas Pendidikan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI) adalah program kerja Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Hima Satrasia) FPBS UPI Bandung. Di dalamnya terdapat acara-acara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lomba Baca Puisi Piala Rendra&lt;br /&gt;2. Lomba Tulis Puisi Piala Rektor UPI&lt;br /&gt;3. Lomba Cipta Cerpen Piala Balai Bahasa Bandung&lt;br /&gt;4. Lomba Tulis Esai Bahasa&lt;br /&gt;5. Loma Mendongeng Anak&lt;br /&gt;6. Lomba Tulis Surat untuk Walikota Bandung&lt;br /&gt;7. Diskusi Bahasa&lt;br /&gt;8. Diskusi Sastra&lt;br /&gt;9. Pelatihan Pembelajaran Berbasis TIK&lt;br /&gt;10. Bazaar&lt;br /&gt;11. Mading&lt;br /&gt;12. Senja Anugrah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiri diskusi sastra bersama Ahmad Tohari&lt;br /&gt;Dan diskusi linguistic bersama balai bahasa&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KETENTUAN LOMBA GBSI 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Pelajar&lt;br /&gt;1. Peserta adalah pelajar SMP/SMA sederajat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Membawa kartu pelajar pada saat pendaftaran&lt;br /&gt;3. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;4. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 30.000,- /orang&lt;br /&gt;5. Peserta adalah perwakilan atau perorangan&lt;br /&gt;6. Peserta dibatasi sampai 100 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Mahasiswa dan Umum&lt;br /&gt;1. Peserta adalah mahasiswa atau umum&lt;br /&gt;2. Membawa tanda pengenal pada saat pendaftaran&lt;br /&gt;3. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;4. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 35.000,-/orang&lt;br /&gt;5. Peserta dibatasi sampai 100 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Tulis Puisi Piala Rektor UPI&lt;br /&gt;1. Tema bebas&lt;br /&gt;2. Peserta Umum&lt;br /&gt;3. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;4. Ditik rapi di kertas A4, margin standar, font 12, spasi 2, huruf Times New Roman, dibuat Rangkap 4 dan disertai soft file dalam CD&lt;br /&gt;5. Tidak diperkenankan menulis identitas pada lembar karya (biodata terpisah) dan menyertakan foto copy tanda pengenal&lt;br /&gt;6. Dimasukkan pada amplop coklat A4, disudut kiri atas ditulis “LOMBA TULIS PUISI PIALA REKTOR UPI GBSI 2009"&lt;br /&gt;7. Biaya Pendaftaran Rp 20.000/judul&lt;br /&gt;8. Karya harus orisinil dan belum dipublikasikan&lt;br /&gt;9. Karya menjadi milik panitia&lt;br /&gt;10. Karya dikirim langsung atau melalui pos ke sekretariat GBSI 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Cipta Cerpen Piala Balai Bahasa&lt;br /&gt;1. Peserta Umum&lt;br /&gt;2. Tema Bebas&lt;br /&gt;3. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;4. Ditik rapi di kertas A4, margin standar, font 12, spasi 2, huruf Times New Roman, dibuat Rangkap 4 dan disertai soft file dalam CD&lt;br /&gt;5. karya dibatasi min. 6 lembar dan maks. 10 lembar&lt;br /&gt;6. Tidak diperkenankan menulis identitas pada lembar karya (biodata terpisah) dan menyertakan foto copy tanda pengenal&lt;br /&gt;7. Dimasukkan pada amplop coklat A4, disudut kiri atas ditulis “LOMBA CIPTA CERPEN PIALA BALAI BAHASA GBSI 2009"&lt;br /&gt;8. Biaya Pendaftaran Rp 20.000/judul&lt;br /&gt;9. Karya harus orisinil dan belum dipublikasikan&lt;br /&gt;10. Karya menjadi milik panitia&lt;br /&gt;11. Karya dikirim langsung atau melalui pos ke sekretariat GBSI 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Tulis Esai Bahasa&lt;br /&gt;1. Peserta Umum&lt;br /&gt;2. Tema “Pengaruh Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia dan Problematikanya”&lt;br /&gt;3. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;4. Ditik rapi di kertas A4, margin standar, font 12, spasi 2, huruf Times New Roman, dibuat Rangkap 4 dan disertai soft file dalam CD&lt;br /&gt;5. karya dibatasi min. 4 lembar dan maks. 6 lembar&lt;br /&gt;6. Tidak diperkenankan menulis identitas pada lembar karya (biodata terpisah) dan menyertakan foto copy tanda pengenal&lt;br /&gt;7. Dimasukkan pada amplop coklat A4, disudut kiri atas ditulis “LOMBA TULIS ESAI BAHASA GBSI 2009"&lt;br /&gt;8. Biaya Pendaftaran Rp 20.000/judul&lt;br /&gt;9. Karya harus orisinil dan belum dipublikasikan&lt;br /&gt;10. Karya menjadi milik panitia&lt;br /&gt;11. Karya dikirim langsung atau melalui pos ke sekretariat GBSI 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Mendongeng Anak&lt;br /&gt;1. Peserta adalah anak-anak usia maks. 12 tahun se-Bandung Raya&lt;br /&gt;2. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;3. Biaya Pendaftaran Rp 15.000/orang&lt;br /&gt;4. Peserta adalah perwakilan atau perorangan&lt;br /&gt;5. Peserta dibatasi sampai 40 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba Tulis Surat untuk Walikota Bandung&lt;br /&gt;1. Peserta adalah anak-anak usia maks. 12 tahun se-Bandung Raya&lt;br /&gt;2. Biaya Pendaftran Rp 15.000/orang&lt;br /&gt;3. Tema Surat “Andai Aku Menjadi Walikota Bandung”&lt;br /&gt;4. Penulisan surat dilakukan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan Pembelajaran Bahasa Berbasis TIK&lt;br /&gt;1. Tema “Pembuatan Media Pembelajaran Bahasa dengan Microsoft Power Point”&lt;br /&gt;2. Peserta adalah Guru Bahasa&lt;br /&gt;3. Biaya Pendaftaran Rp 150.000/orang&lt;br /&gt;4. Fasilitas: komputer untuk setiap orang, notebook, sertifikat, snack, makan siang dan pin&lt;br /&gt;5. Peserta dibatasi sampai 60 orang&lt;br /&gt;5. Pendaftaran dimulai sejak 10 Maret - 4 April 2009&lt;br /&gt;6. Menyertakan foto kopi identitas diri ketika mendaftar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi Bahasa&lt;br /&gt;1. Tema “Interferensi Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia”&lt;br /&gt;2. Peserta Umum&lt;br /&gt;3. Biaya Gratis&lt;br /&gt;4. Pemateri : Prof. Dr. H. A. Chaedar Alwasilah, MA. (Guru Besar UPI)&lt;br /&gt;Abdul Khak (Kepala Balai Bahasa Bandung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi Sastra&lt;br /&gt;1. Tema “Lokalitas dalam Karya Sastra”&lt;br /&gt;2. Peserta Umum&lt;br /&gt;3. Biaya Gratis&lt;br /&gt;4. Pemateri : Ahmad Tohari (Sastrawan)&lt;br /&gt;Hawe Setiawan (Sastrawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta Terbatas &lt;br /&gt;Sekretariat GBSI 2009&lt;br /&gt;Hima Satrasia FPBS UPI&lt;br /&gt;Gedung PKM UPI Lantai 2 Ruang 26&lt;br /&gt;Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, 40154&lt;br /&gt;CP : Sigit Widiatmoko (08562286995, 022-92972665)&lt;br /&gt;Rina Fitriani (081220083010)&lt;br /&gt;Email : gbsi2009_satrasia@yahoo.com&lt;br /&gt;Rek : 0110691457 Bank BNI cabang UPI Bandung a.n. Sigit Widiatmoko &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADWAL ACARA GBSI 2009&lt;br /&gt;Senin, 13 April 2009&lt;br /&gt;08.00 – 08.30 Pembukaan GBSI 2009&lt;br /&gt;08.30 – 12.00 Diskusi Bahasa &lt;br /&gt;“Interferensi Bahasa Asing Terhadap Bahasa Indonesia”&lt;br /&gt;13.00 – 16.30 Diskusi Sastra&lt;br /&gt;“Lokalitas dalam Karya Sastra”&lt;br /&gt;Selasa, 14 April 2009&lt;br /&gt;08.00 – 12.00 * Pelatihan Pembelajaran Bahasa Berbasis Teknologi Informasi dan&lt;br /&gt;Komunikasi&lt;br /&gt;* Lomba Tulis Surat untuk Walikota Bandung&lt;br /&gt;13.00 – 16.00 Lanjutan Pelatihan &lt;br /&gt;Rabu, 15 April 2009&lt;br /&gt;08.00 – 12.00 Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Pelajar&lt;br /&gt;12.00 – 13.00 Istirahat&lt;br /&gt;13.00 – 17.30 Lanjutan Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Pelajar&lt;br /&gt;Kamis, 16 April 2009&lt;br /&gt;08.00 – 12.00 Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Umum&lt;br /&gt;12.00 – 13.00 Istirahat&lt;br /&gt;13.00 – 16.00 Lanjutan Lomba Baca Puisi Piala Rendra Kategori Umum&lt;br /&gt;Jumat, 17 April 2009&lt;br /&gt;08.00 – 11.30 Lomba Mendongeng Anak &lt;br /&gt;11.30 – 13.30 Istirahat&lt;br /&gt;13.30 – 15.30 Lanjutan Lomba Mendongeng Anak&lt;br /&gt;Sabtu, 18 April 2008 &lt;br /&gt;13.00 – 15.00 Senja Anugrah&lt;br /&gt;15.00 – 16.00 Istirahat&lt;br /&gt;16.00 – 18.00 Lanjutan Senja Anugrah dan penutupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5086079540915175364?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5086079540915175364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pengumuman-gbsi-2009.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5086079540915175364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5086079540915175364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pengumuman-gbsi-2009.html' title='Pengumuman GBSI 2009'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sczc1VXOvGI/AAAAAAAAALo/_Z7bRYiZQjo/s72-c/gbsi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7702497604579496983</id><published>2009-03-25T07:41:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:47:04.289-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Cerpen : Penantian dalam Pencarian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScpIg7tFYbI/AAAAAAAAALg/hEt9QqIvbzA/s1600-h/cerpen+penantian+dalam+pencarian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 258px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScpIg7tFYbI/AAAAAAAAALg/hEt9QqIvbzA/s400/cerpen+penantian+dalam+pencarian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317142040684093874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen Kiriman Nike Angguni T.L dari BSI Kelas II C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa lihat komentar kami mengenai cerpen ini, untuk kritik dan sarannya ditunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita tentang perjalan hidup dan perjuangan untuk menemukan wanita yang telah melahirkanku. Inilah aku seorang gadis berusia 20 tahun . Aku adalah Yuri, Yurika Anastsya. Aku tinggal dipinggiran Kota Jakarta, di suatu pemukuiman yang warganya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sejak kecil aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku. Aku sangat menyayangi mereka tapi sejak 10 tahun yang lalu aku hanya tinggal berdua dengan Nenek, karena Kakek telah meninggal, sejak saat itu Nenek bekerja seorang diri demi menghidupiku. Nenek adalah semangatku, tetap tegar dan semangat bahkan Ia tak peduli dengan usianya kini telah lanjut . Aku selalu berdoa agar Nenek selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang, karena hanya Nenek-lah miliku satu-satunnya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku bekerja sebagai waitres. Aku bekerja paruh waktu sehingga aku bisa membantu-bantu nenek. Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan pendidikanku karena aku tak ingin terlalu menyusahkan Nenek. Padahal aku bercita-cita menjadi seorang dokter, tapi sepertinya itu ta akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, aku memilih untuk bekerja agar aku bisa membantu ekonomi Nenek. Apapun akan kulakukan untuk membahagiakan Nenek karena aku sangat menyayanginya. Jam kerjaku mulai dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Jadi sebelum aku pergi bekerja, Aku bisa membantu Nenek jualan dipasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibesarkan Nenek sejak bayi, tak jarang aku berpikir sebenarnya aku anak ibuku atau anak Nenekku? Belum pernah sekalipun aku bertemu dengan Ibuku, melihat langsung wajah Ibu. Aku hanya dapat melihat wajah Ibuku dari sebuah foto . Lantas kemanakah Ayahku? tak pernah sedikitpun Nenek bercerita tentang Ayahku, tentang Ibuku, setiap aku bertanya kepada Nenek, Ia hanya dapat menangis dan selalu bilang,  “Suatu saat nanti kamu pasti akan mengetahuinya, Nenek akan menceritakan semuanya jika sudah tepat waktunya.” Sebenarnya aku sangat ingin mengetahui lebih banyak cerita tentang kedua orang tuaku. Tapi aku juga tak ingin melihat nenek menangis, keceriaan Nenek adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Akhirnya aku tak pernah menanyakan hal itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini nenek alpa dari kegiatannya berdagang di pasar karena pagi ini nenek sakit, sehingga aku tak mengijinkanya untuk berjualan. Aku membiarkan Nenek beristirahat di rumah saat aku pergi bekerja, aku menitipkan Nenek kepada Mba Sri, tetanggaku yang sudah aku anggap seperti kakaku sendiri. Sedih rasanya melihat Nenek terbaring sakit. Tangan dan kaki nenek tak dapat bergerak, aku panik saat tahu itu sehingga aku langsung membawa Nenek ke Rumah Sakit, ternyata setelah diperiksa dokter, Nenek terkena serangan stroke. Aku sangat sedih mendengarnya. Tapi dengan penuh kasih sayang aku tetap marawat nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, Nenek memanggilku dan memintaku untuk duduk disamping ranjang tempatnya berbaring lemah. Ia berkata “ Nak, Nenek rasa kini tiba saatnya kamu tahu semua rahasia yang telah Nenek pendam selama 20 tahun, tapi nenek minta kamu jangan pernah sedikitpun membenci Nenek, karena Nenek telah menyimpan ini semua seumur hidupmu. Dan satu lagi nenek minta kepadamu, kamu harus menerima semua kenyataan yang ada dalam hidupmu. Nenek percaya, kau adalah anak yang baik dan tak akan mungkin membenci dan mengingkari kenyataan.” Rasa penasaranku semakin besar , ada apakah sebenarnya yang terjadi ? Akhirnya, nenek menceritakan semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh… Tuhan sungguh tak percaya dengan kenyataan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku adalah seorang pasien Rumah Sakit Jiwa, dan aku dalah anak seorang korban pemerkosaan. Mungkin karena itulah alasan Nenek tak pernah menceritakan keberadaan Ibu apalagi ayahku. Lantas siapakah Ayahku ? dan dimanakah Ia kini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa pemerkosaan itu, Ibu mengalami depresi berat sehingga akhirnya Ibu seorang pasien Rumah Sakit Jiwa di kota Bandung. Sewaktu Kakek masih hidup, Nenek dan kakek sering mengunjungi Ibu, hampir setiap minggu mereka mengunjunginya, sampai akhirnya Ibu melahirkan Aku. Melihat keadaan Ibu yang seperti itu, akhirnya Kakek dan Nenek membawaku pulang dan merawatku hingga kini aku menjadi seorang gadis yang tegar dan semangat seperti Nenek. Kakek dan Nenek mereka sibuk dengan pekerjaanya dan merawat aku akhirnya mereka jarang menemui Ibu apalagi setelah Kakek meninggal Nenek tak pernah lagi menemui Ibu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu hari, Nenek memberikan secarik kertas dan sebuah foto seorang wanita yang Nenek bilang itu adalah Ibuku. Pada foto itu tertera sebuah nama seorang wanita yaitu Lanny Widiawati itu adalah Ibuku. Nenek memintaku untuk menemui ibuku. Sungguh rasanya sangat tak mungkin untuk aku meninggalkan Nenek dalam keadaan sakit seperti itu. Apalagi mencari seorang tidak akan mungkin dalam 1 atau 2 jam saja, apalagi sebelumnya aku belum pernah menginjakan kaki di Bandung. Nenek terus memaksaku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menuruti keinginan Nenek dan berniat meminta Mba Sari untuk menemani nenek untuk sementara waktu selama aku berada di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini juga aku pergi ke Bandung untuk melakukan pencarian, dengan berat hati aku pergi meninggalkan Nenek. Nenek berpesan kepadaku “Nak, jaga dirimu baik-baik segeralah kembali kalau kau sudah menemukan ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pergi ke Bandung, setibanya aku di Bandung, aku merasa seperti begitu asing berada dikota tersebut. Aku mulai bertanya kepada orang-orang yang sedang berada di situ tentang alamat tempat Ibuku tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat kesasar untuk beberapa kali. Tapi untungnya ada seorang Ibu muda yang mau menunjukan tempat keberadaan Ibuku. Ibu muda yang mengantar aku memiliki permasalahan yang sama yaitu Ia pun hingga kini belum pernah bertemu dengan Ibu kandungnya, karena Ibunya meniggal saat melahirkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tibalah aku di tempat itu yaitu sebuah bangunan tinggi yang dikelilingi oleh pepohonan dan taman. Di sana terlihat banyak orang-orang yang tak waras sedang banyak yang bermain- main layaknya anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan.... seperti apakah keadaan Ibuku? Apakah Ibu juga seperti itu ? Seorang Satpam memberitahuku untuk menemui Ibu Suster Kepala, aku pun diantar sampai keruangan tempat Suster Kepala itu. Aku bertanya satu persatu tapi Ibuku katanya tak ada di sana lagi. Katanya, Ibuku dibawa lari oleh seorang mantan Suster Kepala karena dulu tempat itu pernah mengalami suatu peristiwa kebakaran. Ketika Ibu Suster Kepala bercerita demikian aku mulai putus asa , kemala lagi aku harus mencari Ibuku ? aku mencoba meminta alamat Ibu Suster Kepala yang membawa pergi Ibuku. Tapi sayangnya Beliau tidak mempunyai alamat Ibu Rosy, Mantan Ibu Suster Kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa Ibu Rosy hanya membawa pergi Ibuku? Jawab Ibu Ratna kepala Suster yang kini, katanya Ibu Rosy sangat dekat dengan Ibuku, Ia menganggap Ibuku seperti Ibunya sendiri. Ibu Ratna memberiku sebuah foto wanita paruh baya, itu adalah foto Ibu Rosy, orang yang membawa pergi Ibuku. Tetapi aku merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu, ternyata Ia adalah Ibu muda yang tadi mengantarku ketempat ini. Karena Ibunya telah meninggal , maka Ia pun begitu menyayangi Ibuku. Tapi Untungnya ada yang memberitauku tentang alamat Ibu Rosy yaitu seorang tukang kebun yang sudah berada disitu sejak lama. Rasa putus asaku sejenak hilang karena Tuhan memberiku jalan untuk mencari Ibu kandungku. Aku pergi meninggalkan tempat itudan terus mencari keberadaan Ibuku dengan menyelusuri jalan Kota Bandung yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan dan para pedagang yang berjualan disepanjang trotoar. Pencarianku hari ini tak membuahkan hasil. Aku memutuskan untuk mencari tempat untuku bermalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Esok harinya aku mulai melakukan pencarian lagi, hingga akhirnya aku menemukan alamat yang diberi tukang kebun itu kepadaku. Aku mengetok rumah itu, seorang Bapak-bapak keluar membukakan pintu. Aku menanyakan tentang Ibu Rosy,  tapi ternyata Ibu Rosy telah 2 tahun pindah dari rumah itu. Aku sangat putus asa, keputusasaanku membawaku kembali keJakarta. Aku ingin melihat keaadaan Nenekku. Aku seperti kehilangan jejak akhirnya aku berhenti melakukan pencarianku.&lt;br /&gt;Sakit Nenek bertambah parah. Aku menyesal telah meninggalkan Nenek untuk pergi ke Bandung. Aku sedih melihat keadaan Nenek yang semakin hari semakin parah. Aku membawa nenek keRumah Sakit , aku tak tega membiarkan Nenek menderita seperti itu. 2 hari diRumah sakit, Nenek tak bisa diselamatkan. Nenek pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Kini aku tak punya siapa-siapa lagi diDunia ini, aku kehilangan orang yang paling aku sayang yang telah merawat aku hingga kini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merasa tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, kecuali Ibuku, aku memutuskan pindah keBandung dan mulai kehidupan bari disana. Aku mulai mencari pekerjaan dan mencari tempat tinggal. Kini aku telah bekerja disebuah restoran. Sambil bekerja aku mencari Ibuku. Setelah bekerja selama 6 bulan, aku melihat seorang wanita yang pernah mengantarkan aku dan yang telah menunjukan tempat Ibuku tinggal.. Ia adalah Ibu Rosy orang yang selama ini merawat Ibuku. Dengan rasa yakin aku mendekati Ibu itu dan bertanya ” apakah Ibu, Ibu yang pernah mengantarkan aku ke Rumah sakit Jiwa tempat Ibuku?” Ibu menjawab “ ade...?”  “ ya Ibu, ini aku, apakah aku boleh bertanya kepada Ibu ?”   “ boleh nak, dengan senang hati Ibu akan menjawab pertanyaanmu .” dan ternyata memang benar ia adalah perawat yang waktu itu membawa lari Ibu pada peristiwa kebakar tiu. Aku diajak kerumahnya dan aku dapat melihat Ibuku. Hatiku senang karena aku dapat melihat langsung dan memeluk Ibuku, wanita yang selama ini aku cari, yang lebih membuatku bahagia adalah Ibuku telah sembuh dari penyakit kejiwaanya. Ibu Rosy telah menganggap aku adiknya dan memintaku tinggal bersamanya.&lt;br /&gt; Inilah kisahku, kisah hidup dan perjuanganku untuk mencari Ibu kandungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar divisi sastra, Feri M. Sukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca cerpen ini, saya di iringi oleh lantunan shireen bersaudara (the sister) dengan lagu curhan mereka yang berjudul kamu-kamu lagi. Jadi saya bingung harus bagaimana memilah otak saya oleh dua suara hati yang berbeda. Pertama, suara hati shiren bersaudara tadi yang dinyanyikan. Kedua, dengan suara hatinya Nike Angguni T.L ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya sulit berkonsentrasi? Itu karena keduanya memiliki kekuatan dan titik lemah yang sama. Pada kicauan saya selanjutnya, saya akan menjelaskan di mana letak kesamaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(mouse digerakan. Icon winamp di klik. Menunggu sejenak tampilannya, lalu saya memutar lagu the sister)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apasih maumu kerjaanmu eangganggu&lt;br /&gt;Di telpon sms kerjaanmu menrayu&lt;br /&gt;Aiaia. . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pengakuannya, shiren bersaudara mengakui bahwa semua lagu yang ada dalam album mereka adalah sebuah curhat yang tak sengaja menjadi lagu. Kisah cinta mereka selama ini. Selain itu, shiren juga mengakui bahwa ketika dia bernyanyi, itu hanyalah sebuah perjalan hidup yang harus dijalani tanpa beban, terutama oleh kualitas vocal dia sendiri, yang kalau kita dengarkan lebih mendalam dalam lagu ini, ada beberapa haleuang shiren sungkar, pemeran cinta fitri ini yang fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen saudari kita, Angguni, dengan latar belakang sebagai seorang siswa/mahasiswa bsi, yang saya ketahui bsi adalah singkatan dari bina sarana informatika (maaf jika saya salah), yang tentunya sentuhan dengan dunia bahasa secara mendalam sangat jauh. Sama seperti shiren di atas, angguni ini masih perlu kembali banyak membaca. Di mana harus menyimpan titik, koma, spasi, tanda petik, dan juga beberapa poin kebahasaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan mengulas kembali cerpen ini dalam bentuk synopsis kecil:&lt;br /&gt;Aku (si tokoh) adalah anak yang dibesarkan oleh kakek dan nenek, yang tidak pernah sedikitpun tahu tentang kedua orang tuanya. Sehingga dia merasa bahwa dirinya lahir dari rahim seorang nenek, bukan dari rahim seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedewasaan mendesakku untuk menemukan sepenggal darah yang tidak aku kenal, aku bertanya pada nenek, tapi dia seolah bungkam. Hingga sebuah penyakit memaksa nenek untuk mengatakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah alamat diberikan padaku. Dengan bermodalkan itu, aku berkelana dari satu lisan ke lisan lain, lisan yang menunjukan di mana alamat ini bermuara. Dan lisan itupun banyak mengungkapkan helai demi helai hijab yang menutupi wajah ibuku. Sampai akhirnya, aku menemukan seraut wajah ibu di sebuah rumah sakit jiwa, selepas ingatannya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah begitu inti ceritanya, Anggani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya sangat menarik. Bagaimana perjalanan tokoh melewati beberapa rintangan yang tak pernah kita bayangkan. Berliku. Menanjak. Berlubang. Sehingga untuk melewati jalan ceritanya, kita harus melahap habis kata perkatanya dengan cermat. Saya ngat beruntung membacanya saat ini, dengan cerpen yang jujur, tanpa ada metafora yang rumit, saya bisa dengan mudah menjelajahnya. Saya tidak bisa membayangkan, jika cerpen ini di perbaiki setelah ada komentar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga seolah melihat sebuah cerpen yang tema, watak, alur, latar, pusat pengisahan, yang disingkat sebagai unsure-unsur intrinsic sebuah prosa, sama persis dengan apa yang ada dalam reality show termehek-mehek, mata-mata, orang ketiga, lemon tea. Tidak ada satupun yang terlewat. Detail setiap detailnya tidak ada sedikitun yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya untuk anggani: semakin banyak membaca, apapun jenis bacaannya, maka kamu akan menemukan sendiri bagaimana letak titik, koma, tanda petik, dll, yang sesuai dengan kaidah kebahasaan bahasa Indonesia. Ketika kamu membaca, kamu akan menemukan bagaimana imajinasi-imajinasi yang liar dari penulis. Karena untuk menjadi penulis yang mapan, diterima karyanya, sehingga banyak dibicarakan orang, imajinasi itu bukan sekedar bagaimana kita menulis curhat dalam buku diary, tapi imajinasi  sudah bisa masuk ke dalam ranah pikiran pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari apa yang sudah saya tuliskan di atas, marilah kita kembali mendengar lagu the sister, dan mulailah membaca kembali cerpen anggani ini, kita akan masuk kedalam sebuah uraian yang mengalir, berliku, batu terjal, sehingga kita akan merasakan sport jantung, harap-harap cemas menemani sang tokoh untuk menemukan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya rasa, cerpen anggani ini lebih menarik jika disajikan dalam sebuah novel. Saya kira akan membuat saya lebih banyak memuji anggani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7702497604579496983?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7702497604579496983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/penantian-dalam-pencarian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7702497604579496983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7702497604579496983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/penantian-dalam-pencarian.html' title='Cerpen : Penantian dalam Pencarian'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScpIg7tFYbI/AAAAAAAAALg/hEt9QqIvbzA/s72-c/cerpen+penantian+dalam+pencarian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8148877570573747130</id><published>2009-03-21T08:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T08:26:23.688-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>Pesan Sponsor: Cyber Pulsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUGhAu4JNI/AAAAAAAAALY/DOwF0sLWE-E/s1600-h/pulsa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUGhAu4JNI/AAAAAAAAALY/DOwF0sLWE-E/s400/pulsa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315662099382805714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti mempunyai hp bukan?berapa pengeluaran anda sebulan untuk membeli pulsa?&lt;br /&gt;Saatnya anda isi sendiri pulsa anda, murah ko dari pada beli di konter. Atau anda jadi agen pulsa, itu terserah anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar gratis&lt;br /&gt;Deposit minimal 10.000,  gak rugi kan&lt;br /&gt;Gak ada masa kadaluarsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih telah memilih Cyber Pulsa. Pilihan tepat bagi Anda yang ingin menjadi Agen ataupun distributor pulsa elektronik, bahkan untuk konsumsi sendiri kami menyediaknnya. Cyber Pulsa adalah authorized dealer pulsa elektronik kartu prabayar baik GSM (Simpati, Kartu As, Mentari, IM-3, XL, Three &amp; Axis) maupun CDMA (Fleksi, Fren, Esia, StarOne, Smart), untuk semua produk operator telekomunikasi yang ada di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan pengisian pulsa elektrik ini kami menggunakan teknologi SMS SERVER (Anda tinggal mengirim sms ke Nomor sms center kami) dengan format yang telah kami tetapkan dimana transaksi dapat dilakukan 24 jam (nonstop), sehingga beberapa detik kemudian, pulsa GSM atau CDMA yang anda isi  ulang akan terisi sesuai jumlah yang anda minta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menawarkan penghasilan tambahan kepada anda dengan menjadi Dealer kami dalam pemasaran pulsa elektronik, siapapun anda, dimana pun anda berada, tidak menjadi hambatan untuk dapat bergabung bersama Cyber Pulsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memiliki IT support sendiri sehingga system server dapat dimaintenance secara berkala sehingga member nyaman dalam transaksi. Kami dilengkapi teknologi berkoneksi Host to Host menjadikan transaksi pulsa begitu cepat dalam hitungan detik. Report transaksi menjadi lebih akurat dan realtime. Giliran Anda untuk buktikan keunggulan sistem kami dan ikut sukses serta maju bersama Cyber Pulsa. Lebih lanjut www.anaksastra.blogspot.com, HENDRI HIDAYAT 085220953141 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan bergabung di Cyber Pulsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Murah&lt;br /&gt;memberikan keuntungan jika dijual kembali kepada pelanggan Anda, Kami menjamin harga produk yang ada akan memberikan margin keuntungan/profit yang bervariasi apabila dijual kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cepat&lt;br /&gt;Kecepatan suatu sistem pengisian pulsa elektronik menjadi pertimbangan khusus yang perlu Anda cermati, karena akan sangat berpengaruh terhadap kepuasan dan ketidakpuasan yang akan Anda rasakan sendiri, juga nantinya bagi calon pelanggan Anda. Berlangsung dalam hitungan detik, pulsa otomatis bertambah ke handphone pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Akurat&lt;br /&gt;Setiap Reply transaksi disertakan Serial Number dan Realtime sehingga pulsa masuk 99% akurat jika sukses pasti pulsa masuk ke konsumen dan transaksi anda nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kompetitif&lt;br /&gt;Kami yakinkan anda bahwa harga dapat bersaing dengan layanan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kami menyediakan paket penjualan ringtone, lagu, video, dll. Harga paket &lt;br /&gt;computer mulai dari 800 ribu siap pakai. Gratis Pelatihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Melayani Seluruh Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Harga*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mentari&lt;br /&gt;5 = 5.350&lt;br /&gt;10 = 10.150&lt;br /&gt; 20 = 19.500&lt;br /&gt; 25 = 24.250&lt;br /&gt; 50 = 48.200&lt;br /&gt; 75 = 72.000&lt;br /&gt; 100 = 95.500&lt;br /&gt; 150 = 144.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. IM3&lt;br /&gt;5 = 5.350&lt;br /&gt;10 = 10.150&lt;br /&gt;20 = 19.500&lt;br /&gt;25 = 24.250&lt;br /&gt;50 = 48.200&lt;br /&gt;75 = 72.000&lt;br /&gt;100 = 95.500&lt;br /&gt;150 = 144.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Simpati&lt;br /&gt; 5 = 5.350&lt;br /&gt;10 = 10.350&lt;br /&gt;20 = 19.850&lt;br /&gt;50 = 49.250&lt;br /&gt;100 = 95.300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. AS&lt;br /&gt;5 = 5.350&lt;br /&gt;10 = 10.350&lt;br /&gt;15 = 16.100&lt;br /&gt;25 = 25.550&lt;br /&gt;50 = 50.000&lt;br /&gt;100 = 95.400&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. XL&lt;br /&gt;5 = 5.350&lt;br /&gt;10 = 10.250&lt;br /&gt;25 = 25.000&lt;br /&gt;50 = 49.450&lt;br /&gt;100 = 98.600&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Three&lt;br /&gt;5 = 5.300&lt;br /&gt;10 = 10.200&lt;br /&gt;20 = 19.900&lt;br /&gt;25 = 25.000&lt;br /&gt;30 = 29.700&lt;br /&gt;50 = 48.500&lt;br /&gt;100 = 96.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Flexi&lt;br /&gt;5 = 5.400&lt;br /&gt;10 = 10.100&lt;br /&gt;20 = 19.500&lt;br /&gt;50 = 47.050&lt;br /&gt;100 = 93.700&lt;br /&gt;150 = 140.600&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Esia&lt;br /&gt;1 = 1.4500&lt;br /&gt;2 = 2.450&lt;br /&gt;3 = 3.350&lt;br /&gt;10 = 10.400&lt;br /&gt;25 = 24.800&lt;br /&gt;50 = 47.800&lt;br /&gt;100 = 95.600&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Star One&lt;br /&gt;5 = 5.600&lt;br /&gt;10 = 10.500&lt;br /&gt;20 = 19.700&lt;br /&gt;50 = 48.300&lt;br /&gt;100 = 96.100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Fren&lt;br /&gt;10 = 10.100&lt;br /&gt;25 = 24.400&lt;br /&gt;50 = 48.250&lt;br /&gt;100 = 96.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Axis&lt;br /&gt;5 = 5.300&lt;br /&gt;10 = 10.100&lt;br /&gt;25 = 24.500&lt;br /&gt;50 = 48.500&lt;br /&gt;100 = 96.500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Smart&lt;br /&gt;5 = 5.450&lt;br /&gt;10 = 10.400&lt;br /&gt;20 = 19.800&lt;br /&gt;25 = 24.750&lt;br /&gt;50 = 48.800&lt;br /&gt;100 = 97.300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Hepi&lt;br /&gt;5 = 5.250&lt;br /&gt;10 = 10.100&lt;br /&gt;25 = 24.650&lt;br /&gt;50 = 48.900&lt;br /&gt;100 = 97.400&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS Center&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;085294500200 (AS)&lt;br /&gt;081910199899 (XL Jempol)&lt;br /&gt;085720338060 (IM3)&lt;br /&gt;08997973888 (Three)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga Berlaku sejak tanggal 20 Maret 2009  dan dapat berubah dengan adanya pemberitahuan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Transaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi Pulsa / Transaksi :&lt;br /&gt;ISI.&lt;Kode Voucher&gt;.&lt;No. HP_Pelanggan&gt;.&lt;PIN&gt; &lt;br /&gt;Contoh : ISI.S20.08131234567.1234 &lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi Pulsa / Transaksi yang ke 2x :&lt;br /&gt;ISI.&lt;Kode Voucher&gt;.&lt;No. HP_Pelanggan&gt;.&lt;PIN&gt;.2x&lt;br /&gt;Contoh : ISI.S20.08131234567.1234.2x Kirim Ke SMS Center &lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1. untuk transaksi Telkomsel lakukan 5-10 menit kemudian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cek Saldo : &lt;br /&gt;SAL.&lt;PIN&gt;&lt;br /&gt;Contoh : SAL.1234 &lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek 5 transaksi terakhir hari ini : &lt;br /&gt;REPORT.&lt;PIN&gt; &lt;br /&gt;Contoh : REPORT.1234 &lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tambah Nomor HP Paralel : &lt;br /&gt;ADDHP.&lt;NoHP&gt;.&lt;PIN&gt; &lt;br /&gt;Contoh : ADD.08561234567.4444&lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek Harga :&lt;br /&gt;HARGA.&lt;kodeProduk&gt;.&lt;PIN&gt;&lt;br /&gt;Contoh : HARGA.S.1234&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hapus Nomor HP Paralel : &lt;br /&gt;DELHP.&lt;NoHP&gt;.&lt;PIN&gt; &lt;br /&gt;Contoh : DELHP.08561234567.4444&lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ganti PIN : &lt;br /&gt;GPIN.&lt;PINLAMA&gt;.&lt;PINBARU&gt;.&lt;PINBARU&gt; &lt;br /&gt;Contoh : GPIN.1234.4444.4444&lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rekap Harian :   &lt;br /&gt;R.&lt;tglblnthn&gt;.&lt;PIN&gt; &lt;br /&gt;Contoh : R.05012009.1234 &lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cek Status transaksi (bisa transaksi anda atau downline) : &lt;br /&gt;STATUS.&lt;kdvoucher&gt;.&lt;NoHP&gt;.&lt;PIN&gt;&lt;br /&gt;Contoh : STATUS.S10.0813912345678.1234&lt;br /&gt;Kirim Ke SMS Center&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan Deposit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melalui Bank &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONFIRMASI DEPOSIT via Bank :&lt;br /&gt;Format pengiriman SMS Ketik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transfer Via  BNI&lt;br /&gt;BNI.NamaMitra.Jumlah Uang.NamaPenyetor.jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setor Tunai Via BNI&lt;br /&gt;BNI.NamaMitra.Jumlah Uang.NamaCabang.jam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transfer Via Mandiri&lt;br /&gt;MANDIRI.NamaMitra.Jumlah Uang.NamaPenyetor.jam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setor Tunai Via Mandiri&lt;br /&gt;MANDIRI.NamaMitra.Jumlah Uang.NamaPenyetor.jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekening :   BNI&lt;br /&gt;             HENDRI HIDAYAT &lt;br /&gt;             BNI CABANG UPI BANDU&lt;br /&gt;             No.Rek : 0133308015&lt;br /&gt;                    &lt;br /&gt;      Mandiri&lt;br /&gt;             LILA ARDITA&lt;br /&gt;             MANDIRI KCP Asia Afrika BDG&lt;br /&gt;             No.Rek : 130-00-0493869-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam Deposit : 8.30 s/d 21.00 wib setiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS Ke 085220953141 (Hendri Hidayat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melalui agen kami yang ditunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Murah, Cepat, Kompetitip&lt;br /&gt;Cyber Pulsa&lt;br /&gt;Jln. Dr. Setiabudi No 229&lt;br /&gt;Bandung&lt;br /&gt;Hendri Hidayat&lt;br /&gt;085220953141&lt;br /&gt;henscyber@gmail.com&lt;br /&gt;anaksastra.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8148877570573747130?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8148877570573747130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pesan-sponsor-cyber-pulsa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8148877570573747130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8148877570573747130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pesan-sponsor-cyber-pulsa.html' title='Pesan Sponsor: Cyber Pulsa'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUGhAu4JNI/AAAAAAAAALY/DOwF0sLWE-E/s72-c/pulsa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1627729000300161472</id><published>2009-03-21T07:55:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T08:02:35.630-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>ANALISIS BAHASA BAKU DAN NON BAKU DALAM BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUBE4PkpUI/AAAAAAAAALQ/O5iOY2UlJU4/s1600-h/linguistik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 208px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUBE4PkpUI/AAAAAAAAALQ/O5iOY2UlJU4/s400/linguistik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315656118509544770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini didapat dari digilib Universitas Sumatra Utara (USU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia mempunyai sebuah aturan yang baku dalam pengguanaanya, namun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan dari aturan yang baku tersebut. Kata-kata yang menyimpang disebut kata non baku. Hal ini terjadi salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Faktor ini mengakibabkan daerah yang satu berdialek berbeda dengan dialek didaerah yang lain, walaupun bahasa yang digunakannya terhadap bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita mempergunakan bahasa Indonesia perlu diperhatikan dan kesempatan. Misalnya kapan kita mempunyai ragam bahasa baku dipakai apabila pada situasi resmi, ilmiah. Tetapai ragam bahasa non baku dipakai pada situas santai dengan keluarga, teman, dan di pasar, tulisan pribadi, buku harian. Ragam bahasa non baku sama dengan bahasa tutur, yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari terutama dalam percakapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahasa tutur mempunyai sifat yang khas yaitu:&lt;br /&gt;a. Bentuk kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung.&lt;br /&gt;b. Menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-hari. Contoh: bilang, bikin, pergi, biarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam bahasa tutur, lagu kalimat memegang peranan penting, tanpa bantuan lagu kalimat sering orang mengalami kesukaran dalam memahami bahasa tutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRI-CIRI BAHASA BAKU&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang diajukan dasar ukuran atau yang dijadikan standar. Ragam bahasa ini lazim digunakan dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Komunikasi resmi, yakni dalam surat menyurat resmi, surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, penamaan dan peristilahan resmi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wacan teknis seperti dalam laporan resmi, karang ilmiah, buku pelajaran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembicaraan didepan umum, seperti dalam ceramah, kuliah, pidato dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya. Pemakaian (1) dan (2) didukung oleh bahasa baku tertulis, sedangkan pemakaian (3) dan (4) didukung oleh ragam bahasa lisan. Ragam bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Penggunaan Kaidah Tata Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah tata bahasa normatif selalu digunakan secara ekspilisit dan konsisten. Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara ekpilisit dan konsisten.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa baku&lt;br /&gt;- Gubernur meninjau daerah kebakaran.&lt;br /&gt;- Pintu pelintasan kereta itu kerja secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk secara ekspilisit. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- Ia tidak tahu bahwa anaknya sering bolos.&lt;br /&gt;- Ibu guru marah kepada Sudin, ia sering bolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemakaian pola frase untuk peredikat: aspek+pelaku+kata kerja secara konsisten. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- Surat anda sudah saya terima.&lt;br /&gt;- Acara berikutnya akan kami putarkan lagu-lagu perjuangan.&lt;br /&gt;Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- Surat anda saya sudah terima.&lt;br /&gt;- Acara berikutnya kami akan putarkan lagu-lagu perjuangan.&lt;br /&gt;4. Pemakaian konstruksi sintensis. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- anaknya - dia punya anak&lt;br /&gt;- membersihkan - bikin bersih&lt;br /&gt;- memberitahukan - kasih tahu&lt;br /&gt;- mereka - dia orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menghindari pemakaian unsur gramatikal dialek regional atau unsure gramatikal bahasa daerah. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- dia mengontrak rumah di Kebayoran lama&lt;br /&gt;- Mobil paman saya baru&lt;br /&gt;Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- Dia ngontrak rumah di Kebayoran lama.&lt;br /&gt;- Paman saya mobilnya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Penggunaan Kata-Kata Baku&lt;br /&gt;Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang perekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan- pertimbangan khusus. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- cantik sekali - cantik banget&lt;br /&gt;- lurus saja - lempeng saja&lt;br /&gt;- masih kacau - masih sembraut&lt;br /&gt;- uang - duit&lt;br /&gt;- tidak mudah - enggak gampang&lt;br /&gt;- diikat dengan kawat - diikat sama kawat&lt;br /&gt;- bagaimana kabarnya - gimana kabarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Penggunaan Ejaan Resmi Dalam Ragam Tulisan&lt;br /&gt;Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (singkat EyD) EyD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka penulisan unsur serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- bersama-sama - bersama2&lt;br /&gt;- melipatgandakan - melipat gandakan&lt;br /&gt;- pergi ke pasar - pergi kepasar&lt;br /&gt;- ekspres - ekspres, espres&lt;br /&gt;- sistem – sistim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4. Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan&lt;br /&gt;Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafl daerah.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- atap - atep&lt;br /&gt;- menggunakan - menggaken&lt;br /&gt;- pendidikan - pendidi’an&lt;br /&gt;- kalaw - kalo,kalo’&lt;br /&gt;- habis - abis&lt;br /&gt;- dengan - dengen&lt;br /&gt;- subuh - subueh&lt;br /&gt;- senin - senen&lt;br /&gt;- mantap - mantep&lt;br /&gt;- pergi - pigi&lt;br /&gt;- hilang - ilang&lt;br /&gt;- dalam – dalem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5. Penggunaan Kalimat Secara Efektip&lt;br /&gt;Maksudnya, kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan dengan pembicaraan atau tulisan kepada pendengar atau pembaca, persis seperti yang di maksud pembicara atau penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keefektipan kalimat ini dapat dicapai antara lain dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasan yang benar, misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.&lt;br /&gt;- Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan&lt;br /&gt;keluarganya merasa tidak aman.&lt;br /&gt;Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- Di pulau Buton banyak menghasilkan aspal.&lt;br /&gt;- Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan&lt;br /&gt;keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis didalam kalimat. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- Dia datang ketika kami sedang makan.&lt;br /&gt;- Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.&lt;br /&gt;Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- Ketika kami sedang makan dia datang.&lt;br /&gt;- Loket belum dibuka dan hari tidak hujan.&lt;br /&gt;3. Penggunaan kata secara tepat dan efesien. Misalnya:&lt;br /&gt;Bahasa Baku&lt;br /&gt;- Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.&lt;br /&gt;- Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.&lt;br /&gt;2003 Digitalized by USU digita library 4&lt;br /&gt;Bahasa Tidak Baku&lt;br /&gt;- Korban kecelakaan bulan ini naik.&lt;br /&gt;- Panen gagal memungkinkan kita mengimpor beras.&lt;br /&gt;4. Penggunaan pariasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang&lt;br /&gt;ingin ditonjolkan. Misalnya:&lt;br /&gt;Kalimat Biasa&lt;br /&gt;- Dia pergi dengan diam-diam.&lt;br /&gt;- Dengan pisau dikupasnya mangga itu.&lt;br /&gt;Kalimat Bertekanan&lt;br /&gt;- Dengan pisau dikupasnya mangga itu.&lt;br /&gt;Kalimat Bertekanan&lt;br /&gt;- Pergilah daia dengan diam-diam.&lt;br /&gt;- Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ANALISI RAGAM BAHASA BAKU DAN NON BAKU DALAM BAHASA&lt;br /&gt;INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Sudara ketua, para hadirin yang terhormat, kalimat tersebut jelas salah, karena mengandung makna jamak. Kata para sudah menyatakan jamak, begitu juga kata hadirin, sudah mengandung makna semua orang yang hadir, oleh karena itu tidak perlu dijamakkan lagi dengan menempatkan kata peserta para. Kalimat yang benar adalah: saudara ketua, hadirin yang terhormat,…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Waktu kami menginjak klinik di bulan September… Kalimat diatas jelas salah, karta majemuk tidak tepat diapaki seharusnya memasuki, kata perangkai “di” tidak boleh ditempatkan didepan kata tidak menunjukkan kata tempat, jadi diganti dengan pada. Kalimat yang benar adalah: waktu kami memasuki klinik pada bulan September…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Berhubung beryangkitnya penyakit cacar perlu diambil tindakan….. Kalimat diatas salah, kata penghubung yang harus selalu diikuti oleh, dengan, dan dibelakang kata cacar lebih baik dibubui koma. Jadi kalimat yang benar adalah: berhubung dengan berjangkitnya penyakit cacar, perlu diambil tindakan…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Atas perhatian saudara dihaturkan banyak terima kasih. Kalimat diatas salah karena kata dihaturkan tidak ada dalam bahasa Indonesia, yang ada kata diucapkan selanjutnya kata banyak juga tidak dipakai, karena tidak lazim. Jadi kalimat yang benar adalah: atas perhatian saudara diucapkan terima kasih…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Seluruh sekolah-sekolah yang ada dikota ini tidak menyenangi sistem ujian itu. Kalimat diatas salah. Kata seluruh sudah menunjukkan jamak. Jadi tidak perlu kata yang didepannya diulang, cukup seluruh sekolah. Selanjutnya kata depan di harus dipisahkan. Penulisan kata sisitim seharusnya sistem. Jadi kalimat yang benar adalah seluruh skolah yang ada dikota ini tidak menyenangi sistem ujian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Seluru anggota perkumpulan itu harus hadir pada jam 14.00 siang.&lt;br /&gt;Kalimat diatas salah.&lt;br /&gt;I. Penulisan anggauta seharusnya anggota.&lt;br /&gt;II. Penulisan hadlir seharusnya hadir (hiperkorek).&lt;br /&gt;III. Menunjukkan waktu dipakai kata yang tepat adalah pukul.&lt;br /&gt;Jadi kalimat yang benar adalah:&lt;br /&gt;Seluruh anggota perkumpulan itu harus hadir pukul 14.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Sejak mulai dari hari Senen yang lalu sangat sedikit sekali perhatiannya&lt;br /&gt;dipelajaran itu. Kalimat diatas salah.&lt;br /&gt;2003 Digitalized by USU digita library 5&lt;br /&gt;I. Kata sejak, mulai, dan mencakup pengertian yang sama. Jadi pilih&lt;br /&gt;salah satu.&lt;br /&gt;II. Kata Senen adalah non baku, yang baku adalah Senin.&lt;br /&gt;III. Kata sangat, sekali mencakup pengertian yang sama.&lt;br /&gt;IV. Kata depan “di” pada kata dipelajari tidak tepat, seharusnya pada&lt;br /&gt;pelajaran. Jadi kalimat yang benar adalah:&lt;br /&gt;Sejak Senin yang lalu sangat sedikit perhatiannya pada pelajaran.&lt;br /&gt;Sejak Senin yang lalu sangat sedikit perhatiannya pada pelajaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.8. Sya sudah umumkan supaya setiap mahasiswa-mahasiswa datang besok hari&lt;br /&gt;Sabtu yang akan datang.&lt;br /&gt;Kalimat diatas salah.&lt;br /&gt;I. Saya sudah umumkan, bahasa yang non baku, tidak memakai pola&lt;br /&gt;frase verba.&lt;br /&gt;II. Kata setiap sudah menunjukkan jamak tidak perlu kata yang di&lt;br /&gt;depannya diulang.&lt;br /&gt;III. Kata besok tidak perlu, sebab membingungkan.&lt;br /&gt;Kalimat yang benar:&lt;br /&gt;Sudah saya umumkan supaya setiap mahasiswa datang hari Sabtu yang&lt;br /&gt;akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.9. Adalah sudah merupakan suatu kenyataan bahwa bahasa Indonesia&lt;br /&gt;adalah bahasa persatuan dan kesatuan resmi negara.&lt;br /&gt;Kalimat di atas salah.&lt;br /&gt;1. Ungkapan adalah sudah merupakan suatu kenyataan bahwa adalah ungkapan mubazir,tanpa ungkapan itu makna sudah jelas pembaca sudah memahaminya.&lt;br /&gt;Kalimat benar adalah:&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa resmi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.10. Sebagaimana telah ditetapkan pekerjaan itu biasanya dilakkukan tiga kali&lt;br /&gt;seminggu.&lt;br /&gt;Kalimat diatas adalah salah.&lt;br /&gt;I. Penggunaan kata biasanya tidak perlu, karena makna kata itu sudah tersirat dalam ungkapan sebagaimam telah ditetapkan&lt;br /&gt;II. Penulisan kata se- Minggu non bakau, yang baku adalah seminggu. Kalimat yang benar adalah sebagaimana telah ditetapkan pekerjaan itu dilakukan tiga kali seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. KESIMPULAN&lt;br /&gt;1. Bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok ajuan, yang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ragam bahasa baku bahasa Indonesia memang sulit untuk dijalankan, atau yang digunakan karena untuk memahaminay dibutuhkan daya nalar yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dengan menggunakan ragam bahasa baku, seseorang akan menaikkan&lt;br /&gt;prestisenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Arifin, Zainal, E. 1985. Cermat Berbahasa Indonesia untuk perguruan tinggi. Jakarta:&lt;br /&gt;Antar Kota.&lt;br /&gt;--------------------. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Baik Dan Benar. Jakarta: PT&lt;br /&gt;--------------------. 1985. Inilah Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.&lt;br /&gt;--------------------. 1993. Pembukaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rhineka Cipta.&lt;br /&gt;Badudu, j.s. 1994. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bhrata Media.&lt;br /&gt;Chaer, abdul. 1989. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah.&lt;br /&gt;Keraf, Gorys. 1992. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia Untuk Umum. Jakarat: PT.&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. Pedoman Umum Ejaan yang&lt;br /&gt;Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1627729000300161472?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1627729000300161472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/analisis-bahasa-baku-dan-non-baku-dalam.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1627729000300161472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1627729000300161472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/analisis-bahasa-baku-dan-non-baku-dalam.html' title='ANALISIS BAHASA BAKU DAN NON BAKU DALAM BAHASA INDONESIA'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/ScUBE4PkpUI/AAAAAAAAALQ/O5iOY2UlJU4/s72-c/linguistik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8765266497294083662</id><published>2009-03-16T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T05:31:32.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Komersialisasi Pendidikan Wujud Nyata Kapitalisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5GXtkMhMI/AAAAAAAAALI/-PCvzQ2ewaY/s1600-h/opini.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 245px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5GXtkMhMI/AAAAAAAAALI/-PCvzQ2ewaY/s400/opini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313761983526110402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hendri Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendidikan adalah hak mutlak sekaligus sebagai hak asasi manusia ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak sistem pendidikan kita telah dirasuki oleh suatu sistem yang bernama komersialisme. Sejak negara sepakat menerapkan sistem pasar bebas era globalisasi, semua sektor kehidupan dijadikan sebuah sistem komersialisme termasuk sistem pendidikan. Jadi jangan heran jika pendidikan di Indonesia termasuk mahal dan tidak berpihak kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah proses menuju peradaban. Seorang penyair pernah berkata, tidak akan disebut sebagai manusia jika dia tidak berpendidikan. Dalam UUD 1945 pun menyebutkan bahwa pendidikan berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah investasi bangsa (Nation investment) untuk membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan merupakan tanggung jawab negara yang jelas diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 4. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negara memprioritaskan anggaran pen¬didikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penye¬lenggaraan pendidikan nasional”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban konstitusi ini yang secara mutlak mengharuskan negara memprioritaskan pendidikan untuk seluruh rakyat Indonesia, merupakan Hak Asasi Manusia yang berhak diperoleh oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal tersebut tercantum pada pasal 31 ayat 1: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, dan pasal 31 ayat 2: “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat negara kita dalam dunia pendidikan global.  Pada tanggal 5-9 Maret 1990 bertempat di Jomtien Thailand, Indonesia bersama dengan 155 negara lain telah menerima dan menandatangani Deklarasi Pendidikan untuk Semua (Education for All) yang dihasilkan oleh konferensi dunia yang diselenggarakan oleh UNESCO bertajuk “Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua”. Dalam konferensi itu dihasilkan suatu kesepakatan bahwa: “Kami para peserta Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, menegaskan kembali hak semua manusia untuk pendidikan. Imilah dasar bagi tekad kami, sendiri dan bersama, untuk menjamin pendidikan untuk semua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayangnya konferensi itu hanya sebagai kamuplase saja, kenyataannya pemerintah tidak konsisten dengan amanat konstitusi maupun peraturan lain yang harus menjamin pendidikan untuk semua. Bahkan pemerintah memutarbalikan tanggung jawab, dalam konstsitusi dijelaskan bahwa “Pendidikan adalah tanggung jawab negara” tetapi kenyataannya menjadi “Pendidikan adalah tanggung jawab bersama”. Hal tersebut diperkuat oleh liberaliasi pendidikan dan wujud konkret lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus BHMN, produk kapitalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan Dana Moneter Internasional(IMF), Indonesia pada tahun Tahun 1999 pemerintah RI menendatangani sebuah surat kesepakatan bersama yang inti kebijakannnya adalah pelaksanaan Kebijakan uang ketat (tight money policy) dan penghapusan subsidi untuk publik (terutama pendidikan dan kesehatan). Pemerintah Indonesia pada waktu itu memang tidak bisa berbuat apa-apa, dikarenakan sedang terjadi resesi global. Setelah menjadi “hamba” IMF, Indonesia diharuskan menghapus subsidi sektor keuangan; dan pelaksanaan privatisasi BUMN sebagaimana terungkap secara rinci dalam konsensus Washington yang disusun oleh IMF, Bank Dunia, dan Departemen Keuangan Amerika. Alhasil Indonesia telah masuk ke dalam jurang kapitalis modern, bahkan sampai melanggar UUD 1945, padahal dengan diterapkan sistem seperti itu, bukan memakmurkan rakyat Indonesia dengan untaian perjanjian-perjanjian tertulis, tetapi justru akan membuat sesangsara rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sederet perjanjian dengan IMF, intinya Indonesia sudah masuk kedalam sistem kapitalis modern, implikasi nyata bagi dunai pendidikan adalah anggaran pendidikan yang selalu dinilai “sebelah mata”. Juga semua aset yang berbentuk pendidikan dapat dijadikan alat komersialisme. Oleh karena itu pendidikan di Indonesia terbilang cukup mahal, bila dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melegalkan pelepasan tanggung jawab negara atas pendidikan, maka disahkan-lah berbagai perangkat peraturan baik perundang-undangan maupun peraturan pemerintah. Undang-undang dan peraturan tersebut pada dasarnya dibuat agar pendidikan di Indonesia menjadi komersil, kapitalistik, dan tidak berpihak pada rakyat. Disahkanlah PP No. 60 tahun 1999 tentang perguruan tinggi dan PP No. 61 tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi sebagai badan hukum. Ini adalah implikasi nyata kapitalis pendidikan dengan dibentukan kampus Badan Usaha Milik Negara (BHMN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prakteknya, tahun 2000, saja empat perguruan tinggi di Indonesia sudah merubah statusnya menjadi PTN-BHMN, dengan dalih adanya otonomi kampus yakni UI, UGM, ITB, dan IPB. Tujuan otonomi kampus tiada lain untuk menghilangkan peran pemerintah dalam dunia pendidikan, seperti mengurangi subsidi pendidikan, dan mengurangi bantuan bagi PTN di Indonesia. Dengan Peraturan Pemerintah No. 152, 153, 154, dan 155 tahun 2000, keempat kampus tersebut berubah status dari perguruan tinggi milik rakyat menjadi lembaga yang tidak berpihak lagi pada rakyat. Kenapa dengan keempat PTN  tersebut?karean hampir sebagian besar dana pendidikan untuk bantuan PTN diserap oleh keempat PTN tersebut. Alhasil pemerintah bisa berpaku tangan, tanpa memberikan bantuan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran PTN BHMN, kampus masing-masing diberikan keleluasaan untuk mengelola kampus dengan uang sendiri, artinya PTN-PTN tersebut harus memutar otak untuk menghidupi kampus, dan yang dapat dijadikan objek keuangan adalah mahasiswa sendiri. Maka jangan heran jika biaya pendidikan kita semakin mahal, ditambah dengan banyaknya pungli, dan komersialisme di berbagai segi pendidikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak ada aral melintang desember nanti DPR akan mengesahkan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan, BHP ini tentunya merupakan turunan produk BHMN juga. Namun apakah dengan banyaknya RUU tentang pendidikan akan menjawab tantangan globalisasi terhadap dunia pendidikan Indonesia. Kita tunggu dengan sebuah harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendri Hidayat, lahir di Sumedang 4 agustus 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis Essai dan karya sastra, Aktif dan bergabung sebagai aktivis di Unit Pers Mahasiswa Isola Pos dan komunitas Anak Sastra UPI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hp. 085220953141 no.rek BNI. 0133308015 a/n Hendri Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8765266497294083662?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8765266497294083662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/komersialisasi-pendidikan-wujud-nyata.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8765266497294083662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8765266497294083662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/komersialisasi-pendidikan-wujud-nyata.html' title='Komersialisasi Pendidikan Wujud Nyata Kapitalisme'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5GXtkMhMI/AAAAAAAAALI/-PCvzQ2ewaY/s72-c/opini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-4367237520436251745</id><published>2009-03-16T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T05:16:36.727-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>MEMBACA JAGAT SEMIOTIK PEIRCE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5C3H3BJnI/AAAAAAAAAK4/TTxOS6m8PYE/s1600-h/m_puisig.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5C3H3BJnI/AAAAAAAAAK4/TTxOS6m8PYE/s400/m_puisig.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313758125113812594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Adam Rizal M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peirce yang nama panjangnya adalah Charles Shander Peirce (1839 – 1914) bukan satu-satunya tokoh semiotik. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang bisa dipelajari pandangan mereka tentang semiotik lewat arus semiosis. Pada dasarnya Peirce cukup memberikan keluasan bagi mereka, yang tidak hanya tertarik pada tanda linguistik, tetapi juga jenis tanda lainnya yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peirce baru sekitar tahun delapan puluhan dikenal di Indonesia, ketika Aart van Zoest, yang disertasinya tentang Peirce datang ke Fakultas Sastra Indoenesia (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) dan memberi kuliah tentang semiotik. Pada saaat yang sama dibentuk pula lingkaran Semiotik yang mewadahi peminat semiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep dasar dari Peirce, terutama yang berhubungan dengan katagori tanda (sigh) dan kemungkinan aplikasinya secara sederhana, memang menarik siapapun dari lintas disiplin ilmu apapun untuk dipelajari. Tulisan-tulisan Peirce lebih bersifat umum, tetapi mendasar untuk konsep tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengikut Peirce seringkali membedakan antara semiotik dari semiologi. Mereka menyebut Semiotik untuk aliran Peirce, dan semiologi sebagai khas aliran Saussure. Mengenai hal ini, pernah ada seseorang yang menjelalaskan bahwa Saussure sebenarnya memperhatikan aspek sosial di belakang penandaan, sementara Peirce lebih tertuju pada “the logic of general meaning”. Oleh karena itu, Sassure dan Peirce meski tidak saling mengenal—karena masing-masing berada di benua yang berbeda—memang bertolak dari titik yang berbeda dengan pendekatan berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peirce memang punya intens yang kuat dalam pemahaman tentang logika. Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, Peirce berkehendak untuk menyelidiki bagaimana proses bernalar manusia.. Teori Peirce tentang tanda dilandasi oleh tujuan besar, sehingga tidak mengherankan apabila dia menyimpulkan bahwa semiotik tidak lain dan tidak bukan adalah sinonim bagi logika itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di sisi lain, terdapat pula tradisi semiotik yang dibangun pakar linguistik Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai sarjana linguistik, Saussure tidak pernah menyusun teori semiotik satu pun, bahkan dalam buku induknya yang berjudul Caurse in General Lingustics (1966), tidak disinggung sebenang pun teori-teori semiotik. Bahkan kitab suci semiotik itu tidak ditulis oleh Saussure, namun oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally dan Albert Sechehaye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa dalam perspektif semiotika hanyadalah satu sistem tanda-tanda (system of Signs). Dalam wujudnya sebagai suatu sistem, pertama-tama, bahasa adalah sebuah institusi sosial yang otonom, yang keberadaannya terepas dari individu-individu pemakainya. Menurut Saussure bahasa merupakan salah jaringan tanda. Secara khusus tanda-tanda kebahasaan memiliki karakteristik primordial, yakni besifat linier (penanda) dan arbitre (petanda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, bahasa merupakan suatu sistem konvensi, sistem tanda-tanda yang konvensional. Tanda-tanda yang arbitre serta konvensional ini kemudian oleh Peirce secara khusus disebut Symbol.. Oleh sebab itu, dalam terminologi Peirce, bahasa dapat dikatakan juga sebagai sistem simbol lantaran tanda-tanda yang membentuknya bersifat arbitre dan konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut terminologi Peirce, simbol adalah tanda-tanda yang arbitre, sementara menurut Saussure, sebaliknya, simbol adalah tanda-tanda yang tidak sepenuhnya arbitre. Tanda-tanda yang arbitre disebut sebagai sign atau tanda saja; sementara tanda-tanda yang non arbitre oleh Peirce disebut sebagai ikon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para selebriti semiotik dalam bukunya yang berjudul Ikonisitas, Kris Budiman menghimbau untuk dijadikan satu pelajaran bagi siapa pun yang hendak belajar semiotik. Akan tetapi, terlepas dari kerancuan konseptual di atas, boleh dikatakan bahwa hampir di sepanjang riwayatnya linguistik dan semiotik terlampau menekankan pada konvensionalitas atau kearbitreran tanda sehingga kerap mengabaikan karakteristik tanda yang sebaliknya—seolah-olah bahasa tidak mungkin berkarakteristik ikonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipologi Tanda Ikonis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik sentral dari semiotik Peirce adalah sebuah trikotomi dasariah mengenai relasi “menggantikan” (stand for) diantara tanda dengan objeknya melalui interpretan, sebagaimana dikemukakan sendiri Peirce dalam rumusannya yang terkenal. Trikotomi tersebut adalah representamen yaitu sesuatu yang bersifat inderawi (perciple) atau material yang berfungsi sebagai tanda. Kehadiranya kemudian membangkitkan interpretan, yakni suatu tanda yang ekuivalen dengannya, di dalam benak seorang interprener. Lalu muncul objek yang diacu oleh tanda, atau sesuatu yang kehadirannya digantikan tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses tiga tingkat (three-fold process) di antara representamen, objek, dan interpretan yang dikenal sebagai proses semiosis ini niscaya menjadi objek kajian yang sesungguhnya dari setiap hasil studi semiotika. Dengan kata lain, semiosis adalah sebuah rangkaian yang tidak berujung pangkal, tanpa awal, tanpa akhir sebuah semiosis yag tanpa batas (unlimited semiosis). Hal itu karena, masing-masing representamen, interpretan dan objek saling bisa menggeser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peirce mengembangkan seluruh klasifikasinya ini berdasarkan tiga katagori universal berikut,&lt;br /&gt;1.Kepertamaan (firstness) adalah mode berada sebagaimana adanya, positif dan tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Ia adalah katagori dari perasaan yang tak terefleksikan, semata-mata potensial, bebas dan langsung; kualitas tak ter-bedakan dan tak tergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.kekeduaan (secondness) merupakan metode yang mencakup relasi yang pertama dan kedua. Ia merupakan katagori perbandingan, faktisitas, tindakan, realitas, dan pengalaman dalam ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.keketigaan (thirdness) mengantar yang kedua ke dalam hubungannya dengan yang ketiga. Ia adalah katagori mediasi, kebiasaan, ingatan, kontinuitas, sintesis, komunikasi (semiosis) representasi, dan tanda-tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trikotomi Pertama Peirce&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut posibilitas logis (logical posibilities) Peirce membedakan tanda-tanda menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Pembedaan ini menurut hakikat tanda itu sendiri, entah sebagai sekadar kualitas, sebagai suatu eksistensi aktual, atau sebagai suatu kaidah umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qualisign, merupakan suatu kualitas yang merupakan tanda, walaupun pada dasarnya ia belum dapat menjadi tanda sebelum mewujud. Hawa ingin yang kita rasakan pada tubuh, ketika hujan turun, misalnya adalah qualisign sejauh dia hanya terasa dalam tubuh kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinsign, adalah suatu hal yang ada (existent) secara aktual yang berupa tanda tunggal diindikasikan lewat awalan sin-). Ia hanya dapat menjadi tanda melalui kualitas-kualitasnya sehingga dengan demikian, melibatkan sebuah atau beberapa qualisign. Hawa dingin yang kita rasakan tadi, apabila kemudian diungkapkan dengan sepatah kata “dingin”, kemudian secara spontan tangan kita sedekapkan dalam tubuh, ini merupakan sinsign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dalam trokotomi pertma adalah legisign yang merupakan suatu hukum atau law. Seperangkat kaidah atau prinsip yang merupakan tanda konvensional kebahasaan adalah legisign. Ungkapan Malam hari yang begitu dingin adalah legisign karena tersusun berkat adanya tatabahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trikotomi Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipandang dari sisi hubungan representamen dengan objeknya, yakni hubungan “mengantikan” atau the “standing for” relation, tanda-tanda diklasifikasikan Peirce menjadi Ikon, Indeks (index) dan simbol. Pembagian tanda trikotomi ini menurut Peirce sangat fundamental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikon, merupakan tanda yang didasarkan pada keserupaan atau kemiripan di antara representaen dan objeknya, entah objek itu betul-betul eksis atau tidak. Akan tetapi, sesungguhnya ikon tidak semata-mata mencakup citra-citra “realistis” seperti pada foto atau lukisan, melainkan juga pada grafis, skema, peta geografis, persamaan-persamaan matematis, bahkan metafora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, indeks, merupakan tanda yang memiliki kaitan fisik, eksistensial, atau kausal di antara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang mejadikannya tanda jika objeknya dihilangkan atau dipindahkan. Indeks bisa berupa hal-hal semacam zat atau benda material, asap (asap adalah indeks dari adanya api), gejala alam (jalan becek adalah indeks dari adanya api).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks pun terwujud dan teraktualisasi di dalam kata penunjuk (demonstratif) seperti ini, itu, di sini, di situ, dan seterusnya; gerak-gerik (gesture) seperti jari telunjuk yang menuding; serta berbagai tanda visual lain. Dalam lukisan garis-garis juga menjadi bagian dari indeks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah simbol. Seimbol merupakan tanda yang representamennya menunjuk kepada objek tertentu tanpa motivasi (unmotivated); simbol terbentuk melalui kovensi-konvensi atau kaidah-kaidah tanpa adanya kaitannya langsung diantara representamen dan objeknya, yang oleh ferdinand de saussure dikatakan sebagai sifaf tanda yang arbitrer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trikotomi Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trikotomi ketiga, menurut hakikat intrepetannya, anda-tanda dibedakan oleh Peirce menjadi rema (rheme), tanda disen, serta argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Rema adalah suatu tanda kemungkinan kualitatif, yakni tapa apapun yang tidak betul dan berdiri sendiri adalah rema, bahkan nyaris semua kata tunggal—dari kelas kata apapun, entah kata kerja, kata sifat, dsb—adalah rema pula, kecuai tanda ya dan tidak atau benar dan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tanda disen atau dicisign adalah tanda eksistensi aktual, suatu anda yang biasanya berupa sebuah proposisi. Sebagai proposisi, disen adalah tanda yang bersifat inforatif. Akan tetapi, berbeda dengan rema, sebuah disen adalah betul atau salah, namun tidak secara langsung memberi alasan mengapa begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adalah tanda “hukum” atau kaidah, suatu tanda nalar, yang disadari oleh leading principle yang menyatakan bahwa peralihan dari premis-premis tertentu kepada kesimpulan tertentu adalah cenderung benar. Apabila tanda disen Cuma menegakkan eksistensi sebuah objek, maka argumen mampu membuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-4367237520436251745?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/4367237520436251745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/membaca-jagat-semiotik-peirce.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/4367237520436251745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/4367237520436251745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/membaca-jagat-semiotik-peirce.html' title='MEMBACA JAGAT SEMIOTIK PEIRCE'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5C3H3BJnI/AAAAAAAAAK4/TTxOS6m8PYE/s72-c/m_puisig.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-8353436199444732635</id><published>2009-03-16T04:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T05:05:18.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik : BAHASA JUNKIE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5APvK021I/AAAAAAAAAKo/2VlFb5JcWgs/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5APvK021I/AAAAAAAAAKo/2VlFb5JcWgs/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313755249447852882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Adam Rizal M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa junkie adalah bahasa rahasia yang di pakai di antara para junkie untuk berkomunikasi. Yang tujuannya agar orang lain (orang normal) tidak mengerti, yang mengerti hanya junkie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sering kita dengar bahwa yang dapat mengerti junkie (pecandu) adalah junkie itu sendiri, contoh kasus: biasanya bila kita sharing tentang masalah kita kepada orang tua kita atau orang lain yang bukan junkie, mereka akan menjawab dengan jawaban yang akan membuat kita tidak nyaman. Beda halnya dengan jika kita sharing dengan sesama junkie karena biasanya dia akan mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan agar membuat kita merasa nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada juga dari bahasa non verbal junkie seperti banyak dari kita yang dapat mengetahui bahwa seseorang itu adalah junkie tanpa kita melihat dan mengenal dia sebelumnya dengan cara melihat track atau bekas suntikan, gerak-gerik orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahasa junkie bukanlah bahasa yang baku karena pada dasarnya istilah-istilah junkie itu digunakan untuk mencover atau menyelubungi komunitas junkie dari sorotan masyarakat sehingga bahasanya pun selalu berubah atau berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kita membahas bahasa junkie agar kita dapat mengerti atau mengetahui bahwa yang dapat mengerti junkie adalah junkie sehingga dalam pemulihan, kita dapat menyadari bahwa yang dapat menolong junkie adalah seorang junkie sehingga dapat terbentuk junkie helping junkie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut sebagai bahasa Junkie adalah bahasa universal yang dipahami oleh semua junkie, dimanapun mereka berada. Bahasa Junkie tidak hanya berisi istilah, kata-kata, bahasa tubuh, tetapi juga empati. Ada empati diantara sesama pecandu yang tidak didapatkannya dengan orang lain. Kami sebagai pecandu memahami apa yang dimaksud bila pecandu lain bercerita tentang keputusasaan, kemarahan, kebencian, dan perasaan-perasaan serta emosi-emosi lain yang kerap muncul dalam dunia adiksi. Kami memahami betul rasanya terperangkap dalam penjara yang ada dalam diri kami... Inilah sebabnya kami di Yayasan Kita menggunakan metode Junkie Helping Junkie, karena tidak ada yang lebih memahami pecandu daripada pecandu itu sendiri. Karena bahasa kami sama, ada empati dalam setiap rangkulan, tatapan, dan sharing kami. Juga karena pecandu akan lebih nyaman dengan orang-orang yang sama dengannya, atau paling tidak pernah merasakan apa yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Junkie:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Verbal: istilah-istilah, kata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Non-verbal: tingkah laku, cara bicara, gerak tubuh, gaya berpakaian, body language.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH ISTILAH-ISTILAH VERBAL:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bokul, jokul. &lt;br /&gt;Moker.&lt;br /&gt;Gepang.&lt;br /&gt;Jp/ jackpot.&lt;br /&gt;Basian.&lt;br /&gt;Kentang, &lt;br /&gt;gantung.&lt;br /&gt;Eteb/tep-e.&lt;br /&gt;Ubas/ss&lt;br /&gt;Wakas, wakap.&lt;br /&gt;Pedaw, giting.&lt;br /&gt;Berokap.&lt;br /&gt;Nge-cak.&lt;br /&gt;Mentok.&lt;br /&gt;Bais.&lt;br /&gt;Nyetun.&lt;br /&gt;Gaw.&lt;br /&gt;Tekapan/paketan.&lt;br /&gt;Edeb/bd&lt;br /&gt;Oplosan.&lt;br /&gt;Kertim.&lt;br /&gt;Kar-tel.&lt;br /&gt;Cucaw/ngipe.&lt;br /&gt;Insul.&lt;br /&gt;Boti.&lt;br /&gt;Ke gab.&lt;br /&gt;Mokin/ minum.&lt;br /&gt;Ngiprit.&lt;br /&gt;Br.&lt;br /&gt;Bong.&lt;br /&gt; Inex.&lt;br /&gt;Chimenk/ pocong.&lt;br /&gt;tepar.&lt;br /&gt;Stokun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH  NON-VERBAL:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya berpakaian: cuek, asal,dekil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya berdandan: menor, medok untuk menutupi muka pucat, gaya rambut di warnai atau gondrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya bicara tidak sopan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisik: di tato, banyak tindikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak tubuh kalau lagi sakaw nguap-nguap, kalau lagi pedaw menggaruk hidung, cara jalan, cara jongkok, menunduk, tidak berani eye contact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA PANDANG ORANG TERHADAP JUNKIE:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelek/buruk.&lt;br /&gt;Kurus.&lt;br /&gt;Tidak terawat/ dekil.&lt;br /&gt;Rambut gondrong.&lt;br /&gt;Kusam.&lt;br /&gt;Bertato.&lt;br /&gt;Tidak tahu sopan-santun.&lt;br /&gt;Kotor.&lt;br /&gt;Perokok.&lt;br /&gt;Kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-8353436199444732635?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/8353436199444732635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/sosiolinguistik-bahasa-junkie.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8353436199444732635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/8353436199444732635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/sosiolinguistik-bahasa-junkie.html' title='Sosiolinguistik : BAHASA JUNKIE'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb5APvK021I/AAAAAAAAAKo/2VlFb5JcWgs/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2716583140359172823</id><published>2009-03-16T04:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:47:46.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Cerpen; Segelas Jus Alpukat Tanpa Irisan Cokelat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb4-ecfd2nI/AAAAAAAAAKg/oZO4fssqtnc/s1600-h/juis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb4-ecfd2nI/AAAAAAAAAKg/oZO4fssqtnc/s400/juis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313753303108934258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Feri Muhamad Sukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan datang menghampiriku, sedang aku termenung, menunggu Puspita datang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menyodorkan padaku beberapa kertas yang dijilid sedemikian rupa, hingga menyerupai sebuah buku kecil berisi daftar makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terima tumpukan kertas itu, dari tangan gemetar. Sebuah pena di tangan kiri, sedikit menjuntai bebas. Gigi putih yang dipaksa untuk mejeng di hadapan orang.&lt;br /&gt;Sejenak saja aku memandangi wajah itu, Puspita datang dari balik punggung pelayan lain. Puspita membawa senyum dari kamar belakang, kemudian menyimpannya selalu dalam mulut yang pernah aku kecup itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada Tanya atau apa, ketika aku dan pelayan itu bercakap dengan patahan kalimat yang kaku. Sekaku rambutku yang diberi minyak. Pelayan itu mengangguk, ketika aku memesan padanya dua gelas jus alpukat tanpa irisan coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih suka itu?”&lt;br /&gt;“Aku merasa mengecup bibirmu.”&lt;br /&gt;“Jangan begitu, nanti kita berkecupan di waktu senggang.”&lt;br /&gt;“Kita sama-sama sibuk.”&lt;br /&gt;“Dan aku merasa terlalu puas untuk menyibukkan diriku.”&lt;br /&gt;“Ah, kamu ini. Aku jadi rindu kamu kecup.”&lt;br /&gt;Jangan Puspita. Aura kecupan kita begitu menggema. Orang-orang mengintip kita dengan sudut matanya. Tahukah kau, orang di belakang kita selalu memasang telinganya untuk menampung percakapan nakal kita?&lt;br /&gt;Puspita duduk saja santai. Beberapa orang naik panggung. Berkenalan, dan menyanyikan lagu-lagu romantis. Puspita begitu terpesona, ketika penyanyi itu membawakan beberapa lagu lawas yang cukup dia kenal. Suaranya yang empuk memang pas untuk dimakan malam-lmalam begini.&lt;br /&gt;Grup band itu baru saja selesai menghabiskan lagu ketiganya.&lt;br /&gt;Pelayang datang, membawa pesanan. Dia berdiri di hadap meja depan antara aku dan Puspita. Dua gelas jus alpukat tanpa irisan coklat dia letakkan di hadapan meja.&lt;br /&gt;Puspita sedikit lengah, dariku. Sebercak kertas kusam yang aku selipkan di antara tip, aku simpan di atas tampan yang kini kosong. Sang pelayan melotot melihatku, bertanya tanpa suara. Aku pandang balik padanya, seolah aku berkata padanya, ambil saja uang ini, dan tolong berikan aku pesan selanjutnya.&lt;br /&gt;Lima detik ia berfikir. Aku lemparkan senyum, maka ia membalasnya dengan senyum pula.&lt;br /&gt;Kembali pandangku pada Puspita. Sepasang mata yang berubah dengan lensa mata. Melirikku tanda tanya, adakah yang salah pada dirinya? Aku isyaratkan padanya tak ada yang salah. Puspita tak percaya, dan menggerak-gerakkan kepalanya pelan. Ketakutan berlebihan itu membuat beberapa lembar rambutnya berubah menjadi poni yang jatuh secara beruntut.&lt;br /&gt;“Kau begitu cantik, Puspita.”&lt;br /&gt;“Sudah keseribu kau katakana seperti itu!”&lt;br /&gt;“Kau membuat aku selalu rindu Puspita.”&lt;br /&gt;“aku lemparkan gemgaman tanganku pada tangannya. Tangan Puspita tak bereaksi, hanya desiran darah yang begitu cepat berlalu, membuat aku begitu merasa bersalah talah menangkap tangan itu. Kini menjadi dingin. Beku. Mukanya pucat, mata lensa berubah menjadi Puspita lugu, yang kehilangan kesadaran sejenak dalam tidur.&lt;br /&gt;“Kenapa kau Puspita?”&lt;br /&gt;“Tanganmu telah menyerap hangat tubuhku.”&lt;br /&gt;“Kau kedinginan Puspita?”&lt;br /&gt;“Aku begitu merasa jujur untuk mengatakan, bahwa aku benar-benar telah terpikat olehmu.”&lt;br /&gt;Puspita memejamkan matanya. Meresapi tangaku yang mencuri hangat tubuhnya. Seolah Puspita adalah ruh lama yang masuk kembali ke tubuh barunya.&lt;br /&gt;Di depan sana, di atas sebuah panggung sederhana, beberapa orang mulai kembali memainkan musiknya. Petikan gitar. Dentuman bas. Pukulan gendang. Gesesan pasir. Bersatu dengan suara berat sang vokalis.&lt;br /&gt;Puspita melepaskan tangannya, seolah penyanyi itu menghentakkan tidur sederhananya. Memalingkan wajah dariku, dan mulai mengikuti larik dari bait lagu.&lt;br /&gt;“Kau begitu hafal menyanyiakn lagu Puspita?”&lt;br /&gt;Puspita tersenyum. Menundukkan mata. Melihat sejenak kakinya yang mulai berkeringat.&lt;br /&gt;“Pertanyaan itu membuat aku merasa gerah.”&lt;br /&gt;“Tidak Puspita, aku tidak mengintrogasimu. Aku hanya kagum pada ular otakmu yang terus menggeliat, mencari kata-kata dalam nada.”&lt;br /&gt;“Kau lebih ahli beretorika dari pada sebagai pujangga.”&lt;br /&gt;“Dan kau terlalu munafik untuk mengelak, bahwa kau jatuh cinta padaku, Puspita.”&lt;br /&gt;Barisan gunung Puspita terlihat begitu indah. Dari balik bibir merah segaris tipis menyembul cahaya keteduhan. Aku merasa sedang berteduh dari cahaya keteduhan itu. Jari-jari pandangnya, dengan cat warna merah menghiasi ujungnya, Puspita begitu tinggi kelasnya untuk duduk bersamaku. Tapi Puspita adalah perempuan rendah hati. Karena kerendahan hati itu, Puspita telah menerima cintaku sebagai manusia pilihan yang diterima masuk ke balik bilik hatinya.&lt;br /&gt;Aku ikut tertawa, senyum yang dilebarkan. Aku berusaha menutup meulut, agar taringku yang sedikit keluar dari jalurnya bias tersembunyikan. Karena itu pula, senyum Puspita menjadi tawa. Menertawakan aku yang tertawa karenanya. Aku dan Puspita sama-sama tertawa dalam satu meja.&lt;br /&gt;Cukup lama aku dan Puspita tertawa. Mata Puspita, keKasih yang aku jaga air matanya menetes. Aku berikan padanya sebuah tisu dari balik saku kemejaku. Puspita menerimanya, dan mengusapkan selembar tisu pada kedua matanya yang berlinangkan air mata ketawa.&lt;br /&gt;Sejanak lalu Puspita tertwa, maka air mata tawa berubah menjadi tawa yang begitu menyakitkan. Ketika tawa dan derail air mata bahagia turun, maka kesedihan dan air matanya cepat menggantikan posisi tawa di mata aku dan Puspita.&lt;br /&gt;“Jangan kau bawa air mata itu, Puspita. Air mata yang seharusnya kau berikan pada laki-laki di rumahmu itu, kenapa kau bawa ke hadapku? Sebagai sebuah kesatuan dalam mata yang sama.”&lt;br /&gt;Puspita masih terus mengusap-usap matanya. Air mata terus berjatuhan. Dari mata air pegunungan yang suci, berubah menjadi air keruh yang membawa segala kepenyakitan.&lt;br /&gt;“Lepaskan bola mata itu, Puspita!”&lt;br /&gt;Seolah Puspita tak mendengar pintaku. Dia terus saja mengusap kedua boloa matanya. Puspita yang detik lalu kutemui sebagai wanita yang merenda di hati, menjadi semacam batu kerikil dalam kerongkongan.&lt;br /&gt;Gelas jus di hadap Puspita, sebatang sedotan berurat bengguk, bersumsumkan jus, menempel di mulut Puspita. Puspita meminum beberapa tetes jus tanpa cioklatnya.&lt;br /&gt;“Kau beri berapa para penuang jus ini?”&lt;br /&gt;“Tak perlu kita perbincangan harta yang memojokan aku pada kenyataan kau kini menjadi milik laki-laki tua di rumahmu. Aku tak sebegitu bias menjadi pencandu rook, karena rokok terlalu mahal untuk aku beli. Sekarang, nikmatilah semua ini. Ini jus alpukat tanpa irisan coklat yang selalu kau bawakan padaku, ketika orang tuamu tak ada, dan aku menjadi kucing yang mengambil minum tuannya di rumahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau bawa lagi kenangan kita, Kasih? Aku dan dia adalah atap dan dan daun pointu, tapi dia terlalu lemah untuk menyangga rumah kita. Biarkan dia dan segala kekayaannya mengendap bersama debu. Terhapus kepulan asap dari lamanya waktu yang menyisihkan diri. Aku dan kamu menjadi semacam benalu di rumah itu. Biarkan saja orang melihat kita apa, karena rasa cinta tak bias dihitung oleh angka, berapa besar, dan berapa mutu cinta kita beradu mesra.”&lt;br /&gt;Puspita menghentikan minumnya. Seorang pelayan datang pada kami, memberikan padaku sebuah surat kabar nasional dua hari yang lalu. Mata Puspita menjamah Koran itu, dari mulai dalam pangkuan pelayan itu, hingga kini berpindah pangkuan padaku.&lt;br /&gt;“Kau apakan pelayan itu, sampai dia mau mengantarkanmu surat kabar? Adakah di dalamnya wasiat suamiku?”&lt;br /&gt;Hamper saja Puspita mengambil Koran itu dari pangkuanku. Tanganku masih cukup cepat untuk melawan tangan Puspita yang gemuali menampar angina.&lt;br /&gt;“Jangan terlalu cepat untuk memvonis aku, Puspita. Aku masih saja baik seperti dulu, cukup untuk memuat beberapa kepercayaan orang di sana.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu apa, Kasih?”&lt;br /&gt;Aku membuka isi Koran itu, membolak-baliknya, dan memberikan selembar Koran itu padanya.&lt;br /&gt;“Cobalah kau baca ini, Puspita.”&lt;br /&gt;“Apa ini?”&lt;br /&gt;“Sebuah sajak mungil yang menampung sejenak kerinduanku padamu. Ketika tangan-tangaku tak sampai membelai rambutmu, maka tanganku menjamah kertas-kertas untuk di cercah beberapa puisi tentang kamu. Bacalah, Puspita. Bacalah di hadapan suamimu. Biarkan dia merasakan betapa tak bermanfaat dirinya di hadapanmu. Lepaskan kecemburuan itu, agar tangan-tangan tuhan yang membelenggu jari manis itu terlepas, dan membuka seirama cinta kita yang terus menggebu.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Maukah kamu menemaniku, mengintari garis-garis tuhan yang ada di tangku ini. Agar setiap garis dan lekukannya akan begitu lurus menuliskan sebuah huruf sederhana bertuliskan M?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2716583140359172823?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2716583140359172823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/puspita-segelas-jus-alpukat-tanpa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2716583140359172823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2716583140359172823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/puspita-segelas-jus-alpukat-tanpa.html' title='Cerpen; Segelas Jus Alpukat Tanpa Irisan Cokelat'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb4-ecfd2nI/AAAAAAAAAKg/oZO4fssqtnc/s72-c/juis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-5848155037316903481</id><published>2009-03-16T04:42:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T13:48:20.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>okoh Dunia : JOHANNES KEPLER 1571-1630</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb49GZQ0FBI/AAAAAAAAAKY/bEuvctAoAqY/s1600-h/Johannes_Kepler_1610.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb49GZQ0FBI/AAAAAAAAAKY/bEuvctAoAqY/s400/Johannes_Kepler_1610.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313751790413681682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;oleh Michael H. Hart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ke-97&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli setan dengan planit-planit! Peduli setan dia mau berputar, merosot, tabrakan, terjungkal! Tetapi tidak "peduli setan" buat Johannes Kepler yang lahir tahun 1571 di kota Weil der Stadt, Jerman, penemu hukum pergerakan planit-planit. Penemuan Kepler in cuma dua puluh delapan tahun sesudah penerbitan buku De revolutionibus orbium coelestium, buku besar yang di dalamnya memuat teori Copernicus bahwa planit-planit berputar mengitari mentari dan bukannya mengitari bumi. Kepler belajar di Universitas Tubingen, peroleh gelar sarjana muda tahun 1588 dan gelar sarjana penuh tiga tahun kemudian. Umumnya para ilmuwan saat itu menolak teori "heliocentris" Copernicus; tetapi, ketika Kepler di Tubingen dia dengar hipotesa heliocentris itu dan memperincinya dengan kecerdasan tinggi, akhirnya dia mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesudah meninggalkan Tubingen, Kepler menjadi mahaguru selama beberapa tahun di akademi di kota Graz. Sambil mengajar dia tulis buku pertamanya tentang astronomi (1596). Kendati teori yang diajukan Kepler di buku itu ternyata sepenuhnya meleset, buku itu dengan jernih menunjukkan kemampuan matematika Kepler dan kemurnian pikirannya, sehingga ahli astronomi besar Tycho Brahe mengundangnya jadi asistennya di peneropong bintangnya di dekat Praha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepler menerima undangan ini dan bergabung dengan Tycho bulan Januari 1600. Tycho meninggal dunia tahun berikutnya, tetapi Kepler sudah berhasil menyuguhkan kesan baik pada bulan-bulan sebelumnya sehingga Kaisar Romawi Suci --Rudolph II-- segera menunjuknya menggantikan Tycho selaku matematikus kerajaan. Kepler menduduki posisi itu selama sisa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pengganti Tycho Brahe, Kepler mewarisi setumpuk besar catatan hasil pengamatan cermat ihwal planit-planit yang telah digarap Tycho bertahun-tahun. Karena Tycho --astronom besar terakhir sebelum diketemukan teleskop-- juga pengamat yang hati-hati dan teliti yang pernah dikenal dunia, catatan-catatan itu teramat besar harganya. Kepler percaya bahwa catatan analisa matematika Tycho yang cermat memungkinkannya menentukan kesimpulan bahwa teori gerakan planit adalah benar: teori heliocentris Copernicus; teori geocentris Ptolemy yang lebih lamaan; atau bahkan teori ketiga yang dirumuskan Tycho sendiri. Tetapi, sesudah bertahun-tahun melakukan sejumlah perhitungan yang cermat, Kepler dengan rasa cemas menemukan bahwa pengamatan Tycho tidaklah konsisten dengan teori-teori yang mana pun juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Kepler menyadari bahwa masalahnya adalah: dia, seperti juga Copernicus dan Tycho Brahe dan semua astronom klasik telah menduga bahwa orbit keplanitan terdiri dari lingkaran-lingkaran atau gabungan dari lingkaran-lingkaran. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa orbit keplanitan tidaklah melingkar, melainkan agak oval, ellips.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sesudah menemukan pemecahan pokok, Kepler masih harus menghabiskan waktu berbulan-bulan membenamkan diri dalam kerja hitung-menghitung yang rumit dan melelahkan untuk meyakinkan bahwa teorinya memuaskan pengamatan Tycho. Buku besarnya Astronomia Nova, diterbitkan tahun 1609, menyuguhkan dia punya bagian pertama dari dua hukum pergerakan planit. Hukum pertama menegaskan tiap planit bergerak mengitari mentari dalam orbit oval atau ellips dengan matahari pada satu fokus. Hukum kedua menegaskan bahwa planit bergerak lebih cepat ketika berada lebih dekat dengan matahari; kecepatan planit berbeda begitu rupa bahwa garis yang menghubungkan planit dan matahari selama perputaran, meliwati bidang yang sama luasnya dalam jangka waktu yang sama. Sepuluh tahun kemudian Kepler mengeluarkan hukum ketiganya: makin jauh jarak sebuah planit dari matahari, makin perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan perputarannya atau kwadrat kala perputaran planit-planit berbanding lurus dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya dengan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Kepler, dengan menyuguhkan gambaran pokok yang komplit dan tepat tentang gerak planit-planit mengitari matahari, memecahkan masalah utama bidang astronomi, yang bahkan oleh orang-orang genius seperti Copernicus dan Galileo terliwatkan. Tentu saja, Kepler tidak menjelaskan mengapa planit-planit bergerak pada orbitnya seperti itu; masalah ini terpecahkan di abad berikutnya oleh Isaac Newton. Tetapi, hukum Kepler merupakan pendahulu vital buat sintesa besar Newton. ("Jika saya melihat lebih dulu dari orang lain," begitu pernah Newton bilang, "ini akibat saya berdiri di atas pundak-pundak para raksasa." Tak salah lagi, Kepler adalah salah satu dari raksasa-raksasa itu yang dimaksud Newton).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan Kepler kepada astronomi hampir bisa disejajarkan dengan Copernicus. Dan sesungguhnya, dalam beberapa hal hasil karya Kepler bahkan lebih mengesankan. Dia lebih orisinal,, dan kesulitan matematika yang dihadapinya bagaikan menggunung. Teknik matematika pada saat itu tidaklah sesempurna perkembangannya seperti halnya kini, dan saat itu tak ada mesin kalkulator yang menolong Kepler dalam tugas penghitungan-penghitungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari sudut arti penting karya Kepler, adalah mengherankan bilamana pada mulanya hampir tidak digubris orang, bahkan oleh seorang ilmuwan besar seperti Galileo. (Galileo tak ambil perhatian hukum Kepler sungguh mencengangkan karena kedua orang itu saling berkorespondensi satu sama lain, dan juga karena hasil karya Kepler dapat menolong menguji teori Ptolemy). Tetapi bila yang lain-lainnya agak lambat menghargai ketinggian hasil karya Kepler, ini dapat difahami oleh Kepler sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam nada letupan kegembiraan Kepler menulis "... Buku telah kutulis! Telah kupersembahkan sesuatu anugerah kesenangan yang suci. Dia akan dibaca baik oleh orang sejamanku atau oleh generasi sesudahku. Aku tidak peduli. Bisa jadi buku itu harus menunggu 100 tahun untuk menjumpai seorang pembaca, seperti halnya Tuhan menunggu 6000 tahun seseorang yang bisa memahami kebesaran karyanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun angsur-berangsur, sesudah melampaui beberapa dekade, arti penting hukum Kepler menjadi jelas buat dunia ilmu pengetahuan. Pada abad berikutnya pendapat-pendapat yang memihak teori Newton berkata bahwa hukum Kepler disimpulkan dari teori-teori itu. Pendapat sebaliknya mengatakan, hukum gerak Newton, hukum gaya berat Newton disimpulkan dari hukum Kepler. Tetapi, untuk berbuat demikian memerlukan teknik itu, Kepler, cukup mudah menangkap permasalahannya dan mengajukan pendapat bahwa gerakan planit dikontrol oleh tenaga yang datang dari matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan hukum gerakan planit-planit, Kepler menyumbangkan berbagai ihwal kecil di bidang astronomi. Dia juga membuat sumbangan penting mengenai teori optik. &lt;br /&gt;Di akhir-akhir umurnya --sayang sekali-- dia diganggu oleh masalah pribadi. Jerman merosot jadi kacau karena "Perang tiga puluh tahun" dan jarang orang yang bisa lolos dari kesulitan-kesulitan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu masalah adalah soal nafkah. Kekaisaran Romawi Suci lambat dalam pembayaran gajinya, walau dalam keadaan yang tidak gawat. Dalam keadaan perang yang kacau-balau, gaji Kepler ditunggak terus. Karena Kepler kawin dua kali dan punya dua belas anak, kesulitan duit ini betul-betul berat. Masalah lain menyangkut bundanya yang di tahun 1620 ditahan dengan tuduhan jadi "dukun sihir." Kepler banyak buang waktu hingga akhirnya sang ibu bisa dibebaskan tanpa mengalami siksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepler meninggal dunia tahun 1630 di Regensburg, Bavaria. Dalam masa "Perang tiga puluh tahun" yang mengganas itu, kuburnya diobrak-abrik. Tetapi, hukum gerakan planitnya terbukti lebih menjadi kenangan yang lestari dari sekadar sepotong batu nisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;Michael H. Hart, 1978&lt;br /&gt;Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982&lt;br /&gt;PT. Dunia Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Jln. Kramat II, No. 31A&lt;br /&gt;Jakarta Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-5848155037316903481?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/5848155037316903481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/johannes-kepler-1571-1630.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5848155037316903481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/5848155037316903481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/johannes-kepler-1571-1630.html' title='okoh Dunia : JOHANNES KEPLER 1571-1630'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sb49GZQ0FBI/AAAAAAAAAKY/bEuvctAoAqY/s72-c/Johannes_Kepler_1610.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-3586350384064428945</id><published>2009-03-04T05:37:00.000-08:00</published><updated>2009-07-07T13:48:54.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Cerpen : Gadis Kecil di Lampu Merah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6G3T4NKgI/AAAAAAAAAKQ/I1tw1rmzE-o/s1600-h/ghnh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 231px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6G3T4NKgI/AAAAAAAAAKQ/I1tw1rmzE-o/s400/ghnh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309329295503337986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: Riz Koto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Karya&lt;br /&gt;Minggu, 27 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebenarnya sudah amat larut, setengah dua malam menjelang pagi, di perempatan lampu merah Tol Timur Bekasi. Dingin menjelang subuh itu jelas menusuk hingga ke tulang. Meski aku tidak merasakannya, karena dibatasi dinding metal bercat mewah buatan Jepang dan kaca tembus tiga puluh persen, aku sungguh bisa membayangkan dinginnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bocah kecil dengan baju kumuh yang menempel seadanya di tubuh ringkihnya di seberang jalan, yang tiba-tiba tergopoh-gopoh berlari ke arah mobil yang aku tumpangi, pasti merasakan benar tusukan dingin itu. Tapi ia tampak tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami berhenti karena lampu merah di perempatan itu menyala, gadis kecil dengan rambut tak terurus itu lekas bergerak ke arah kami. Matanya, dengan kantuk menggelayut berat di pelupuknya, tak lepas dari mobil yang aku tumpangi di urutan terdepan jalur lampu merah itu. Seberkas cahaya tampak membayang di sana&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringan ia berlari ke samping sopir, temanku, yang menyetir di balik kaca gelap tiga puluh persen. Tanpa aba-aba dan basa-basi apa pun ia memulai aksinya. Tapi, sigap pula temanku mengangkat tangan, melambai ringan memberi tanda. Namun, entah kenapa, fokus mataku terus tersedot kuat ke wajah gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah dingin dan kesal temanku makin kuat manakala gadis kecil terus memainkan kecreknya dengan lagu dangdut rupa-rupa, dengan suara lemah. Dan memang, jangankan keindahan yang terdengar, justru nada sumbang yang berkencrengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapaain... ada tu.. yang mengomandoi," pelan, terdengar temanku yang berwajah dingin kesal bergumam. Mendengar itu, satu sudut hatiku langsung protes. Namun, itu hanya suara salah satu sudut hatiku yang lemah. Dan sudut-sudut hatiku yang lain mendiamkan komentar temanku yang saklek, bahkan cederung menyetujuinya. "Iya... uang yang kita berikan bukan untuk dia!" Konyol, aku menyetujui temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali temanku melambai lagi, hingga akhirnya gadis kecil berbadan ringkih yang mencoba bertahan akhirnya berbalik pelan dan pergi membawa kecewa setelah beberapa saat sempat merapatkan wajahnya ke kaca jendela sembil memagarinya dengan kedua telapak tangannya, seolah meneropong kami di dalam yang kesal, cukup lama--yang membuat temanku benar-benar kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam kepergian itu si gadis kecil sempat menoleh (seolah) memandang kami sebentar--dan berkata entah apa--tanpa menghentikan langkahnya. Duummm! Saat itulah wajah itu, kekecewaan itu, kesedihan itu, tambak bagiku begitu memelas, dan serasa tak asing, bagai pernah kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, di wajah itu kurasakan ketakutan. Bukan kesal, bukan pula mengumpat sebagaimana sempat kukira tadi. Pelan-pelan hatiku ciut, mendingin seperti dirasuki uap es ke seluruh relungnya. Dan perasaan cemas menyergap. Jangan-jangaan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air bah penyesalan tiba-tiba menghantamku, atas apa yang aku tidak lakukan: sekadar melemparkan recehan yang sebenarnya tak banyak artinya bagi kami. Wajahku mengeras, mataku memejam, kelam menyergap, begitu gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku jatuh di sebuah gubuk di desa miskin nun jauh di ujung hamparan sawah Dusun Tumpak di daerah Plelen, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang mak dengan empat anak yang masih kecil-kecil. Aku tak mengerti kenapa aku ada di sana, aku juga tak sempat bertanya untuk apa aku ada di tengah empat anak dan seorang ibu dengan wajah pucat tak berdaya itu. Yang jelas, aku benar-benar merasa sedang berada di sana, di tengah mak dan empat anak-anaknya yang masih kecil, yang saat itu mengalami derita yang mengiris-iris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaak... lapaaar...!" Tiba-tiba aku dikejutkan suara kecil lemah memelas seperti pernah kudengar, persis di belakangku, nyata sekali, di sudut gubuk itu. "Maaak...." Aku ternanar, cepat memutar badan dan menoleh ke arah suara. Wajah itu, dengan mata yang sayu seperti lampu teplok kehabisan minyak, memandang ke arahku. Aku benar-benar terpana, benar! Sorotan matanya itu! Wajahnya kemudian menunduk, pelan badannya merebah di lantai tanah gubuk apak, meringkuk, lalu kedua tangannya beringsut menarik kedua lututnya hingga mendekap. "Maaak...," suaranya memelas lalu diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buru-buru mendekat, memegang tubuhnya, tanganku terus ke lehernya, meyakinkan diri. Aku takut sekali, sesuatu yang tak tepermanai akankah aku alami? Gadis kecil ini berpulang di hadapanku karena kelaparan. Ya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pelan mata gadis kecil itu membuka lagi, wajahnya menoleh ke arahku, menatapku lagi dengan wajah derita. Bibirnya gemetar. Oh... dia benar-benar kelaparan dan sedang berusaha menyesuaikan diri agar lapar tidak terus menggelepar di dalam dirinya yang kecil dan lembut. Aku kemudian mengangkatnya dengan kedua tanganku, mendekapnya. Malam terus mendingin. Angin kemarau malam menebar derita yang kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, di gubuk reot mak, ramai oleh suara anak-anaknya yang ceria. Di tengah riuh itu terdengar suara orang menambah lagi kue dengan bangga. Gadis kecil tampak senang, amat kontras dengan semalam. Dan di tangannya kini tergenggam sepotong donat dengan bekas gigitannya. Sekali-sekali ia memandang lagi kue yang tampak asing baginya, tapi tampak benar-benar membuatnya senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih ya Nak Prangki..." Aku mendengar suara mak di depan gubuk, di atas bale bambu. Rupanya pagi itu keluarga gadis kecil kedatangan seseorang, tamu dari kota, yang sebenarnya berasal dari desa gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, sama-sama, Mak... Ini tidak seberapa... ala kadarnya, dari kota..." Franky membalas Mak percaya diri serasa pamer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh ngomong-ngomong, anak Mak ada berapa...," Franky tiba-tiba bertanya yang cukup membuat mak kaget. Soalnya, ini perhatian yang amat mewah bagi mak. Mak merasa ada sesuatu yang menggeliat di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuu...juh, Nak Prangki, dua putra lima putri...." Dengan menyebut jumlah anaknya mak telah memancangkan sinyal minta pertolongan.&lt;br /&gt;"Kok banyak benar Mak, zaman sudah modern begini..." Enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaah... Tuhan ngasih terus....," kata Mak pelan, tampak malu. Tapi kemudian tak acuh, melanjutkan dengan kata-kata dibuat bijak. "Yoo... ini titipan Tuhan, yoo harus diterima saj..ja... to... Nak Prangki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Franky hanya tersenyum, lalu mengangkat satu kakinya ke atas bale, menopangkan sikunya di situ. Matanya menatap cukup lama ke arah gadis kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak Mak masih sekolah...." Mak kaget ditanya begitu. Dia tidak menyangka ditanya hal yang lebih baik dia lupakan mengingat kesusahan yang dia alami. Tapi, harapannya yang tadi menggeliat mendapat pupuk yang membuatnya cepat membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tinggal si Darsih," kata Mak menyebut si gadis kecil, mencoba mengingkari pergolakan di dalam dirinya. "Tapi sudah sejak tiga bulan lalu tidak sekolah. Ia malu katanya terus ditagih bayaran oleh gurunya..."&lt;br /&gt;"Ditagih opo, Mak... kan sud..."&lt;br /&gt;"Sudah gratis! Gratis opo Nak Prangki..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba gadis menghambur ke arah mak. "Iya Mak, bayarlah Mak bayaran Darsih, Darsih mau sekolah...," katanya merengek. Ia tampak benar-benar berharap keinginannya sekolah dapat dikabulkan. Wajah polos dan suci gadis kecil begitu cepat melupakan deritanya semalam. Ia memang belum paham kondisi keluarganya. Maklum anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si mak menatap si gadis kecil dengan sedih. Matanya kemudian tampak berkaca-kaca, ia lalu tertunduk. Tiba-tiba mak mengangkat wajahnya dan memandang ke Franky sebentar, seolah ingin melihat respons atas sinyal mohon pertolongan yang sudah dilepasnya tadi.&lt;br /&gt;"Oh itu gampang Mak, bera..." kata Franky cepat seperti merespons kegundahan Mak.&lt;br /&gt;"Eh... ndak usah to Nak Prangki," cepat Mak menyela merasa malu--ciri orang timur.&lt;br /&gt;"Oo ndak pa-pa to Mak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis kecil bangkit ke arah Mak dan menyender manja. Wajahnya berseri-seri. "Darsih bisa sekolah ya Mak, ya Mak...." Adik-adiknya ikut mendekat. Mereka bergelendotan di tubuh mak yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mak diam tanpa ekspresi. Hanya kesedihan membayang di wajahnya. Ia lalu merangkul pelan anak-anaknya, memandanginya dengan kasih sayang berwarna duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak sadar sekolah penting bagi anak-anaknya, meski ia tak pernah sekolah hingga ia tak bisa membaca. Mak benar-benar telah merasakan betapa kebodohan mencengkram dirinya lantaran tak sekolah hingga tak bisa hanya sekadar menuliskan namanya sendiri. Ke mana-mana ia digandoli oleh rasa tidak bisa. Mak akhirnya tampak menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatannya mengembara, lalu jatuh pada anak sulungnya, Joko Sulung, yang kini jadi buruh tani, yang untuk dirinya saja kekurangan. Lalu mak ingat anak keduanya, Teguh, tak jauh berbeda. Konon pergi ke kota dan menjadi pedagang asongan. Mak sekali-sekali memimpikan anak keduanya ini mengirimkan uang barang seratus ribu kepadanya. Dulu sekali Teguh pernah mengirim, senangnya mak tak kepalang. Itulah sebabnya Mak terus berharap, walau tak pernah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga tak ada kabarnya setelah minta izin ikut orang kota menjadi pembantu di Jakarta. Mak berurai air mata waktu melepas anak gadisnya yang berwajah cukup menarik ini. Begitu menariknya rupa putrinya ini, mak sampai pernah berkhayal dapat menantu orang berada di kampungnya. Namun, khayalan itu sirna bersama perginya sang gadis ke "kota penuh harapan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darsih dan tiga adiknya masih di gubuk di bawah lindungan mak yang sebenarnya juga perlu perlindungan si bapak yang tiba-tiba berpulang belum lama lalu. Kata dokter puskesmas, si Bapak sakit karena kurang gizi. Kata mak, sang bapak sering mengalah agar anak-anaknya bisa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Okelah Mak, kalau begitu, saya pergi dulu," si Franky tiba-tiba minta diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung itu Franky dikenal sebagai pemilik berbagai usaha di Jakarta. Tapi tak ada yang tahu usaha apa yang dibosinya. Namun setiap dia pulang kampung, dia selalu membagi-bagikan uang. Dan ketika kembali ke kota, ia selalu membawa warga kampung yang katanya untuk diajak bekerja di perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh kok buru-buru Nak Prangki," cepat Mak bangkit memburu ke arah Franky. "Ya ndak ada yang dapat Mak suguhkan ya...."&lt;br /&gt;"Oo ndak usah repot-repot to Mak, biasa aj-ja...," kata Franky sambil belangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Franky berbalik ketika mak memburunya. Mak juga mendekat dengan kikuk, seperti menghendaki sesuatu. Mak lalu memandang ke si gadis kecil, menoleh lagi ke Franky tanpa berkata selain kikuknya tak kepalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya, Mak, ha ha ha...." Franky merogoh kantong belakangnya, menarik dompet dan membukanya. Dia lalu membalik-balik lembaran lima puluh ribuan. Mata mak terbelalak. Sudah begitu lama dia tidak melihat lembaran-lembaran sebesar itu, apalagi dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak terus memandang jari-jari Franky membolak-balik lembaran lima puluhan ribu itu. Tapi Franky tak kunjung menarik keluar barang selembar pun. Bahkan ia kembali memasukkan dompet itu ke sakunya. Franky lalu mendekat ke arah mak dan menatap mata mak dalam-dalam. Mak kebingungan dan amat kecewa.&lt;br /&gt;"Mmmm eh... itu gampang Mak. Saya bisa membayar semua biaya sekolah Darsih, tapi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi... tapi apa to, Mas Prangki...." Mak tampak sekali tak paham dan bingung, sampai-sampai menyebut Prangki dengan Mas Prangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini Mak, bagaimana kalau Darsih... kalaaau... saya... bawa ke Jakarta...."&lt;br /&gt;"Ooo..." Mak pucat. Ia mundur, berbalik terus melangkah kuyu... lalu terduduk lemas. Tampak harapan yang tadinya tumbuh di dalam dirinya menguap tiba-tiba. Ia bahkan tampak sekali berubah kecewa dan takut, walau menutup-nutupinya--hal yang sering dialami orang kecil: harapan yang mudah tumbuh, tapi lebih sering terhempas tanpa perlu alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini, Mak... saya ada kerjaan anak-anak, tidak berat, ya... sambil main-mainlah, nyanyi-nyanyi, tapi dapat duit lumayan...." Mak tampak memaksakan diri untuk tertarik ucapan Franky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya rasa adik-adik Darsih bisa sekolah sementara kakaknya bekerja sambil bersenang-senang sama saya. Mak nggak usah khawatir, akan saya jaga Darsih. Sekadar Mak Tahu saja, nih, nggak ada yang berani sama saya di kota," kata Franky. "Anak Mak aman, saya jamin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian duduk di samping Mak yang terpana. "Ini bisa juga terserah Darsih, Mak. Kalau Darsih nggak betah, bisa pulang. Saya sendiri yang mengantar pulang, Mak. Kalau suka, ya bisa terus... ya kan?" Perlahan Mak tampak tertarik. Harapannya kembali terusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ya... semua terserah Mak," kata Franky sambil bergerak berdiri, jual mahal, seperti sering dia lakukan. Mak memandangi gerak punggung Franky. Ada yang tumbuh di dalam diri mak lagi. Ia juga spontan hendak berdiri. Gadis kecil memandang heran di dekat tiga adiknya yang acuh asik bermain tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam berdirinya mak hanya terpaku. Ada pergolakan hebat terjadi di dalam dirinya: antara harapan dan rasa kasihan atas anak perempuannya yang masih kecil juga membuyut. Oh, akankah dunia gadis kecil segera berganti dengan dunia kerja yang keras dan kejam tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mak... Darsih bisa sekolah ya Mak," si gadis kecil menyela. "Di sekolah banyak teman, Mak, kami belajar, bermain tali. Darsih selalu menang lo Mak, soalnya Darsih bisa sampai saratus... Pak guru baik... kalau pe-er Darsih salah, Pak Guru nggak marah, dikasih tahu aja..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak mematung. Air matanya meleleh. Aku terpana. Dan ada yang bergulir di pipiku. Deru gas mobil tiba-tiba bersahut-sahutan, mengagetkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tu.. tu... lihat tu, Zal...." Tiba-tiba temanku berseru sambil menunjuk sekilas ke sudut warteg di seberang jalan. Aku kaget. Ternyata aku masih di mobil temanku di lampu merah Tol Timur Bekasi. Buru-buru kuseka pipiku. Untungnya saat itu malam sehingga gelap, yang membuat temanku ta tahu aku menggulirkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang jalan, di samping warteg agak gelap, tampak membayang duduk tiga lelaki sangar. Di depannya, di atas bangku panjang reot, tampak bayangan tiga botol dan beberapa gelas berserakan. Satu-satu pengamen mendekat dan pergi dari sana. Tiba-tiba darahku tersirap, jantungku berhenti berdetak. Sekilas kulihat gadis kecil menjauh dari sana. Wajahnya, dukanya, memelasnya itu... Diakah gadis kecil Mak?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Bangka, 21 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-3586350384064428945?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/3586350384064428945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/gadis-kecil-di-lampu-merah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3586350384064428945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/3586350384064428945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/gadis-kecil-di-lampu-merah.html' title='Cerpen : Gadis Kecil di Lampu Merah'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6G3T4NKgI/AAAAAAAAAKQ/I1tw1rmzE-o/s72-c/ghnh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-1716710654919901639</id><published>2009-03-04T05:20:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T05:34:25.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Hubungan Linguistik dan Sosioligi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6B3cFizwI/AAAAAAAAAKA/uP-4rfBLpzo/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6B3cFizwI/AAAAAAAAAKA/uP-4rfBLpzo/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309323800148627202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Ilmu ini merupakan kajian kontekstual terhadap variasi penggunaan bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi yang alami. Variasi dalam kajian ini merupakan masalah pokok yang dipengaruhi atau mempengaruhi perbedaan aspek sosiokultural dalam masyarakat. Kelahiran Sosiolinguistik merupakan buah dari perdebatan panjang dan melelahkan dari berbagai generasi dan aliran. Puncak ketidakpuasan kaum yang kemudian menamakan diri sosiolinguis ini sangat dirasakan ketika aliran Transformasional yang dipelopori Chomsky tidak mengakui realitas sosial yang sangat heterogen dalam masyarakat. Oleh Chomsky dan pengikutnya ini, heterogenitas berupa status sosial yang berbeda, umur, jenis kelamin, latar &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;belakang suku bangsa, pendidikan, dan sebagainya diabaikan sebagai faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan pilihan-pilihan berbahasa. Berpijak dari paradigma ini Sosiolinguistik berkembang ke arah studi yang memandang bahwa bahasa tidak dapat dijelaskan secara memuaskan tanpa melibatkan aspek-aspek sosial yang mencirikan masyarakat, dengan kata lain perkembangan suatu masyarakat dari segala aspek kehidupan mau tidak mau akan mempengaruhi bahasa yang mereka pakai sehari-hari &lt;br /&gt;Di dalam kehidupan masyarakat fungsi bahasa secara tradisional dapat dikatakan sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat komunikasi. Bagi Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit. Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penjelasan tentang fungsi-fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Segi penutur &lt;br /&gt;Dilihat dari segi penutur maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya, bukan hanya menyatakan sikap lewat bahasa tetapi juga memperlihatkan sikap itu sewaktu menyampaikan tuturannya, baik sedang marah, sedih, ataupun gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Segi pendengar&lt;br /&gt;Dilihat dari segi pendengar maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar. Dalam hal ini, bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan hal sesuai dengan keinginan si pembieara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Segi topic&lt;br /&gt;Dilihat dari segi topik maka bahasa itu berfungsi referensial. Dalam hal ini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Segi kode&lt;br /&gt;Dilihat dari segi kode maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik, yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri, seperti pada saat mengajarkan tentang kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa yang dijelaskan dengan menggunakan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Segi amanat&lt;br /&gt;Dilihat dari segi amanat yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginatif, yakni bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (baik sebenarnya maupun khayalan/rekaan).&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan tentang fungsi bahasa. fungsi bahasa dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu segi penutur, segi pendengar, segi topik, segi kode, segi amanat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri umum sebuah bahasa adalah adanya pemakai atau Komunikan. Hal inilah yang menyebabkan sebuah bahasa mempunyai sifat abitrer dan konvensional, dengan kata lain pemahaman bahasa yang berbeda-beda tiap masyarakat akan menyebabkan adanya variasi bahasa. Dalam hubungannya antara Linguistik dan Sosiologi akan membaha tentang variasi bahasa tersebut. Bila dideekripsikan, sosiologi akan mempelajari masalah hubungan variasi bahasa ditinjau dari tingkah laku masysrakat, sebaliknya Linguistik akan mempelajari variasi bahasa tersebut ditinjau dari aspek kebahasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Variasi dari Segi Penutur&lt;br /&gt;Pertama, idiolek, merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Setiap orang mempunyai idiolek masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan “warna” suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dsb. Yang paling dominan adalah warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut Idiolek melalui karya tulis pun juga bisa, tetapi disini membedakannya agak sulit.&lt;br /&gt;Kedua, dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada di suatu tempat atau area tertentu. Bidang studi yang mempelajari tentang variasi bahasa ini adalah dialektologi.&lt;br /&gt;Ketiga, kronolek atau dialek temporal, yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu. Sebagai contoh, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, lima puluhan, ataupun saat ini.&lt;br /&gt;Keempat, sosiolek atau dialek sosial, yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Dalam sosiolinguistik variasi inilah yang menyangkut semua masalah pribadi penuturnya, seperti usia, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, pekerjaan, seks, dsb. Sehubungan dengan variasi bahasa yang berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya disebut dengan prokem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi dari Segi Pemakaian&lt;br /&gt;Variasi bahasa berkenaan dengan penggunanya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, pertanian, militer, pelayaran, pendidikan, dsb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi dari Segi Keformalan&lt;br /&gt;Menurut Martin Joos, variasi bahasa dibagi menjadi lima macam gaya (ragam), yaitu ragam beku (frozen); ragam resmi (formal); ragam usaha (konsultatif); ragam santai (casual); ragam akrab (intimate).&lt;br /&gt;Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi khidmat dan upacara resmi. Misalnya, dalam khotbah, undang-undang, akte notaris, sumpah, dsb.&lt;br /&gt;Ragam resmi adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, ceramah, buku pelajaran, dsb.&lt;br /&gt;Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, ataupun pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Wujud ragam ini berada diantara ragam formal dan ragam informal atau santai.&lt;br /&gt;Ragam santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dangan keluarga atau teman pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi, dsb. Ragam ini banyak menggunakan bentuk alegro, yakni bentuk ujaran yang dipendekkan.&lt;br /&gt;Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubngannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau teman karib. Ragam ini menggunakan bahasa yang tidak lengkap dengan artikulasi yang tidak jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari penjelasan di tas dapat disimpulkan bahwa bubungan antara Sosiologi dan Linguistik, mempuinyai peranan yang sama-sama mendukung. Di satu sisi Linguistik dibutuhkan untuk meneliti perkembangan bahasa di masyarakat, dan disisi lain Sosiologi dibutuhkan untuk meneliti berbagai macam fenomena kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan bahasa. Oleh karena itu lahirlah Cabang ilmu Sosiolinguistik untuk meneliti hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-1716710654919901639?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/1716710654919901639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/hubungan-linguistik-dan-sosioligi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1716710654919901639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/1716710654919901639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/hubungan-linguistik-dan-sosioligi.html' title='Hubungan Linguistik dan Sosioligi'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa6B3cFizwI/AAAAAAAAAKA/uP-4rfBLpzo/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-401364261612595661</id><published>2009-03-04T05:02:00.000-08:00</published><updated>2009-07-07T13:49:19.030-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosilinguistik : KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa5-tAqHBGI/AAAAAAAAAJ4/B2Bk9YWoOrg/s1600-h/m_sosiolinguistikj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa5-tAqHBGI/AAAAAAAAAJ4/B2Bk9YWoOrg/s400/m_sosiolinguistikj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309320322452227170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kontak Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak bahasa terjadi apabila seorang penutur yang menguasai dua bahasa atau lebih menggunakan bahasa yang dikuasainya secara bergantian. Kontak bahasa terjadi dalam diri penutur secara individual. Individu tempat terjadinya kontak bahasa disebut dwibahasawan dan peristiwa pemakaian dua bahasa secara bergantian disebut kedwibahasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak bahasa terjadi dalam situasi konteks sosial, yaitu situasi belajar bahasa, proses pemerolehan bahasa kedua disebut pendwibahasaan atau bilingualisasi, dan orang yang belajar bahasa kedua disebut dwibahasawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mackey (dalam Suwito, 1985) memberi pengertian kontak bahasa sebagai pengaruh bahasa&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;yang satu kepada bahasa yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga menimbulkan perubahan seorang ekabahasawan. Kontak bahasa cenderung sebagai gejala bahasa (langue) dan kedwibahasaan sebagai gejala tutur (parole), tetapi kedwibahasaan terjadi sebagai akibat kontak bahasa. Istilah kontak bahasa disebut juga sentuh bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedwibahasaan&lt;br /&gt;Kedwibahasaan sebagai akibat adanya kontak bahasa berubah-ubah dan merupakan istilah yang bersifat relatif atau nisbi. Berikut ini beberapa definisi kedwibahasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Weinreich&lt;br /&gt;Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bloomfield&lt;br /&gt;Merumuskan kedwibahasaan sebagai penguasaan yang sama baiknya atas dua bahasa atau native like control of two languages. Penguasaan dua bahasa dengan kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penutur asli sangatlah sulit diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mackey&lt;br /&gt;Merumuskan kedwibahasaan sebagai kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang (the alternative use of two or more languages by the same individual). Perluasan pendapat ini dikemukakan dengan adanya tingkatan kedwibahasaan dilihat dari segi penguasaan unsur gramatikal, leksikal, semantik, dan gaya yang tercermin dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Haugen&lt;br /&gt;Mengemukakan kedwibahasaan dengan tahu dua bahasa (knowledge of two languages), cukup mengetahui dua bahasa secara pasif atau understanding without speaking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Oksaar&lt;br /&gt;Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu, namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya masyarakat dwibahasawan. Hal ini terlihat di Belgia menetapkan bahasa Belanda dan Perencis sebagai bahasa negara, Finlandia dengan bahasa Find dan bahasa Swedia. Di Montreal Kanada, bahasa Inggris dan Perancis dipakai secara bergantian oleh warganya, sehingga warga montreal dianggap sebagai masyarakat dwibahasawan murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kedwibahasaan berhubungan erat dengan pemakaian dua bahasa atau lebih oleh seorang dwibahasawan atau masyarakat dwibahasawan secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Diglosia&lt;br /&gt;Agak mirip dengan kedwibahasaan, diglosia adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranan yang berbeda dalam konteks sosial. Ada pembagian peranan bahasa dalam masyarakat dwibahasawan terlihat dengan adanya ragam tinggi dan rendah, digunakan dalam ragam sastra dan tidak, dan dipertahankan dengan tetap ada dua ragam dalam masyarakat dan dilestarikan lewat pemerolehan dan belajar bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Hubungan Kedwibahasaan dan Diglosia&lt;br /&gt;Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa kedwibahasaan dan diglosia berhubungan dengan penguasaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, berikut ini dikemukakan hubungan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masyarakat Dwibahasawan dan Diglosik&lt;br /&gt;yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, namun masing-masing bahasa mempunyai peranannya masing-masing. Contohnya masyarakat Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa daerah sebagai bahasa intrakelompok. Hal ini dapat dilihat juga di Malaysia dengan bahasa Inggris dan Melayu, Filipina dengan bahasa Inggris dan Tagalog, dan di Haiti dengan bahasa Perancis dan Kreol Haiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masyarakat Dwibahasawan tetapi takdiglosik&lt;br /&gt;yaitu masyarakat yang menguasai dua bahasa atau lebih yang digunakan secara bergantian, dengan masing-masing bahasa memiliki peranan yang sama. Hal ini terlihat pada masyarakat Montreal Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masyarakat takdwibahasawan tetapi diglosik&lt;br /&gt;adalah gambaran suatu masyarakat karena ikatan negara terdiri atas dua golongan, masing-masing ekabahasawan dan apabila berkomunikasi membutuhkan kehadiran penerjemah. Gambaran seperti ini terjadi di Eropa sebelum perang dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Masyarakat takdwibahasawan dan takdiglosik&lt;br /&gt;adalah gambaran masyarakat ekabahasawan murni tanpa adanya variasi penggunaan bahasa. Pada saat ini sangatlah sulit untuk mendapatkan gambaran masyarakat yang takdwibahasawan dan takdiglosik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-401364261612595661?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/401364261612595661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/kedwibahasaan-dan-diglosia.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/401364261612595661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/401364261612595661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/kedwibahasaan-dan-diglosia.html' title='Sosilinguistik : KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa5-tAqHBGI/AAAAAAAAAJ4/B2Bk9YWoOrg/s72-c/m_sosiolinguistikj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-4340275914259702223</id><published>2009-03-04T04:50:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T04:57:14.178-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Semantik : PERUBAHAN MAKNA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa56LpA-12I/AAAAAAAAAJw/QAQakZxQsls/s1600-h/m_semantik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa56LpA-12I/AAAAAAAAAJw/QAQakZxQsls/s400/m_semantik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309315351123515234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perubahan makna dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan bidang ilmu dan teknologi.&lt;br /&gt;Misalnya kata berlayar dahulu mengandung makna ‘melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan tenaga layar’, tetapi untuk sekarang pun masih digunakan untuk menyebut perjalanan di air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan sosial budaya.&lt;br /&gt;Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini kata sarjana itu hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.&lt;br /&gt;Perkembangan pemakaian kata.div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Umpamanya, kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini digunakan juga dalam bidang pendidikan dengan makna ;bidang studi, vak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertukaran tanggapan indra.&lt;br /&gt;Misalnya, rasa pedas seharusnya ditanggapi dengan indra perasa lidah menjadi ditanggapi oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya asosiasii.&lt;br /&gt;Maksudnya adalah adanya hubungan antar sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saja amplop, amplop itu bermakna ‘uang sogok’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan makna kata ada beberapa macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan makna kata meluas. Umpamanya, kata baju pada mulanya hanya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’ seperti pada kata baju batik; namun baju juga dapat bermakna berbeda bila yang dimaksud baju seragam yang meliputi celana, sepatu, dasi, dan topi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan makna kata menyempit. Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.&lt;br /&gt;Perubahan makna secara total. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-4340275914259702223?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/4340275914259702223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/semantik-perubahan-makna.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/4340275914259702223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/4340275914259702223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/semantik-perubahan-makna.html' title='Semantik : PERUBAHAN MAKNA'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa56LpA-12I/AAAAAAAAAJw/QAQakZxQsls/s72-c/m_semantik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-7063546229807109041</id><published>2009-03-04T04:40:00.000-08:00</published><updated>2009-07-07T13:49:50.342-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Semantik : RELASI MAKNA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa54L3ScJFI/AAAAAAAAAJo/7PZozB40MkM/s1600-h/m_semantik.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa54L3ScJFI/AAAAAAAAAJo/7PZozB40MkM/s400/m_semantik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309313155931579474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan atau kelebihan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sinonim&lt;br /&gt;Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna dan bersifat dua arah. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dengan frase duduk perut. Ketidaksamaan makna yang bersinonim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang yang bersifat klasik dengan kata komandan yang tidak cocok untuk koteks klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Factor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya yang bisa digunakan di mana saja, sedngkan beta hanya cocok digunakan untuk wilayah Indonesia bagian timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor keformalan. Misalya kata uang yang dapat digunakan dalam rangka formal dan tidak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor sosial. Umpamanya kata saya yang dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Faktor bidang kegiatan. Misalnya, kata matahari yang biasa digunakan dalam kegiatan &lt;br /&gt;apa saja, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus terutama sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau yang masing-masing memiliki makna yang tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonim&lt;br /&gt;Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua ujaran yang menyatakan kebalikan. Misalnya kata hidup berlawanan dengan kata mati. Dilihat dari sifat hubungannya, antonim dibagi menjadi:&lt;br /&gt;1. Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya, kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonim secara relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Antonim yang bersifat rasional. Umpamanya kata membeli dan menjual, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Antonim yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim berantonim secara hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongkok, dan bersila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polisemi&lt;br /&gt;Polisemi adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia, sesuai dalam kalimat kepalanya luka kena pecahan kaca, (2) ketua atau pimpinan, seperti dalam kalimat kepala kantor itu bukan paman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homonimi&lt;br /&gt;Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’.&lt;br /&gt;Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan. Contoh yang ada hanyalah kata bank ‘lembaga ‘keuangan’ dengan kata bang yang bermakna ‘kakak laki-laki’. Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contohnya kata teras yang maknanya ‘inti’ dan kata teras yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.&lt;br /&gt;Perbedaan polisemi dan homonimi adalah kalau polisemi merupakan bentuk ujaran yang maknanya lebih dari satu, sedangkan homonimi bentuk ujaran yang “kebetulan” bentuknya sama, namun maknanya berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiponimi&lt;br /&gt;Hiponim adalah kata khusus sedangkan hipernim adalah kata umum. Contohnya kata burung merupakan hipernim, sedangkan hiponimnya adalah merpati, tekukur, perkutut, balam, dan kepodang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambiguiti Atau Ketaksaan&lt;br /&gt;Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redundansi&lt;br /&gt;Redundansi adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-7063546229807109041?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/7063546229807109041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/relasi-makna.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7063546229807109041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/7063546229807109041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/relasi-makna.html' title='Semantik : RELASI MAKNA'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa54L3ScJFI/AAAAAAAAAJo/7PZozB40MkM/s72-c/m_semantik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-2862805622299477120</id><published>2009-03-04T04:35:00.000-08:00</published><updated>2009-07-07T13:50:13.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ragam'/><title type='text'>Tokoh Dunia : PABLO PICASSO 1881-1973</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa52XNQGhNI/AAAAAAAAAJg/Vc5YlzHiy4s/s1600-h/pablo_picasso_372x495g.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 209px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa52XNQGhNI/AAAAAAAAAJg/Vc5YlzHiy4s/s400/pablo_picasso_372x495g.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309311151782659282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;oleh Michael H. Hart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ke-98&lt;br /&gt;Pelukis senantiasa bergumul dengan pertanyaan umum apa sebetulnya maksud serta tujuan seni itu. Buat apa sih? Apa tanpa seni orang lantas jadi bangkai? Atau ompong? Tetapi sejak penemuan fotografi, masalahnya jadi lebih jelas dan lebih urgen. Jelasnya, tujuan pelukis bukan sekedar menjiplak pemandangan alam. Sepintar-pintar pelukis seperti apa pun tidak bakalan bisa menandingi potret, baik bagusnya maupun murahnya. Karena itu, lebih dari seabad serentetan percobaan sudah dirintis orang untuk menegaskan fungsi dan daya jangkau sesuatu lukisan. Dalam gerakan ini, orang yang paling berani, paling inovatif, yang melepaskan diri jauh-jauh dari semata-mata seni yang biasa-biasa itu, dan yang dengan sendirinya paling berpengaruh, adalah Pablo Picasso.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gaya seni Picasso dikagumi karena imaginasinya, vitalitasnya dan kepekaannya terhadap dunia luar. Picasso merupakan tokoh sentral dalam perkembangan "Kubisme," dan dia juga ternama karena kebrilianan otak serta kemampuan tekniknya. Umumnya dia diakui selaku tokoh utama dalam seni modern dan salah seorang yang paling suka kepada hal-hal baru dari semua seniman di sepanjang jaman.&lt;br /&gt;Picasso punya kemampuan sempuma dalam hal lukisan gambar realistis. bila dia merasa perlu seperti itu; tetapi, lebih kerap lagi dia memilih mengacak-acak serta mengubah-ubah wajah sesuatu obyek. Pernah suatu waktu dia berkata. "Bila kumau melukis cangkir, akan kutunjukkan padamu bahwa bentuknya bundar; tetapi itu sesuatu irama umum dan konstruksi lukisan memaksa aku menunjukkan bawa yang namanya bundar itu sebagai suatu yang persegi."&lt;br /&gt;Pablo Ruiz Y Picasso dilahirkan tahun 1881 di kota Malaga, Spanyol. Ayahnya seniman dan guru kesenian. Bakat Pablo muncul dalam usia muda sekali dan dia sudah jadi pelukis jempolan pada umur belasan tahun. Tahun 1904 dia menetap di Paris dan untuk selanjutnya tinggal di Perancis.&lt;br /&gt;Lukisan Picasso "Gadis di Depan Cermin" merevolusionerkan perspektip penanngan seni modern. (Ukuran 64 x 51 1/4 cat minyak; koleksi Museum Seni, New York, hadiah Ny. Simon Guggenheim.&lt;br /&gt;Picasso betul-betul seorang seniman yang teramat produktif. Selama kehidupannya selaku seniman yang luar biasa panjang itu --sekitar masa waktu tiga perempat abad-- dia sudah mencipta lebih dari 20.000 hasil seni yang terpisah-pisah satu sama lain, rata-rata lebih dari 5 karya dalam seminggu yang berlangsung selama 75 tahun! Sebagian terbesar dari waktu itu, karyanya selalu berdiri paling depan dalam hal harga tinggi, karena itu Picasso menjadi orang yang amat kaya raya. Dia meninggal dunia di kota Mougins, Perancis, tahun 1973.&lt;br /&gt;Pokoknya, Picasso tak syak lagi seorang seniman serba bisa yang jarang tolok bandingnya. Kendati sebutan utamanya seorang pelukis, dia juga banyak melakukan karya pahat. Tambahan lagi, dia perancang panggung ballet; dia bergumul dengan seni bikin pot, meninggalkan sejumlah besar karya lithografi, lukisan melalui garis-garis dengan menggunakan pensil atau kapur tulis dari banyak cabang seni lainnya.&lt;br /&gt;Tetapi seperti sementara seniman-seniman, Picasso juga tertarik dengan sungguh-sungguh pada masalah politik. Nyatanya, lukisan masyhurnya "Guernica" (1937), diilhami oleh kejadian-kejadian dalam perang saudara Spanyol. Beberapa hasil karya lainnya pun punya arti penting politis.&lt;br /&gt;Banyak seniman-seniman masyhur ditandai oleh satu macam gaya dasar. Tidaklah demikian Picasso. Dia menampilkan ruang luas dari pelbagai gaya yang mencengangkan. Kritikus-kritikus seni memberi julukan seperti "periode biru," "periode merah muda," "periode neo-klasik" dan sebagainya. Dia merupakan salah satu dari cikal bakal "Kubisme," Dia kadang ikut serta, kadang menentang perkembangan-perkembangan baru dalam dunia lukis-melukis modern. Mungkin tak ada pelukis dalam sejarah yang sanggup melakukan karya dengan kualitas begitu tinggi dengan lewat begitu banyak gaya dan cara.&lt;br /&gt;Tidak semua aliran seni punya pengaruh berjangka panjang. Meskipun Picasso disanjung-sanjung di abad ke-20, layak dipertanyakan apakah di abad-abad depan kelak penyanjungan itu masih bisa terjadi, ataukah pengaruhnya akan segera musnah dalam waktu tak lama lagi. Sudah jelas, tak ada jaminan yang meyakinkan untuk menjawab pertanyaan macam itu. Tetapi, kata sepakat dari para kritikus seni kontemporer mengatakan bahwa pengaruh Picasso akan tetap punya bobot penting di masa-masa mendatang. Walaupun jelas, kita tidak bisa memastikan kelanjutan dari bobot penting Pablo Picasso seperti bisa kita lakukan terhadap senirnanseniman yang sudah teruji oleh sang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah&lt;br /&gt;Michael H. Hart, 1978&lt;br /&gt;Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982&lt;br /&gt;PT. Dunia Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Jln. Kramat II, No. 31A&lt;br /&gt;Jakarta Pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-2862805622299477120?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/2862805622299477120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pablo-picasso-1881-1973.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2862805622299477120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/2862805622299477120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/03/pablo-picasso-1881-1973.html' title='Tokoh Dunia : PABLO PICASSO 1881-1973'/><author><name>henscyber</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06608922517772406297</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SoSDTDedRtI/AAAAAAAAAS8/0n8uUXEEffs/S220/ru.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/Sa52XNQGhNI/AAAAAAAAAJg/Vc5YlzHiy4s/s72-c/pablo_picasso_372x495g.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-516865840023800351.post-9044336474755672029</id><published>2009-02-13T09:35:00.001-08:00</published><updated>2009-02-13T09:37:15.042-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Kumpulan Puisi Chairil Anwar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SZWvsk_ujEI/AAAAAAAAAIk/wgj-ZVehh8E/s1600-h/m_chairil+anwars.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 157px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_fTLuWxSokcM/SZWvsk_ujEI/AAAAAAAAAIk/wgj-ZVehh8E/s400/m_chairil+anwars.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302337316678700098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PRAJURIT JAGA MALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,&lt;br /&gt;bermata tajam&lt;br /&gt;Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya&lt;br /&gt;kepastian&lt;br /&gt;ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang berani hidup&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam&lt;br /&gt;Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……&lt;br /&gt;Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194 &lt;br /&gt;Siasat,&lt;br /&gt;Th III, No. 96&lt;br /&gt;1949)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;MALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kelam&lt;br /&gt;belum buntu malam&lt;br /&gt;kami masih berjaga&lt;br /&gt;–Thermopylae?-&lt;br /&gt;- jagal tidak dikenal ? -&lt;br /&gt;tapi nanti&lt;br /&gt;sebelum siang membentang&lt;br /&gt;kami sudah tenggelam hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Baru,&lt;br /&gt;No. 11-12&lt;br /&gt;20-30 Agustus 1957&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENJA DI PELABUHAN KECIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali tidak ada yang mencari cinta&lt;br /&gt;di antara gudang, rumah tua, pada cerita&lt;br /&gt;tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut&lt;br /&gt;menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut&lt;br /&gt;Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang&lt;br /&gt;menyinggung muram, desir hari lari berenang&lt;br /&gt;menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak&lt;br /&gt;dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.&lt;br /&gt;Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan&lt;br /&gt;menyisir semenanjung, masih pengap harap&lt;br /&gt;sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan&lt;br /&gt;dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1946&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTAKU JAUH DI PULAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku jauh di pulau,&lt;br /&gt;gadis manis, sekarang iseng sendiri&lt;br /&gt;Perahu melancar, bulan memancar,&lt;br /&gt;di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.&lt;br /&gt;angin membantu, laut terang, tapi terasa&lt;br /&gt;aku tidak ‘kan sampai padanya.&lt;br /&gt;Di air yang tenang, di angin mendayu,&lt;br /&gt;di perasaan penghabisan segala melaju&lt;br /&gt;Ajal bertakhta, sambil berkata:&lt;br /&gt;“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”&lt;br /&gt;Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!&lt;br /&gt;Perahu yang bersama ‘kan merapuh!&lt;br /&gt;Mengapa Ajal memanggil dulu&lt;br /&gt;Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!&lt;br /&gt;Manisku jauh di pulau,&lt;br /&gt;kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1946&lt;br /&gt;DOA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada pemeluk teguh&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Dalam termangu&lt;br /&gt;Aku masih menyebut namamu&lt;br /&gt;Biar susah sungguh&lt;br /&gt;mengingat Kau penuh seluruh&lt;br /&gt;cayaMu panas suci&lt;br /&gt;tinggal kerdip lilin di kelam sunyi&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;aku hilang bentuk&lt;br /&gt;remuk&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;aku mengembara di negeri asing&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;di pintuMu aku mengetuk&lt;br /&gt;aku tidak bisa berpaling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 November 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAJAK PUTIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada tari warna pelangi&lt;br /&gt;Kau depanku bertudung sutra senja&lt;br /&gt;Di hitam matamu kembang mawar dan melati&lt;br /&gt;Harum rambutmu mengalun bergelut senda&lt;br /&gt;Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba&lt;br /&gt;Meriak muka air kolam jiwa&lt;br /&gt;Dan dalam dadaku memerdu lagu&lt;br /&gt;Menarik menari seluruh aku&lt;br /&gt;Hidup dari hidupku, pintu terbuka&lt;br /&gt;Selama matamu bagiku menengadah&lt;br /&gt;Selama kau darah mengalir dari luka&lt;br /&gt;Antara kita Mati datang tidak membelah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERIMAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt;Dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;Aku masih tetap sendiri&lt;br /&gt;Kutahu kau bukan yang dulu lagi&lt;br /&gt;Bak kembang sari sudah terbagi&lt;br /&gt;Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kembali&lt;br /&gt;Untukku sendiri tapi&lt;br /&gt;Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMPA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada sri&lt;br /&gt;Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.&lt;br /&gt;Lurus kaku pohonan. Tak bergerak&lt;br /&gt;Sampai ke puncak. Sepi memagut,&lt;br /&gt;Tak satu kuasa melepas-renggut&lt;br /&gt;Segala menanti. Menanti. Menanti.&lt;br /&gt;Sepi.&lt;br /&gt;Tambah ini menanti jadi mencekik&lt;br /&gt;Memberat-mencekung punda&lt;br /&gt;Sampai binasa segala. Belum apa-apa&lt;br /&gt;Udara bertuba. Setan bertempik&lt;br /&gt;Ini sepi terus ada. Dan menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji&lt;br /&gt;Aku sudah cukup lama dengan bicaramu&lt;br /&gt;dipanggang diatas apimu, digarami lautmu&lt;br /&gt;Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu&lt;br /&gt;Aku sekarang api aku sekarang laut&lt;br /&gt;Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat&lt;br /&gt;Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar&lt;br /&gt;Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp; berlabuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194&lt;br /&gt;Liberty,&lt;br /&gt;Jilid 7, No 297,&lt;br /&gt;1954)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIPONEGORO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa pembangunan ini&lt;br /&gt;tuan hidup kembali&lt;br /&gt;Dan bara kagum menjadi api&lt;br /&gt;Di depan sekali tuan menanti&lt;br /&gt;Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.&lt;br /&gt;Pedang di kanan, keris di kiri&lt;br /&gt;Berselempang semangat yang tak bisa mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU&lt;br /&gt;Ini barisan tak bergenderang-berpalu&lt;br /&gt;Kepercayaan tanda menyerbu.&lt;br /&gt;Sekali berarti&lt;br /&gt;Sudah itu mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU&lt;br /&gt;Bagimu Negeri&lt;br /&gt;Menyediakan api.&lt;br /&gt;Punah di atas menghamba&lt;br /&gt;Binasa di atas ditindas&lt;br /&gt;Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai&lt;br /&gt;Jika hidup harus merasai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju&lt;br /&gt;Serbu&lt;br /&gt;Serang&lt;br /&gt;Terjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Februari 1943)&lt;br /&gt;Budaya,&lt;br /&gt;Th III, No. 8&lt;br /&gt;Agustus 1954&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRAWANG-BEKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi&lt;br /&gt;tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.&lt;br /&gt;Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,&lt;br /&gt;terbayang kami maju dan mendegap hati ?&lt;br /&gt;Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt;Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt;Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami.&lt;br /&gt;Kami sudah coba apa yang kami bisa&lt;br /&gt;Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa&lt;br /&gt;Kami cuma tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt;Tapi adalah kepunyaanmu&lt;br /&gt;Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt;Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan&lt;br /&gt;atau tidak untuk apa-apa,&lt;br /&gt;Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata&lt;br /&gt;Kaulah sekarang yang berkata&lt;br /&gt;Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt;Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt;Teruskan, teruskan jiwa kami&lt;br /&gt;Menjaga Bung Karno&lt;br /&gt;menjaga Bung Hatta&lt;br /&gt;menjaga Bung Sjahrir&lt;br /&gt;Kami sekarang mayat&lt;br /&gt;Berikan kami arti&lt;br /&gt;Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt;yang tinggal tulang-tulang diliputi debu&lt;br /&gt;Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194 &lt;br /&gt;Brawidjaja,&lt;br /&gt;Jilid 7, No 16,&lt;br /&gt;1957)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU (SEMANGAT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;‘Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;Berlari&lt;br /&gt;Hingga hilang pedih peri&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lag&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/516865840023800351-9044336474755672029?l=anaksastra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://anaksastra.blogspot.com/feeds/9044336474755672029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://anaksastra.blogspot.com/2009/02/kumpulan-puisi-chairil-anwar.html#comment-form' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/516865840023800351/posts/default/9044336474755672029'/><link rel='self' type='application/
